Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 84 (Tamat)

Memuat...

"Akan kusampaikan permintaan ini." jawab Tiong Han "akan tetapi kurasa sia-sia belaka karena jenderal Gak adalah seorang yang memegang teguh disiplin. Membebaskan pemimpin pemberontak berarti sebuah pelanggaran yang besar!"

Pada saat itu, dengan wajah pucat masuklah tiga orang suku bangsa Ouigour yang melaporkan bahwa Huayen-khan dan Ang Hwa didapatkan telah mati terbunuh di dalam hutan. Oei Sun berseru keras sambil mencabut goloknya, demikian pula Go bi Ngo koai tung bangkit sambil meloloskan tongkat mereka. Ketika Oei Sun mengeluarkan suitan keras, sebentar saja kemah itu telah dikepung oleh barisan yang banyak sekali!

"Sim Tiong Han! Kau benar-benar utusan yang tidak patut! Bagaimana kau berani membunuh Huayen khan dan Ang Hwa? Kau melanggar peraturan!"

"Bukan kami yang membunuh mereka," jawab Tiong Han dengan tenang,

"yang membunuh mereka adalah pembantumu yang bernama Sim Tiong Kiat!" Oei Sun dan Go bi Ngo-koai tung saling pandang.

"Kalau begitu bangsat itu telah berkhianat!" kata Thian lt Tosu dan dengan suara menyesal ia berkata kepada Oei Sun.

"Apa kataku dulu? Tidak baik mempercayai orang jahat itu. Tangkap yang dua ini sekalian si bangsat she Sim agar dapat kita pergunakan sebagai orang tahanan dan pembuka jalan kita melarikan diri!"

Eng Eng berseru keras dan mencabut pedang merahnya. Sedangkan Tiong Han pun bersiap sedia dan berkata kepada Eng Eng,

"Nona, mari keluar!" la menarik tangan Eng Eng dan keduanya melompat keluar dari tenda ini. Di luar mereka telah dicegat oleh banyak sekali tentara yang terdiri dari perwira-perwira pemberontak, yakni sebagian besar bekas orang orang Pek-lian-kauw yang diangkat oleh Oei Sun.

Eng Eng memutar pedangnya dan Tiong Han lalu mengeluarkan kepandaiannya. Biarpun ia bertangan kosong, akan tetapi kehebatan sepak terjangnya tidak kalah oleh Eng Eng yang berpedang. Tiap kali tangannya mengena tubuh lawan, berteriaklah lawan itu dan roboh tak dapat bangun lagi.

"Mundur semua, biarkan kami menangkap mereka!" Oei Sun berseru keras dan para pengeroyok itu mundur cepat-cepat, mengatur barisan kepungan sehingga tidak memungkinkan dua orang itu melarikan diri.

Tiong Han menendangi tubuh para pengeroyok yang tadi sudah roboh sehingga ia dan Eng Eng mendapatkan tanah lapang cukup luas. Daridalam tenda muncul lima orang tosu itu bersama Oei Sun yang bergerak menyerang mereka.Eng Eng menyambut Oei Sun dan karena Oei Sun sudah pernah merasai kelihaian gadis ini, maka ia minta tolong kepada Thian It Tosu yang segera membantunya. Adapun Tiong Han yang bertangan kosong menghadapi keroyokan Thian Ji Tosu dan tiga orang adik seperguruannya. Pertempuran berjalan seru sekali. Eng Eng yang dikeroyok dua dapat mengimbangi permainan kedua lawannya.

Pedangnya bagaikan seekor naga merah menyambar-nyambar di antara tongkat dan golok kedua lawannya. Akan tetapi ia merasa betapa lihai permainan tongkat dari Thian It Tosu. Kalau saja tidak dibantu oleh Oei Sun, agaknya sanggup ia mendesak tosu ini. Akantetapi golok besar Oei Sun juga tidak boleh di pandang ringan, sehingga gadis ini harusbertempur dengan hati-hati sekali.

