Ceng Ceng tertawa, ketika ia kata: "Dia hendak lihat pula itu wanita asing yang cantik!"
Mendengar itu, semua orang tertawa.
Sin Cie bersenyum, dia antapkan orang goda padanya.
Lohor itu, Sin Cie berdua Ou Kui Lam naik kuda mereka, untuk kuntit barisan meriam asing itu dari kejauhan, sampai mereka itu singgah di sebuah hotel.
Lalu malamnya, kira-kira jam tiga, mereka datangi hotel, untuk segera loncat naik ke atas genteng.
Ou Kui Lam kalah dari Sin Cie dalam hal ilmu entengkan tubuh akan tetapi ia pun punyakan tubuh enteng bagaikan burung walet, tubuhnya lincah, gerakannya sebat.
Segera juga mereka dengar suara bentroknya senjata tajam, yang keluar dari sebuah kamar. Maka segera mereka hampirkan jendelanya kamar itu, untuk mengintai ke dalamnya. Hingga mereka dapat saksikan kedua opsir asing, Peter dan Raymond, sedang bertempur dengan hebat sekali.
Sin Cie heran akan dapatkan dua kawan itu bertempur satu pada lain. Ia pun berbareng perhatikan jalannya
809 pertempuran. Raymond hebat, desakannya keras sekali. Di sebelah dia, Peter sangat tenang, benar dia ini lebih banyak mundur, akan tetapi satu kali dia balas menyerang, tusukannya berbahaya sekali. Maka dengan lantas pemuda kita bisa duga, lagi sedikit waktu, Raymond bakal kena dikalahkan.
Pertarungan berjalan terus, sampai di saat sangat serunya, mendadak ujung pedang Peter menusuk ke kiri, selagi Raymond berkelit, pedang diteruskan ke arah tengah. Sibuk Raymond, sambil menarik pulang pedangnya, ia egos tubuhnya sambil miring. Tapi Peter gunai ketika ini, akan menyampok pedang lawan sampai pedang itu terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai, untuk dia injak dengan kakinya, sedang ujung pedangnya sendiri diancamkan ke dada lawan. Dia pun lantas ucapkan beberapa kata-kata, yang tak dimengerti Sin Cie dan Kui Lam.
Tubuhnya Raymond menggetar, terang dia sangat panas hati hingga dia keluarkan kutukan.
Karena orang diam saja, Peter jumput pedang lawannya, untuk diletaki di atas meja, lalu ia memutar tubuh, akan membuka pintu, buat pergi keluar.
Raymond masih sangat mendongkol, ketika ia sambar pedangnya, ia bulang-balingkan itu di dalam kamarnya. Tapi tidka l;ama, mendadak ia berhenti bermurang-maring. Rupanya dengan tiba-tiba saja ia dapat akal. Ia segera pergi keluar, akan kembali bersama sebatang sekop dengan apa ia lantas menggali satu lobang di lantai.
Sin Cie dan Ou Kui Lam berniat undurkan diri ketika mereka saksikan perbuatan aneh itu, hingga mereka lantas berdiam terus, untuk mengawasi terlebih jauh. Mereka menduga-duga, barang apa yang di simpan di dalam tanah itu. Raymond menggali terus, tanah galian dikumpulkan di kolong pembaringan. Dia membuat lobang dua kaki persegi, dalamnya kira-kira dua kaki juga. Kemudian dia ampar selimut tebal di atas lobang, untuk tutup lobang itu, di atas selimut, dia menguruki dengan tanah tipis-tipis, untuk selimutkan lobang rahasia itu. Di akhirnya, setelah tertawa mengejek beberapa kali, dia buka pintu, akan pergi keluar.
Sin Cie dan Kui Lam heran, tak dapat mereka lantas menduga maksud orang.
Tidak lama, Raymond telah kembali, di belakang ia, Peter mengikuti.
Segera Raymond mengucapkan kata-kata nyaring, atas mana, Peter main menggeleng kepala.
Sekonyong-konyong sebelah tangan Raymond melayang, menyambar ke samping muka Peter hingga menerbitkan suara keras. Barulah karena ini penghinaan, Peter menjadi gusar, hingga ia cabut pedangnya.
Tidak tempo lagi, keduanya kembali bertarung.
Beda daripada tadi, kali ini Raymond tidak berlaku ganas, sebaliknya, dia main mundur-mundur ke arah lobang yang ia gali.
Baru sekarang Sin Cie insyaf kelicikan orang, untuk berlaku curang. Jadinya Peter hendak dijebak. Sebenarnya ia tidak benci dua opsir asing itu, akan tetapi kelicinan Raymond membangkitkan sifat kejantanannya, maka ia lantas bersiap-sedia.
Selama itu, beberapa kali Raymond mencoba mendesak, tapi habis mendesak, ia lekas mundur, ada kalanya sampai dua tindak. Tak pernah ia berhasil dengan tikamannya. Peter selalu bisa menangkis, habis menangkis, segera ia membalas.
Tidak pernah Peter menduga atas kecurangan lawan, ia maju setiap kali orang mundur, sampai mendadak, kaki depannya kena injak lobang jebakan, hingga tak dapat dicegah lagi, dia kejeblos, tubuhnya ngusruk ke depan. Dan membarengi itu, Raymond, yang lompat ke samping, segera tikam bebokongnya!
Berbareng dengan itu juga Sin Cie telah berlompat masuk sambil menolak jendela, ujung pedang Kim Coa Kiam dipakai menggaet pedang Raymond, untuk terus ditarik, hingga opsir ini gagal dengan bokongannya itu, tubuhnya turut tertarik juga sedikit!
Peter lolos dari bahaya, dia lantas berlompat.
Oleh karena usahanya dibikin gagal, Raymond jadi sangat gusar, tanpa bilang suatu apa, ia tusuk Sin Cie.
"Hm!" pemud akita kasih dengar suaranya, seraya menangkis, hingga ujung pedang opsir itu kena dipapas kutung, apabila ia melakukan pembalasan, dengan menyabet bolak-balik, hingga Raymond sibuk menangkis, saban-saban ujung pedangnya opsir ini kena dibikin putus pula, hingga akhirnya, pedangnya yang panjang telah menjadi pendek!
Baru sekarang Raymond berhenti beraksi, dia berdiri bengong
Sin Cie tidak berhenti sampai disitu, selagi orang tercengang, ia maju sambar sebelah lengannya opsir curang itu, untuk angkat tubuhnya, buat dilemparkannya ke dalam lobang buatannya sendiri, kepalanya di bawah, kakinya di atas, menyusul mana, dia lompat keluar jendela, untuk angkat kaki.' Ou Kui Lam sambut kawannya itu, ia tertawa. Ia terus mengikuti.
"Wan Siangkong, kau lihat!" kata dia.
Sin Cie dapatkan sang kawan menyekal tiga buah pistol. "Dari mana kau peroleh ini?" tanyanya.
Si malaikat pencuri menunjuk ke arah jendela. Nyatalah tadi, selagi si anak muda lompat masuk, dia mengikuti, dengan sebat dia sambar senjata-senjata api itu.
"Tidak kecewa julukan Seng-chiu Sin-tau!" Sin Cie memuji.
Tidak ayal lagi, mereka lari pulang.
Di rumah penginapan, See Thian Kong semua asyik menunggui, mereka girang melihat pulangnya dua orang ini, kemudian semua orang bergirang mendengar keterangan mereka berdua.
Ceng Ceng sambuti sebuah pistol, nampaknya ia sangat ketarik, ia lihat itu sambil dibulak-balik, sampai di luar tahunya, dia kena tarik pelatuknya.
"Dar!" demikian satu suara nyaring, disusul sama mengepulnya asap.
See Thian Kong duduk di depan nona ini, dia terkejut, cepat-cepat dia berkelit, tetapi tidak urung, ikat kepalanya kena juga kesambar peluru hingga berlobang dan hangus.
Ceng Ceng kaget tak terkira. "Maaf!" ia memohon.
See Thian Kong ulur lidahnya. "Sungguh liehay!" katanya. Karena ini, orang periksa dua batang pistol lainnya, yang masih terisi patronnya.
"Obat pasang adalah bangsa kita yang mendapatkannya," berkata Sin Cie. "Kita pakai itu untuk membuat petasan atau memburu binatang liar, akan tetapi bangsa asing gunai untuk membunuh sesamanya! Barisan asing itu terdiri dari seratus serdadu, itu artinya seratus buah senapan mereka tidak boleh dipandang enteng."
Karena ini, semua orang lantas berpikir.
"Wan Siangkong, aku mempunyai satu pikiran, etah dapat dipakai atau tidak," berkata Ou Kui Lam. "Inilah ada semacam akal iblis. "
"Memang kau tak dapat pikirkan hal yang wajar!" tertawa Thie Lo Han.
"Coba utarakan itu, Ou Toako, nanti kita pikir bersama," kata Sin Cie.
Ou Kui Lam tidak berayal untuk beber tipunya, mendengar mana Ceng Ceng adalah yang paling dulu bertepuk tangan dan memujinya. "Benar-benar bagus!" puji Thian Kong dan yang lainnya juga.
Sin Cie pikirkan daya yang diusulkan itu, akhirnya ia nyatakan setuju. Akal itu berbahaya tetapi ada harganya. Maka itu, ia lantas mengatur orang, untuk mewujudkannya.
Ketika itu di hotel dimana tertara asing singgah, permusuhan di anatara Raymond dan Peter telah dihentikan. Gara-gara adalah disebabkan kedua opsir itu perebuti Catherine. Sebenarnya Peter dan Catherine menyinta satu pada lain, lalu Raymond menyelak. Karena Raymond ada sepnya, Peter mengalah, selanjutnya dia jaga diri baik-baik saja. Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, sampai di dusun Ban-kong-cun dimana penduduknya terdiri dari dua sampai tiga-ratus rumah. Mereka mondok di rumah abu keluarga Ban. Karena mereka singgah sesudah magrib, tidak lama kemudian, semua lantas masuk tidur.
Tepat pada tengah malam, mendadak terdengar suara berisik, lalu serdadu jaga melaporkan bahwa ada bencana api di dalam kampung.
Peter dan Raymond segera bangun, mereka lantas lihat, api berkobar, mendatangi dekat ke arah pondok mereka.
"Lekas!" kedua opsir itu menitah, untuk serdadu- serdadunya angkut mesiu keluar rumah abu, buat dikumpulkan di tanah kosong.
Banyak orang kampung datang bersama tahang air dan lainnya, untuk padamkan api, sedang beberapa puluh di antaranya lantas membanjuri rumah abu itu.
Raymond membentak, untuk mencegah. Dia tanya, kenapa orang sirami rumah abu itu.
Beberapa puluh orang itu memberi keterangan kepada Cia Thong Su, si juru bahasa, atas mana, dia ini kata kepada opsir itu: "Rumah ini ada rumah abu keluarga mereka, katanya perlu rumah ini dibanjur guna mencegah api nanti merembet kemari."
Alasan itu pantas. Raymond tidak melarang lebih jauh.
Akan tetapi orang kampung yang menyiram itu tidak teratur, mereka siram sana dan siram sini, mereka siram juga mesiu.