Nama Kong-sun Giok terdaftar pada deretan pertama, Su-to Yan tidak ada niatan untuk mengalahkan ahli pedang itu, ia boleh merasa puas, bila dirinya tidak dijatuhkan lawan.
Dari posisi kedudukan yang diambil, ia memilih jalan perdamaian, jalan ini ditempuh dengan mempertahankan diri lebih kuat lagi.
Lama sekali keadaan itu berlangsung.
Kong Sun Giok menunggu kelemahan orang, dan ia tidak berhasil.
Dilihat bagaimana rapat penjagaan Su-to Yan, diam berdiri diburitan perahu, bila serangannya tertutup, tidak mudah ia membalikkan keadaan, maka Lain pikiran mengarungi benak Kong-sun Giok, Diketahui bahwa Ciok Pak Jiak mendapat nama karena sepasang telapak tangannya yang luar biasa, tidak ada keistimewaan untuk menguasai ilmu pedang, Su-to Yan adalah murid jago sesat itu, mungkinkah dapat melebihi gurunya" Lain pikiran berkata kepada Kong-sun Giok, dirinya mendapat julukan si Pedang Selatan, mungkinkah harus takut kepada pemuda baju putih itu" Kong-sun Giok menyedot tarikan napas yang panjang., kemudian melempangkan ujung pedang, disodorkan kedepan, perlahan sekali.
Serangan yang sangat biasa, Tapi penuh perubahan, serangan untuk menjajal, sampai dimana reaksi lawan.
Su-to Yan masih membiarkan pedangnya melintang didepan dada, dia tidak bergerak, seolah menutup mata dari serangan KongSun Giok.
Kong-Sun Giok tidak meneruskan serangan itu, pedang ditarik pulang, dari arah lain, ia mengadakan jajalan yang kedua.
Su-to Yan bergeser sedikit, walaupun begitu, pedang melintang melindungi dada, tidak merubah posisi melindungi diri.
Lagi-lagi Kong-sun Giok membatalkan serangan, berganti arah lain, mendorong maju pedang.
Seperti keadaan pertama, karena pedang Kong-Sun Giok di mainkan sangat perlahan.
Su-to Yan tidak menangkis serangan menggebraknya, ia tidak dapat diganggu.
itu, juga tidak Delapan kali Kong-sun Giok mengadakan gangguan, Delapan kali pula Su-to Yan berganti arah, didalam keadaan posisi kedudukan yang sama.
Kini Kong-sun Giok maju dua tapak, jarak mereka telah dipersingkat, ujung pedang mengarah jalan darah Keng-kie-hiat.
Su-to Yan harus memiringkan pedangnya, dengan mudah menyingkirkan serangan pedang lawan.
Kong-sun Giok tetawa, tubuhnya mundur.
Cepat, hal ini penting, mengingat serangan balasan yang musuh akan dilontarkan kepada dirinya.
Tapi Su-to Yan tidak mengejar Sipedang Selatan, lagi-lagi ia melintangkan pedang membuat penjagaan kepada diri sendiri.
Suatu tanda2 bahwa pengalaman tempur pemuda itu sangat cetek sekali.
Kong-sun Giok berhasil mengetahui kelemahan lawan, ia pun tahu dimana letak kekuatan lawan, kini maju kembali, pedang diputar kencang, mengirim beberapa serangan, sebentar dari atas, sebentar dari samping, dan sebentar lagi membabat sepasang kaki musuh itu.
Su-to Yan memiliki beberapa macam ilmu ampuh, sayang kurang pengalaman, belum lancar menggunakan ilmu-ilmu itu, sedang orang yang dijadikan lawan adalah bengcu daerah Kang-lam, terlalu berat.
Menangkis lagi dua kali, tusukan pedang Kong-sun Giok yang berikutnya tidak tertahankan ujung pedang menusuk beberapa senti di pundak kanannya.
Su-to Yan mengeluarkan suara gerengan, tangan yang memegang pedang yang menjadi lemas, hampir ia melepaskan pedang ln liong.
Sadar akan pentingnya pedang tersebut, dengan menahan rasa sakit, ia tidak mau melepaskannya.
Tangan kirinya masih mempunyai kebebasan, dengan satu jurus Han-In Ciok goat dari ilmu purbakala Pie-Pa-cap-Sa-san Chiu membacok tangan lawan.
Kong-sun Giok dipaksa mundur.
Betapa lihay ilmu tersebut, ia Su-to Yan harus mempertahankan pedang In-liong, tidak ada lain jalan, setelah berhasil mendesak lawan, seketika itu juga, ia lompat kedalam air.
Kong-sun Giok melengak, ia tidak tinggal diam, diketahui bahwa lawan telah menderita luka, mengetahui Su-to Yan telah berada diair, ia pun meluncurkan perahunya, mengejar.
Su-to Yan menggunakan air sebagai senjata, lagi-lagi ia mengalami kegagalan, pedang Kong-Sun Giok sangat cepat, pada suatu ketika, pedang itu melukai paha kiri.
Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Su-to Yan tidak dapat mempertahankan dirinya, tubuhnya tenggelam ke dasar sungai.
Kong-sun Giok kehilangan lawan tersebut.
Sebentar kemudian, terlihat air merah yang menuju kearah perahunya, itulah darah Su-to Yan.
Su-to Yan tenggelam sambil memegangi erat-etat pedang Inliong, biar bagaimana, ia harus mempertahankan pedang itu.
Terbawa arus sungai, ia diombang-ambingkan ombak.
bertahan beberapa saat, dan iapun pingsan, tidak sadakan diri lagi.
Air sungai Tiang kang mengalir.
Berapa lama ia tidak ingat orang, Su-to Yan tidak tahu.
Dikala ia membuka matanya, ia mendapatkan sudah berbaring di suatu tempat yang empuk, ternyata sudah ditolong orang.
Gerakan yang pertama adalah mencari pedang In-liong, dan pedang itupun telah tiada pada tangannya.
Ia kaget sekali, cepat-cepat lompat bangun.
Sekujur badannya dirasakan sakit, ia terjatuh kembali.
Su-to Yan berusaha memperhatikan keadaan itu, dirinya berada didalam sebuah perahu lain, cukup besar, perahu ini bukan perahu besar Kong-Sun Giok yang sudah tenggelam, juga bukan milik Ouw yang Ie yang sudah bocor.
Seorang gadis pelayan masak kedalam ruangan itu.
Melihat keadaan Su-to Yan yang sudah siuman, ia berteriak girang: "Ooo . . . .
Kong cu sudah ingat orang?" "Dimanakah pedangku ?" Su-tu Yan tidak dapat melupakan pedang In-liong, segera ia bertanya kepada gadis pelayan itu.
Sigadis tertawa, dengan senyum manis, ia berkata: "Kau agak kurang tahu aturan, Bukannya bertanya kepada orang yang menolong dirimu, tapi soal pedang yang sangat diperhatikan." "Tapi, nona..." "Jangan panggil aku nona, panggil saja aku Siauw-In, itulah namaku." "Nona Siauw In." "Siauw ln saja cukup." "Oh, Siauw In, kau telah menolong diriku" Terima kasih." "Hi, hi, hi . . . Bukan aku yang menolong, Tapi, nonaku yang telah berusaha menolong dirimu." "Nonamu " Dimanakah ia berada ?" "Mau apa bertanya pedangmu itu ?" tentang dirinya" ingin menanyakan "Oh, oh . . . Aku ingin mengucapkan terima kasihku." "Nah, lihatlah, nonaku telah datang." Berkata gadis pelayan yang bernama Siauw In itu.
Seorang gadis berbaju hijau berjalan datang, sangat agung sekali, ia menghampiri tempat pembaringan.
Su-to Yan menunjuk hormatnya, ia berkata: "Terima kasih kepada budi nona yang telah menolongku dari kesulitan." Gadis itu menganggukkan kepala, ia berkata: "Keadaaamu masih belum baik betul, aku harus menambah obat untukmu, tunggulah sebentar." Dan gadis itupun pergi lagi, meninggalkan ruangan yang ditempati Su-to Yan.
Hanya Siauw In dan Su-to Yan masih belum lepas memandang kearah lenyapnya bayangan gadis berbaju hijau tadi.
"Su-to Yan," Siauw ln memanggil.
"jangan kau berpikir yang bukan-bukan kepada nonaku." Su-to Yan terkejut, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.
"Eh," tiba-tiba ia memandang Siauw In "Bagaimana kau tahu aku, bernama Su-to Yan." Siauw In tertawa.
"Mengapa tidak ?" ia berkata, "Siapakah yang berani menempur pedang Utara dan pedang Selatan sekaligus " Bila bukan Su-to Yan yang ternama ?" Su-to Yan menundukkan kepala, bagaimana ia dikatakan menempur Pedang Selatan dan Pedang Utara, jiwanyapun hampir direngut oleh maut.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian," ia berkata perlahan.
"Terima kasih " Huh, mengapa kau ingin merencanakan sesuatu kepada nonaku ?" "Merencanakan sesuatu ?" Su-to Yan tidak mengerti.
"Kau kira aku tidak tahu " Setelah melihat wajah nonaku, matamu menjadi merah, kuning, hijau, sangat liar, seperti juga orang-orang lainnya, entah apa yang sedang kau rencanakan kepadanya ?" Su-to Yan menyengir, ia dianggap sebagai pemuda ceriwis.
"Jangan kau menyangkal." berkata lagi Siauw In.
"Setiap lelaki yang bertemu dengan nona pasti memandang seperti itu.
pengalamanku didalam hal ini tidak dapat dikelabui orang." "Jangan kau sama ratakan semua orang." berkata Su-to Yan.
"Huh, bagaimana kau memandang nonaku tadi " Kau kira aku tidak tahu ?" Su-to Yan diam, ia tidak mau berdebat dengan gadis seperti Siauw In.
"Hh," melihat pemuda itu diam, Siauw In gatal mulut, "Apa yang sedang kau pikirkan." "Sedang kupikirkan, kemanakah kalian ingin pergi?" "Mengapa?" "Aku sedang menjalankan tugas." "Menjalankan tugas" Tugas yang bagai manakah yang sedang kau jalankan" Bolehkah kau beri tahu kepadaku?" Bertanya Siauw In yang ternyata sangat usil sekali.
"Gunung Bu-San." "Gunung Bu-san adalah di hulu sungai, dan perahu kita inipun sedang melakukan perjalanan kearah itu.
jangan kau khawatir, tidak menelantarkan tugasmu." "Mengganggu kalian." Berkata Su-to Yan . . . "Eh, kau hendak kegunung Bu-san" Siapa kah yang hendak kau jumpai?" "Aku harus menemukan seorang gadis yang bernama Ie Han Eng." Berkata Su-to Yan secara jujur.
"le Han Eng?" Siauw In membelalakan mata, "Huh" Lagi-lagi Ie Han Eng.
Dimanakah letak kebagusannya" Mungkinkah nonaku kalah cantik dari Ie Han Eng?" Su-to Yan memandang gadis pelayan itu.
Dengan sungguh-sungguh Siauw In berkata: "Kuanjurkan kepadamu, ada lebih baik tidak menemui Ie Han Eng." "Mengapa?" Su-to Yan semakin bingung.
Dengan berbisik-bisik, Siauw In berkata perlahan: "Kuberitahu kepadamu, bahwa nona kami adalah musuh orang yang bernama Ie Han Eng itu." "Eh, siapakah nama nona kalian?" Siauw In ingin memberi jawaban, tapi dari luar sudah terdengar teriakan Sang nona majikan: "Siauw In, jangan kau mengganggu Su-to kongcu, ia harus banyak istirahat." Siauw In mencibirkan bibir, dan membalikkan tubuh, meninggalkan Su-to Yan, Su-to Yan masih mengunyah kembali keterangan-keterangan Siuw In, nona majikan Siauw In adalah musuh Ie Han Eng" Mengapa setiap orang didunia ini memusuhi Ie Han Eng" Teringat kepada Cin Bwee, gadis itupun tidak puas kepada Ie Han Eng, dimanakah letak ketidak puasan itu" ia harus mengorek sedikit keterangan.
Pertanyaan yang tidak dijawab, tentu saja Su-to Yan tidak tahu, betapa cantik wajah gadis yang bernama Ie Han Eng, dia adalah gadis tercantik untuk masa itu, semua wanita mengiri kepadanya, semua gadis dengki kepadanya, dan inilah sebab penting, mengapa Cin Bwee dan Siauw In tidak puas kepada Ie Han Eng.