Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 113

Memuat...

Dari suara dupakan itu, Sin Cie bisa duga-duga liehaynya ini tayjin.

Karena dupakan yang keras, daun pintu terbuka terpentang, menyusul mana An Toa-nio lompat keluar dengan pedangnya berkelebat menyambar!

An Tayjin lompat mundur.

"Bagus, kau hendak bunuh suamimu!" ia berseru. Dia kuatir di dalam rumah masih ada orang lain, tak mau ia menerjang masuk, hanya di situ, dengan tangan kosong, ia melayani si nyonya. Sin Cie merayap maju, untuk bisa menyaksikan dari dekat.

An Tayjin itu benar liehay, dengan tangan kosong, ia bisa berkelahi dengan tenang, malah sambil kadang-kadang tertawa. Senantiasa ia berkelit dari sesuatu bacokan atau tikaman, tubuhnya gesit dan lincah, hingga dia membuat An Toa-nio, dalam murkanya, jadi bertambah sengit, hingga sambil menyerang terus berulang-ulang, nyonya ini pun mencaci, mendamprat.

An Tayjin tetap tidak perdulikan kemurkaan orang yang ia sebut isterinya itu.

"Setan alas!" menjerit si nyonya, yang membarengi membacok dengan hebat.

An Tayjin berkelit sambil majukan sebelah kakinya, dengan begitu, ia jadi dekati si nyonya, tangan siapa dia lantas sambar, untuk dicekal dan ditekuk, maka di lain saat pedangnya nyonya itu terlepas jatuh, kedua tangannya kena ditelikung, sedang kedua kakinya pun dijepit oleh kedua kakinya si tayjin ini. Secara demikian, matilah kutunya si nyonya.

"Kelihatannya tidak nanti orang she An ini lantas celakai An Toa-nio," Sin Cie berpikir. "Baik aku melihat terlebih jauh sebelumnya aku turun tangan akan menolongi!..."

An Tayjin tertawa bergelak-gelak karena kemenangannya itu, sampai ia meleng beberapa kali, sedang An Toa-nio, dalam murkanya, memaki kalang- kabutan. Justru itu, sebat luar biasa, Sin Cie menyusup ke pojok pintu, dengan tempel tubuh kepada tembok, terus saja ia gunai gerakannya "Pek-hou yu-chong," atau "Cecak memain di tembok", akan melesat naik ke atas, hingga ia bisa sampaikan penglari dimana ia tempatkan dirinya. "Ou Lo Sam, nyalakan api!" teriak An Tayjin.

Rupanya lilin di dalam kamar padam sendirinya selagi si nyonya berkutatan.

Ou Lo Sam dengar titah itu, dengan api di tangan, ia hampirkan pintu, selagi melongok ke dalam, ia letaki goloknya di depannya, untuk lindungi diri, kemudian ia jumput sepotong batu, untuk menimpuk ke dalam, habis itu ia diam, ia pasang kuping, akan dengar gerak-gerik dari dalam.

Sekian lama, kamar menjadi sunyi saja. Maka sekarang orang she Ou ini berani bertindak masuk. Paling dulu ia nyalakan lilin di atas meja.

An Tayjin monyongi mulutnya ke arah Lo Sam, atas mana dia ini keluarkan tambang, yang terus dipakai membelenggu tangan dan kaki An Toa-nio.

Kembali An Tayjin tertawa.

"Kau bilang tak sudi kau menemui aku pula!" katanya. "Kau lihat, apakah sekarang aku tidak bertemu pula denganmu? Kau lihat, dengan berapa lembar uban rambutku bertambah!"

An Toa-nio tutup rapat kedua matanya, ia tutup juga mulutnya.

Dari atas penglari, Sin Cie mengawasi An Tayjin itu, hingga ia dapati seorang dengan usia pertengahan tetapi wajahnya tetap cakap dan keren. Rupanya di waktu muda dia cakap sekali sembabat dengan An Toa-nio yang eilok.

An Tayjin usap-usap mukanya An Toa-nio.

"Bagus!" katanya sambil tertawa. "Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, mukamu masih putih bagaikan salju dan halus. " Tiba-tiba pembesar ini berpaling kepada Ou Lo Sam. "Pergi kau!" dia mengusir.

Lo Sam tertawa, ia ulurkan lidahnya, lantas ia berlalu, dengan rapati pintu di belakangnya.

Tayjin itu berdiam sekian lama, lalu ia menghela napas. "Mana Siau Hui?" katanya. "Selama tahun-tahun yang

belakangan ini, setiap hari aku pikirkan saja padanya. "

Tetap An Toa-nio tidak perdulikan orang ini.

"Dahulu kita masih sama-sama muda, kita menikah dan suka berselisih saja menuruti perangai masing-masing," kata An Tayjin kemudian, "sekarang sesudah ada umur, setelah berpisahan banyak tahun, selayaknya kita ubah adat kita dan hidup pula dengan rukun seperti sediakala. "

Dengan tiba-tiba An Toa-nio membentak: "Kau tahu bagaimana binasanya ayah dan kandaku!"

Tayjin itu menghela napas.

"Ayah dan kandamu dibinasakan oleh kim-ie-wie, itulah benar," saaut dia, "akan tetapi tak dapat dengan sebatang gala kejen kau sapu habis orang-orang dalam satu perahu. Di dalam kim-ie-wie juga ada orang-orang yang baik dan busuk. Aku berkerja untuk Sri Baginda Raja, untuk kemuliaan leluhur kita. "

"Fui! Fui! Fui!" An Toa-nio meludah berulang-ulang sebelum orang sempat tutup mulutnya.

An Tayjin berdiam, sampai sekian lama, Baru ia bicara pula.

"Aku selalu ingat Siau Hui," katanya. "Aku telah kirim orang untuk sambut dia, mengapa kau menyingkir sana dan menyingkir sini, teurs kau tidak ijinkan dia bertemu denganku?"

An Toa-nio sangat jemu tapi ia menjawab juga.

"Aku telah beritahukan kepadanya bahwa ayahnya sudah lama menutup mata," jawabnya. "Aku bilang bahwa ayahnya ada gagah sekali dan bersemangat tetapi sayang dia pendek umurnya, mati muda-muda!"

"Ah, mengapa kau dustakan dia?" tanya An Tayjin, suaranya duka. "Mengapa kau sumpahi aku?"

"Ayahnya dahulu adalah satu pemuda yang bersemangat dan baik," kata An Toa-nio. "Keluargaku larang aku menikah dengannya, akan tetapi atas mauku sendiri, dengan diam-diam aku ikuti padanya, siapa tahu. "

Nyonya ini tak dapat bicara terus, ia menangis sesenggukan.

An Tayjin keluarkan sapu tangannya, akan susuti air mata isterinya, sembari menghiburi, ia dekati mukanya kepada muka si nyonya, atau mendadak dia menjerit seraya berjingkrak, mukanya mengucurkan darah, sebab An Toa- nio telah gigit padanya!

Sin Cie menyaksikan, diam-diam ia tertawa dalam hatinya.

An Tayjin susut mukanya, ia menjadi gusar. "Kenapa kau gigit aku?" dia menegur.

"Kau telah binasakan suamiku yang baik, kenapa aku tidak boleh gigit padamu?" jawab si nyonya, yang masih sengit. "Aku menyesal aku tak dapat bunuh padamu!"

"Ah, heran!...." kata An Tayjin. "Akulah suamimu, cara bagaimana aku bisa bikin celaka suamimu itu?" "Suamiku adalah satu laki-laki yang bersemangat!" kata An Toa-nio tetap sengit. "Entah kenapa kemudian dia kena kepincuk oleh harta-dunia dan kebesaran, dia tak kehendaki pula isterinya, dia tak perdulikan pula puterinya, dia cuma ingin pegang pangkat besar, ingin punya harta bertumpuk!... Suamiku dulu itu, yang baik hatinya, sudah mati, sudah mati, tak dapat aku lihat pula kepadanya. "

Sin Cie jadi sangat terharu. Beginilah kiranya lelakon hidup dari nyonya janda yang baik hati itu. Ia pun mau percaya, hati An Tayjin ini tentu tergerak.

An Toa-nio melanjuti kata-katanya. "Suamiku itu bernama An Kiam Ceng. Bukankah ia telah dibinasakan oleh kau, An Tayjin? Suamiku itu mempunyai guru silat yang berbudi, ialah Lokunsu Ciok Toa Too, akan tetapi ia kena dibinasakan oleh An Tayjin yang telah terpincuk pangkat dan harta. Dan isteri dan anak perempuan Ciok Lokunsu itu juga mati karena dipaksa oleh An Tayjin. "

"Berhenti!" An Tayjin membentak. "Aku larang kau sebut-sebut itu pula!"

"tapi manusia berhati serigala, berpeparu anjing, kau pikir saja sendiri!" An Toa-nio pun membentak.

"Pembesar negeri panggil Ciok Toa Too untuk ditanyai keterangannya," berkata An Tayjin ini, "belum pasti dia bakal dibikin celaka, maka kenapa ia gunai goloknya hendak membinasakan aku? Kalau isteri dan anak daranya bunuh diri sendiri, siapa yang mesti dipersalahkan?"

"Memang, memang Ciok Toa Too matanya buta!" seru An Toa-nio. "Kenapa dia didik satu murid yang demikian jempol? Murid itu telah kedinginan, ia kelaparan, ia tinggal mampusnya saja, akan tetapi Ciok Toa Too dengan sungguh-sungguh telah ajarkan ia ilmu silat, telah rawat ia hingga umur dewasa, malah kemudian ia telah dinikahkan..."

An Toa-nio jadi semakin sengit, hingga An Tayjin keprak meja.

"Hari ini kita suami-isteri bisa bertemu pula, mengapa kau timbulkan soal-soal lama?" tegurnya.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" An Toa-nio menantang. "Aku hendak sebut-sebut pula semua kejadian dulu itu, habis apa kau mau?"

Sin Cie berpikir. Menurut An Toa-nio ini, jadinya An Kiam Ceng telah ditolong gurunya dari bahaya kedinginan dan kelaparan, lalu dididik, tapi setelah ia dapat berdiri sendiri, ia kemaruk harta dunia dan gila pangkat, hingga untuk itu, dia sampai binasakan gurunya sendiri, sampai keluarganya sang guru turut binasa semua karenanya. Maka itu, pantas An Toa-nio jadi gusar dan putuskan perhubungan suami-isteri dengannya. Dahulu An Toa-nio tinggal menyendiri, sampai Ou Lo Sam mencoba culik Siau Hui, lantas dia menyingkir sana dan menyingkir sini, rupanya dia mau menyingkir dari suaminya ini, satu manusia buruk.

"Dia ini harus menjadi bagian mati..." pikir Sin Cie terlebih jauh. "Ketika dahulu dia celakai gurunya sekeluarga, keadaan pasti sangat menyedihkan. Sayang tak dapat aku segera hajar dia mampus sekarang juga. Entah bagaimana pikiran yang sebenarnya dari An Toa-nio, maka tak dapat aku berlaku semberono. "

Karena ini, ia berdiam terus di atas penglari, akan pasang mata dan kupingnya lebih jauh.

Untuk sementara, suami-isteri itu berdiam masing- masing. Selagi kamar ada sunyi, tiba-tiba samar-samar terdengar suara tindakan kaki kuda, atas itu An Kiam Ceng geser ciaktay ke jendela, terus dia cabut goloknya, kemudian dengan pelahan dia mengancam: "Kalau sebentar orang datang, kau berani bersuara memberi tanda, untuk minta pertolongan, aku bakal tak perdulikan lagi perhubungan kita sebagai suami-isteri!"

An Toa-nio tidak jawab suaminya itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment