Halo!

Pedang Wucisian Chapter 08

Memuat...

Sungguhlah diluar dugaan, bila Kong-Sun Giok menolak tawaran itu, Bila si pedang selatan mau diajak bekerja sama, melenyapkan Su-to Yan, diantara kedua pedang itu akan bertempur menetapkan kekuatan, siapa yang menang, itulah yang berhak memiliki pedang In-liong.

Auw-yang Ie melirik kearah Su-to Yan, agaknya pemuda itu masih sangat tenang.

"Bagaimana pendapat saudara Su-to tentang tawaran saudara Kong-sun tadi?" ia ber tanya kepada pemuda itu.

Su to Yan mengeluarkan pendapat: "Ada baiknya, bila kalian berdua yang menetapkan persoalan tadi." Auw-yang Ie melirik kearah Kong-sun Giok dan bertanya: "Bagaimana?" Kong-sun Giok menggeleng gelengkan kepala: "Aku tidak bersedia bekerja sama denganmu." "Baiklah." Berkata Auw-yang Ie.

"Terpaksa aku harus mendahului gerakan rencanaku." Tiba-tiba akhli pedang dari Utara itu mengeluarkan satu pekikan panjang, bergema hingga diseluruh permukaan air.

Berbareng, terdengar suara bergedebrukannya dari orang-orang yang roboh di lantai kapal Kong-sun Giok.

Diluar telah terjadi pertempuran.

Wajah si Pedang Selatan berubah.

"Auw-yang Ie," ia membentak, "Kau ada menyembunyikan orang orangmu didalam perahu ini?" Auw-yang Ie tidak perlu memberikan jawabannya.

Disaat itu, pintu telah didobrak dari luar, disana muncul beberapa orang, masing-masing memegang sepasang kampak sangat tipis, itulah dua belas anak buah pilihan Auw-yang Ie dengan dua belas pasang kampak-kampak tipis mereka.

Kong-sun Giok sangat marah sekali, ia membentak: "Auw-yang Ie, berani kau kurang ajar di atas kapal ku?" "Ha, ha, ha, ha . . . " Pedang Utara tertawa, "Manakah orangorangmu?" "Agaknya kau telah menghilangkan semua rintangan, bukan?" Kong-sun Giok tidak melihat adanya orang-orang yang telah dibawa, termasuk juga Thung Kun Ie.

Auw-yang Ie memberi keterangan: "Sebenarnya, aku ingin bekerja sama denganmu.

Apa mau, kau tidak tahu diuntung, Menolak terlalu cepat, inilah hasil diri perbuatanmu sendiri." Kong Sun Giok telah berhasil menguasai kemarahannya, melihat situasi yang tidak menguntungkan ia telah mempunyai rencana lain, dengan dingin berkata: "Auw-yang Ie, kau telah berhasil menyingkirkan semua orangorangku, tentunya menganggap bahwa kemenangan telah berada dipihakmu, bukan?" Auw-yang Ie tertawa nyengir, ia memandang ke arah orangorangnya, meminta laporan mereka.

"Kapal kita telah bocor." Melapor seorang.

"Demikianpun dengan kapal ini." sambung Kong-sun Giok, "Kau harus ingat, dimana kah kini kita berada" Diatas permukaan air, di tengah-tengah sungai Tiang-kang yang sedang mengalir deras, Semua jalan sungai sudah kututup, sedangkan pengemudi kapal ini, sebelum ia mati atau mengalami sesuatu, telah kuperintahkan untuk merusak papan, ia harus menenggelamkannya.

Nah!

pikirlah, apa kau juga dapat lolos dari kematian ?" Auw-yang le terkejut.

Tampak ia mengerutkan kedua alis, dan akhirnya iapun menjadi sangat gelisah.

"Cincang dua orang ini!" Demikian sipedang Utara Auw-yang Ie memberi perintah kepada orang-orangnya.

Dua belas jago utara dari daerah utara dengan dua belas pasang kampak tipis mereka mengurung semakin rapat.

Kong-Sun Giok telah mengeluarkan pedang hanya beberapa tangkisan, ia berhasil menyingkirkan serangan orang-orang itu, ia berada di atas kapalnya sendiri, tentu lebih apal, tikung sana tikung sini, pada suatu ketika, ia berhasil lompat keluar.

Dua orang dengan empat kampak tipis mengancam Su-to Yan.

Jago kita tidak berpeluk tangan lagi, ia berkelit, kemudian mencabut pedang, hanya satu sentakan, ia membuat delapan kampak itu - terbang.

"Trang . . . .

Trang . . . .

Trang .

, .

Trang." Empat kampak lagi diterbangkan, Orang-orang Auw-yang Ie menjadi gentar, mereka mundur jauh-jauh.

Su-to Yan berhasil keluar dari geladak kapal, Terlihat Kong-sun Giok sedang bertempur seru dengan Auw-yang Ie, ilmu kepandaian dua orang itu seimbang, tidak mudah menentukan kemenangan Melihat jago-jago utamanya tidak berhasil membendung pemilik pedang In-liong, Auw-yang Ie terkejut.

Kesempatan ini telah digunakan oleh Kong-Sun Giok, ia lari ke buritan kapal, melepaskan perahu kecil, laju sekali, perahu itu menjauhkan kapal besar yang sudah mulai tergenang dengan air.

Dengan satu loncatan, Kong-sun Giok nangkring diatas perahu itu.

Auw-yang Ie mengejar kearah Su to Yan.

Dari atas perahu kecilnya, Kong-sun Giok berteriak: "Su-to Yan, datanglah kemari, kita belum selesai mengadakan pertempuran.

Su-to Yan agak tertarik kepada Kong-sun Giok, bila dibandingkan dengan kepribadiannya Auw-yang Ie.

Tentu saja, si pedang Selatan lebih pandai mengambil hati orang, tidaklah seperti si pedang Utara yang sangat kasar.

Keadaan sudah sangat gawat, Su-to Yan menyimpan pedang, dipungutnya Sebingkai papan, dilempar kearah permukaan sungai, Begitu tubuhnya melayang, dengan tepat jatuh pada papan itu, dari sana, ia lompat lagi kearah perahu kecil Kong-sun Giok.

Kong-sun Giok mengeluarkan pujian: "Bagus.

Aku Kong-sun Giok harus memberikan pujian kepada ilmumu ini." Su-to Yan telah berada diperahu kecilnya, ia menganggukkan kepala: "Terima kasih." "Jangan terlalu cepat mengucapkan terima kasih, sebentar lagi, mungkin kau mengutuk dan memaki-makiku." "Masih ingin meminjam pedang In-liong?" "Betul, sekali lagi kuulang permintaanku.

Walaupun berada ditempat ini, aku masih membutuhkan pedang tersebut.

Serahkanlah pedang In-liong." Su-to Yan tersenyum-senyum, ia memberi jawaban yang sama: "Maaf, Aku belum dapat melulusi permintaan itu." "Jawaban yang sudah kuduga." Berkata Kong-sun Giok.

"Di misalkan berganti kedudukan.

Aku yang memiliki pedang In-liong, dan kau yang meminta pedang itu, Akupun tidak akan menyerahkannya, Kecuali..." "Maksud saudara Kong-sun...." "Kecuali didalam keadaan-keadaan tertentu." "Apakah yang kau maksud dengan keadaan-keadaan tertentu "Kudengar Goan Thong bercerita, kau memiliki ilmu silat Siauwlim-pay.

Tapi kau menyangkal dan mengatakan, kau bukan murid Siauw-lim-pay." Su-to Yan terkejut, hatinya berkata: "tidak kusangka, Kong-Sun Giok memang mempunyai keistimewaan.

Penilaian sangat luar biasa." Dan ia memberikan jawaban: "Aku bukan anak murid Siauw-limpay." "Betul.

Kau bukan anak murid Siauw-lim pay, Tapi, dikala kau menempur Han-kang To-jin beberapa jurus tipu silat dapat kau gunakan baik." "Tapi, aku bukan murid Siauw-lim-pay." "Siapakah orang yang menjadi gurumu?" Su-to Yan tidak mau menyebut gurunya.

"Kau adalah anak murid Ciok Pak Jiak, orang yang pernah menepuk mati In-khong Hum dari Siauw-lim sie" Su-to-Yan kaget, sungguh diluar dugaan, bagaimana Khong-Sun Giok dapat menyebut nama gurunya" "Bagaimana kau tahu?" ia minta keterangan yang lebih jelas.

"Saudara Su-to, seluruh dunia persilatan telah kujelajahi penuh, Mengapa tidak tahu" Mana mungkin tidak dapat mengenali ilmu silat aliranmu?" Su-to Yan diam tidak bicara.

"Saudara Su-to," panggil lagi Kong-Sun Giok.

"Sekarang begini Saja, pedang In-liong kau serahkan kepadaku, ambillah pedang Selatanku, Didalam perjalananmu didalam dunia persilatan, walaupun kau orang baru, kutanggung tidak akan mendapat gangguan, bila kau mau menonjolkan pedang Selatan itu ." Su-to Yan tertawa, ia memberikan jawaban: "Kong-Sun bengcu, tidak kusangka, kau begitu mendesak, Ketahuilah bahwa pedang In-liong harus diserahkan kepada Ie Han Eng, bagaimana aku memberikan pertanggungan jawab ku, bila tiba dilembah Hui-in tanpa pedang tersebut" inilah pesan guruku sebelum beliau menghembuskan napasnya yang penghabisan." "Kau salah paham.

Aku hendak membantu ketenangan diperjalananmu.

Tapi kelihatannya, kau salah menerima maksud baik orang." "Aku selalu berterima kasih kepada setiap kebaikan-kebaikan yang orang berikan, Termasuk juga kebaikanmu.

Tapi, kalau orang memaksa seperti kau ini, bagaimana aku mengerti ?" "Bagus, Nanti, kalau sudah kusebarkan dan siarkan bahwa kau adalah muridnya Ciok Pok Jiak, entah berapa banyak orang yang akan memusuhi dirimu, menghalang-halangi perjalananmu, mengganggu kehidupanmu.

Gurumu mempunyai banyak musuh, maklumlah akan hal ini?" Su-to Yan belum menjawab, Kong-sun Giok sudah menyambung lagi: "Ditambah dengan urusan pedang In liong, dengan adanya pedang itu padamu, bila tokoh-tokoh rimba persilatan mengetahui berapa banyaknya orang yang ingin merebutnya" Berapa banyakkah yang dapat kau halau" Sangat berbahaya, dapat kau menginsafi keadaan ini" "Aku tidak perduli." jawab Su-to Yan singkat.

"Baik, Aku gagal dalam usaha melakukan jalan perdamaian, Apa boleh buat, aku harus mendapatkan pedang In liong dengan cara kekerasan." "Boleh kau coba." Su-to Yan menantang, ia tidak gentar.

Suasana semakin tegang, keadaan yang meruncing tidak dapat dielakan lagi, jalan pemecahan hanya satu, itulah pertempuran, pertarungan diatas permukaan air yang sangat berbahaya.

Perahu meluncur kearah hilir sungai.

"Bagus, Aku harus menempur anak murid Ciok Pak Jiak, orang yang pernah mendapat julukan iblis Sesat Nomor Satu." Berkata Kong-Sun Giok.

"Aku bergembira dapat di tempur oleh ahli pedang nomor satu untuk daerah Kanglam." Su-to Yan tidak mau kalah suara.

"Sret . . . ." pedang Kongsun Giok telah keluar dari sarungnya, wajahnya bersungguh-sungguh.

Melihat sikap yang dibawakan oleh lawannya, Su-to Yan maklum, ilmu pedang si Pedang Selatan jauh diatas ilmu pedang Han kang To jin.

Su-to Yan tidak berani lengah, ia melintangkan pedang didepan dada, itulah penjagaan terkuat.

Dengan sepasang mata menatap batang pedang lawan, selalu siap menerima serangan.

Kong-sun Giok belum pernah dikalahkan orang, bila pada saat sebelumnya, ia bersikap tenang dan memandang rendah ilmu kepandaian lawan, Kini sikap itu telah dibuang jauh-jauh.

Su-to Yan anak murid Ciok Pak Jiak, jago Sesat nomor satu yang pernah menggemparkan rimba persilatan.

Dan lain dari pada itu, diapun memiliki dua macam ilmu silat mujijat dijaman purbakala, tidak mudah untuk menjatuhkan jago muda ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment