Halo!

Pedang Wucisian Chapter 06

Memuat...

Itu waktu, Han-kang Tojin mendesak Su-to Yan sehingga kepinggir tembok, maksudnya, tusukan pedang tadi adalah tusukan yang terakhir, ia menduga pasti dapat memantek Sang lawan ditempat itu.

Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi kabur, tubuh Su-to Yan yang berputar itu lenyap dari depan dirinya.

Han-kang Tojin kaget sekali, segera diketakui bahwa posisi kedudukan dirinya berada didalam bahaya, untuk menghindari diri dari ancaman orang, jalan satu-satunya menubruk tembok didepan, itupun membawa akibat besar, kepalanya hanya dua kaki lagi dari tembok, ia akan menderita luka.

Kecepatan daya reflek segera bekerja, tubuh Han-kang Tojin melesat naik keatas setinggi mungkin ia menjauh semua bahaya bahaya itu.

Su-to Yan telah berputar, dan dengan gerakan yang tercepat, dirinya telah berada di belakang Han-kang To-jin, seharusnya, dengan satu kali uluran tangan, ia dapat merebut pedang tosu tersebut Tapi pedang yang Cin Bwe lemparkan itupun telah tiba, dengan demikian, pasti punggungnya ditembus oleh tajam pedang.

Apa boleh buat, Su~to Yan membatalkan niatnya yang dapat merebut pedang lawan itu tangan dibalikkan kebelakang, dengan jari-jari yang keras, ia mementil pedang.

Satu sinar putih menyusul larinya Han-kang To-jin, bagaikan seekor elang panjang, pedang tersebut memagut leher baju Sang tosu, dan memakunya ditembok, dim lagi, darah merah akan muncrat memenuhi ruangan itu.

Han-kang Tojin mengeluarkan keringat dingin, ia terpantek ditembok tanpa berani ber kutik, leher bajunya digantung oleh pedang Cin Bwee.

Pentilan dari Su-to Yan yang memantek Hon kang Tojin itu sangat luar biasa !

Kong-Sun Giok turut terkejut, bila bukan lemparan pedang Cin Bwee yang memaksa Su-to Yan menggunakan senjata mengalahkan lawannya, bukankah ia dipaksa melepas niatannya yang ingin memiliki pedang In-liong kiam " Su-to Yan sangat menyesalkan datangnya pedang Cin Bwee.

Tapi mengingat perbuatan Sang kawan yang bermaksud baik.

ia dapat memahami keadaan tersebut, Han-kan Tojin masih belum berani berkutik Su-to Yan maju menghampiri tosu tersebut, tangannya bergerak menarik pedang yang tertancap.

"Totiang boleh membalikkan badan." Demikian ia berkata.

Sangat kasihan juga melihat si akhli pedang yang menembok rapat seperti itu.

Cin Bwee berlompat-lompatan gembira, pada tanggapan dirinya, tentu lemparan pedang tadi yang membantu usaha Sang kawan untuk mengalahkan Han-kang Tojin, Aku berjasa !

Cin Bwee sangat bangga !

Kong-Sun Giok bermuram durja, anak buah nomor satu yang paling diandalkan menderita kekalahan, bagaimana ia tidak merasa turut malu " Goan Thong lupa menutup kembali mulutnya yang terpentang lebar-lebar, mungkinkah hal itu betul-betul terjadi " ia masih kurang percaya kepada kenyataan yang terbentang di hadapan dirinya, Han-kang Tojin adalah akhli pedang nomor satu, hanya kalah setingkat di bawah Kong-sun Giok, bagaimana dapat kalah oleh seorang pemuda yang baru menampilkan dirinya didalam rimba persilatan " Su-to Yan memperhatikan keadaan disekeliling dirinya, didalam ruangan itu telah bertambah banyak orang, bagaimana bila mereka mengepung dirinya " Dapatkah mengajak Cin Bwee melarikan diri dari kepungan mereka " Kong-Sun Giok telah mendekati Su-to Yan, dengan wajah disungging senyuman, berkatalah Bengcu rimba persilatan itu: "Bagus !

Kau telah mengalahkan Han-kang Tojin, tapi masih ada aku Kong-sun Giok, berapa jurus lagi kau dapat melayaniku?" Su-to Yan tidak melayani tantangan Kong-Sun Giok, langsung menghampiri Cin Bwee, diserahkannya pedang kawan tersebut dan berkata kepadanya: "Mari kita meninggalkan tempat ini!" Cin Bwee maklum akan bahaya ditempat itu, ia mengikuti sang kawan, meninggalkan ruangan, dipintu telah menghadang dua puluh orang berbaju hitam.

Kong-sun Giok tersenyum ditempat dan memberi perintah kepada orang-orangnya: "Tangkap mereka !" Dua puluh orang itu bergerak, dengan senjata-senjata mereka yang telah siap, menyerang Su-to Yan dan Cin Bwee.

Su-to Yan yang sangat mendongkol "Belum tentu kalian dapat menguasai kami berdua," Katanya didalam hati, Berbareng, ia telah mengeluarkan satu lengkingan panjang, sepuluh jari tangannya direntangkan dari sana berkembang dan bertaburan uap hijau.

Hampir bersamaan dengan gerakan sipemuda, delapan macam senjata telah berpindah ke-dalam tangan Su-to Yan.

Belum pernah ada orang yang melihat ilmu silat seperti itu, mereka berteriak dan mundur jauh-jauh.

Cin Bwee memandang sang kawan dengan kagum, itulah ilmu Thi-in-mo-nie-hun cauw.

Satu macam lainnya dari sepuluh ilmu silat mujijat jaman purbakala, Sungguh diluar dugaan, bahwa kawan ini memiliki dua macam ilmu purbakala yang sudah terpendam lama.

Su-to Yan berhasil memecahkan kurungan yang mengepung dirinya.

Kongsun Giok dan Goan Thong turut mengejar keluar Su-to Yan menggibaskan tangan, maka delapan macam senjata musuh yang baru saja direbut itu bertebaran diudara, Dengan satu tangan ia rangkul tubuh Cin Bwee, menggandeng tubuh itu, segera mementalkan kedua kakinya, melewati diatas kepala orang orang yang masih bengong, ia meninggalkan gedung si Telapak Langit Goan Thong.

Menyaksikan kecepatan tangan Su-to Yan, semua orang sudah bengong terlongong-longong, kini di saksikan lagi lain keakhliannya sipemuda didalam ilmu meringankan tubuh, semakin terpaku ditempat masing-masing.

Dilihat sepintas lalu, gerakan Su-to Yan itu tiada keistimewaannya, Gerakan tersebut harus dipikir lagi mendalam maka terasa betapa hebat gerakan tersebut.

Kong-sun Giok telah tiba dipelataran depan, disaksikan bagaimana Su-to Yan terbang diatas kepala orang-orangnya.

ia turut memuji kepandaian lawan.

Ilmu kepandaian Su-to Yan ingin mengimbangi dirinya pemuda itu pasti memegang peranan penting dikemudian hari.

Goan Thong memandang Sang bengcu dan berkata: "Haruskah meneruskan pengejaran ?" "Biarkanlah ia lari," Berkata Kong-sun Giok tenang, ia telah mempunyai rencana lain, rencana yang lebih bagus dan lebih masak.

Bagaikan ayam jago yang baru kalah bertempur, Han-kang Tojin tidak berani memandang bengcu tersebut, ia sedang berpikir, bagaimana hal barusan dapat terjadi, sedangkan pemuda yang menjadi lawannya belum ada pada daftar urutan orang-orang ternama" Goan Thong bersyukur kepada nasib peruntungan yang baik, bila Han-kang To-jin datang lambat beberapa menit, dirinyalah yang menempur Su-to Yan, dan sesudah ia bertempur dengan Su-to Yan, bukankah menderita kekalahan yang sama" Rasa malu dikalahkan oleh seorang pemuda yang baru muncul didalam dunia persilatan" Dan kejadian tersebut disaksikan oleh puluhan orang-orangnya, bagaimana ia dapat memimpin mereka peraturan-peraturan yang keras " Kong-Sun Giok mengulapkan tangan, itu tanda agar semua orang berkumpul kembali ia harus memberitahu kepada mereka, bagaimana harus menghadapi musuh dikemudian hari.

Meninggalkan Kong-Sun Giok, Goan Thong, Han-kang To-jin dan orang-orang mereka.

Menyusul perjalanan Su-to Yan yang menggandeng Cin Bwee, setelah mereka melarikan diri dari gedung Goan Thong tanpa pengejaran, mereka dapat melakukan perjalanan dengan agak tenang, meletakkan tubuh sang kawan, dengan menggandeng tangan tersebut Su-to Yan berlari terus.

"Cin Bwee terus berlari iapun berulang kali menoleh kebelakang, tidak ada seorangpun yang mengadakan pengejaran, walaupun demikian, tangan Su-to Yan masih tidak lepas-lepas menggandengnya, ia mengirikkan tangan tersebut dan bersungutsungut: "Hei, mengapa terus menerus memegang tangan orang" Kau kira aku masih kecil" Harus digendong dan digandeng?" Su-to Yan cepat-cepat berkata: "Maaf.

Aku lupa melepaskan tanganmu yang halus." ia bergurau.

Su-to Yan mengucapkan kata kata tadi tanpa dipikir lebih dahulu, itulah kenyataan, dan Cin Bwee menyangka bahwa orang telah mengetahui penyamarannya, sengaja berlaku ceriwis, wajahnya menjadi merah, ia memonyongkan mulutnya seraya berkata: "Genit." Dikala Su-to Yan menggendong dan menggandeng tangan kawan itu, hidungnya mendapat serangan bau harum semerbak, bau yang seperti itu hanya dimiliki oleh kaum wanita, mendengar kata-kata teguran yang terakhir, semakin besar lagi kecurigaannya, ia menatap wajah yang cakap itu.

Ketika Cin Bwee mendongak, terlihat Su-to Yan memperhatikan wajahnya, sepasang mata beradu.

Untuk kedua kakinya, wajahnya Cin Bwee berubah.

Segera ia cemberut "Kau pemuda genit, Aku tidak mau bersamasama denganmu." Setelah mengucapkan kata-kata yang seperti di atas, tanpa pamit lagi, tubuh Cin Bwee meleset, meninggalkan Su-to Yan, lenyap didalam semak-semak pohon, Sangat gesit sekali!

"Aaah...

Dia adalah seorang gadis yang menyamar." Su-to Yan sadar akan kesalahan yang telah diperbuat itu waktu, Cin Bwee telah lari jauh.

Bila Su-to Yan tidak tahu keadaan asli kawan itu, tentu meluncur dan mengejarnya, dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh si pemuda, tidak sulit untuk menyandak Cin Bwee.

Apa mau, penyamaran Cin Bwee telah terbongkar, dimisalkan ia berhasil menguber, apa yang dapat dikatakan oleh mulutnya yang tipis" Su-to Yan sedang bimbang, ia serba salah.

Pikirnya, biarlah, dilain hari masih ada kesempatan berjumpa lagi dengan gadis itu, ia akan meminta maaf atas kelancangankelancangan yang telah dilakukan.

Hal itu tidak disengaja, bukan maksud dirinya yang hendak berlaku genit.

Lain lagi pikiran Cin Bwee, ia melarikan diri dari Su-to Yan untuk mengadakan ujian dengan harapan pemuda itu mengejar, maka angka yang akan diberikan kepada Su-to Yan mendapat tambahan istimewa, Diapun jatuh cinta, Beberapa kali ia melirik kebelakang, ingin sekali dapat melihat bayangan pemuda itu muncul dibalik semak-semak.

Kenyataan tidak demikian, ia agak kecewa, dihentikan langkah larinya, menunggu lagi beberapa lama, ia semakin putus harapan, hampir menangis di tempat itu.

ia merasa kesal, membanting-banting kaki, Sebagai seorang gadis yang baru pertama kali terpikat oleh lain jenis, penderitaan itu sangat luar biasa.

Post a Comment