Wajah si pendek berubah, ia tidak puas.
Gerakan Su-to Yan yang menarik lengan baju Cin Bwee tidak lepas dari matanya, segala kemarahan dijatuhkan kepada sipemuda, ia menyangka pemuda inilah yang melarang Cin Bwee menyebut dan memberi keterangan tentang Kong Sun Giok, ia tidak tahu, bahwa Cin Bwee pun tidak tahu, dimana hari itu Kong-sun Giok berada.
Ia menghampiri Su-to Yan, dengan sikapnya yang sangat beringas, seolah-olah menantang perang.
Su-to Yan berperangai halus, sangat sabar, walaupun dipetantang-petetengkan seperti itu, ia masih diam ditempatnya, duduk tenang-tenang.
Berbeda dengan sipemuda, Cin Bwee tidak mempunyai itu kesabaran, segera ia bangkit berdiri, menudingkan tangan kearah orang itu, seraya ia membentak.
"Manusia pendek, ingin mencari gara-gara?" Orang itu mempunyai bentuk tubuh yang lain dari pada orang lain, ia pantang mendengar kata-kata sebutan pendek, "gemuk" dan sebagainya, kata-kata cemohan Cin Bwee tepat mengenai pantangan, darahnya segera naik ke atas kepala, iapun marah.
"Kurang ajar!" ia membentak "Kau ingin mencari mati ?" Tangannya bergerak, bagaikan kilat, ketika jarinya mengancam jalan darah Thian-tuk, Ang-ie dan Cek-heng.
Cin Bwee melesatkan diri, didalam hati si gadis sangat terkejut, pikirnya, orang pendek gemuk ini lihay juga.
Su-to Yan menyaksikan Sang kawan diserang, dan dilihat dari gelagat itu, Cin Bwee bukan tandingan lawan, segera ia menggerakkan sepasang sumpit disodorkan kedepan dan berkata: "Saudara jangan cepat marah." Ia menggagalkan serangan orang pendek gemuk yang terokmok itu.
Orang itupun kaget, terlihat sekali pada perubahan wajahnya yang penuh daging, dia adalah seorang jago kelas satu, biasanya bermukim didaerah Tiang-pek, belum pernah memasuki daerah Tionggoan, kini ada sesuatu urusan, baru saja menginjakkan kaki, ia sudah berhadapan dengan dua jago lihay, bagaimana tidak terkejut" Pikirnya, daerah Tionggoan luar biasa ternyata bermukim banyak jago silat.
Menghindari jepitan sumpit Su-to Yan, ia lompat mengundurkan diri.
"Bagus." ia marah betul.
"tidak kusangka, kalianpun tokoh-tokoh silat kelas tinggi.
Hayo, kita keluar, melanjutkan pertempuran dilapangan.
Disana, kita leluasa bergerak, tanpa takut merusak barang-barang orang." Ia takut merusak perabot rumah makan, maka menantang Su to Yan dan Cin Bwee untuk meneruskan pertandingan diluar pekarangan.
Cin Bwee tertawa puas, ia geli atas kelakuan orang itu, mulutnya mengejek: "Siapa yang takut kepadamu, gendut, Kau tunggu diluar, aku "Bagus." Tubuh orang pendek itu melesat keluar, didengar lagi kata-kata yang terakhir dari sipemuda ceriwis, ia lebih marah, dirinya dikibuli.
Maka balik kembali, mengirim satu serangan dan membentak: "Kurang ajar, berani kau mempermainkan diriku ?" Setelah mengucapkan kata-katanya, Cin Bwee betul-betul duduk kembali, Dilihat serangan datang, arah tujuannya mengancam alis mata, ia menundukkan kepala.
Sangat cepat sekali, orang itu telah mengirim serangan yang kedua, Cin Bwee dipaksa mengundurkan diri.
Su-to Yan bergerak, ia membalikkan telapak tangan, menggunakan jari-jarinya mencengkram kearah pundak lawan.
"Kawan ini harus dapat bersabar." Demikian ia berkata sambil menyerang.
Orang pendek itu menyerang Cin Bwee dan lawannya telah mundur kebelakang, dengan sendirinya ia mengejar kedepan, membelakangi Su-to Yan.
