"Itulah tidak bisa jadi!" demikian katanya.
Si nona puas dan girang mendengar perkataannya Sin Cie, tetapi kapan ia dengar suaranya Ceng Ceng, ia perdengarkan suara di hidung: "Hm!" Lalu ia tambahkan: "Ambil Ngo-seng!"
"Ngo-seng" itu berarti "lima nabi".
Lima kacung segera keluar dari barisannya, untuk pergi ke dalam, kemudian mereka keluar pula dengan membawa lima peti besi, sedang lima kacung lainnya menggotong sebuah meja, yang mereka letaki di tengah-tengah singgasana. Habis itu, semua sepuluh kacung itu berdiri mengitari meja.
Menarik perhatian adalah kelima bocah itu, mereka masing-masing memegang peti besi yang warna catnya sama dengan warna pakaian mereka: merah-merah, kuning- kuning, demikian seterusnya.
"Nampaknya gerak-gerik mereka ini mirip dengan cara siluman," pikir Sin Cie, "tetapi mereka mengatur diri menurut ngoheng, mereka tak bertindak sembarangan..."
Setelah itu muncullah satu orang dari barisan kiri, yang nomor dua, yang dandan sebagai suku bangsa Ie. Dia bertubuh kekar. Dia menghampiri meja, untuk berdiri di pinggiran, kemudian dari sakunya, dia keluarkan sehelai bendera hijau. Dengan pelahan, dia kibarkan itu. Atas ini, kelima bocah buka tutupnya masing-masing peti besi mereka.
Kapan Ceng Ceng telah lihat apa isinya semua itu, tanpa merasa, dia keluarkan seruan tertahan. Dari dalam sesuatu peti itu mencelat keluar masing-masing seekor binatang berbisa, ialah ular hijau, kelabang, kalajengking, kawa-kawa dan kodok dingdang.
Kembali si orang she Ie kibaskan benderanya. Menyusul ini, semua sepuluh kacung undurkan diri dari samping meja. Sebaliknya, sebagai gantinya, dari dalam kedua barisan , keluar empat orang, yang hampirkan meja, untuk berdiri di sekitarnya, untuk lantas beraksi sendiri-sendiri, ada yang membaca mantera, ada yang jalan dengan tangan sebagai kaki.
Sin Cie menyaksikan sambil pikirannya bekerja.
"Jikalau pertempuran sampai mesti terjadi, mungkin pihakku tidak bakal kalah, akan tetapi tindak-tanduk mereka ini luar biasa, maka tak dapat aku berlaku semberono. Tak dapat mereka dipandang enteng..."
Di atas meja, ular hijau panjangnya satu kaki lebih, tidak ada bagiannya yang istimewa, sedang empat binatang lainnya, semua biasa saja, cuma sedikit lebih panjang atau besar dari umumnya.
Lima macam binatang itu lantas bergerak-gerak, jalan memutari muka meja; lantas mereka perlihatkan sikap seperti hendak saling serang, untuk terkam, terutama hawa- hawa beracun itu, tak henti-hentinya dia muntahkan jaringnya, untuk ia membuat bentengan di satu pojokan.
Sang kala adalah yang paling tak tahan sabar, dialah yang paling dulu serang bentengnya sang kawa-kawa. Satu kali saja dia menerjang, dia telah putuskan beberapa tali jaring, lantas dia mundur pula. Sang kawa-kawa awasi sang kala, lalu ia muntahkan pula galagasinya, untuk perbaiki jaringnya yang dirusak itu. Kembali sang kalajengking menerjang, lalu itu diulangi sampai beberapa kali, karena itu, tubuhnya lantas ketempelan galagasi, hingga dengan sendirinya, gerakannya menjadi lebih lambat. Ada beberapa kakinya yang terlibat sampai tak dapat dibebaskan.
Adalah setelah itu, sang kawa-kawa mulai dengan serangan pembalasannya, saban kali dia menerjang, dia muntah, hingga kesudahannya, tubuh sang kala terlibat jaringnya itu. Baru setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke depan musuhnya ini, untuk diawasi dengan tajam.
Satu kali sang kawa-kawa ulur sebuah kakinya kepada musuh, sang kala geraki ekornya, untuk mengantup, tetapi begitu dia menyambar, penyerangnya segera tarik pulang kakinya, sambil mundur pula. Sang kala gesit, sang kawa- kawa lebih gesit pula.
Serangan sang kawa-kawa itu, yang merupakan gangguan, diulang beberapa kali, hingga sang kala jadi sangat gusar, satu kali dia kerahkan antero tenaganya, dia lompat menerkam. Sang kawa-kawa berkelit, dia luput dari bahaya. Tapi sang kala, dia telah berlompat keras, tak dapat dia pertahankan diri lagi, dia terjatuh ke dalam jaring musuh dimana dia ngamuk kelabakan, untuk loloskan diri.
Sang kawa-kawa lihat jaringnya ada yang putus, lekas- lekas ia menambalnya, untuk memperbaiki, hingga sang musuh tetap masih terkurung.
Sesudah berontak-rontak sekian lama, sang kala jadi kendor dengan perlawanannya, rupanya mulai habislah tenaganya. Maka menggunai ketikanya yang baik, sang kawa-kawa menubruk, terus dia menggigit.
Sedang sang kawa-kawa hendak binasakan korbannya, mendadak sang kodok datang menerjang. Binatang ini semburkan bisanya, dia dobolkan jaring musuh, lantas dia ulur lidahnya, untuk sambar tubuh sang kala, untuk ditarik keluar dari jaring. Cuma dengan satu kali caplok, dia telah telan sang kala masuk ke dalam perutnya!
Sang kawa-kawa menjadi gusar, dia terjang musuh baru ini.
Sang kodok bersiap-sedia, begitu serangan datang, dia ulur lidahnya, akan sambar kawa-kawa itu, untuk dibetot masuk ke dalam perutnya. Tapi sang kawa-kawa pentang mulutnya, dia sambar dan gigit lidah musuh. Sang kodok pun liehay, cepat-cepat dia tarik pulang lidahnya.
Setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke kirinya sang kodok, tidak perduli sang kodok ini waspada, dia muntahkan benangnya, terus dia berlompat ke atas bebokong sang kodok, untuk melewatinya, benangnya diulur sekalian, sembari lompat lewat, dia gigit bebokong musuh. "Binatang ini cerdik," kata Ceng Ceng, yang menjadi kagum.
Ketika sang kodok egos tubuhnya, sang kawa-kawa sudah lompat lewati dia, di lain pihak, bisanya sang kawa- kawa sudah lantas bekerja, maka di lain saat, tergulinglah sang kodok ini, dia rebah celentang, terus dia mati!
Di pihak lain, sang ular hijau sedang dikejar oleh sang kelabang, agaknya dia ketakutan sekali, hingga dia lari di samping tubuh sang kodok, sembari lewat, mendadak dia pentang mulutnya, dia sambar sang kawa-kawa, untuk dicaplok masuk ke dalam perutnya! Kemudian dengan satu caplokan lain, dia sambar juga tubuh sang kodok.
Melihat demikian, sang kelabang lalu sambar bangkai kodok itu, hingga sekarang mereka jadi berkutatan, saling tarik. Rupanya sang kelabang tahu, apabila berhasil sang ular makan tiga kurbannya, musuh ini bakal jadi terlalu tangguh untuknya, sebab tiga macam racun, empat dengan kepunyaannya sendiri, sang ular pasti sukar untuk dikalahkan.
Dalam pertempuran tenaga itu, sang ular kalah ulet, dengan pelahan, dia kena terbetot sang kelabang, dan sang kelabang sudah mulai gigit tubuhnya sang kodok.
Bingung sang ular, ingin dia lepaskan tubuh sang kodok, untuk pergi lari, agaknya dia sangsi. Pun sulit untuk dia
888 muntahkan tubuh sang kodok itu, karena biasanya dia punya gigi, bagaikan gaetan, menyantel barang, dan biasanya dia cuma menelan, tak bisa melepehkan.
Benar saja, sebentar kemudian sang ular telah jadi kurbannya sang kelabang.
Setelah menjadi juara, dengan perut pun kenyang, kelabang itu jalan putari meja, dia angkat kepalanya, agaknya dia sangat puas dan bangga.
Sin Cie lihat kelabang itu, dengan perutnya gendut, tidak kendor gerak-geriknya, ia menjadi heran.
"Binatang ini kuat makannya," kata dia pada Ceng Ceng.
"Dia telah makan empat macam bisa, dia sekarang menjadi Tay-seng, nabi terbesar," Ho Tiat Chiu, kepala dari Ngo Tok Kau, nyeletuk terhadap Sin Cie. "Dia sekarang jadi bertambah tangguh, hingga dia sanggup telan lagi beberapa ekor lainnya!"
Sin Cie agaknya tidak percaya keterangan itu, melihat demikian, kaucu dari Ngo Tok Kau perintah kacungnya: "Pergi ambil Ceng-jie!"
Seorang kacung pergi ke dalam, untuk muncul bersama tujuh ekor ular hijau, ialah yang si kepala agama namakan "Ceng-jie", si "hijau". Semua ular itu dilepas di atas meja, yang kelung itu.
Melihat ada musuh baru, sang kelabang lantas lompat maju, untuk menerkam.
Tujuh ekor ular itu kumpulkan diri menjadi satu lingkaran, masing-masing keluarkan kepalanya, untuk tangkis serbuan. Dengan begitu, pertempuran sudah lantas berlangsung. Beberapa kali sang kelabang menerjang, akhirnya dia dapat gigit lehernya seekor musuh, yang terus dia betot keluar dari dalam rombongannya.
Setelah berhasil, sang kelabang tidak lantas makan daging musuh, ia hanya letaki itu di belakang, ia sendiri mulai lagi dengan penyerangannya terlebih jauh kepada musuh-musuhnya, hingga pertarungan jadi berlangsung pula.
Dalam saat itu, mendadak Kim-ie Tok Kay keluar dari dalam barisannya, dia hampirkan Ho Tiat Chiu di depan siapa ia berlutut dengan kaki sebelah.
"Kau-cu, Kim-jie bergerak tak hentinya," katanya. "Kelihatannya tak dapat tidak, dia mesti dikasih keluar..."
Wanita cantik itu kerutkan alisnya. "Ah, dia usil!" katanya. "Baiklah!"
Cee In Go rogoh sakunya, untuk keluarkan satu bumbung atau pipa besi, terus ia buka sumpelnya, untuk keluarkan isinya, ialah itu ular kecil warna kuning emas yang ia tangkap beberapa hari yang lalu sehabisnya si ular kecil tempur si ular besar.
Begitu keluar dari lobang bumbung, ular kuning itu lantas saja unjuk kegagahannya. Dia berlompat ke atas meja, dia segera maju ke depan enam ekor ular hijau, untuk menghalang.
Melihat ular kuning ini, sang kelabang mundur dengan segera.
Enam ular hijau berkumpul jadi satu, mereka ringkaskan tubuh mereka. Mereka berlaku begini begitu lekas tampak ular kuning emas itu, yang dipanggil si "Kim-jie", si "emas". Ular kuning itu, tak perduli tubuhnya kecil sekali, sudah lantas serang sang kelabang.
Sin Cie dan Ceng Ceng sudah saksikan kegagahannya, mereka tahu pasti, sang kelabang tidak punya pengharapan. Benar saja, belum lama, sang kelabang kena digigit hingga dia mati seketika.
Lantas keenam ular hijau rubungi ular kuning emas itu, ada yang menjilat-jilat dengan lidahnya, rupanya untuk hunjuki rasa syukur.
"Tidak disangka, dalam kalangan ular pun ada pendekarnya!" kata Sin Cie sambil tertawa.
Dengan tiba-tiba saja timbul keinginannya si Nona Hee, rupanya dia ingat suatu apa.
"Aku inginkan ular kuning emas itu!" katanya. Ia berbisik di kuping pemuda kita.
"Omongan bocah cilik!" Sin Cie bilang. "Mana orang sudi memberikannya?"
"Kau ingat tidak?" Ceng Ceng berbisik pula. "Apakah julukannya ayahku?"
Sin Cie tergetar hatinya.
"Apa mungkin Kim Coa Long-kun ada hubungannya sama ular kuning emas ini?" katanya. Ular kuning emas adalah "Kim-coa".
Sementara itu si uwah awasi Ceng Ceng tak hentinya, rupanya dia dengar perkataannya Sin Cie, mendadak dia berlompat dari dalam rombongannya, dia berlompat kepada si Nona Hee seraya ulur kedua tangannya ke arah pundak nona itu.
"Kau pernah apa dengan Kim Coa Long-kun?" tanya dia. Aneh luar biasa! Begitu jelek romannya uwah ini, suaranya nyaring-halus bagaikan suara burung kenari, sedap didengarnya.