Disaat ini, pertempuran.
terdengar satu suara memecahkan suasana "Ha, ha...
tidak kusangka, pedang Bayangan Sie An dari daerah Tiang-pek turut memasuki daerah Tiong goan." Disana telah ditambah seorang lelaki berbaju kuning, dia tidak asing bagi semua orang, Si Pedang Utara Auw-yang le.
Pertempuran terganggu, dua orang itu telah memisahkan diri.
Cin Bwee dan Su-to Yan memandang ke-arah datangnya Auwyang Ie.
didalam hati mereka berpikir: "Apa maksud tujuan si Pedang Utara ?" Auw-yang le itu sangat angkuh, memandang kepada semua orang, dengan sikapnya petantang-petenteng, ia berjalan menghampiri.
Cin Bwee tidak senang, segera ia berkata: "Biar kuusir cecunguk ini." Gadis itu membuktikan kata-katanya, tubuhnya sudah memapaki Auw-yang Ie.
Su-to Yan kaget, cepat-cepat ia menarik tangan sang kawan, "Adik Bwee, kau diam-diam saja menonton.
Aku hendak mencoba, sudah pulihkah tenagaku semua" Biar aku yang menghadapinya." Cin Bwee monyongkan mulut sikapnya sangat manja, betul-betul ia jatuh cinta, maka tidak menantang lagi, ia diam.
Menurutlah kepada kekasihmu!
demikian petuah percintaan Dilain pihak Su-to Yan telah berhadapan dengan Auw-yang le.
"Bagus!" ia berkata, "Keluarkanlah pedangmu." "Sayang sekali." Berkata Su-to Yan.
"Aku tidak dapat menggunakan pedangku, Walaupun demikian, tidak mengapalah, aku akan menggunakan tangan kosong menghadapimu." Mata Auw-yang Ie mendelik.
Kata-kata Su-to Yan itu terlalu sombong, Masakan dirinya hendak dilawan dengan tangan kosong" Sungguh keterlaluan Dia adalah jago pedang kelas satu, lawan baru saja menerjunkan dirinya kedalam rimba persilatan walaupun telah mendapat nama Pedang Baru, nama itu baru saja dikenal orang, Keliwatan !
"Bagus." Si Pedang Utara bergeram.
"Didalam waktu 20 jurus, darahmu akan membanjiri tanah ini." Sie An menunjukan rasa khawatirnya, ia memberi peringatan: "Saudara Su-to, berhati-hatilah." "Aku tahu," Berkata Su-to Yan yang sudah siap, sebagai murid Jiok Pek Jiak kepandaian pukulan tangannya tidak kalah dari ilmu pedang yang dimiliki, maka ia tidak gentar sama sekali.
Pedang Auw-yang Ie berujung lengkung termiring-miring, jago itu memajukan pedangnya.
"Awas serangan pedang!" ia memberi peringatan.
Melihat cara pembukaan serangan Auw-yang Ie si Pedang Bayangan.
Sie An terkejut, didalam hati jago ini memuji: "Hebat!
Nama Pedang utara memang bukan nama kosong." Tujuan Sie An memasuki daerah Tionggoan berpokok pangkal mengalahkan pedang Utara dan Selatan dengan cara demikian, dia akan menonjolkan diri, menjadikan dirinya menjadi kepala dari tiga ahli pedang dimasa itu.
Kini menyaksikan ilmu pedang Auw-yang Ie yang hebat dan luar biasa, kepercayaannya kepada ilmu kepandaian diri sendiri merosot banyak, ia harus berpikir masak-masak, sebelum menantang orang mengadakan pertempuran impiannya menjadi sirna.
Kecuali menghawatirkan keselamatannya sang kawan, mungkinkah Su-to Yan dapat menyelesaikan pertempuran tanpa luka" Mengingat lawan itu terlalu kuat, diatas Su-to Yan.
Tahu sedang berhadapan dengan musuh kuat, Su-to Yan menggunakan ilmu cengkeraman Tangan Langit Thian -mo-nie-hun cauw, Mencengkeram kearah gagang pedang.
Auw yang Ie sangat marah, didalam hati jago itu berkata, "kurang ajar, kau sangat menghina orang, berani memandang rendah diriku.
he" Hanya menggunakan sepasang tangan kosong, hanya dengan satu cengkeraman, ingin merebut pedangku" Bukankah sudah bosan hidup sama sekali?" Sengaja disodorkan pedang kearah Su-to Yan, dengan maksud tujuan, setelah datang dekat, ia memapas jari yang sangat kurang ajar itu.
Tangan Su-to Yan merangsang semakin dekat.
Auw yang Ie siap melaksanakan rencananya, tiba-tiba matanya terbelalak secepat itu dia melihat akan adanya satu kabut hijau yang mengelilingi tubuh lawannya, itulah tenaga Ie bok Cin-khie.
"Aaaa . . . ." cepat-cepat Auw-yang Ie menjauhkan diri dari uap itu, Hatinya menjadi ciut, itulah ilmu It-bok cin-khie, ilmu kabut hijau, juga merupakan salah satu ilmu mujijat dijaman purbakala.
Auw-yang le harus bertemu dengan kenyataan, jelas dan gamblang bahwa Su-to Yan memiliki ilmu tiga belas jari menguasai alat Pie-pa, Pie-pa-cap-Sa-san-chiu dan cengkeraman Tangan Langit Thian-mo-me-hun-cauw, dua macam ilmu mujizat dari jaman purbakala.
Hal itu sudah cukup menggetarkan, kini dilihat lagi salah Satu dari delapan tipu mujizat lainnya, berapa banyakkah si pemuda dapat meyakinkan ilmu-ilmu mujizat dari jaman purbakala" Mungkinkah pandai keseluruhannya" Luar biasa ternyata lawan itu memiliki ilmu-ilmu mukjijat dari jaman purbakala, pasti dia akan merajai dunia persilatan.
Su to Yan menggunakan tipu Kui-Ong Hui San yang berarti Raja Setan Mengipas-ngipas mendesak lawannya.
Auw-yang Ie harus menarik mundur pedang yang telah dikedepankan, ditekan ke bawah dan menjauhi diri.
Meskipun bertangan kosong, dengan disertainya ilmu Kabut Hijau Ie-bak Chin-khie, serangan-serangan Su-to Yan lebih berbahaya dari serangan pedang Auw-yang Ie, ia berhasil mendesak akhli pedang itu.
Kalau bukan Auw-yang Ie yang ditempur si pemuda, musuh itu sudah lama dijatuhkan olehnya.
Harus diketahui, si pedang Utara Auw-yang Ie adalah salah satu dari tiga akhli pedang yang ternama, mudah dibayangkan betapa banyak pengalaman perangnya, menghadapi Su-to Yan yang baru menerjunkan diri didalam rimba persilatan, walaupun memiliki ilmu-ilmu mujizat dari tiga jaman, ia masih sanggup bertahan.
Cin Bwee dan Sie An yang turut menyaksikan pertandingan itu menjadi lega, kemenangan berada di pihak mereka, tanpa mengkhawatirkan keselamatan Su-to Yan, mereka dapat melihat perubahan-perubahan ilmu silat kedua orang itu, dengan pandangan-pandangan yang lebih tajam dan lebih jelas.
100 jurus telah dilewatkan.
Dibawah rangsakannya Su-to Yan, Auw-yang le masih sanggup mempertahankan diri, pedang bengkung dimainkan begitu rupa, sehingga melarang lawannya mendesak meliwati batas.
Su-to Yan melompat ke samping, lagi-lagi mengancam gagang pedang, maksudnya merebut senjata itu dari tangan orang.
Auw-yang le menggeram, ia tidak mundur juga tidak menjauhkan diri, hal itu akan mengakibatkan terdesaknya kebelakang, pedang dimiringkan, menyerang cepat.
Mata Su-to Yan bersinar, itupun suatu kesempatan, cengkeraman tangan menurun ke bawah, dengan suatu gerakan yang aneh luar biasa, menyusul larinya gagang pedang orang.
Auw-yang le semakin gentar, ia mengeluarkan napas dingin, itulah ilmu iblis Sakti Bermain Silat, ilmu khas dari si jago sesat nomor satu Ciok Pok Jiak.
Bagaimana si pemuda dapat mewarisinya" Tentu saja si Pedang Utara tidak tahu bahwa Su-to Yan adalah murid dari jago sesat luar biasa itu.
Ilmu Iblis sakti bermain silat telah menjatuhkan banyak jago-jago ternama, dimainkan oleh Su-to Yan untuk menyerang Pedang Utara kemanapun musuh pergi, ke kanan dan ke kiri, ke belakang atau ke depan, tubuhnya masih mempunyai waktu untuk membayanginya, pasti ia dapat merebut pedang orang.
Auwyang Ie bingung.
Auwyang Ie tidak habis mengerti, bagaimana Kongsun Giok dapat mengalahkan pemuda kosen ini, sedangkan dirinya tidak sanggup mengalahkannya.
Ia telah menggeretek gigi, dengan besar, Auwyang Ie melepas pedangnya, pemuda.
Dengan demikian, kedua mengerahkan sepasang tangannya, ia kekuatan tenaga kearah pemuda kita.
menempuh suatu bahaya membiarkan direbut oleh si tangannya telah bebas, mendorong nya melempar Su-to Yan terang girang, gagang pedang orang telah menempel pada tangannya, tiba-tiba melihat perubahan, suatu hal yang sungguh diluar dugaan, mengapa Auw-yang Ie melepaskan pedangnya" Walaupun demikian, ia tidak takut, arah jari tetap mengikuti bayangan gagang pedang, dilain pihak, diapun sudah bersedia mengundurkan diri.
Dua serangan telapak tangan Auw-yang Ie menyusul tiba !
Su-to Yan baru tahu, sampai dimana lihaynya si Pedang Utara, bila diteruskan usaha merebut pedang lawan, setelah berhasil mendapatkannya, ia akan menderita luka, dipukul oleh Pedang Utara yang sudah tiada berpedang itu.
Hal itu tidak diinginkannya, terpaksa dia menarik pulang tangan tadi, meninggalkan senjata yang baru didapat dan memapaki datangnya serangan sepasang telapak tangan Auw -yang le.
Auw-yang Ie berhasil, ia membalikkan telapaknya, menarik pulang serangan, pedangnyapun melayang turun, cepat menyanggahnya lagi, senjata kembali kepada sipemilik.
Setelah itu, angin pukulan Su-to Yan datang, cepat-cepat ia berjumpalitan mundur jauh kebelakang.
Pertempuran telah selesai !
Su-to Yan tidak berhasil merebut pedang orang, ia hanya dapat memaksa si akhli pedang melepaskan senjatanya, hanya beberapa saat, itu pun cukup membuktikan, bahwa ilmu kepandaiannya tidak berada dibawah si Pedang Utara Auw-yang le.
Auw-yang Ie telah meletakkan kedua memandang Su-to Yan dan berkata kepadanya: kakinya ditanah, "Ingat baik-baik kejadian hari ini aku akan menuntut balas." Cepat sekali, si Pedang Utara membalikkan diri, tubuhnya melejit meluncur jauh, meninggalkan Su-to Yan sekalian.