Kini serangan datang tapi ia lihat, ia tahu, serangan macam apakah yang ditujukan kepada dirinya, mengegos kesamping dan mulut nya berkata: "Bagus, ternyata anak murid dari golongan Siauw-lim-pay?" Dari gerakan gerakan orang yang aneh, Su-to Yan terkejut, belum pernah ia melihat ilmu-ilmu silat seperti ini, manusia pendek ini bukan orang dari Tionggoan, maka Su-to Yan harus melayaninya dengan lebih hati-hati, tangannya ditarik cepat, maju kembali kedepan, dengan satu jurus "Kui ong Hui-San", menyerang kembali Mulutnya membentak: "Nah, perhatikan betul-betul, ini juga ilmu silat dari Siauw-limpay?" Kui-Ong Hui-san berarti Raja setan mengipas-ngipas, salah satu tipu dari ilmu mujijat dijaman purbakala Pie-pe-cap-sa-san-chiu tiga belas jari yang menguasai alat Pie-pa.
Orang itu melejit mundur, sangat jauh, memperhatikan potongan badan Su-to Yan dan mengajukan pertanyaan.
"Eh, bagaimana kau pandai menggunakan ilmu Tiga jari menguasai alat Pie-pa?" Ia terkejut, karena Su-to Yan dapat menggunakan ilmu Pie-pacap-sa-san-ciu dengan baik sekali.
Cin Bwee mengeluarkan suara dengusan, ia berkata dengan suara memandang rendah: "Mungkinkah kau juga pandai menggunakan ilmu itu?" Orang itu mengerdip-ngerdipkan matanya, tiba-tiba ia tertawa, segera bertanya: "Kau kenal dengan seorang yang bernama Su-to Yan?" Cin Bwee menjebikan bibir, menunjuk ke- arah Su-to Yan, gadis itu berkata: "lnilah orang yang kau sebut, bagaimana tidak kenal kepada diri sendiri" Lucu!" Orang pendek yang mempunyai banyak daging gemuk itu bertepuk tangan, ia girang katanya: "Ha, Ternyata kau inilah yang berani menantang sipedang Selatan dan pedang Utara.
Atas kekurang ajaranku tadi, harap kau dapat memberi maaf." Cin Bwee tertawa cekikikan, Orang pendek itu mendelikkan matanya, "Apa yang kau tertawakan?" ia membentak.
"Aku mentertawakan dirimu, gendut." Mulut Cin Bwee menantang kesopanan Bila bukan memanggil orang dengan sebutan gendut, pasti ia menggunakan istilah pendek.
"Mengapa?" Orang itu semakin tidak mengerti ia menyangka bahwa orang tidak memaafkan kesalahannya.
"Kau memang lucu, Masakan tidak kenal kepada Su-to Yan" Orang yang sudah berada didepanmu?" Kata-kata Cin Bwee lebih tidak masuk di akal, Bagaimana setiap orang kenal kepada Su-to Yan, sedangkan pemuda itu baru saja mendapat nama " Su-to Yan telah menghampiri orang itu, ia bertanya: "Bagaimana dengan sebutan saudara yang mulia?" "Namaku Sie An." Demikian si gemuk pendek memperkenalkan diri, "Baru saja tiba ditanah Tionggoan." "Aaaa...." Su-to Yan berteriak "Ternyata sipedang Sie An dari daerah Tiang-pek?" Itulah salah satu dari tiga jago pedang yang ternama, kecuali sipedang Selatan Kong-sun Giok, si Pedang Utara Auw-yang le, si pedang Bayangan Sie An menduduki urutan ke-tiga.
Hal ini bukan berarti ilmu kepandaiannya berada dibawah kedua akhli pedang yang kita sebut lebih dulu, hal itu disebabkan karena nama Sie An lebih tidak dikenal orang, ia bermukim didaerah Tiangpek, jarang bergaul dengan tokoh-tokoh rimba persilatn didaerah Tionggoan.
Su-to Yun tidak pernah membayangkan akhli pedang dari daerah Tiang-pek, karena ia belum kenal dengan dirinya.
Demikian juga Cin Bwee, ia sangat terkejut, orang yang mempunyai potongan badan seperti inikah yang digelarkan sebagai jago akhli pedang nomor Satu" Si Pedang bayangan Sie An tersenyum-senyum.
Su-to Yan lompat maju, menyekal tangan orang itu, dengan gembira ia menyambut salam perkenalannya.
Sie An berkata: "Dikala aku memasuki daerah Tionggoan, kudengar nama saudara Su-to disebut-sebut orang.
Anak buah si Pedang Selatan Kong-sun Giok sedang menggembar-gemborkan pemimpin mereka, dikatakan bengcu itu mengalahkan pedang utara, menenggelamkan Pedang Baru, tahu kan julukan Pedang Baru, itulah dirimu, didalam rimba persilatan telah tersebar luas tentang cerita si pedang Baru Su-to Yan, didalam kalangan akhli-akhli pedang, bertambah lagi seorang baru, kedudukanmu telah merendengi kita orang, Pedang Selatan, pedang Utara, Pedang Bayangan, Pedang Emas dan kau adalah Pedang Baru.
Aku tidak puas, maksudku mencari Kong Sun Giok, akan kutempur Pedang Selatan itu, sampai dimanakah ilmu kepandaian yang sesungguhnya ?" Su-to Yan berkata: "Aku masih berada dalam keadaan badan kurang sehat, baru sembuh luka, maka tidak dapat melayani tantangan Saudara." Sie An tertawa, katanya: "Jangan kau tarik panjang urusan itu, Kini kita telah saling berkenalan, kita telah bersahabat, diantara sahabat baik, tidak bertempur bukan ?" Cin Bwee telah menyilahkan orang itu duduk, mereka bertiga telah rujuk.
"Hei," berkata gadis itu, "Belum lama aku memanggil kau sebagai si pendek dan si gemuk, masih marahkah kepadaku ?" Sie An memandang kearah Cin Bwee, dan menoleh kearah Su-to Yan.
"Kau memperkenalkan kawanmu." ia berkata.
Su-to Yan memperkenalkan Cin Bwee kepada si Pedang Bayangan Sie An, katanya kepada orang itu: "Perkenalkan, dia adalah kawanku yang bernama Cin Bwee." Sie An tertawa berkakakan, katanya : "Ternyata nona Cin, selamat bertemu." "Bagaimana kau tahu bahwa ia seorang wanita?" bertanya Su-to "Ha, ha, ha..." Sie-An tertawa, "Mataku belum lamur, mungkinkah tidak dapat membedakan pria atau wanita" Ha, ha, ha . . . ." Cin Bwee menjebikan bibir, ia ngedumel: "Manusia pendek." Si pedang Bayangan Sie An mendelikan mata.
Cin Bwee tidak takut, ia senang kepada keramaian, senang kepada kecanggungan Sie An yang pendek itu, sekali lagi ia memaki: "Manusia pendek!" Sie An mengangkat tangan, seolah-olah ingin memukul orang, Cin Bwee tahu akan hal itu, sengaja mengedepankan dirinya.
"Pukullah, bila kau berani " ia menantang.
Sie An menurunkan tangannya itu, ia berkata kepada Su-to Yan: "Saudara Su-to.
kawanmu ini tidak mudah dihadapi." Su-to Yan tersenyum-senyum.
Sekali lagi Cin Bwee memaki "Manusia pendek." "Ha, ha, ha..." Sie An tertawa.
Dan ketiga orang itupun tertawa semua, perjamuan perkenalan dimeriahkan dan ditutup dengan rasa persahabatan.
-ooo0dw0oooPada tanggal 15 bulan delapan.
Diluar kota Han-yang sangat ramai, tiga penunggang kuda mendatangi kota bersejarah itu, dua diantaranya laki-laki dan seorang lagi berambut panjang, Mereka adalah sipedang Bayangan Sie An, Sipedang baru Su-to Yan dan Cin BWee dengan pakaian Di sepanjang jalan, mereka bercakap-cakap dengan gembira, rasa persahabatan diantara ketiga orang itu telah dipertebal.
Cin Bwee yang telah bertukar pakaian wanita, kelihatan lebih cantik, lebih menarik.