Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 130

Memuat...

Berbareng dengan ucapannya itu, Sin Cie sambar pinggang Ceng Ceng dengan tangan kiri, sambil pondong si nona, ia lompat ke arah tembok yang tinggi, tetapi ia tidak perdulikan itu. Lagi sekali dia lompat, untuk enjot kedua kaki, pondongannya diangkat ke tinggi, untuk dilemparkan ke atas, untuk mana, tangan kanannya membantu menolak dengan keras.

"Hati-hati, adik Ceng!" dia pesan.

Orang-orang Ngo Tok Kau saksikan kejadian itu, mereka jadi sangat murka, untuk merintangi, beberapa di antaranya segera menyerang dengan senjata rahasianya masing- masing.

Sin Cie kibaskan pulang-pergi tangannya, yang bertangan baju panjang, dengan itu ia halau sesuatu senjata rahasia musuh itu, yang pada jatuh ke tanah.

Ceng Ceng telah membarengi berlompat ketika ia diapungi Sin Cie, ia jambret tembok, untuk naik keatasnya. Justru itu, Ho Tiat Chiu lompat dari kursinya, dia serang Sin Cie dengan tangan kirinya.

Anak muda ini terkesiap karena penyerangan kau-cu itu. Tangan yang menyerang belum sampai, anginnya sudah menyambar hidungnya. Sejak dia turun gunung, belum pernah dia ketemu musuh yang liehay sekali, kecuali dia punya Jie-suko Kwie Sin Sie. Makanya, di sebelah terkejut, dia pun kagumi kepala agama Ngo Tok Kau ini.

"Bagus!" dia berseru seraya egos tubuhnya, sambil berbuat mana, matanya segera tampak, tangan yang dipakai menyerang dia merupakan gaetan lancip dan tajam, warnanya hitam, hingga kembali ia jadi kaget.

Selagi menyerang Sin Cie, tangan kanannya Ho Tiat Chiu terayun ke tinggi, ke arah Ceng Ceng, menyusul mana sebelah gelang emasnya melesat naik ke tembok.

"Kau turun!" dia berseru, suaranya nyaring tapi tetap halus.

Ceng Ceng merasakan sangat sakit pada kaki kirinya, tak dapat ia pertahankan itu, kedua tangannya pada tembok terlepas, ia rubuh ke kaki tembok.

Ho Ang Yo perdengarkan suara tertawanya yang panjang dan menyeramkan, dia berlompat kepada puterinya Kim Coa Long-kun, sepuluh jarinya yang tajam dan liehay, yang beracun, diarahkan kepada nona dalam penyamaran itu.

Sementara itu, Sin Cie telah mesti layani Ho Tiat Chiu, yang habis serang Ceng Ceng dengan senjata rahasianya terus terjang pula anak muda ini, Tadi tidak sangka nona ini bisa membarengi menyerang Ceng Ceng, kalau tidak, tentu ia sudah menghalanginya. Sekarang ia mesti layani serangan sangat hebat dari ini kepala agama. Meski begitu, ia masih sempat perhatikan Ceng Ceng, maka tempo ia tampak serangan berbahaya dari Ho Ang Yo, dengan sebat ia serang uwah itu dengan beberapa butir biji caturnya, hingga semua sepuluh sarung kukunya si wanita tua jadi copot dari jeriji-jerijinya dan jatuh ke tanah, hingga Ceng Ceng jadi lolos dari ancaman malapetaka.

"Bagus!" Ho Tiat Chiu puji lawannya, yang ia kagumkan kepandaiannya menggunai senjata rahasia itu, berbareng dengan mana, tangan kirinya tetap mendesak dua kali beruntun, karena tak pernah ia hambat serangannya.

Sin Cie pun heran akan saksikan kedua tangannya lwan wanita ini, kedua tangan yang ia telah lihat dengan tegas. Tangan kanan si nona putih dan halus, bagaikan es atau salju, lima jarinya lurus dan lentik, kelima kukunya dipakaikan cat kuku terbuat dari sarinya bunga hongsian, kapan tangan kanan itu dipakai menyerang, berbareng sama keliehayannya, pun ada menyiarkan bau harum. Akan tetapi tangan kirinya, entah kenapa, seperti telah dikutungi sebatas telapakan tangan, sebagai gantinya dipasangi gaetan terbuat dari besi yang tajam sekali, gaetan mana bisa dikasi bekerja sama liehaynya dengan tangan biasa.

"Saudara See, lekas kamu cari jalan keluar!" seru Sin Cie sambil terus layani si nona.

See Thian Kong beramai sebaliknya sudah dikurung rapat oleh orang-orang Ngo Tok Kau itu, mereka berjumlah jauh lebih kecil, sulit untuk mereka menoblos kurungan.

Dalam melayani musuh, Sin Cie pergunakan "Hok-hou- ciang", ilmu silat "Menaklukkan Harimau". Ia sebenarnya harus berlaku telengas, akan tetapi ia dapati lawannya desak ia dengan hebat tapi tanpa serangan-serangan yang membahayakan, orang seperti memandang-mandang kepadanya, ia pun jadi berlaku tenang. Rupanya, kalau bisa, si nona hendak dapat rabah tubuh si anak muda, untuk ditangkap tanpa berdaya...

Selama pertempuran berlangsung itu, Ceng Ceng numprah saja di tanah, tak dapat ia bangun berdiri. Sin Cie lihat keadaan kawannya itu, ia niat menolong, maka ia lantas desa Ho Tiat Chiu, lalu selagi si nona mundur, mendadak dia lompat pada Nona Hee, untuk dikasi bangun.

Hampir berbareng dengan itu, Sin Cie dengar suara beradu keras. Itulah Thie Lo Han, yang bentrok hebat dengan Thia Kie Su. Atas bentrokan itu, tautoo ini berseru, lalu ia menyerang lagi, dengan hebat, hanya kali ini, Baru beberapa jurus, ia telah rasai tangannya sakit dan berat. Sebab tangan itu menjadi bengkak dengan lekas sekali, hingga berbareng sangat mendongkol, dia pun sibuk.

"Tangan musuh ada racunnya semua, awas!" dia teriaki kawan-kawannya, untuk diberi peringatan.

Mendengar seruan dari kawan itu, mendadak Sin Cie ingat, semua musuh dari Ngo Tok Kau itu telah pahamkan Tok-see-ciang, ilmu "Tangan Pasir Beracun" yang liehay, asal orang kena terserang, mesti dia jadi kurbannya racun. Karena ini ia anggap, benar-benar pihaknya sedang terancam bahaya hebat, bila tidak lekas-lekas mereka loloskan diri, mereka akan hadapi malapetaka, semua bakal terkubur di sarang penjahat itu.

Ho Tiat Chiu berlaku gesit, menampak lawannya tolongi puterinya Kim Coa Long-kun, dia mendesak pula.

"Ho Kau-cu!" Sin Cie berkata, "kita berdua tidak kenal satu dengan lain, kita tidak pernah bermusuhan, kenapa kau desak kami begini rupa? Jikalau kau tidak ijinkan kami berlalu dari sini, jangan nanti kau sesalkan aku keterlaluan!" Nona she Ho itu, kepala dari Ngo Tok Kau, tertawa manis, hingga kelihatanlah sepasang sujennya.

"Kami cuma menghendaki supaya Hee Kongcu ditinggal di sini," katanya. "Untuk yang lain-lain, silahkan pergi!"

Tentu saja tak sudi Sin Cie tinggal Ceng Ceng. Maka ia sambut jawaban itu dengan sapuan kaki kiri sambil berbareng tangan kanannya menyambar ke muka si nona.

Ho Tiat Chiu tolong diri sambil berlompat seraya tangannya yang sebelah dipakai menangkis, untuk papaki tangan kanan lawannya itu. Akan tetapi sebelum kedua tangan bentrok, cepat-cepat dia egos tangannya itu, ia baliki untuk pakai jarinya menotok lawan punya jalan darah kiok- tie-hiat. Sebat luar biasa perubahan gerakan tangannya ini.

"Bagus!" Sin Cie memuji dengan suaranya pelahan seraya ia elakkan tangannya itu dari totokan, sedang dengan tangan kirinya, ia membabat batang leher lawan itu. Ia telah dapat kenyataan, walaupun si nona bertangan beracun, dia toh jeri untuk serangan-serangannya. Habis ini, ia mengubah serangan dengan "Poh-giok-kun", ilmu silat "Memecahkan batu kumala", ilmu pukulan mana Lau Pwee Seng tidak sanggup melayaninya selama lima jurus meskipun Pwee Seng dijuluki "Sin-kun Thay-Po", "pahlawan kepala".

Ho Tiat Chiu liehay, akan tetapi didesak dengan ini ilmu pukulan yang Baru, dia repot juga, tidak berani dia sembarang menangkis, kalau tadinya ia sering bersenyum, sekarang romannya jadi sungguh-sungguh, tandanya ia tidak berani memandang enteng lagi. Ia segera perlihatkan keentengan tubuhnya, kelincahannya, untuk bisa melayani terus. Tapi, selagi ia berlaku cepat, gerakannya Sin Cie lebih gesit pula. Kemudian, sedangnya si nona mundur karena terdesak, hingga mereka datang dekat kepada Kim-ie Tok Kay Cee In Go, dengan mendadak pemuda kita serang si pengemis tak berbudi itu - dengan kepalan tangan.

"Bagus!" berseru Cee In Go, yang lihat serangan itu sambil menangkis dengan tangannya yang kiri, untuk bentur tangan lawan.

Sin Cie mendak, tangan kanannya ditarik pulang, sebaliknya, tangan kirinya dipakai menyambar ujung baju lawannya itu, untuk dipegang, berbareng dengan mana, kaki kanannya dimajukan, untuk dipakai menggaet kedua kaki lawan itu, sedang kaki kirinya, sebat sekali, ia pakai menjejak dengkul kanan lawan tepat bahagian batok dengkul itu.

Cee In Go tidak berdaya untuk pelbagai serangan berbareng itu, tak sempat ia singkirkan kakinya itu, malah tak bisa ia berbuat demikian, karena kaki kanan musuhnya sudah mendahului melibat. Dengan hebat ia kena terjejak, sampai batok dengkulnya seperti mau copot, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang. Tidak ampun lagi, ia rubuh mendeprok!

Ou Kui Lam adalah yang lawan Kim-ie Tok Kay, melihat sang lawan rubuh, dia lantas meninggalkannya, untuk pergi hampirkan tiga musuh yang sedang kerubuti See Thian Kong.

"Mundur ke tembok!" teriak Sin Cie. "Aku nanti yang menolongi!"

Mendengar itu, Kui Lam batal membantui Thian Kong, sebaliknya ia dekati Ceng Ceng, untuk bawa dia ini ke tepi tembok, kemudian ia pun kumpuli Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng yang pada terluka.

Sin Cie sendiri segera perhatikan lain-lain kawannya. Ia lihat bagaimana See Thian Kong dan A Pa masing-masing melayani tiga musuh yang sedang kepung mereka itu. Tidak tempo lagi, ia bergerak untuk berikan pertolongannya. Untuk ini, ia tendang bergantian dua orang Ngo Tok Kau, yang menerjang kepadanya, setelah mereka ini rubuh, ia lompat kearah See Thian Kong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment