An Tayjin ketahui baik tabeat isterinya ini, maka ia potong sejuir kelambu, dengan itu ia sumpel mulut orang. Ketika suara tindakan kuda datang semakin dekat, Kiam Ceng angkat tubuh isterinya, untuk dipindahkan ke pembaringan, habis itu, kelambunya dia turunkan. Ia sendiri lantas saja sembunyikan diri di belakang pembaringan.
Sin Cie saksikan semua kejadian di depan matanya itu. Ia tahun An Kiam Ceng bersedia untuk bokong orang yang bakal datang ke dalam rumahnya An Toa-nio ini. Belum tahu siapa orang itu, tetapi pemuda kita menduga, dia mesti ada penolong si nyonya. Maka ia pun siap sedia akan tolongi An Toa-nio serta penolongnya nyonya ini.
Anak muda kita lantas kumpuli debu di penglari, lalu ia ludahi itu dan aduk-aduk hingga rata, hingga debu itu merupakan sepotong tanah lempung, kemudian tanpa bersangsi lagi, ia menimpuk ke arah lilin, hingga apinya padam seketika, hingga kamar jadi gelap-petang.
Di dalam hatinya, An Tayjin mengutuk
Dalam gelap-gulita itu, Sin Cie loncat turun dari atas penglari. Tak mau ia tunggu sampai si tayjin menyulut api pula. Ia bertindak ke pintu, untuk pergi ke luar, tanpa ada orang yang lihat padanya. Dengan mutar sedikit, ia sampai di ujung rumah dimana ada satu pahlawan kim-ie-wie
787 sedang mendekam dengan golok di tangan, matanya terus- menerus diarahkan ke pintu rumah.
Dengan hati-hati, Sin Cie merayap mendekati. "Ada orang!" kata ia dengan pelahan.
"Oh!..." pahlawan itu gugup. "Mendekam!" ia peringati kawan-kawannya.
Sementara itu, Sin Cie telah ulur tangannya, untuk menotok, maka di lain saat, pahlawan itu tak mampu bergerak lagi. Dengan cepat pemuda ini buka baju seragamnya orang itu, untuk ia pakai. Guna menutupi mukanya, ia robek bajunya orang itu. Ia menutup muka dengan kedua mata dibikin bisa melihat. Kemudian, dengan pondong tubuh si pahlawan, ia merayap ke samping pintu.
Di dalam gelap-gulita, suara derapnya kuda terdengar semakin nyata. Sebentar kemudian, lima ekor kuda telah sampai di depan rumah, lalu tujuh orang berlompat turun.
Segera terdengar tepukan tangan tiga kali, suaranya pelahan, datangnya dari luar rumah. Dari dalam, An Tayjin menyambut dengan tiga kali tepukan tangan juga. Habis itu, dia nyalakan lilin, ia sendiri segera sembunyi di belakang pintu.
Dibarengi dengan suara menjeblak daun pintu lantas terpentang sedikit, menyusul mana, satu kepala orang melongok ke dalam rumah.
Dengan sebat An Tayjin membacok, kepala orang itu kutung, darahnya menyembur dari lehernya, tapi kapan di antara cahaya api si tayjin mengawasi, ia terkejut bukan main. Ternyata orang yang ia bunuh ada orangnya sendiri, satu pahlawan kim-ie-wie. Karena ini, ia hendak menjerit, akan kaoki sekalian kawannya. Tiba-tiba, sebelum An Tayjin keburu buka mulut, satu orang berlompat masuk. Dia tutup mukanya dengan topeng. Cepat luar biasa, dia ulur tangannya ke tubuh si tayjin, hingga tayjin ini kena tertotok tanpa berdaya. Menyusul itu, dengan satu sampokan dengan tangannya yang lain, Sin Cie totok jalan darah "tay-twie-hiat" hingga An Tayjin berdiri tanpa bergeming. Lalu, bekerja lebih jauh dengan tidak kurang sebatnya, pemuda ini sambuti golok orang itu, untuk diletaki di lantai.
An Kiam Ceng pandai bugee, ia terima pendidikan untuk belasan tahun dari Ciok Toa Too, guru silat yang kesohor, kemudian setelah pangku jabatan, belum pernah ia alpa akan terus melatih diri, karena ia memikir untuk naik pangkat dan naik pangkat, ambekannya besar. Tapi, menghadapi Sin Cie, justru ia lagi kaget, ia tak dapat berdaya sama sekali, maka dengan gampang ia rubuh sebagai korban.
Setelah itu, Sin Cie lompat ke pembaringan, untuk kasi bangun pada An Toa-nio. Denga keluarkan sedikit tenaga, pemuda ini putuskan tambang belengguan di kaki dan tangan.
"Encim An, aku datang menolongi kau!" ia kata dengan pelahan kepada si nyonya, supaya nyonya itu ketahui dan tak kaget atau curiga.
An Toa-nio kaget berbareng girang. Ia kenali suaranya anak muda itu. Hanya ia terkejut akan saksikan orang punya seragam kim-ie-wie, sedang mukanya ditutupi topeng.
"Kau siapa, tuan?" tanyanya, ragu-ragu.
Baru nyonya itu menanya demikian, mendadakan ada dua bajangan yang melompat menerjang masuk ke dalam, bajangan itu masing-masing mempunyai dua tangan yang
789 berbulu, sedang mulutnya perdengarkan pekik. Terus saja mereka tubruk Sin Cie.
Anak muda ini terkejut, ia berbalik, untuk menangkis, akan tetapi kapan ia tampak kedua banjangan itu adalah orang-orang hutan, ia menjejak dengan kedua kakinya, akan mencelat naik ke penglari.
Di belakang kedua orang hutan itu menyusul lima orang, satu di antaranya, yang masuk paling dulu, sudah panggil An Toa-nio. Si nyonya menyahuti. Tapi orang itu lantas juga berdiri tercengang.
Sin Cie sendiri segera kenali, kedua binatang liar itu adalah dua orang hutannya yang ia pelihara di atas gunung Hoa San, hingga ia jadi sangat girang.
"Tay Wie! Siau Koay!" ia segera memanggil.
Kedua binatang itu telah dapat cium bau majikannya, maka itu keduanya mendahului menerjang masuk ke dalam, mereka tubruk si anak muda, bukan untuk diserang, tapi majikannya lompat naik ke penglari, atas panggilan itu, mereka pun turut menyusul ke atas penglari, keduanya peluki majikan itu.
Orang-orang yang menyerbu masuk itu heran melihat ada mayat pahlawan di dalam rumah itu, mereka juga tak mengerti sikapnya kedua orang hutan itu, maka juga, mereka tercengang.
Di luar, kawanan pahlawan kim-ie-wie lihat orang datang, mereka kuatirkan keselamatan An Tayjin, yang berada sendirian di dalam, maka itu, dua diantaranya lari ke pintu, untuk menerjang masuk.
"Hajar!" berseru Sin Cie. Ini ada seruan yang biasa si anak muda perdengarkan di waktu dia latih dua binatang piaraannya itu. Sudah lama kedua orang hutan itu tidak pernah dengar suara majikannya ini, toh mereka masih ingat dengan baik, maka keduanya lantas loncat turun, tepat di atasannya dua pahlawan, kedua kakinya merangkul, kedua tangannya menyambar ke lehernya masing-masing pahlawan itu. Maka itu, kapan terdengar suara meretek, patahlah leher hamba-hamba istana itu, tubuhnya dilepaskan dan jatuh.
Menyusul kedua pahlawan itu, menerobos masuk kawan-kawan mereka.
Sekarang Sin Cie sudah lompat turun, dia sambar sesuatu orang untuk dilemparkan kembali ke luar. Ada beberapa pahlawan, yang bisa melawan beberapa jurus, mereka pun akhirnya kena dilemparkan, ada yang kena ditoyor, ada yang kena ditendang. Maka di lain saat, semua pahlawan itu menjadi pusing kepala dan mata kabur, terpaksa mereka berbangkit bangun, untuk kabur.
Selama kejadian itu, lima orang yang tadi nerobos masuk diam saja menyaksikan juga kedua orang hutan.
Sin Cie robek bajunya satu pahlawan, ia pakai itu untuk belenggu An Kiam Ceng, untuk tutup mata dan kupingnya, agar dia tak melihat suatu apa, tak dengar apa juga, kemudian Baru ia singkirkan topengnya dan baju seragam, akan hadapi lima orang itu sambil bersenyum.
"Lie Ciangkun, banyak baik?" menegur dia sambil tertawa kepada salah satu orang. "Apakah Giam Ong pun ada banyak baik?"
Orang yang ditanya itu tercengang, ia mengawasi, akhirnya dia tertawa berkakakan, tangannya menyambar tangan si anak muda, untuk digoyang-goyang. Lie Ciangkun itu ada Lie Gam, orang sebawahannya Giam Ong.
Maka pertemuan itu sangat menggirangkan mereka semua.
"Encim An, apakah encim masih kenali aku?" tanya Sin Cie kemudian sambil berbalik, akan pandang nyonya An.
Sebelas tahun telah berselang sejak Sin Cie menumpang pada An Toa-nio, maka sekarang, setelah ia jadi satu pemuda yang cakap dan gagah, Toa-nio tidak bisa lantas kenali dia, hingga ia mesti asah otaknya.
Sin Cie rogoh sakunya, akan keluarkan gelang emas pemberian nyonya itu, sambil tunjuki itu kepada si nyonya, ia kata: "Setiap hari aku bawa-bawa ini di tubuhku, maka untuk selama-lamanya tak aku lupakan encim!"
Baru sekarang nyonya itu ingat betul, ia tarik tangan orang itu akan bawa muka si anak muda ke dekat lilin, hingga ia tampak samar-samar luka bekas golok di ujung alis sebelah kiri dari si anak muda.
"Ah, anak!" seru dia, kaget dan girang. "Kau telah jadi begini besar, ilmu silatmu liehay sekali?..."
"Aku pernah ketemu adik Siau!" Sin Cie bilang.
"Ya, tanpa merasa, anak-anak telah jadi besar," kata si nyonya, seperti pada dirinya sendiri. "Sungguh cepat lewatnya sang waktu!. "
Kemudian nyonya ini pandang suaminya, yang rebah di lantai, ia menghela napas.
"Tidak kusangka, anak, kaulah yang tolongi aku," kata dia pula.
Lie Gam tak tahu hubungan di antara si nyonya dan si anak muda, mendengar nyonya itu berulang-ulang
792 menyebut "anak, anak", dia sangka mereka ada sanak dekat satu dengan lain.
"Kejadian ini sungguh berbahaya!" kata dia kemudian sambil tertawa. Lalu dia tambahkan pada Sin Cie: "Atas titahnya Giam Ong, aku datang ke Hoopak untuk bikin pertemuan dengan beberapa kawan. Entah bagaimana, liehay kupingnya kawanan kim-ie-wie, mereka dengar tentang kami, lantas mereka siap-sedia di sini untuk bokong kami."
"Apakah sahabat-sahabat itu telah pada datang?" Sin Cie tanya.
Itu waktu, sebelum Lie Gam menjawab, terdengar suara berlari-larinya beberapa ekor kuda.
"Nah, itulah mereka!" kata jendral ini.
Beberapa pengiring Lie Ciangkun pergi keluar, tidak lama mereka bersama tiga orang, yang masing-masing ada orang she Lee, Hoan dan Hau, semua jago dari Hoopak, dan dengan mereka itu, Sin Cie pernah bertemu di rumah Beng Pek Hui. Sesudah beri hormat pada Lie Gam, ketiga orang itu hampirkan Sin Cie, secara menghormat sekali, mereka menjalankan kehormatan kepada pemuda ini.
"Bengcu! Adakah bengcu banyak baik?" kata mereka. Heran Lie Gam menyaksikan itu.
"Kamu telah kenal satu pada lain?" tanya dia.
"Wan Bengcu adalah ketua pusat dari tujuh propinsi, kami semua mendengar titah-titahnya," sahut si orang she Hau.
"Oh, begitu?" kata jendral itu. "Untuk membantu Giam Ong, aku senantiasa sangat repot di Shoasay, sampai segala kabaran dari Timur seperti terputus bagiku. Aku tidak sangka telah terjadi musyawarah besar itu. Inilah menggirangkan, kamu harus diberi selamat!"
"Itu adalah kejadian Baru satu bulan yang lampau," terangkan Sin Cie. "Sekalian sahabat baik telah memandang mata padaku, mereka telah berikan aku itu macam panggilan. Sebenarnya aku masih terlalu muda, tak sanggup aku menerimanya. "
"Ilmu silat Wan Bengcu liehay dan ia cerdik dan cerdas juga," berkata si orang she Hoan. "Umpama kita tidak menyebutkannya tiga sifat itu, kemurahan hati dan pribudi tinggi bengcu siapakah di dalam dunia Rimba Persilatan yang tidak menghargainya?"
"Itulah bagus, bagus!" kata Lie Gam dengan girang.