Adapun Tiong Han, dengan menggunakan ilmu silat tangan kosong yang ia pelajari dari Patjiu Toanio dan Lui-kong-jiu, dapat mengimbangi permainan tongkat keempat orang pengeroyoknya bahkan ia mulai mendesak mereka dengan angin pukulannya yang lihai. Kalaulawan-lawannya kurang hati-hati, baru terkena sambaran pukulannya saja tentu akan terluka. Empat orang tosu itu maklum akan kelihaian pemuda ini, maka mereka selalu menjauhkan diri dan hanya mempergunakan tongkat untuk menyerang sambil mengepung.Yang membuat Tiong Han dan Eng Eng gelisah adalah kepungan para perwira yang makin lamadatang makin banyak itu. Ratusan orang mengepung tempat itu dan mereka tahu bahwa di situ masih ada ribuan orang tentara lagi.

Bagaimana mereka bisa keluar dari situ dengan selamat? Beberapa orang perwira yang berkepandaian lumayan, mulai masuk pula dalam kalangan pertempuran sehingga kini Eng Eng dikeroyok oleh lima orang dan Tiong Han menghadapi tujuh orang pengeroyok. Terpaksapemuda ini menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan seorang perwira, dan dengan pedang Hui-liong kiam yang tadi dirampas dari Tiong Kiat, ia lalu mengamuk dengan pedang di tangan kanan dan pukulan di tangan kiri masih mainkan ilmu silat Kong-jiu-cap-ji-kun!

Bukan main ramainya pertempuran itu. Sudah beberapa orang perwira lagi roboh oleh amukan Tiong Han dan Eng Eng, akan tetapi kedua orang muda ini tetap saja masih belum berhasil merobohkan Go-bi Ngo-koai-tung dan Oei Sun, pengeroyok-pengeroyok yang paling berbahaya.

Kini keadaan Tiong Han dan Eng Eng mulai berbahaya. Perwira-perwira yang jatuh ditarik mundur dan diganti oleh perwira Iain yang kepandaiannya lumayan juga. Kedua orang muda itu mulai menjadi lelah! Dan Go-bi Ngo koai tung mulai kemak kemik membaca mantera untuk mempergunakan hoatsut (ilmu sihir) guna merobohkan dua orang lawan muda yang lihai ini!

"Semua mundur biarkan kami menjatuhkan mereka!" kembali Thian lt Tosu berseru keras dan para perwira lalu mengundurkan diri. Sambil menunjuk ke arah Eng Eng, tosu ini lalumengerahkan tenaga batinnya dan berseru,"Rebah engkau" rebah".!"

Eng Eng merasa tiba-tiba kepalanya pening dan ia mulai terhuyung-huyung! Permainan pedangnya kacau balau dan hampir saja ia celaka.

Tiong Han terkejut sekali dan cepat ia melompat ke dekat gadis itu sambil berseru,"Eng moi!" Seruan ini keluar dari hati yang amat gelisah, mengandung kasih sayang dan kekuatiran atas diri gadis yang dicintanya itu!

Aneh sekali begitu telinga Eng Eng mendengar panggilan ini, seketika itu juga lenyaplahrasa pening dan mabok. Alangkah mesra dan merdunya suara panggilan dari Tiong Han itu. Jantungnya berdebar, darahnya berdenyut keras dan terusirlah pengaruh hoatsut yang dijalankan oleh Thian It Tosu! Ia mengamuk lagi dengan hebat setelah mengerling dan melempar senyum manis ke arah Tiong Han!

"Han-ko, jangan takut akan segala ilmu siluman ini!" katanya dan bagi Tiong Han kata-kata gadis ini merupakan panambahan semangat yang luar biasa sehingga kembali ia dapat mendesak keempat orang pengeroyoknya, sehingga kembali para perwira yang tadi mundur kini maju lagi mengeroyok.

Akan tetapi mereka itu hanya menjadi seperti kupu-kupu mendekati api lilin. Baru saja masuk, beberapa orang telah menjadi korban lagi!Betapapun juga, Eng Eng dan Tiong Han mulai menjadi lelah dan peluh telah mengalir membasahi seluruh tubuh mereka. Tiong Han telah berhasil merobohkan Thian Sam Tosu dan Thian Ngo Tosu, orang ketiga dan kelima dari Go bi Ngo koai-tung. Akan tetapi jumlah pengeroyok makin bertambah.

Adapun Eng Eng, biarpun telah banyak merobohkan perwira yang mengeroyok, namun masih amat sukar baginya untuk menjatuhkan Oei Sun dan Thian It Tosu. Tosu ini tidak dapat mempergunakan hoatsutnya lagi setelah beberapa kali dicobanya tidak mempan, bahkan ia lalu mengomel keras.

"Keparat, tidak tahunya saling mencinta lagi dua ekor tikus ini!"

Ucapan dan Thian It Tosu ini membuat Tiong Han dan Eng Eng menjadi merah mukanya, karena mereka maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Thian lt Tosu tentu mereka. Agaknya rasa cinta yang tumbuh di dalam hati kedua orang muda di dalam bahaya ini merupakan daya penahan atau penolak yang amat kuat bagi serangan ilmu hitam dari tosu itu tadi! Pada saat Eng Eng dan Tiong Han mulai terdesak, tiba-tiba terjadi geger di luar kepungan dan teriakan-teriakan keras.

"Api"api" Gudang ransum kebakaran"! Ah... tenda-tenda mulai kebakar"tolong! Kebakaran!"

Keadaan menjadi kacau balau. Benar saja, mulai nampak asap bergulung-gulung dan api mengamuk hebat, membakari tenda-tenda yang seperti jamur di bawah itu. Para pengeroyok menjadi panik dan ketakutan, bahkan banyak yang meninggalkan tempat itu untuk menolong tenda mereka sendiri.

Dan tiba-tiba, sebuah bayangan biru berkelebat dengan cepatnya, didahului oleh cahaya merah dan tahu-tahu Thian Ji Tosu dan Thian Su Tosu, orang kedua dan keempat yang mengeroyok Tiong Han roboh mandi darah.

"Tiong Kiat...!" Tiong Han berseru, ketika melihat pemuda yang kini sudah berganti pakaian biru-biru itu.

"Sim ciangkun" kau" pengkhianat!!" Oei Sun berseru keras dengan amat marahnya, lalu meninggalkan Eng Eng dan menyerang Tiong Kiat dengan goloknya.

"Jahanam besar, sekarang kau binasa!" Eng Eng ikut berteriak dan melompat ke arah Tiong Kiat, menyerang dengan pedangnya ditusukkan ke arah lambung Tiong Kiat yang sedang menangkis golok Oei Sun.

Tiong Kiat mengelak cepat sambil berteriak.

"Nona Suma, awas serangan gelap!" Akan tetapi terlambat, Eng Eng yang hanya mencurahkan perhatiannya kepada Tiong Kiat telah meninggalkan Thian It Tosu dan tidak memperdulikannya lagi. Kesempatan baik ini dipergunakan oleh Thian It Tosu. Ketika dilihatnya Eng Eng berbalik menyerang Tiong Kiat, tosu ini mengeluarkan sebatang Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam) dan disambitkan ke arah Eng Eng. Gadis itu mengeluh, dan cepat meraba pangkal lengan kirinya yang dirasa amat sakit dan gatal. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa kepalanya pening dan robohlah ia dengan tubuh lemas!

"Thian It totiang, kau tahanlah pengkhianat ini!" seru Oei Sun yang segera diturut oleh Thian lt Tosu. Oei Sun sendiri setelah Tiong Kiat dihadapi oleh Thian It Tosu, lalu melompat ke arah Eng Eng, menyambar tubuh gadis ini dengan tangan kanan dan menjemput pedang merah gadis itu dengan tangan kiri, lalu melarikan diri!

"Bangsat lepaskan dia!" teriak Tiong Han akan tetapi lebih dari sepuluh orang perwira menghadangnya sehingga terpaksa ia membabat mereka dalam amukan hebat.

Tiong Kiat dengan marah sekali lalu mainkan ilmu silat pedang Ang coa kiamsut yang paling tinggi, dan Thian It Tosu yang sudah tua dan sudah lelah itu tidak dapat menangkis lagi. la berseru keras dan roboh dengan dada tertembus pedang Ang-coa-kiam!

"Han-ko jangan khawatir, aku akan menolong nona Suma Eng!" seru Tiong Kiat yang cepat mengejar ke arah Oei Sun melarikan diri tadi.

Tiong Han tak dapat membantah karena ia sendiri sedang dikepung dan tidak kuasa melakukan pengejaran. Terpaksa ia mengamuk dan sebentar saja mayat bekas pemimpin Pek-lian-kauw bergelimpangan di sekitarnya. Sementara itu, Jenderal Gak yang tidak melihat Tiong Han kembali dan mendengar laporan bahwa di tempat markas besar pemberontak yang terkepung itu nampak asap mengepul segera memerintahkan pasukannya bergerak menyerbu! Tiong Han yang mengamuk seperti naga terluka itu hampir saja roboh saking lelahnya ketika barisan Jenderal Gak sudah tiba di situ.

