Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 123

Memuat...

wajahnya menjadi bengis dengan tiba-tiba juga.

"Apa?" katanya. Dia pun membentak. Untuk sedetik, Ceng Ceng melengak, matanya mendelong ke depan. Lalu ia menunjuk ke belakang pengemis itu.

"Hai, ada lagi ular kecil!" dia berseru, romannya kaget. Pengemis itu terperanjat, dia lantas menoleh ke belakang.

Membarengi itu, Ceng Ceng geraki tubuhnya, sambil membungkuk, dia sambar bumbung besi yang berisikan ular berbisa itu, dengan cepat dia menodong ke bebokongnya.

"Aku akan cabut sumpelnya bumbung ini!" katanya dengan nyaring.

Pengemis itu kaget, ia menjadi lesu. Ia tidak lihat ular di belakangnya, mengertilah ia bahwa ia telah kena diperdayakan. Ia insyaf, asal sumpel dibuka, bebokongnya bakal kena dipagut ular berbisa itu dan itu berarti, dia bakal mampus keracunan. Tubunya bagian ataspun sedang telanjang. Tapi ia bernyali besar, lantas ia tertawa berkakakan, terus ia rogoh keluar kodok es dari kantongnya, akan sodorkan itu kepada Sin Cie.

"Aku main-main saja dengan kamu!" katanya sambil tertawa pula, "Ini nona sangat cerdik!"

Ceng Ceng tunggu sampai Sin Cie sudah sambuti mustikanya, Baru ia kembalikan bumbung orang.

Tadi Sin Cie sayangi si pengemis, keras niatnya untuk ikat tali persahabatan dengan dia itu, akan tetapi pengalamannya barusan membikin hatinya beurbah. Nyata pengemis ini bermartabat rendah. Sudah ditolong, orang hendak mentung!

"Sampai ketemu pula!" katanya. Ia memberi hormat, lantas ia tarik Ceng Ceng, untuk diajak pergi.

Pengemis itu mengawasi, kedua matanya bersinar jahat. "Hai, tunggu dulu!" dia membentak.

"Kau mau apa?" tanya Ceng Ceng, yang kembali jadi mendongkol.

"Tinggalkan kodok es itu di sini, Baru aku kasih kamu pergi!" kata si pengemis, yang jadi garang luar biasa. "Apakah kamu sangka aku dapat dibuat permainan?"

Belum pernah Ceng Ceng menemui orang demikian tak berbudi dan kurang ajar. Ia mau menyahuti, tapi Sin Cie telah dului ia.

"Kau siapa, tuan?" tanya ini anak muda, yang mempunyai kesabaran luar biasa.

Masih matanya si pengemis bersorot bengis, bukannya ia jawab pertanyaan yang halus itu, dia justru geraki kedua tangannya, agaknya ia hendak menerjang. "Pengemis ini hendak cari penyakit sendiri," pikir pemuda kita.

Benar di saat pengemis ini hendak menyerang, atau tak jauh dari situ, kuping mereka dengar senjata beradu keras, disusul bentakan saling susul, kemudian di antara tanah yang bersalju kelihatan dua bocah berbaju merah semua sedang berlari-lari mendatangi, pundak mereka menggendol bungkusan, di belakang mereka mengejar lima opas, di antara siapa ada Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti mata satu, yang tangannya menyekal tiecio, ruyung besi pendek yang gagangnya bercagak pelindung tangan. Sembari berlari-lari, mereka itu sembari bertempur. Sampai di situ, kedua bocah itu lari ke arah si pengemis.

"Cee Su-siok! Cee Su-siok!" kedua bocah itu berteriak- teriak.

Terang mereka memanggil si pengemis ini, yang mereka bahasakan su-siok (paman). Kemudian, setelah datang lebih dekat, bungkusan mereka masing-masing mereka lemparkan ke arah pengemis ini.

Sang pengemis tanggapi kedua bungkusan itu, lantas dia letaki di tanah.

Setelah bebas dari gendolan bungkusannya, kedua bocah serba merah itu jadi lincah pula gerak-gerakannya, hingga mereka sanggup layani Sian Tiat Seng dan sebawahannya itu. Sulitnya bagi itu kepala opas, kawan-kawannya tidak punya ilmu silat yang berarti.

Pengemis itu awasi orang-orang yang berkelahi cuma sebentaran saja, kembali ia menoleh kepada Sin Cie, terus ia lompat menubruk anak muda kita, pundak siapa ia sambar dengan kedua tangannya. Sin Cie masih tetap sabar, dia pun tidak niat sembarang tonjolkan ilmu silatnya, ketika orang berlompat, ia pun berlompat mundur, terus ia lari ke sebelah belakang Sian Tiat Seng.

Tiat Seng telah lantas lihat Sin Cie dan Ceng Ceng berdiri bersama si pengemis, mulanya ia heran, akan tetapi setelah tampak si anak muda diserang pengemis itu dan anak muda itu lari, semangatnya bangkit, segera ia perhebat serangannya.

"Aduh!" tiba-tiba bocah yang satu menjerit, karena pundaknya kena ditotok thiecio kiri dari kepala opas itu. Dia rubuh.

Bocah yang lain terkejut mendengar jeritan itu. Justru itu, kakinya Tiat Seng terangkat, maka ia lantas saja terdupak rubuh terpental.

Si pengemis tidak kejar Sin Cie, dia hanya berdiri dengan tegak menghadapi Sian Tiat Seng.

"Aku sangka siapa, kiranya Sian Losu!" kata dia dengan suaranya yang keras dan kaku.

"Tuan, apakah she dan namamu yang besar?" Sian Tiat Seng balik menanya, suaranya tenang. "Dengan besarkan nyali aku mohon sukalah kau berikan kami sesuap nasi kami!"

"Aku satu pengemis, mana aku punyakan she dan nama?" sahut pengemis itu. Dia lantas hampirkan bocah yang rubuh, yang kena ditotok jalan darahnya, untuk ditotok pula, hingga di lain saat, bocah itu dapat bergerak pula seperti biasa.

Itu waktu dua opas maju, untuk pungut kedua bungkusan. Itu pengemis lihat perbuatan itu, ia perdengarkan suara suitan, menyusul mana kedua bocah serba merah lompat kepada kedua opas itu, dengan berbareng mereka menyerang, hingga itu dua opas rubuh terguling, sesudah mana, mereka ini sambar dua bungkusan itu masing- masing, untuk terus dibawa lari!

Sian Tiat Seng kaget, ia lompat menguber.

"Bandit-bandit cilik bernyali besar, lepaskan bungkusan itu!" dia membentak.

Kedua bocah itu tidak memperdulikannya, mereka kabur terus.

Sian Tiat Seng mengejar hampir kena, ia lantas serang bocah yang berada paling dekat dengannya. Berbareng dengan itu, ia rasakan sambaran angin di sampingnya. Nyatalah si pengemis telah susul ia dan ulur tangan untuk sambar thiecionya itu. Ia punyakan mata satu tetapi ia awas luar biasa, maka itu, ia batal serang si bocah, ia putar tubuhnya, dengan senjatanya, ia hajar lengan orang di betulan buku tangan.

Pengemis itu tarik pulang tangannya, untuk terus dipakai menyerang ke bebokong kepala opas itu, siapa pun terus berbalik, untuk menangkis. Sengaja ia gunai tenaganya, untuk ukur tenaga dengan si tukang minta-minta itu.

Dengan mendadak, dengan sebat, pengemis itu tarik pulang tangannya, setelah berbuat begitu, ia lompat jumpalitan untuk jauhkan diri, sampai setumbak lebih, kemudian ia susul kedua bocah baju merah itu, untuk angkat kaki....

Sian Tiat Seng heran untuk kegesitan luar biasa itu, ia tidak mengejar, karena berbareng ia insyaf, sendirian saja, ia tidak bakal mampu berbuat banyak. Orang-orangnya tak dapat bantu dia, sedang Sin Cie beruda juga diam saja. Maka ia lantas hampirkan Sin Cie dan Ceng Ceng, untuk memberi hormat sambil menjura dalam.

"Maafkan aku, maafkan aku," kata dia.

Dua anak muda itu membalas hormat, akan tetapi mereka heran atas sikapnya kepala opas itu.

"Jangan seejie, Sian Losu," kata Sin Cie. "Pengemis itu ada dari kalangan apa?"

"Mari kita pergi ke paseban sana, jiewie, sambil duduk nanti aku berikan keteranganku," kata orang tua itu.

Sin Cie ingin tahu hal si pengemis, ia terima baik undangan itu, ia ajak kawannya kembali ke paseban.

Setelah kedua anak muda itu duduk, Sian Tiat Seng lantas mulai dengan keterangannya.

Sejak bulan yang lalu, gudang negara telah tiga kali kecurian, jumlahnya semua beberapa ribu tail perak. Untuk negara, jumlah itu tidak seberapa, tetapi yang penting itu adalah uang negara, hartanya kaisar, dan itu kejahatan diperbuat di "kakinya kaisar". Maka pencurian itu dengan sendirinya telah menggemparkan kota raja. Apa yang hebat, kuping kaisar pun terang, Baru lewat dua hari sejak pencurian pertama, junjungan itu telah mendapat tahu.

Hok Siangsie, menteri yang bertanggung jawab atas isi gudang ngeara, dan Ciu Ciangkun, Kiu-bun Teetok atau pembesar militer yang menjamin keamanan kota raja, tentu saja telah dapat teguran keras. Malah kaisar bilang, apabila dalam tempo satu bulan, pencurian itu belum dapat dibikin terang, semua pembesar yang bertanggung jawab itu bakal dipecat dan perkaranya akan diperiksa. Hebat ada nasib kawanan opas, yang tidak berdaya untuk tangkap si pencuri, lebih dahulu merekalah yang dimestikan bertanggung jawab, sampai anak-isteri mereka, semua anggauta keluarga ditangkap dan ditahan.

Dalm putus asa, semua hamba wet itu, mereka dapat satu pikiran, lalu dengan memohon kepada seatasannya, mereka berhasil mengundang Sian Tiat Seng, bekas kepala opas yang telah lama undurkan diri. Begitulah telah terjadi, Tok-gan Sin-lion si Naga Sakti Mata Satu itu telah turun tangan pula.

Juga Sian Tiat Seng telah menghadapi kesulitan. Menurut penyelidikannya, pencuri bukannya pencuri biasa, mestinya itu ada perbuatan satu atau lebih orang dari kalangan Rimba Persilatan, hanya sampai sebegitu jauh, belum pernah ia berhasil memergoki si penjahat. Ia kenal baik keadaan di kota raja, tak ada orang yang ia dapat curigai, tapi juga ia tidak berani menuduh.

"Hm, jadi kamu sangka kami!" kata Ceng Ceng, yang hatinya panas. Ia potong keterangan orang.

"Maaf, memang demikianlah dugaanku semula," Tiat Seng akui. "Kemudian aku membuat penyelidikan lebih jauh, hingga aku dapat tahu Wan Siangkong selama di Kim-leng sudah menolongi Tiat-pwee Kim-go Ciau Kong Lee dan di Shoatang telah bersahabat sama See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok, sampai akhirnya siangkong dipilih dan diangkat menjadi bengcu dari tujuh propinsi. Nyata siangkong ada seorang gagah yang dipuja..."

Senang juga Ceng Ceng mendengar Sin Cie dipuji, wajahnya lantas berubah menjadi lebih sabar.

"Walaupun aku telah ketahui tentang Wan Siangkong, apa mau mataku seperti buta, aku tak dapat lantas sambut siangkong," Sian Tiat Seng lanjuti keterangannya itu.

857 "Sebenarnya aku tak tahu bagaimana harus berkenalan sama siangkong. "

Ceng Ceng tertawa sendirinya. Ia awasi hamba wet tua itu, yang matanya tinggal sebelah, mata yang lebih banyak putihnya daripada hitamnya.

"Karena itu setiap hari aku perlukan datang mengunjuk hormat pada siangkong," Tiat Seng tambahkan kemudian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment