Halo!

Pedang Wucisian Chapter 12

Memuat...

Bagaimana Jie Ceng Peng dapat memiliki ilmu mujijat dijaman purbakala" ilmu silat yang sama dengan apa yang dimiliki olehnya" Mengikuti jalan pertempuran, Jin Bwee juga tidak mudah di"makan" dengan mudah karena ia sudah berhasil meloloskan diri dari serangan luar biasa tadi.

Dengan jurus Cek-Hong Hoan-Jit, salah satu jurus dari ilmu purbakala Hoan-tian Pat-Ciang, ia mengirim serangan-serangan lainnya.

ilmu purbakala dilawan dengan ilmu purbakala!

"Bagus," Jie Ceng Peng mengeluarkan suara pujian, Tipunya diubah, dengan lima jari dimiringkan, ia mengirim satu serangan yang banyak mengandung unsur perubahan, itulah Khong - beng Ciang dari golongan Tian-lam-Lo-Sat.

Gerakan Cin Bwee juga mengandung banyak perubahan, mengetahui musuh berhasil meloloskan diri dari serangan itu, gerakannya berubah kelain arah, sangat cepat sekali.

Cin Bwee mempunyai gerakan yang sangat cepat, lawannya lebih cepat lagi dari gerakan gadis yang menyamar menjadi pria itu, lima jari Jie Ceng Peng berhasil menjambret siku orang.

"Jangan kau lari lagi." Demikian Jie Ceng Peng berteriak.

Cin Bwee tidak mau cepat-cepat menyerah kalah, dengan gagang pedang, ia berusaha mengetuk jari Jie Ceng Peng yang berada di bagian jalan darah penting, demikian ia berhasil mengundurkan diri.

Hal tersebut berada diluar dugaan Jie Ceng Peng, maka musuh yang sudah hampir diringkus itu lolos kembali.

Hatinya menjadi panas, lalu merangsek dengan serangan-serangan yang lebih hebat.

Cin Bwee mendesak.

Manakala Jie Ceng Peng hampir melukai lawannya, tiba-tiba terdengar suara Su-to Yan yang berteriak kepadanya: "Nona Jie, dapatkah kau menghentikan gerakanmu?" Berbareng, tubuh Su-to Yan sudah menyelak diantara kedua gadis itu.

Takut Cin Bwee terluka, Su-to Yan menjulurkan tangan, dengan tipu Tay-gim Na-chiu dari golongan Siauw-lim-pay, ia hendak menangkap tangan kanan Jie Ceng Peng.

Jie Ceng Peng telah menghentikan gerakan, maka tangkapan tangan Su-to Yan mengenai tempat kosong.

"ilmu Tay-gim Na-chiu yang bagus." Si gadis memberi pujian.

"ilmu nonapun luar biasa," Berkata Su-to Yan.

Cin Bwee hampir dicelakai lawan, Beruntung Su-to Yan mengadakan cegahan, maka Jie Ceng Peng menghentikan serangannya, hal itu sudah sangat menjengkelkan.

Yang lebih menjengkelkan lagi ialah majunya Su-to Yan yang menyelak datang, kemudian mereka saling puji, hatinya sangat mangkel sekali.

Dipandangnya Su-to Yan dan berkata kepada pemuda itu: "Hei, kau betah tinggal ditempatnya?" Su-to Yan menyeringai.

"Kau pergilah dahulu." ia menganjurkan maksudnya agar Cin Bwee meninggalkan perahu itu.

"Baik." Cin Bwee melayang kearah darat.

"Akan kulihat, bagaimana kau dapat meninggalkan dirinya." Su-to Yan sangat paham dengan sifat-sifat, Cin Bwee yang manja dan kolokan, segera ia berkata kepada Jie Ceng Peng: "Nona Jie, tolong kau simpan pedang In-liong.

Dan budi pertolonganmu akan kucatat didalam hati, biar lain kali kubalas budi tersebut.

Tubuhnya juga melayang, meninggalkan perahu Jie Ceng Peng.

Hampir diwaktu yang sama, Su-to Yan dan Cin Bwee menginjak tanah daratan, mereka-telah meninggalkan kapal Jie Ceng Peng.

Empat orang berbaju hitam selalu siap, begitu melihat dua musuh itu lompat turun, mereka juga mempunyai gerakkan yang gesit, tanpa menunggu komando perintah, mereka melayang turun, dan kini tetap mengurung Su-to Yan dan Cin Bwee dipusat Di atas kapal, Jie Ceng Peng berkata: "Bila kalian dapat melepaskan diri dari kurungan keempat suhengku itu, kalian boleh pergi bebas." "Terima kasih." Su-to Yan mengetahui bahwa Jie Ceng Peng ada niatan untuk melepas dirinya, maka mengucapkan kata kata seperti tadi.

Lima jari tangan kanan mengkait, itulah jurus Cengkeraman maut Thian-mo-nie hun-ciauw yang bernama Thian-mo-Cauw-hun.

Empat orang berbaju hitam memecah diri menjadi dua kelompok dua menyerang Su-to Yan dua lagi mengurung Cin Bwee.

Dua yang menghadapi Su-to Yan adalah bekas pecundang pemuda itu, mereka menghadapi musuh dengan sikap gentar, diserang oleh ilmu cengkeraman Tangan Langit yang luar biasa, cepat-cepat mereka mengundurkan diri, Cin Bwee telah berhasil mendesak dua lawannya kini ia menggabungkan diri dengan Su-to Yan.

Mereka bekerja sama, menentang empat musuh.

Seharusnya, mengingat keadaan Su-to Yan yang belum sembuh betul, ke empat orang berbaju hitam dari golongan Thian-lam Lo-sat dapat membendung kepergian Cin Bwee dan Su-to Yan.

Tapi mereka tidak tahu, sampai dimana kekurangan tenaga sipemuda, mengingat mereka pernah dikalahkan, rasa gentarnya tidak dapat hilang.

Cepat-cepat Su-to Yan mengajak Cin Bwee melarikan diri.

Kurungan empat orang berbaju hitam telah pecah, mereka tidak mengejar.

Maksud mereka membendung musuh untuk sementara, dan membiarkan Jie Ceng Peng yang turun tangan kini sigadis tidak mau meninggalkan kapal, tentu saja mereka tidak berdaya.

-ooo0dw0oooMengikuti perjalanan Su-to Yan dan Cin Bwee.

Luka Su-to Yan belum sembuh betul, belum lama menggunakan banyak tenaga, Luka yang baru merapat itu pecah kembali, setelah berlari beberapa saat, terasa semakin sakit.

Butiran keringat membasahi jiat pemuda itu.

Cin Bwee terkejut "Eh, kau mengapa?" cepat-cepat ia memayang si pemuda.

Su-to Yan menahan semua rasa sakitnya, semakin lama semakin hebat, suatu saat, ia tidak sanggup mempertahankan diri jatuh pingsan.

Cin Bwee menubruk dan merangkul pemuda itu, ia menangis sesenggukan kiranya pemuda itu telah mati.

Berapa saat kemudian, Su-to Yan sudah sadar kembali, Dilihatnya dirinya berada di dalam rangkulan gadis itu, butiranbutiran air mata Cin Bwee telah membasahi bajunya.

"Mengapa kau menangis?" Setelah Su-to Yan jatuh pingsan, Cin Bwee menangis, ia menyangka pemuda itu telah mati, Beberapa saat ia memegang urat nadi orang, masih ada, maka diketahui hanya pingsan saja, tapi rasa sedihnya tidak kepalang, karena dirinyalah, Su-to Yan meninggalkan Jie Ceng Peng, sedangkan luka pemuda itu belum sembuh betul, terlalu menggunakan banyak tenaga, maka luka itu kambuh kembali, ia jatuh pingsan.

Kini Su-to Yan telah siuman, si gadis masih menangis sesenggukan sedih sekali, terharu kepada cinta si pemuda kepada dirinya, Su-to Yan memberi hiburan: "Jangan menangis, aku tidak mengapa, sebentar lagi, akupun sembuh pula." Cin Bwee membantu pemuda itu duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya, inilah cara-cara yang paling lama untuk menyembuhkan segala macam luka, cara jago-jago silat menjaga diri mereka dari gangguan penyakit dan luka-luka.

Dua jam kemudian, hari mulai menjadi gelap.

Su-to Yan telah membuka kedua matanya, terlihat Cin Bwee duduk tidak jauh dari dirinya gadis itu sangat menyesal atas langkah-langkah yang memaksa Su-to Yan meninggalkan Jie CengPeng, hal itu dikerjakan rasa dengki, rasa cemburu yang tidak terhingga, maka sipemuda menderita.

Lama sekali mereka berdiam seperti itu.

Su-to Yan mulai memecahkan kesunyian, pemuda itu berkata: "Menyusahkan dirimu." Cin Bwee tertawa getir, dialah yang menyusahkan orang, Sudah wajib menjaga keselamatan pemuda itu, Kini telah berhasil, hatinya agak lega.

"Su-to toako." Berkata gadis yang masih berpakaian pria itu.

"Aku menyesal, membuat kau jadi begini, jangan kau menaruh didalam hati, atas kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat." Su-to Yan tersenyum.

"Kita telah bebas dari bahaya." ia puas dapat meninggalkan orang-orang dari golongan Thian-lam lo-sat.

"Masih bencikah kepadaku?" Bertanya Cin Bwee "tidak kuketahui, lukamu masih berat sekali," "Adik Bwee, jangan kau mengucapkan seperti itu." Cin Bwee puas, lebih senang lagi mendengar sebutan adik Bwee itu, sudah lama ia mengharapkan kasih sayang si pemuda, agaknya harapan itu segera kesampaian.

"Hari telah malam, dimana kita akan melewatkannya?" Bertanya sigadis.

"Aku telah sembuh." Berkata Su to Yan "Mari kita meneruskan perjalanan, tidak jauh disana, seperti ada sebuah kota." Mereka menuju kearah itu, sebentar kemudian mereka telah tiba ditempat tujuan, itulah kota kecil, cukup bersih, memilih salah satu rumah makan, mereka memesan makanan.

"tidak lama, pelayan rumah makan datang kembali dengan makanan yang dipesan.

Cin Bwee dan Su-to Yan menyelesaikan barang santapan mereka, tidak lupa, saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Dan haripun menjadi gelap betul.

Tiba-tiba mereka dikejutkan datangnya seseorang, bentuk tubuh orang itu sangat pendek, gemuk terokmok, wajahnya selalu bersungging senyumnya, sangat ramah dan menarik perhatian.

Orang pendek ini menggunakan matanya menyapu kearah seluruh isi ruangan, kemudian menatap Su-to Yan.

Su-to Yan terkejut, dari sinar mata orang.

ia dapat mengetahui bahwa manusia pendek itu berilmu silat tinggi, tajam sekali, ia curiga kepada anak buah Kong-Sun Giok.

Keagungan Su-to Yan menarik perhatian orang itu, ia bergerak maju, memberi hormat dan berkata: "Mungkinkah aku sedang berhadapan dengan saudara Kong-sun ?" Su-to Yan, membalas hormat itu, dengan membungkukan setengah badan ia berkata: "Tentunya, saudara telah salah melihat orang." "Maaf." Cepat-cepat sipendek termokmok itu mengundurkan diri.

Cin Bwee segera berteriak: "Tunggu dulu." Si pendek gemuk membalikan badan, dan memandang Cin Bwee, Cin Bwee berkata: "Tentunya kau ingin mencari Kong-Sun Giok, bukan?" Orang itu menganggukkan kepala: "Betul." "Sudah kuduga, tentunya kau ingin mencari si pedang Selatan." "Dapatkah saudara memberi berpotongan badan pendek itu.

petunjuk ?" Berkata orang Sifat Cin Bwee agak berandalan, suka kepada keramaian, menyaksikan potongan dan bentuk tubuh orang itu yang agak lucu, ia bermaksud menggoda orang, maka dikala sipendek ingin pergi, ia memanggil kembali.

Kini ia ditanyakan tentang Kong-sun Giok, bagaimana dapat menjawab pertanyaan itu " Diam-diam Su-to Yan menarik tangan baju sang kawan.

Cin Bwee mendapat akal, segera ia menjebikan bibirnya, dengan singkat berkata: "tidak tahu." Dan tidak melayani orang gemuk pendek itu lagi.

Post a Comment