"Menyerahlah semua! Jangan kena dibujuk dan ditipu oleh pemimpin kamu orang-orang Pek-lian kauw!" Tiong Han dan Jenderal Gak dibantu oleh panglima-panglima lain mengerahkan tenaga khikang berteriak-teriak kepada para pemberontak. Tak lama kemudian, para pemberontak yang sudah terkepung dan kehilangan pimpinan itu lalu melemparkan senjata dan menyerah.

Tiong Han biarpun masih lelah, biarpun ditahan oleh Jenderal Gak, memaksa pergi sambil berkata singkat,

"Maaf, goanswe, saya masih mempunyai urusan penting sekali yang harus diselesaikan!" Setelah berkata demikian, dengan pedang Hui liong kiam di tangan, ia lalu berlari secepat mungkin mengejar ke utara!

Ketika tiba di tepi Sungai Sungari yang lebar ia melihat dua buah perahu terapung-apung. Ternyata bahwa di dalam perahu yang tidak beratap ia melihat Eng Eng rebah miring seperti orang tidur, sedangkan seorang pemuda baju biru berlutut di dekatnya sambil memegangi lengan kirinya. Ternyata pemuda itu adalah Tiong Kiat yang sedang memeriksa luka di lengan Eng Eng! Ketika tadi Tiong Kiat mengejar, ternyata Oei Sun telah mendapatkan seekor kuda dan melarikan Eng Eng dengan amat cepatnya ke utara.

Maksud Oei Sun melarikan Eng Eng ialah untuk dijadikan tanggungan agar ia dapat melarikan diri. Benar saja, ketika ia bertemu dengan tentara mengepung di sebelah utara, ia dapat mengancam mereka, akan membunuh Eng Eng kalau tidak diberi jalan. Di antara para perwira ada yang sudah mengenal Eng Eng, maka terpaksa mereka melepaskan Oei Sun pergi.

Tiong Kiat menjadi marah sekali dan biarpun tentara pengepung menghadangnya, ia mengamuk dan dapat merobohkan beberapa orang tentara kerajaan dan dapat lolos dari kepungan, lalu melanjutkan pengejarannya!

Ternyata bahwa Tiong Kiatlah yang tadi melepas api dan membakari gudang ransum dan tenda-tenda. Pemuda ini demikian sakit hati karena telah ditipu dan dibujuk sehingga ia membalas dendam dengan hebatnya. Kini biarpun ia amat lelah, ia memaksa diri untuk melakukan pengejaran terhadap Oei Sun yang menggendong pergi tubuh Eng Eng yang terluka.

Oei Sun tiba di tepi Sungai Sungari dengan selamat. Ia merampas sebuah perahu dengan mendorong nelayannya ke sungai, kemudian ia meletakkan tubuh Eng Eng di atas perahu dan mendayung perahu itu ke tengah sungai.

Ia tidak tahu bahwa diam-diam Tiong Kiat mengikuti gerak-geriknya, dan tanpa diketahui oleh Oei Sun, Tiong Kiat lalu menceburkan diri ke dalam sungai dan berenang menghampiri perahu itu. Alangkah kagetnya hati Oei Sun ketika tiba-tiba muncul kepala Tiong Kiat di pinggir perahunya!

Sebelum ia dapat menyerang, Tiong Kiat telah melompat ke dalam perahu dan dalam beberapa gerakan saja Oei Sun roboh ke dalam sungai dengan kepala terbelah oleh pedang Ang-coa kiam!

Tiong Kiat cepat minggirkan perahu itu. Beberapa orang nelayan yang melihat peristiwa ini menjadi ketakutan dan melarikan diri, meninggalkan perahu-perahu mereka sehingga di situ banyak terdapat perahu-perahu kosong di tepi sungai bergolek-golek tanpa penumpang dan terikat pada sebatang patok. Tiong Kiat segera memeriksa luka di lengan Eng Eng dan merobek baju pada lengan yang luka itu. Melihat jarum hitam itu masih menancap, ia lalu mencabutnya dan berkerutlah keningnya melihat betapa luka itu menghitam dan membengkak.

Ia lalu mendekatkan mulutnya dan dihisapnya luka itu sehingga darah yang hitam membeku keluar dari luka itu ke dalam mulutnya. Beberapa kali ia menyedoti luka di lengan itu dan sebagai orang yang sudah lama bergaul dengan Thian It Tosu, ia membawa obat penawar Hek tok-ciam. Diambilnya obat penawar yang berupa bubuk putih yang sudah basah kuyup itu, lalu ditempelkan di atas luka setelah darah yang terkena racun telah disedotnya habis. Ia membalur luka itu dengan kain pengikat kepalanya.

Pada saat itu Eng Eng sadar akan tetapi masih pening. Gadis itu memandang muka pemuda yang berlutut di dekatnya, lalu berbisik lemah.

"Han-ko" kau baik sekali"alangkah jauh bedanya dengan adikmu yang jahat..." Lalu gadis itu meramkan lagi kedua matanya dan bibirnya yang manis tersenyum.

Dua titik air mata melompat keluar dari mata Tiong Kiat ketika ia mendengar bisikan ini. la merasa ulu hatinya seperti ditikam pedang. Ia menyambar pedang Ang coa kiam, mengamat-amatinya lalu berdiri di pinggir perahu. Dengan muka pucat ia menengadah, lalu berkata keras.

"Ayah, aku juga seorang perwira....... seorang perwira gagah"" Lalu ia menggerak-gerakkan pedang sambil bernyanyi, nyanyian yang dulu ketika kecil sering ia nyanyikan bersama Tiong Han.

Pedang telanjang di tangan

berlumur darah musuh jahanam!

Anak panah beterbangan

bagai maut mengintai nyawa!

Pasukan musuh di mana?

Serbu"! Maju gembira!

Inilah tugas tiap ksatrya!

Mati? Hanya gugur bagai bunga.

Aku hanya ingin menang........ menang!

Biar takkan mendapat jasa

Biar takkan menerima pahala.

Tidak perduli, aku ingin menang!

Aku ingin menjadi pahlawan

Seperti ayah seperti ayah"!

Air mata turun bagaikan hujan dari kedua matanya ketika berkali-kali ia menyebut bait terakhir.

"Seperti ayah" seperti ayah"!"

"Ayah, aku ingin seperti engkau"akan tetapi aku" aku perwira pemberontak! Ha, ha, perwira pemberontak harus mampus!" Setelah tertawa seperti mayat hidup, ia mengerak-gerakkan pedang Ang-coa-kiam ke arah lehernya.

"Tiong Kiat"!" terdengar seruan keras dari pinggir sungai dan Tiong Han datang berlari-lari. Pemuda inipun menumpahkan air mata ketika ia mendengar adiknya bernyanyi tadi.

Tiong Kiat menahan pedangnya dan menoleh.

"Han-ko, kau perlu hidup, Eng Eng mencintaimu. Berbahagialah kau dengan dia, Han-Ko!" Pada saat Tong Kiat berkata demikian Eng Eng baru saja sadar dan gadis ini mulai bangkit dan duduk. Akan tetapi Tiong Kiat tidak melihat lagi karena ia telah mengayun pedang yang kini menancap ke dadanya dan tubuhnya beserta pedang itu terjungkal ke dalam air yang dalam! Tiong Han melompat ke dalam perahu dan hanya melihat air sedikit kemerahan. Ia berjongkok dan dengan saputangannya, dihapus tiga titik darah dari Tiong Kiat yang tadi jatuh di atas papan perahu. Kemudian ia menyimpan saputangan itu untuk bukti kepada suhunya kelak dan duduk menghadapi Eng Eng.

Perahu itu bergerak perlahan terbawa aliran air Sungai Sungari. Angin senja bertiup perIahan, bermain-main dengan rambut kepala Eng Eng yang berjuntai dengan kacau di atas jidatnya.

"Kau sudah mendengar ucapan terakhir dari Tiong Kiat?" tanyanya.

Eng Eng mengangguk diam. Akhirnya ia bertanya,

"Kita ke mana, Han-ko?"

Tiong Han terkejut menjawab.

"Ke mana.....? Kepantai bahagia, Eng-moi kau bersedia bukan?"

Kembali Eng Eng mengangguk diam. Keduanya menikmati rasa bahagia tanpa banyak cakap, perahu meluncur terus dengan lancar!

TAMAT

Post a Comment