Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 129

Memuat...

Ceng Ceng kaget, dia lompat mundur. "Apa kau mau?" dia menegur.

Hampir berbareng dengan itu, dua orang yang mendampingi kiri dan kanannya Ho Kau-cu telah berlompat ke kedua sampingnya si uwah. Dengan berbareng mereka pun menegur: "Dimana adanya sekarang si orang she Hee itu?"

Sin Cie telah saksikan cara berlompat musuh yang gesit sekali, dia mengerti kedua orang itu bukannya orang-orang sembarangan, maka ia mengawasi dengan waspada. Ia tampak mereka bertubuh tinggi kurus dan sedang, dan yang tubuhnya sedang itu bermuka hitam, romannya sebagai petani. Rata-rata mereka berumur kurang-lebih lima-puluh tahun.

Dulu Ceng Ceng belum tahu asal-usul dirinya, dia merasa malu sendirinya, akan tetapi setelah dia dengar keterangan ibunya, dia jadi beruba sikap, dia malah sangat bangga terhadap ayahnya, kebanggaan itu tak pernah kunjung padam. Maka itu, atas teguran kedua orang ini, dia angkat kepalanya.

"Kim Coa Long-kun itu ayahku," dia jawab. "Apa perlunya kau tanya tentang ayahku itu?"

Si wanita tua tertawa dengan sekonyong-konyong, suara tertawanya panjang, lagunya membuat orang jadi gentar hati.

"Jadinya dia belum mampus dan dia telah tinggalkan kau sebagai turunan celaka!" bentaknya. "Ada dimana dia sekarang?" si jangkung-kurus menegur. Ceng Ceng angkat kepalanya.

"Perlu apa aku jawab kamu?" katanya secara menantang.

Sepasang alisnya si uwah terbangun, kedua tangannya menyambar muka Ceng Ceng.

Inilah hebat untuk nona Hee, yang tak keburu berkelit, sedang sepuluh jarinya wanita tua itu berkuku tajam semua. Coba kuku beracun itu mengenai muka yang putih-bersih dan halus itu?

Sin Cie ada di dekat Ceng Ceng, segera ia ayun tangan kanannya, yang ujung bajunya panjang, ia sampok kedua lengannya si penyerang, ia teruskan putar naik tangannya, untuk libat kedua lengan orang, setelah mana, dia mendorong.

Tidak ampun lagi, uwah itu terpelanting, dia jumpalitan, maka ketika tubuhnya mengenai tanah, dia jadi duduk numprah.

Kejadian itu membuat kaget semua anggauta Ngo Tok Kau, sebab si wanita tua itu, Ho Ang Yo namanya, si Bunga Merah, adalah salah satu jago mereka, malah derajatnya lebih tinggi setingkat daripada kaucu mereka. Apa tidak aneh sekarang, jago itu rubuh di tangannya seorang anak muda yang tidak dikenal? Dan jatuhnya pun secara demikian gampang?

Segera si jangkung-kurus, yang bernama Phoa Siu Tat, dan si orang tani, yang bernama Thia Kie Su, yang dalam rombongannya berkedudukan sebagai Co-yu Hu-hoat, atau pelindung kiri dan kanan dari ketua Ngo Tok Kau, saling berpaling dan manggut, kemudian Siu Tat kata secara menantang: "Biarkan aku yang terima pengajaran!" Dan ia terus maju. "Wan Siangkong, biar aku yang sambut dia," kata See Thian Kong pada Sin Cie.

Anak muda kita percaya, orang she See ini tentu bukan tandingan musuh itu, akan tetapi tidak leluasa untuk ia mencegah, maka ia pesan: "Saudara See, gunai kipasmu! Jeriji tangan bersarung lancip, itulah senjata dia!"

See Thian Kong menurut, ia lantas keluarkan kipasnya, kipas Im-yang-sie, maka di lain saat, ia sudah bertempur sama musuh itu.

Di sebelah ini, seperti yang berjanji, Thia Kie Su majukan diri dan disambut A Pa, si empeh gagah, malah berdua mereka lantas saja bertempur dengan seru sekali.

Pertempuran kalut menyusul dua rombongan yang pertama ini. Orang-orang Ngo Tok Kau mulai lebih dahulu, maka itu Ou Kui Lam bersama Thie Lo Han dan Ceng Ceng terpaksa hunus senjata, untuk layani mereka, jikalau tidak, pasti See Thian Kong dan A Pa akan kena dikeroyok.

Adalah si uwah jelek, Ho Ang Yo, yang sebagai orang kalap lompat ke arah Ceng Ceng, agaknya dia sangat musuhkan si Nona Hee.

Sin Cie percaya pengemis wanita tua itu mengandung kebencian hebat terhadap Ceng Ceng, entah ada dendaman apa, ia cuma duga, mestinya itu ada hubungannya dengan Kim Coa Long-kun, jikalau tidak, tidak nanti karena dengar disebutnya nama jago she Hee itu, uwah ini segera unjuk kemurkaan luar biasa. Ia pun insyaf, tidak dapat uwah itu diijinkan turun tangan jahat terhadap Ceng Ceng, yang pasti bukan tandingannya. Maka itu, begitu lekas orang telah datang dekat, selagi si uwah hendak serang Nona Hee, dengan sebat dia lompat ke sampingnya, akan jambak bebokong orang itu, akan terus diangkat tubuhnya dan dilemparkan!

894 Ho Thiat Chiu saksikan kejadian itu, air mukanya lantas berubah menjadi padam, segera ia bawa telunjuk kanannya ke mulutnya, untuk perdengarkan suitan, beberapa kali beruntun.

Kalau tadi orang-orang Ngo Tok Kau maju dengan cepat sekali, untuk terjang musuh, maka sekarang, atas bunyinya suitan itu, mereka mundur dengan tak kurang sebatnya, semua lantas berkumpul di sebelah belakang kaucu mereka, berdiri rapi dalam dua barisan.

Setelah itu, ratu agama itu perlihatkan senyumannya. "Wan Siangkong," katanya dengan sabar dan manis,

"nampaknya kau begini lemah-lembut, tidak disangka-

sangka, ilmu kepandaianmu liehay sekali. Wan Siangkong, biarlah aku yang main-main barang beberapa jurus denganmu..."

Sin Cie tidak lantas terima tantangan itu.

"Satu hal membuat aku tidak mengerti," katanya. "Sahabat-sahabatku ini semua tidak kenal-mengenal dengan rombonganmu, tak tahu kami, di bahagian mana kami telah bersalah terhadap kamu. Walaupun demikian, aku yang rendah bersedia untuk menghaturkan maaf."

Wajahnya Ho Tiat Chiu merah karena pertanyaan itu yang berupa teguran.

"Sebenarnya, kami cuma berurusan dengan pihak pembesar negeri," kata dia dengan pelahan, suaranya halus. "Pasti sekali Wan Siangkong tidak mengerti duduknya hal. Tapi ini biarlah. Barusan ada disebut-sebut nama Kim Coa Long-kun, hal menjadi lain. Sekarang siau-moay mohon tanya, Kim Coa Long-kun itu ada di mana?" Sin Cie berlaku hormat dan merendah, ratu agama itu pun bersikap manis, hingga ia membahasakan diri siau- moay, adik yang kecil.

Ceng Ceng tarik tangannya Sin Cie. "Jangan beri tahu," dia kisiki itu pemuda.

"Apakah kau-cu memang kenal Kim Coa Long-kun?" Sin Cie balik menanya.

"Dengan kaumku, dia punya hubungan yang sangat erat," sahut kepala agama dari Ngo Tok Kau itu. "Ayahku telah meninggal dunia karena dia. Karenanya, dari dua puluh ribu anggauta Ngo Tok Kau kami, tidak ada satu anggauta yang tidak berniat mencari padanya!"

Diam-diam Sin Cie terperanjat, juga Ceng Ceng. Itulah hebat! Apakah urusan itu? Sayang mereka belum pernah ketemu sama Kim Coa Long-kun, hingga mereka tidak dapat tanyakan sebabnya urusan itu. Mereka heran, kenapa Kim Coa Long-kun telah tanam permusuhan dengan rombongan agama yang memuja bisa ini? Terang sekali kebencian sangat dari pihak Ngo Tok Kau itu.

"Kim Coa Long-kun berada di satu tempat yang terpisah laksaan lie dari sini," sahut Sin Cie. "Aku kuatir tuan-tuan tak akan dapat cari dia sekalipun untuk selama-lamanya. "

"Jikalau begitu, tinggalkanlah puteranya ini di sini, untuk kami pakai dia sebagai kurban sembahyang roh ayahku!" kata Ho Tiat Chiu.

Kau-cu ini percaya Nona Hee ada satu putera, sebab Ceng Ceng dandan sebagai satu pemuda. Ia pun mempunyai gerak-gerik yang luar biasa sekali. Ia gampang bersenyum, lagaknya mirip dengan nona-nona remaja yang kebanyakan, suaranya pun lembut, akan tetapi satu waktu, dia bisa unjuk keangkaran dan suaranya jadi keren. Demikian kali ini.

Sin Cie tetap berlaku tenang dan sabar.

"Adalah pembilangan sejak jaman purbakala, siapa melakukan sesuatu, dia sendiri yang harus bertanggung- jawab," katanya. "Kamu mempunyai sangkutan dengan Kim Coa Long-kun, baiklah kamu pergi cari dia itu sendiri."

Ho Tiat Chiu pun menjadi sabar pula ketika ia berkata lagi.

"Ketika dahulu ayahku almarhum menutup mata, siau- moay Baru berusia tiga tahun," katanya. "Sudah dua-puluh tahun kami cari locianpwee she Hee itu, tidak juga siau- moay berhasil. Itulah sebabnya kenapa siau-moay ingin tahan puteranya ini. Kalau locianpwee itu ketahui puteranya berada di sini, pasti dia bakal datang mencari. Asal dia datang kemari maka urusan kita yang telah tertangguh lama itu segera akan menajdi beres."

Ceng Ceng jadi sangat gusar. Dia hendak ditahan, untuk dijadikan "manusia tanggungan". Itulah hebat. Maka tak dapat dia kendalikan diri lagi.

"Hm, bagus pikiranmu!" dia menjengeki. "Aku nanti beritahu ayahku tentang tingkah tengik kamu ini, supaya dia bunuh mampus kamu semua!"

Ho Tiat Chiu tidak ladeni nona ini. Dia menoleh pada Ho Ang Yo.

"Adakah dia ini mirip dengan ayahnya?" tanya dia. "Romannya mirip benar satu dengan lain, dan tabeatnya

pun hampir sama!" jawab si uwah.

Kaucu itu segera hadapi Sin Cie. "Wan Siangkong, aku persilakan kamu semua pergi pulang," kata dia. "Kami cuma hendak menahan ini satu Hee Kongcu."

Dan ia geraki tangannya, sebagai tanda untuk mempersilahkan tetamu-tetamunya berangkat pergi.

Sin Cie berpikir dengan cepat.

"Dia cuma inginkan Ceng Ceng satu orang, karena keadaan di sini berbahaya, baik aku dului antar dia keluar. Yang lain-lain umpama kata mereka tidak dapat lolos, mereka tentu tidak terancam bahaya hebat..."

Maka lantas saja dia menjura kepada kepala agama itu. "Nah, sampai ketemu pula!" katanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment