Seorang diri ditempat itu, Su-to Yan mengatur peredaran darahnya, menyembuhkan luka-luka yang diderita, ia mengeluarkan terlalu banyak darah, dan itu membutuhkan istirahat yang banyak.
Setengah jam kemudian, lapat-lapat terdengar suara pintu dibuka, dan seseorang memasuki kamar itu, berdiri didepannya beberapa saat, meletakkan sesuatu, dan pergi kembali.
Semua pusat perhatian Su-to Yan sedang dicurahkan untuk mempercepat peredaran darah nya, karena itu tidak boleh mendapat gangguan walaupun tahu akan kedatangan orang itu, ia tidak membuka mata.
Sata jam lagi berlalu, Su-to Yan berhasil mengalirkan semua peredaran jalan darah, ia menyedot hawa napas dalam-dalam, pandangan lebih terang, Terpikir akan kejadian tadi, ia mengucurkan keringat dingin.
Tentunya sigadis berbaju hijau yang datang, maka ia tidak mengganggu bukankah akan celaka" Dugaan Su-to Yan tidak salah, setelah mengetahui bahwa pemuda itu telah selesai menekunkan dirinya, sigadis berbaju hijau masuk kembali, Dengan senyuman manis, ia berkata: "Kudengar kau memiliki dua macam ilmu purbakala, tidak kusangka, kecuali itu, kau juga pandai menggunakan It bok Cengkhie." Su-to Yan terkejut ia berpikir, lihay mata gadis ini, hanya sepintas lalu, latihan It-bok Ceng-khie telah diketahui.
Gadis tersebut mengambil obat yang belum lama diletakan dimeja, diserahkan kepada Su-to Yan dan berkata: "Makanlah obat ini, maka kekurangan darahmu dapat bertambah cepat." Su-to Yan menenggak obat tersebut.
Sigadis berkata lagi: "Kudengar kau hendak pergi kegunung Bu-san menemui Ie Hian Eng, entah alasan apakah yang belum diselesaikan dengan nona itu?" Su-to Yan ragu-ragu.
Keterangan Siauw In memberitahu kepadanya, Ie Han Eng bermusuhan dengan mereka, bagaimana ia harus membuka mulut" Gadis itu tertawa lagi, katanya: "Jangan kau percaya keterangan Siauw In, ia mulutnya terlalu usil, pandai mengerang cerita yang tidak ada, Kami belum pernah mengikat tali permusuhan.
Aku dan Ie Han Eng adalah sahabat baik.
Kinipun sedang menuju ke gunung Bu-San untuk mencarinya," Su-to Yan memandang gadis tersebut dengan tajam.
Keterangan yang bertentangan dengan keterangan yang Siauw ln berikan.
Yang manakah yang harus dipercaya olehnya" ia lupa menjawab pertanyaan itu, Melihat keragu-raguan orang, gadis berbaju hijau tidak memaksa ia berkata: "Bila ada sesuatu yang harus dirahasiakan aku tidak mengharuskan kau menjawab pertanyaan tadi.
Anggap saja aku tidak bertanya kepadamu." -oo0dw0oo- Jilid 3 SU-TO YAN malu hati, Hutang budi kepada nona yang menolong dirinya dari kematian mungkinkah harus dibalas dengan air tuba" Segera ia berkata: "Aku harus menemui Ie Han Eng untuk menyerahkan pedang Inliong." "Oooo, . . . ." Mata gadis tersebut memancakan keanehan, "Pada sebelumnya, pernahkah kau kenal dengan Ie Han Eng?" Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepala.
"tidak kenal sama sekali?" Gadis tersebut belum mendapat kepuasan.
"Hanya perintah guruku yang mengharuskan menyerahkan pedang In-liong kepadanya." Berkata lagi Su-to Yan.
"Tapi le Han Eng tidak pandai silat, Mengapa harus menyerahkan Su-to Yan tertegun, Ie Han Eng tidak pandai silat" Mengapa memiliki ilmu pedang Maya Nada" ilmu pedang yang dikenal sangat ampuh" ilmu pedang tanpa tandingan" Lama sekali mereka tidak bicara.
"Su-to Yan . . . " Panggil gadis tersebut menyadarkan lamunan si pemuda.
"Oh . . . Oh, . . . ." Cepat-cepat Su-to Yan bangkit.
"Nona, aku berterima kasih kepadamu." Berkata si pemuda, "Pertolonganmu juga, telah mengangkat diriku dari maut tidak akan kulupakan." "Perkara kecil, Kulihat kau berada didalam bahaya, maka segera aku menyuruh orang ku menolong dirimu." "Bagaimana nona tahu, aku berada di dalam bahaya?" "Dikala kau jatuh ke air dan dikejar oleh Kong-sun Giok, aku dapat melihat dari tempat jauh." "Oooooh..." "Segera kupercepat kapalku, dan tepat pada waktunya, dapat menghindari dirimu dari kematian." "Eh, bagaimana kau tahu aku bernama Su-to Yan?" "Kong-sun Giok memanggil-manggil nama mu itu.
Maka aku dapat tahu." "Bolehkah . . . Aku mengetahui nama nona yang mulia?" "Ng . . . Kau pernah berhadapan dengan 4 suhengku, seharusnya tahu namaku." "Empat suheng nona?" " Su-to Yan tidak mengerti.
"Disebuah kelenteng yang tidak jauh dari gunung Oey-San, dikala menjelang malam gelap, tatkala kau memasuki kelenteng itu dan diserang oleh mereka . . . " "Oo . . . .
Nona juga dari golongan Thian-lam Lo-sat ?" Su-to Yan ingat kepada anak murid golongan Thian-lam Lo-sat.
"Betul, Namaku Jie Ceng Peng." berkata gadis itu.
"Oh, Pedang Emas Jie Ceng Peng." berteriak Su-to Yan terkejut.
"Demikianlah mereka memanggil diriku." Jie Ceng Peng sangat ramah.
Su-to Yan mengucurkan keringat dingin, pernah didengar cerita tentang seorang gadis dari Thian-lam Lo-sat yang bernama Jie Ceng Peng, dengan gelar si pedang Emas yang ganas, setiap laki-laki yang jatuh kedalam tangannya, pasti mengalami kesulitan, lebih baik mati daripada hidup, Dan kini, dirinya telah . . . Terdengar lagi suara gadis baju hijau yang bernama Jie Ceng Peng itu: "Kudengar suheng suhengku itu bercerita, mereka bertemu dengan seorang pemuda berbaju putih dari Siau-lim-pay, sulit dikalahkan, maka aku segera menyusul datang." Su-to Yan masih berpikir, apa maksud Jie Ceng Peng bercerita tentang kejadian-kejadian lama " Jie Ceng Peng masih berkata: "Aku kurang percaya kepada keterangan itu, tidak kulihat ilmu-ilmu kepandaianmu, tapi tadi, ilmu yang kau kerahkan adalah ilmu It-bok Ceng-khie pasti, tidak akan salah lagi." "Su-to Yan harus memuji kelihayan mata gadis berbaju hijau ini, tentunya mempunyai ilmu kepandaian yang hebat, sungguh tidak mudah mengalahkannya." "Bagaimanakah hubunganmu dengan Ciok Pak Jiak ?" "Murid dan guru." "Guru ?" Mata Jie Ceng Peng terpentang lebar-lebar, ia kurang percaya, bahwa pemuda yang benda dihadapannya adalah murid Si tokoh sesat yang sudah lama tiada kabar cerita itu.
Ciok Pak Jiak terkenal pada 50 tahun berselang, dan 20 tahun kemudian karena terlalu banyak musuh, ia melenyapkan diri.
Pemuda ini baru berumur belasan tahun, mungkinkah Ciok Pak Jiak dapat sanggup bertahan sampai satu abad" "Nona," Su-to Yan membuka Suara, "bolehkah aku bertanya, dimana pedang In-liong yang kupegang sebelum jatuh pingsan ?" "Pedang In liong berada padaku!" Berkata si gadis.
"Bolehkah kau menyerahkan kembali pedang itu ?" "Kau tentunya maklumi gurumu itu menanam banyak permusuhan bila mereka tahu, kau keluar dengan membawa-bawa pedang In-liong mungkinkah mereka tidak mengadakan gangguangangguan" Dapatkah kau mempertahankan pedang In-liong dari keroyokan banyak orang?" "Atas peringatan nona, sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih.
Sebagai murid dari seorang guru, aku telah mewarisi semua kepandaian, tentu saja harus menanggung semua resikoresiko lama." "Bagus, Aku ada sedikit ganjelan dengan perhitungan inipun jatuh padamu, bukan?" gurumu, dan "Tentu." "Bila aku ingin mengadakan perhitungan denganmu, apa yang dapat kau berikan?" "Mengadu silat ?" "Cara yang paling biasa bagi kaum kita, bukan?" "Aku tidak menolak setiap tantangan." "Bukan menolak atau tidaknya, yang kuingin ketahui dapatkah kau bertanding segera, didalam keadaan masih terluka?" Si gadis menatap wajah pemuda itu.
"Matipun akan kulayani tantanganmu." Berkata Su-to Yan gagah.
"Bagus." Berkata Jie Ceng Peng "Telah tiga hari tiga malam kau jatuh pingsan, Kong-sun Giok datang menyusul, ia ingin memeriksa perahu, Dan permintaan itu telah kutolak, Seperti inikah pembalasanmu?" Su-to Yan memperhatikan wajah sigadis berbaju hijau sangat cantik, tapi masih muda belia, mungkinkah dapat menolak tuntutan yang Kong-sun Giok ajukan " sedangkan ketua Thian-lam Lo-sat saja belum tentu ditakuti oleh pedang Selatan, bagaimana hal ini dapat terjadi" Dengan cara apa Jie Ceng Peng menghalau gangguan Kong-sun Giok" Su-to Yan terpekur, Mulutnya menggerendeng: "Ada ubi ada talas, ada budi harus dibalas." "Untuk membalas budi, kini dapat kau lakukan dengan mudah." Berkata Jie Cheng Peng.
"Apa yang harus kulakukan?" Bertanya sipemuda.
"Bila kau bersedia menyerahkan pedang In-liong kepadaku, maka akupun akan berhutang budi, kita bersama melepas budi, Mudah kau kerjakan bukan?" Berkata sigadis dengan satu kerlingan mata yang menantang.
Su-to Yan membisu, Bagaimana ia dapat menyerahkan pedang In-liong kepada orang yang tidak berhak untuk menerima pedang itu" Dan bagaimana ia dapat membuka mulut untuk menuntut kembali pedang tersebut" sedangkan nona ini berkepandaian tinggi, sedang dirinya masih berada didalam keadaan luka" Terdengar lagi suara gadis yang bernama Jie Ceng Peng itu: "Aku tahu, mengapa Kong-Sun Giok dan Auw-yang In selalu bertengkar.
Mereka ada niatan untuk memiliki ilmu pedang Maya Nada.
Karena itulah, mereka menutup daerah lembah Hui-In sebagai daerah terlarang, Ie Han Eng pernah berkata kepada dua orang tersebut, ilmu pedang Maya Nada harus ditukar dengan pedang In-liong, siapa yang dapat menyerahkan pedang In-liong.
dialah yang berhak memiliki ilmu pedang Maya Nada, bahkan lebih dari pada itu, bukan saja dapat memiliki ilmu pedang yang sangat mujijat, nona tersebut masih bersedia menyerahkan dirinya, diperistri oleh salah satu dari mereka yang dapat menyerahkan pedang In-liong." "Oooh..." Su-to Yan dapat mengerti sedikit dari cerita ini.
Jie Ceng Peng berkata lagi: "Auw yang Ie Kong-Sun Giok semakin bernapsu untuk mendapatkan pedang In-liong, mereka tidak tahu, dimana pedang tersebut disimpan, untuk menghindari dari kerewelan dan untuk menghindari agar ilmu pedang Maya-Nada dan Ie Han Eng tidak terjatuh kedalam tangan orang lain, mereka menutup lembah tersebut walaupun demikian, karena menjunjung tinggi nama keluarga le, kakek Ie Hang Eng adalah seorang tokoh silat yang sangat dihormati orang, si Pedang Selatan dan Pedang Utara tidak berani mengadakan gangguan." Jie Ceng Peng menghentikan ceritanya, sedang Su-to Yan mendapat berita baru tentang keluarga Ie itu.