Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 118

Memuat...

"Jangan!" berseru beberapa serdadu asing, yang mencegah, malah sampai mereka gunai gagang senapan, untuk kemplang orang-orang kampung itu, akan tetapi, pergi yang satu, datang yang lain, saban-saban mesiu disiram, malah ada serdadu asing juga yang disiram sehingga keadaan jadi kalut sekali.

Tidak antara lama, tidak melainkan mesiu, juga semua senapan dan meriam kebasahan anteronya, sebab cara menolong itu, dan api pun dapat dibikin padam.

Sampai terang tanah, setelah kekacauan itu, Raymond dan Peter jadi tidak tenteram hatinya. Mereka merasa, tempat itu tak aman untuk mereka, sehingga mereka memikir lebih baik mereka lekas berlalu dari situ. Di saat mereka hendak memberi titah, datanglah laporan oleh satu opsir sebawahan bahwa binatang penarik kereta, entah kenapa, telah kabur semuanya, mungkin kaburnya sejak tadi malam.

"Celaka!" menjerit Raymond, yang dalam murkanya, telah cambuki orang sebawahannya itu, yang pun ia caci.

"Coba cari dan kumpuli," kemudian Raymond titahkan Cian Thong Su, si jurubahasa.

Thong Su ajak beberapa serdadu asing masuk ke kampung, untuk mencari, maksudnya ini sia-sia belaka, bukan saja binatang mereka sendiri, kuda dan keledai orang kampung pun tak ada barang seekor jua. Rupanya binatang piaraan orang kampung itu telah diumpetkan.

Dalam mendongkol dan habis akal, Raymond titahkan Peter bersama Thong Su dan empat serdadu pergi ke kota, untuk beli binatang penarik meriam itu. Peter pergi dengan ajak Catherine, sehingga ia membuat sepnya itu tambah mendongkol.

Seberlalunya Peter, Raymond perintah serdadu- serdadunya bekerja, untuk keluarkan semua mesiu, untuk dijemur di tegalan, dengan diampar di atas tikar. Matahari hari itu bagus, setelah sore, semua mesiu sudah kering. Semua meriam dan senapan pun telah disusuti habis airnya. Maka itu, datang saatnya untuk simpan rapi pula semua mesiu itu.

Benar di saat semua serdadu hendak bekerja, mendadak datang menyambar beberapa puluh batang panah api, yang datangnya dari rumah-rumah penduduk yang berdekatan. Kalau mesiu bertemu api, gampang diramalkan apa kesudahannya.

Sekejab saja, nyalalah mesiu itu, sehingga di antara suara berisik, asap pun mengepul-ngepul, sehingga semua serdadu jadi kaget. Tapi di bawah pimpinan keras dari Raymond, mereka mencoba menolong sebisa-bisanya. Raymond juga perintahkan menembak ke arah rumah-rumah penduduk itu, dari mana lantas kabur beberapa puluh orang, yang menghilang di antara pepohonan lebat.

Kapan kemudian Raymond bikin pemeriksaan, delapan bahagian mesiunya telah musnah terbakar, sehingga ia jadi sangat mendongkol dan bersusah hati. Karena ini, ia atur penjagaan kuat.

Selang tiga hari, Peter dan Cian Thong Su balik bersama beberapa puluh ekor keledai dan kuda, yang mereka dapati di kota, lantas dengan itu, Raymond lanjuti perjalanannya. Kepada Peter sep ini tuturkan serbuan panah api oleh orang-orang yang tidak dikenal, sehingga mereka nampak kerugian besar.

Perjalanan dilakukan terus menerus untuk empat atau lima hari, sampai mereka mesti melalui satu jalanan sukar, jalanan pegunungan yang sempit dan sangat tak rata. Jalanan pun menurun.

Raymond dan Peter mesti bekerja keras. Setiap meriam diikat keras, sepuluh serdadu diperintah pegangi ujung

817 dadung, untuk dipakai menahan, supaya meriam-meriam menggelinding turun dengan pelahan-lahan. Kalau tidak, semua meriam bakal langsir ke bawah dan ringsek.

Selagi semua serdadu asing itu bekerja keras, tiba-tiba datanglah serbuan anak panah, yang datangnya dari kiri dan kanan, dari tempat-tempat sembunyi. Sebentar saja, beberapa serdadu rubuh sebagai korban. Yang hebat adalah waktu anak-anak panah mengenai keledai dan kuda, saking kesakitan, semua binatang itu kabur, mereka menarik dengan kaget semua meriam, tanpa serdadu-serdadu yang menahan dapat mencegahnya. Maka di lain saat, semua meriam jatuh ke lembah, bertumpuk dan rusak, bercampur sama bangkai sejumlah keledai dan kuda, berikut mayatnya sejumlah serdadu juga.

Maka dalam sekejab, habislah semua sepuluh buah meriam besar itu.

Raymond dan Peter kaget bukan kepalang. Saking kaget dan takut, Catherine jatuh pingsan. Tapi masih kedua opsir ini bisa memberi perintah untuk sisa serdadunya bikin perlawanan.

Musuh tidak dikenal itu sembunyi rapi, tidak ada peluru yang bisa mengenai mereka, tidak demikian semua serdadu, yang cuma pada mendekam atau tengkurap, sehingga mereka merupakan sasaran dari anak-anak panah musuh.

Selama dua jam, masih tak dapat tentara asing itu melepaskan diri dari kepungan.

"Mesiu kita tinggal sedikit, kita mesti menerjang!" akhirnya Raymond kata.

"Baik, suruh Cian Thong Su tanyakan, apa maunya orang-orang jahat itu," Peter usulkan. "Bikin pembicaraan sama bandit?" Raymond membentak. "Apakah artinya itu? Jikalau kau tidak berani, nanti aku yang maju!"

"Bandit menggunai panah, buat apa unjuk kegagahan tak ada perlunya?" kata Peter.

Raymond mendelu bukan main. Ia menoleh pada Catherine, lalu ia berludah.

"Cis! Pengecut, pengecut!" katanya. Mukanya Peter menjadi pucat-pias.

"Baik, sekarang aku tak sudi layani kau," katanya dengan pelahan. "Kalau nanti bandit-bandit sudah dipukul mundur, kau lihat apa adanya pembayaranku untuk hinaan ini!. "

Raymond lantas lompat maju.

"Siapa yang berani, hayo turut aku!" ia berseru.

"Hai, kolonel, apakah kau cari mampusmu?" Peter berseru. Ia kaget, ia ingin mencegah.

Tidak ada satu serdadu juga, yang hendak telad pemimpin itu, yang telah jadi nekat.

Raymond maju sambil cekal pistolnya, ia jalan Baru beberapa tindak, lantas ia rubuh, jiwanya putus, karena sebatang anak panah tepat mengenai dadanya, nancap dalam.

Peter dan tentaranya melakukan perlawanan sambil umpetkan diri, mereka bisa cegah pihak penyerang datang dekat kepada mereka. Sudah satu hari dan satu malam mereka bertempur, dari pihak negeri, tidak ada datang bala- bantuan.

Di waktu itu memang ada sangat sukar untuk minta bantuan dari pemerintah Beng, yang sudah buruk keadaannya. Untuk surat-menyurat saja, dibutuhkan tempo berhari-hari.

Maka di hari kedua, magrib, setelah semua serdadu kelaparan, kepala mereka pusing, mata mereka berkunang- kunang, dengan terpaksa mereka kerek naik bendera putih, untuk menyerah.

"Kami menyerah! Menyerah!" Thong Su berteriak berulang-ulang.

"Letaki senjata api semua!" ada syaratnya penyerbu. "Kami tak dapat lakukan itu!" sahut Peter.

Pihak penyerang lantas berdiam, mereka juga tidak menyerang lagi.

Setelah sirap sekian lama, di waktu angin mendesir, angin itu ada membawa bau makanan wangi dan lezat menyerang hidungnya semua serdadu asing itu, selagi mereka ini sangat lelah, ngantuk dan lapar. Tanpa perkenan dari Peter lagi, semua serdadu lemparkan senapan mereka, semua lari keluar dari tempat sembunyi.

Peter jadi habis daya, terpaksa ia keluarkan perintah penyerahan.

Semua serdadu tumpuk senapan mereka, habis itu mereka berteriak-teriak minta makanan.

Menyusul itu terdengar suara terompet nyaring dari pihak penyerbu, dari kedua lamping bukit muncul beberapa ratus orang yang romannya keren, dengan panah siap untuk dilepaskan, semua panah diarahkan kepada tentara asing itu. Delapan atau sembilan pemimpin mereka ini, dengan pelahan, bertindak ke arah musuh.

Peter lihat orang yang pertama maju adalah seorang dengan baju panjang, siapa ia kenali adalah orang yang di dalam hotel tolongi ia dari bokongannya Raymond. Di samping pemuda ini ada satu pemuda lain, ialah si nona yang menyamar sebagai seorang pria, yang kopiahnya pernah ditembak Raymond.

"Hai, itu kawanan tukang sulap!" Catherine berseru. Peter lantas cabut pedangnya, ia maju beberapa tindak,

dengan kedua tangannya, ia lintangi pedangnya itu. Itu

adalah tanda menyerah. Dan tak malu ia akan menyerah terhadap seorang sebagai Sin Cie - demikian si anak muda.

Mulanya Sin Cie tercengang, tapi segera ia insyaf tanda menyerah orang. Lantas ia goyangi tangan, ia kata pada Cian Thong Su: "Bilang padanya, jikalau pihak asing datang dengan meriam-meriam untuk bantu Tiongkok membela tanah-daerah, untuk lawan penyerangan pihak asing, kami akan bersyukur, kami akan pandang mereka sebagai sahabat.

Thong Su salin pengutaraan itu kepada Peter. Opsir asing ini angguk-angguk kepala, kemudian ia ulur tangannya, untuk jabat tangannya Sin Cie.

"Tetapi jikalau kamu pergi ke Tong-kwan, untuk bantu kaisar membunuh rakyat, pasti aku tidak mengijinkannya!" Sin Cie kata pula.

Thong Su salin pula kata-kata ini.

"Apakah kami hendak dipakai untuk serang rakyat Tiongkok? Inilah aku tidak ketahui," Peter bilang.

Sin Cie lihat orang beroman sungguh-sungguh, maka ia percaya keterangan itu dan ia menambahkan: "Sekarang ini rakyat Tiongkok bersengsara sampai mereka tidak punya nasi untuk didahar, mereka mengharap-harap ada orang yang pimpin mereka, untuk merubuhkan raja, untuk menyingkir dari kesengsaraan ini. Raja ketahui ini, dia

821 ketakutan, dari itu, dia telah perintah kamu gunai meriam- meriammu untuk labrak rakyat."

Kelihatannya Peter tertarik simpatinya.

"Aku juga asal orang melarat, aku tahu apa artinya kemiskinan," ia bilang. "Sekarang aku telah mengerti duduknya hal, aku akan segera berangkat pulang ke negeriku."

"Bagus! Sekarang pergi bawa tentaramu!" Sin Cie bilang. Peter lantas keluarkan perintah, akan kumpul tentaranya.

Sin Cie pun titahkan pihaknya menghidangkan barang makanan dan arak untuk tentara asing itu, sampai mereka telah dahar puas.

Peter angkat tangannya, untuk kasih hormat pada Sin Cie, habis itu, ia beri titah untuk tentaranya mulai berangkat.

"Kenapa kamu tidak bawa senjatamu?" Sin Cie tanya. Thong Su salin kata-kata itu.

Peter menjawab: "Itulah hasil kemenanganmu. Kamu telah merdekakan kami, untuk itu kamu tidak minta uang tebusan, itu saja telah membuat kami bersyukur untuk kebaikan hatimu."

Sin Cie tertawa.

"Kamu telah kehilangan meriam, apabila kamu pulang tanpa senapan, mungkin kamu ditegur seatasanmu," katanya. "Pergilah kamu bawa!"

"Apakah kamu tidak takut kami nanti pakai senapan itu untuk tembak kamu?" Peter tanya.

Sin Cie tertawa berkakakan. "Kalau satu laki-laki telah mengucapkan suatu kata-kata itu tidak dapat dicandak empat ekor kuda!" ia bilang. "Kami putera-putera Tiongkok ada bangsa laki-laki, maka setelah kami percaya kamu, mustahil kami balik mencurigai?"

Peter jadi kagum dan terharu.

"Baiklah," kata ia, yang terus perintah barisannya ambil senapan mereka, sesudah mana, ia ajak mereka berlalu.

Di sepanjang jalan mendaki, Peter terus kagumi anak muda kita. Jalan belum jauh, tiba-tiba ia perintah barisannya berhenti, ia sendiri ajak Thong Su kembali pada Sin Cie. Ia keluarkan satu bungkusan dari sakunya.

"Kau ada baik sekali, aku mempunyai serupa barang untuk dihaturkan kepadamu!" kata dia, untuk mana, dia minta Thong Su salin kata-katanya.

Sin Cie sambuti bungkusan itu, untuk dibuka. Itu adalah selembar kertas tebal. Ia buka itu, untuk dibeber, hingga ia tampak peta bumi, peta dari sebuah pulau. Karena di sana- sini ada tanda-tanda dalam huruf asing, ia tak mengerti.

Post a Comment