"tidak sedikit cerita yang berlebih-lebihan." berkata Jie Ceng Pang, "Untuk mendapatkan kepastian sebagai pemilik pedang Inliong-tentunya kau lebih jelas dariku, betulkah keadaan seperti apa yang kuuraikan diatas?" Su-to Yan menyengir "Aku miliki pedang In-liong, kecuali itu, semua aku tidak tahu." berkata sipemuda dengan jujur.
Sigadis menilai wajah pemuda tersebut sangat bersungguhsungguh, bukan keterangan palsu.
"Kau tahu bahwa Kong-sun Giok dan Auw-yang Ie sedang menantikan kedatanganmu di lembah Hui-in?" Bertanya lagi Jie "Mungkinkah kau dapat melawan gabungan kedua tenaga ahli pedang itu?" "Segala sesuatu harus diusahakan " "tidak mungkin, Kau bukan tandingan mereka, daripada menyerahkan pedang In-liong kepadamu dan kemudian diserahkan kepada salah satu dari kedua orang yang kusebut tadi, ada lebih baik kusimpan di tempat yang aman." Berkata Jie Ceng Peng panjang lebar.
"Atas perhatian nona, aku mengucapkan terima kasih.
walaupun demikian, karena nona bukan orang yang berhak memiliki pedang tersebut, aku harus meminta kembali." Melihat kekukuhan si pemuda, Jie Ceng Peng tidak berdaya, ia berkata: "Pedang In-liong tidak akan kukembalikan kepadamu, istirahatlah baik-baik.
Kau harus menjaga diri, banyak istirahat Selamat tidur." Tubuh gadis itu berbalik, meninggalkan Su-to Yan.
Su-to Yan mengetahui pasti bahwa pedang In-liong berada ditengah si Pedang Emas Jie Ceng Peng, Mengetahui bahwa gadis itu tidak ada niatan mengembalikan ia belum dapat menggunakan kekerasan, luka-luka yang diderita karena tusukan pedangnya KongSun Giok luar biasa, agak mengenai tulang.
Dan ia belum berhasil menyembuhkannya, harus menunggu waktu, Yang dapat menenangkan hati Su-to Yan ialah ilmu kepandaian Jie Ceng Peng cukup tinggi untuk sementara, pedang In-liong biar disimpan padanya, Tentu tidak ada orang yang berani merebut dari tangan gadis itu.
Suatu hari, setelah ia mempunyai kekuatan untuk mengalahkannya, Pasti ia minta kembali.
Siapakah Jie Ceng Peng ini" Mengapa mempunyai pengaruh besar, sampai dapat menolak perintah penggeledahan Kong-sun Giok, jago pedang yang sangat liehay" Berpikir tentang Kong-Sun Giok, ia sadar bahwa luka karena dua tusukan pedang si Pedang selatan harus segera disembuhkan, menggunakan ilmu It-bok Ceng khie, ia duduk bersila, mematung ditempat.
Perahu masih belajar Entah berapa lama kemudian, Su-to Yan berhasil menyelesaikan satu kwartal latihan ia membuka matanya.
Terdengar suara digeladak kapal yang berisik, berbareng, perahu besar itu bergoyang keras, seolah-olah hendak berlabuh.
Dimanakah mereka telah tiba" Mengapa harus menepi" Terlihat pintu didorong, Siauw In berjalan masuk, dengan tertawa ia menghampiri Su-to Yan dan berkata kepada pemuda itu: "Kongcu ingin menonton keramaian" Segera akan terjadi pertempuran mari kupayang kau kegeladak kapal." "Apa yang telah terjadi?" Bertanya sipemuda.
"Tentunya kau belum melihat ilmu pedang Kun-lun-pay, lekaslah keluar.
Kau akan puas menyaksikan pertempuran itu." "ilmu Kun-lun-pay?" "Betul, Orang itu mengenakan dandanan sepertimu, maka orangorang kami salah paham, Nona kami ingin meminta seruling pusaka In-Thian Cek-hong yang berada padanya." Su-to Yan segera menduga kepada Cin Bwe, Dengan ilmu It-bok Ceng-khie, ia banyak mendapat kemajuan, segera turun dari tempat pembaringan, dan menuju keluar dari perahu besar.
Digeladak depan telah berdiri Jie Ceng Peng, diapit oleh empat orang berbaju hitam, itulah empat orang yang pernah membokong dirinya dikelenteng rusak, orang orang Thian-lam Lo-sat.
Satu bayangan putih lompat naik kearah kapal, sebelum menginjakkan kaki dipapan geladak, mulutnya sudah berteriak: "Bangsat-bangsat dari golongan Thian-lam Lo-sat, hari ini, aku akan..." Itulah Cin Bwee yang menyamar dengan pakaian prianya.
Segera dilihat Su-to Yan berdiri dipintu, Cin Bwee terbelalak, kakinya telah menginjak papan geladak, ia tidak meneruskan katakatanya, tertegun ditempat.
Matanya merah, hampir mengeluarkan air mata gembira.
"Saudara Cin," Su-to Yan memangginya.
"Kau..." "Kau tidak mati?" Cin Bwee memandang pemuda itu dengan wajah bingung.
Kejadian itu dapat disaksikan oleh si pedang Emas Jie-Ceng peng, memandang dua orang dan berkata kepada Cin Bwee: "Ternyata kau kenal kepada Su-to kongcu" Mengingat hubungan ini, Serahkanlah seruling In-thian Cek-hong." Cin Bwee memandang Su-to Yan kemudian berkata kepada pemuda itu: "Bagus.
Ternyata kau berpura-pura mati, Enak-enak mengeram diri dikapal ini, he" Tidakkah kau tahu, betapa menderita aku karena mendengar berita kematianmu itu." Su-to Yan menyengir dengan gugup berkata: "Jangan salah paham, Nona Jie telah menolongku dari kematian.
Cin Bwee memandang Jie Ceng Peng, dan kemudian menatap Su-to Yan kembali.
"Baiklah." Ia berkata.
"Untuk kali ini, biar aku percaya kepada keteranganmu.
Tapi, kau belum meminta maaf atas kelancanganmu tempo hari." Setelah meninggalkan Su-to Yan, Cin Bwee berkeputusan untuk menyusul si pemuda, arah tujuannya adalah lembah Hui-In, langsung kearah Utara, Ditengah jalan, ia mendapat berita tentang kebinasaan Su-to Yan di Sungai Tiang-kang, ia sangat terkejut, hatinya bersedih, pudarlah harapannya untuk mendapatkan pemuda pujaannya itu.
Semua kemarahan ini dijatuhkan kepada Kong-Sun Giok, ia harus menuntut balas, Ditengah jalan bertemu dengan perahu besar golongan Thian-lam Lo-sat, dan kemarahan ini pun jatuh kepada anak buah Jie Ceng Peng.
Pertemuannya dengan Su-to Yan sangat berada diluar dugaan, ternyata si pemuda masih hidup, harapannya berkembang lagi, ia sangat girang, tapi cemburu, mengapa pemuda itu melakukan perjalanan dengan seorang gadis" Su-to Yan mengucapkan kata-kata dengan suara perlahan: "Aku ingin mengucapkan rasa penyesalan kepadamu, meminta maafmu, Tapi kau begitu cepat dan tergesa-gesa meninggalkanku dimana aku harus meminta maaf?" Cin Bwee tertawa manis, Tapi dilihatnya rombongan orang-orang berbaju hitam, timbul rasa kemarahannya, segera ia berkata : "Su-to Yan, mari kita meninggalkan tempat ini." Su-to Yan ragu-ragu.
Lukanya belum sembuh betul, bagaimana ia harus meninggalkan kapal" Jie Ceng Peng sudah memberi perintah: "Para suheng, tangkap orang ini segera." Empat orang berbaju hitam meluruk maju kearah Cin Bwee.
Cin Bwee tidak takut kepada mereka, ia mengadakan tantangan: "Hayo, siapa yang berani maju?" Su-to Yan memandang Jie Ceng Peng dan berteriak.
"Nona Jie, dapatkah kau menghentikan pertempuran ini?" Empat orang berbaju hitam sudah hampir bergebrak, tiba-tiba Jie Ceng Peng meneriaki mereka: "Para suheng, dengannya." tahan, Su-to Kongcu masih ingin bicara Su-to Yan menggapaikan tangan ke arah Cin Bwee: "Kemarilah.
Ada suatu yang harus kuberi tahu kepadamu." Cin Bwee menjebikan bibir.
"Dia lebih mendengar kata-katamu." ia menudingkan jari ke arah Jie Ceng Peng.
"Bicaralah kepadanya saja." "Ada sesuatu yang harus kuberi tahu kepadamu." Berkata Su-to Yan.
"Mengapa kan tidak datang kemari ?" Berkata Cin Bwee jarak mereka agak jauh.
"Lukaku belum sembuh betul." Berkata Su-to Yan.
Cin Bwee mendekati pemuda itu, "Katakanlah." ia cemberut keras.
Dengan perlahan, Su-to Yan berkata: "ilmu kepandaian Jie Ceng Peng sangat tinggi, pergilah kau lebih dahulu, Aku akan menyusul belakangan." "Hah, agaknya kau masih tertarik kepada nya, bukan?" Wajah Cin Bwee semakin masam, "Betah tinggal didalam kapalnya?" "Lukaku belum sembuh betul." Su-to Yan memberi keterangan "Kedatanganku bermaksud menempur Thian-lam Lo-sat, tidak perduli Jie Ceng Peng atau bukan, mungkinkah ia dapat mengalahkan kita berdua ?" "Jangan kau memandang rendah dirinya, ilmu silatnya tinggi, tahu ?" "Huh, lagi-lagi memuji orang." "Dengarlah dahulu, pergi kau berangkat meninggalkan kapal." "Aku tidak mau." Cin Bwee mengambek.
Betapa lama ia merindukan si pemuda, tidak sedikit air mata yang dikucurkan karenanya.
Kini telah bertemu, tapi diusir seperti itu.
"Kau bukan tandinganku." "Sangat lihay sekali ?" "Betul." Su-to Yan menganggukan kepala, "Tapi, ia sangat patuh kepada kata-katamu." Berkata si gadis cemberut.
Su-to Yan tidak berdaya.
"Baiklah," ia harus mengalah "Mari kita pergi bersama, tapi bila tidak berhasil mengalahkannya, kau harus segera lari mengerti?" Segala rintangan tidak menjadi soal, yang penting Su-to Yan bersedia pergi bersama dirinya, Cin Bwee berwajah terang.
"Baik." ia memberikan janji.
Dilain pihak, Jie Ceng Peng kehabisan sabar, ia berteriak: "Hei, belum selesaikan percakapan kalian" Cin Bwee telah menarik tangan Su-to Yan dan berkata kepada si pemuda: "Kau lompat ketepi, biar aku yang menghadang dirinya." Tanpa menunggu reaksi orang, ia menuangkan pedang kearah Jie Ceng Peng, dan ber kata kepadanya: "Keluarkanlah kemenangan." pedang emasmu, Mari kita menentukan Cin Bwee meletakan dirinya diantara Su-to Yan dan Jie Ceng Peng, Diantara kedua makhluk yang berlainan kelamin itu harus dipisahkan ia cemburu.
Su-to Yan mengerutkan kedua alisnya, ia berpikir kau tidak mau berangkat, bagaimana aku dapat meninggalkannya.
Aku...
membutuhkan bantuanmu, bila tidak, mungkin tulang-tulang yang luka itu akan pecah kembali.
Jie Ceng Peng menunjukan senyumnya, ia berkata: "Moay-moay, luka Su-to kongcu belum sembuh betul.
Bagaimana ia dapat melakukan perjalanan jauh?" Ia memanggil dengan istilah moay moay yang berarti adik perempuan.
Jin Bwee menjadi jengah, ternyata penyamarannya telah diketahui orang.
Dan yang lebih menguatirkan ialah luka Su-to Yan yang masih belum sembuh, Haruskah membiarkan dia istirahat didalam kapal besar ini" tidak mungkin.
Bagaimana dapat membiarkan pemuda nya didampingi oleh seorang gadis cantik lain".
Jie Ceng Peng berkata lagi: "Agaknya kau berat meninggalkan dia, bukan" Begini sajalah, kau boleh turut serta didalam kapalku, maka, kita akan melakukan perjalanan bersama, setuju?" Wajah Cin Bwee menjadi merah padam, ia jengah mendengar kata-kata tadi, matanya dipelototkan semakin besar.
Jie Ceng Peng semakin puas, ia berkata: "Moay-moay, kau galak betul : Aku senang kepada orang yang sepertimu, Aku sangat mengharapkan kesedianmu untuk menetap bersama, kita samasama menemani suto kongcu, bagaimana?" "tidak tahu malu." Bentak Jin Bwee yang segera mengirim satu tusukan pedang.
"Wah, sungguh galak," Jie Ceng Peng meloloskan diri dari serangan tersebut.
Jie Bwee mengirim serangan lainnya, Jie Ceng Peng telah siap sedia, dengan jari-jari tangannya yang halus, ia melakukan gerakan yang seolah-olah sedang mengelus sesuatu itulah tipu Hun-hoa Hutliu.
Su-to Yan terkejut, itulah tipu Hun-hoa Hut-liu, salah satu jurus dari ilmu purbakala Pie-pa-cap-Sa-san-Jiu.