Kemudian dia utarakan titahnya Giam Ong.
Nyata Giam Ong telah melihat suasana, ia percaya bahwa telah datang saatnya untuk maju ke kota raja, maka ia merencanakan tanggal-bulannya untuk menyerang Tongkwan, dari itu, ia utus Lie Gam memasuki Hoopak secara rahasia, untuk menghubungi pelbagai kawan seperjuangan, supaya mereka itu nanti membarengi menyambut di waktu ia mulai angkat senjata.
"Nah, bagaimana bengcu niat bertindak?" tanya si orang she Lee.
"Gerakan Giam Ong ada gerakan mulia, orang-orang gagah di seluruh negeri harus menyambutnya," sahut Sin Cie. "Aku akan segera menyampaikan pelbagai berita ke segala penjuru. Ini adalah saatnya untuk semua enghiong di tujuh propinsi mendirikan jasa!"
Mereka menjadi girang sekali, begitupun Lie Gam, maka itu, mereka lantas pasang omong lebih jauh dengan gembira. "Tentara Beng telah jadi buruk sekali," menyatakan Lie Gam. "Aku percaya begitu lekas tentara kemerdekaan sampai, mereka bakal jadi seperti rumput-rumput kering yang dicabuti, usaha kita akan sama gampangnya seperti membelah bambu. Cuma sekarang muncul satu soal Baru, yang sulit. "
"Apakah itu, Ciangkun?" tanya Sin Cie.
"Baru saja aku terima laporan penting," jawab Lie Gam, "Aku dengar bahwa sepuluh buah meriam besar buatan asing hendak diangkat ke Tong-kwan, untuk diberikan kepada Sun Toan Teng. Orang she Sun itu memang pandai mengatur bala tentara, tapi dia masih kalah terhadap Giam Ong, yang berbahaya adalah itu sepuluh buah meriam yang hebat sekali. "
Terkejut Sin Cie mendengar keterangan itu.
"Siautee sendiri pernah lihat itu sepuluh buah meriam besar di tengah perjalanan," berkata dia. "Memang, dilihat dari macamnya, meriam-meriam itu mesti liehay sekali. Jadi itu bukan untuk dikirim ke Sanhay-kwan buat hajar bangsa Boan?"
Dari tempat jauh ribuan lie, meriam-meriam itu diangkut kemari, memang tujuan asalnya adalah Sanhay-kwan," sahut Lie Gam. "Akan tetapi tentang pergerakan Giam Ong, Kaisar Cong Ceng telah mendengar kabar, bahwa mereka rupanya telah ubah haluan. Menurut warta yang aku Baru terima, semua meriam itu hendak dibawa ke Tongkwan."
Sin Cie kerutkan alis.
"Memang adalah kebiasaan raja-raja Beng, mereka menjaga gerakan rakyatnya lebih hebat daripada mereka menjaga serangan-serangan bangsa asing," ia kata. "Kalau tidak demikian, tidak nanti ayahku terbinasa karenanya. Lie Ciangkun, bagaimana sekarang kau hendak bertindak?"
"Jikalau kita tunggu sampai meriam-meriam itu telah diangkut sampai di Tongkwan," mengutarakan Lie Gam, "penyerangan kita di sana adalah sama dengan darah- daging dipakai menggempur besi-baja, meski umpama kata kita tidak bakal kalah, sudah terang pengorbanan mesti besar sekali. "
"Kalau begitu, perlu kita mendahului, untuk merebutnya di tengah jalan!" Sin Cie bilang.
Lie Gam tepuk tangan saking girang.
"Saudara Wan," katanya, "dalam hal ini aku mengandal kepadamu untuk kau dirikan jasa istimewa!"
Tapi Sin Cie berdiam, ia berpikir keras.
"Senjata api dari bangsa asing itu sangat liehay, untuk rampas meriam-meriam besar itu, perlu kita menggunakan tipu-daya," katanya. "Sulit juga untuk ditetapkan dari sekarang apa ikhtiar kita bakal berhasil atau tidak. Tapi
ini adalah urusan sangat penting, aku nanti mencoba sebisa- bisanya. Semoga dengan mengandali rejeki Giam Ong, aku akan berhasil. Itu pun ada untuk kebahagiaan rakyat!"
Sampai di situ, mereka lalu bicara tentang gerakan tentara mereka, akan kemudian Lie Gam suruh salah satu pengiringnya keluarkan sebilah pedang dari dalam pauhok mereka. Itulah Kim-coa-kiam. Dengan kedua tangannya sendiri, Lie Gam serahkan pedang itu kepada Sin Cie.
"Saudara Wan," berkata dia, "sejak pertemuan kita di Siamsay, walaupun kita tak berkesempatan untuk bicara banyak, aku toh telah ketahui, kau adalah satu pemuda yang berarti, maka ketika kau titipkan pedangmu ini kepadaku, tidak pernah aku pisahkan diri dari senjata ini.
796 Sebenarnya ketika itu aku rada-rada sangsi, aku berkuatir untuk usiamu yang masih muda sekali, sebab kau kurang pengalaman. Jikalau kau berkelana dengan bawa-bawa pedang yang luar biasa ini serta dua binatang piaraanmu, aku kuatir kau menjadi terlalu menyolok mata, kau bisa diperdayakan atau dicelakai orang. Akan tetapi sekarang buktinya lain. Kau masih muda sekali tapi toh kau telah berhasil secara luar biasa! Maka sekarang pedang ini dan kedua orang-hutan aku kembalikan kepada tuannya!"
Dengan hormat, Sin Cie sambuti pedangnya itu, ia pun mengucap terima kasih.
"Isteriku telah dengar tentang kau, saudara Wan, ia menyesal tak dapat menemui kau," Lie Gam kata pula kemudian. "Ketika itu isteriku tidak berada di Siamsay, akulah yang memberitahukan dia."
"Satu kali pasti aku akan membuat kunjungan," Sin Cie bilang.
"Isteri dari Lie Ciangkun adalah orang gagah dalam kalangan wanita," An Toa-nio campur bicara. "Orang kangou beri ia julukan Ang Nio Cu. Dia tidak melainkan cantik, ilmu silatnya pun sempurna. Eh, anak, sudahkan ada orang yang menjadi cita-cita kawan hidupmu?"
Tiba-tiba saja Sin Cie ingat Ceng Ceng, wajahnya menjadi berubah merah. Ia tidak menjawab, ia cuma bersenyum.
"Entah nona siapa yang mempunyai rejeki untuk mendampingimu, anak," kata pula si nyonya sambil menghela napas. "Kau begini cakap dan gagah. Ah. "
Toa-nio lantas ingat gadisnya, hingga ia berpikir: "Siau Hui dan dia hidup sama-sama semasa kecil, berdua mereka pun telah sama-sama mengalami ancaman bencana, coba dia menjadi baba-mantuku, pasti hidupnya Siau Hui telah ada jaminannya. Sayang Siau Hui, dia justru mencintai Cui Hie Bin yang tolol-tololan! Dasar peruntungan masing- masing. "
Melihat orang bicara urusan pribadi, Hoan, Lee dan Hau tak ingin campur omong, maka mereka lantas berbangkit, untuk pamitan.
"Wan Bengcu," kata si Hoan, "besok pagi kami bertiga akan siapkan saudara-saudara kami untuk menantikan segala titahmu."
"Baik, samwie!" sahut Sin Cie.
Seberlalunya tiga orang itu, Sin Cie melanjuti pasang omong dengan Lie Gam, mengenai usaha mereka, mengenai sesama orang gagah, hingga persahabatan mereka jadi tambah kekal, hingga agaknya mereka menyesal tak bertemu terlebih siang daripada itu. Mereka bicara dengan asyik, sampai sang fajar datang, hingga ayam-ayam jago telah berkokok saling-sahutan.
Satu kali kedua orang ini menoleh kepada An Toa-nio, kelihatan nyonya itu, sambil bertopang dagu, lagi mengawasi dengan bengong kepada suaminya....
"An Toa-nio!" Lie Gam lalu memanggil, dengan pelahan.
Nyonya itu angkat kepalanya.
"Bagaimana hendak diperbuat terhadap orang ini?" Lie Gam tanya.
Nyonya itu masih kacau pikirannya, ia menggeleng kepala, tak dapat ia menjawab.
Lie Gam tahu orang sedang bingung, ia tidak mendesak menanya. "Saudara Wan, sudah waktunya kita berpisah," kata ia kepada Sin Cie.
"Aku nanti antarkan ciangkun," Sin Cie bilang.
Mereka manggut kepada An Toa-nio, lalu dengan bergandengan tangan, sambil berendeng, mereka bertindak keluar.
Pengiring-pengiringnya Lie Gam, serta kedua orang hutan, lantas mengikuti.
Di sepanjang jalan, masih saja kedua orang ini pasang omong, hingga mereka telah melalui tujuh atau delapan lie.
"Mengantar sampai seribu lie juga, akhirnya orang toh mesti berpisah," kata Lie Gam, "maka, saudara, silakan kau kembali."
Wan Sin Cie bersangsi, agak berat rasanya untuk ia pisahkan diri.
Mendadak, Lie Gam berkata: "Kita ada sahabat-sahabat Baru tetapi mirip dengan sahabat-sahabat kekal, maka jikalau kau tidak menampik, sukakah kau untuk kita angkat saudara?"
Sin Cie setuju, ia malah girang sekali. "Akur!" ia menyatakan.
Di situ juga, di tepi jalan, mereka berdua lantas menjalankan upacara angkat saudara, sebagai gantinya hio, mereka memakai tanah lempung. Sin Cie panggil koko atau kanda kepada jendral itu.
Habis itu, masih mereka bicara seketika lama sebelum mereka berpisahan, keduanya sangat terharu hingga mata mereka mengembeng air mata... Sin Cie awasi saudara itu dan pengiring-pengiringnya naik kuda, dan pergi, Baru ia ajak Tau Wie dan Siau Koay berjalan pulang ke hotel, begitu ia sampai, di sana Hoan, Lee dan Hau telah menantikan dia, bersama mereka bertiga ada beberapa puluh kawannya yang semua kelihatannya bersemangat. Karena itu, ruang besar dan perkarang hotel jadi seperti penuh dengan mereka itu. Sebaliknya Ceng Ceng, A Pa, Ang Seng Hay dan lainnya, tak tertampak di dalam hotel itu.
Berbareng dengan itu Sin Cie dapat kenyataan semua pengiringnya A Kiu berkumpul di dalam kamar mereka, mereka tidak kasi kentara apa-apa, tidak pernah ada yang keluar dari kamar. Rupanya mereka ambil sikap ini karena mereka tampak demikian banyak orang.
Sin Cie tahu, orang-orangnya si nona adalah pelbagai sie- wie atau pahlawan istana, ia pun tak perdulikan mereka.
"Hoan toako," kemudian ia kata kepada si orang she Hoan, yang bernama Hui Bun, "tolong kau ajak beberapa saudara pergi ke selatan akan cari tahu, orang-orang asing itu serta semua meriamnya menuju ke utara atau ke selatan. Harap kau lekas pergi dan lekas kembali!"
Hoan Hui Bun terima tugas itu, ia lantas pilih tiga kawan, yang ia ajak pergi keluar, lalu dengan menunggang kuda, mereka pergi menjalankan tugasnya.
Baru Hui Bun pergi, atau See Thian Kong muncul bersama Thia Ceng Tiok. Girang mereka lihat si anak muda, yang tak kurang suatu apa.
"Oh, Wan Siangkong, kau telah kembali!" kata mereka. Belum lagi Sin Cie sempat menyahuti, atau di situ muncul Ceng Ceng bersama A Pa, rambutnya si nona kusut bekas tertiup angin, mukanya bersemu merah. Nona itu tampaknya girang, akan tetapi lekas juga, dia kerutkan alisnya.
"Kenapa kau Baru kembali?" tanya dia, agaknya menyesali.
Sekarang Sin Cie tahu kemana perginya kawan-kawan itu, nyata mereka kuatiri ia dan pergi mencari. Ia terharu untuk Ceng Ceng, yang romannya kusut. Maka ia lantas ajak nona itu ke kamarnya dimana ia tuturkan pengalamannya tadi malam.
Ceng Ceng tunduk, tak sepatah kata ia ucapkan. Si anak muda lihat sikap orang itu.
"Aku telah membuat kau berkuatir," katanya dengan pelahan.
Masih Ceng Ceng diam, dia malah melengos.
Sin Cie tahu orang marah tapi ia tak tahu sebabnya. "Baru saja aku angkat saudara sama satu enghiong
besar," katanya kemudian. "Adik Ceng, kau dapat tambah satu koko. "
Karena kebiasaan, masih Sin Cie memanggil "adik" - adik lelaki - kepada si nona Hee. Panggilan ini agaknya menyukai Ceng Ceng.
"Satu koko sudah tidak punya liangsim, buat apa tambah koko lagi. " katanya.