Raymond kaget, inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak nyana, si nona demikian gesit. Tapi ia masih sempat berkelit seraya jatuhkan diri dan pedangnya dipakai menangkis, hingga kedua senjata beradu keras dan nyaring, lelatu apinya muncrat. Ketika ia bangun pula, ia keluarkan keringat dingin.
"Bagus!" Catherine bertepuk tangan.
765 Segera setelah orang bangkit pula, Ceng Ceng menyerang lagi, maka sekarang mereka mulai bertempur. Keduanya bergerak sama gesitnya, bergantian mereka saling tikam dan tangkis.
Sin Cie memasang mata, ia mesti akui kesebatan orang asing itu.
Kapan Ceng Ceng merasa ia tak bisa lantas rebut kemenangan, ia ubah caranya berkelahi. Sekarang ia lebih banyak menggertak, habis mengancam, lekas-lekas ia tarik pulang pedangnya. Ia bersilat dengan ilmu pedang Cio Liang Pay "Lui Cin Kiam-hoat" atau "Gempuran Geledek", yang punyakan tiga-puluh enam gertakan.
Repot juga Ryamond melayani cara berkelahi itu, matanya lantas saja mulai kabur, sebab ia cuma lihat pelbagai ujung pedang hendak menikam padanya, tapi saban kali ia menangkis, ia tangkis angin. Dia tahu, ilmu pedangnya pun mengenal gertakan, tapi cuma beberapa kali, tidak banyak seperti ilmu si nona ini. Tadinya ia niat tegur si nona, atau mendadak nona itu sampok pedangnya, begitu keras, sampai ia rasakan tangannya menggetar dan sesemutan, tak dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dan terpental.
Menyusul itu, Ceng Ceng menyusuli dengan tudingannya ke arah dada lawan!
Di pihak lain, See Thian Kong berlompat akan sambar pedangnya opsir asing itu, lalu dengan dibantu tangan kiri, ia tekuk itu pedang hingga jadi patah dua! Dan kedua batang itu ia lempar ke tanah!
Ceng Ceng tertawa, dia tarik pulang pedangnya, untuk dia kembali ke kursinya. Raymond malu bukan kepalang, mukanya merah- padam. Tidak ia sangka, sebagai ahli pedang di Eropa, sekarang di Tiongkok dia dipecundangi satu nona.
Catherine tertawa riang, dia jumput uang di atas meja, ia bawa itu kepada Ceng Ceng, untuk diserahkan.
Nona kita menampik, ia memang tak harapi uang taruhan itu, tapi nona asing itu mendesak, mulutnya mengatakan apa-apa yang tak dimengerti nona Hee. Akhirnya Ceng Ceng menyambut, ia kepal uang itu dengan kedua tangannya, lantas ia menggenggam dengan keras sekali, kemudian uang itu ia sodorkan pula pada si nona asing.
Catherine heran, ia menyanggapi, setelah mana, dia tercengang. Semua uang itu nempel menjadi satu, ia coba pisahkan, tetapi tidak berhasil, maka dengan mata dipentang lebar, ia awasi nona kita, mulutnya mengucap: "Benar-benar, orang Timur aneh!. "
Lekas-lekas ia kembali pada Ryamond dan Peter, akan tunjuki uang itu.
"Dia punyakan ilmu sihir!" katanya.
"Jangan kita layani dia! Mari kita pergi!" mengajak Peter.
Dua opsir itu berbangkit, Catherine mengikuti. Peter lantas memberi titah.
Sebentar saja semua serdadu lari keluar, akan berkumpul sama kawan-kawannya, menyusul mana, lantas mereka berangkat bersama-sama meriam-meriam mereka.
Raymond dan Peter berbareng bertindak keluar dari hotel. Ketika Catherine lewat di samping Ceng Ceng, dia mengawasi sambil tertawa, hingga angin wangi berkesiur daripadanya. Sedetik saja, ruang hotel itu jadi sunyi.
"Bagaimana macamnya meriam asing itu, belum pernah aku lihat," kata Thie Lo Han.
"Mari kita lihat!" Ou Kui Lam mengajak. Tiba-tiba See Thian Kong tertawa.
"Saudara Ou," katanya kepada malaikat copet itu, "andai kata kau bisa unjuk kepandaianmu, dengan curi sebuah meriam, aku bakal kagumi kau tak habisnya. "
"Sebenarnya belum pernah aku curi meriam besar, yang demikian berat," kata Kui Lam, yang pun tertawa. "Kita bertaruh atau tidak?"
"Meriam itu ada untuk menghajar bangsa Boan, jadi tak tepat untuk dicuri," Thian Kong bilang, "kalau tidak, aku suka bertaruh."
Sambil tertawa, mereka bertindak keluar, malah dengan jalan cepat, mereka bisa lewati lerotan meriam dan barisan serdadunya itu. Semua meriam ada sepuluh buah, saking beratnya, setiap meriam diseret delapan ekor kuda, sudah begitu, di belakangnya masih ada orang-orang yang bantu mendorongnya. Bekas-bekas roda-roda menggelinding meninggalkan lobang yang dalam bagaikan selokan.
"Jikalau ada ini sepuluh jendral perang menjaga San-hay- kwan, tak perduli bagaimana garangnya pula tentara Boan, pasti mereka tak dapat menerjang dengan berhasil," kata Sin Cie sambil tertawa.
Orang telah berjalan terus, sampai selang dua-puluh lie lebih, rombongan Sin Cie dengar berisiknya suara kelenengan di sebelah depan, lalu tertampak belasan penunggang kuda sedang mendatangi, kapan mereka itu sudah datang lebih dektam kelihatan sesuatu penunggang kuda bekal senjata dan panah di bebokong, di atas kudanya tergendol kelinci dan lainnya binatang hutan, suatu tanda mereka adalah serombongan pemburu. Semua mereka mengenakan dandanan perlente, sepatunya pun tebruat dari kulit, sedang yang diiring adalah satu nona.
Kapan si nona telah datang dekat sekali pada rombongannya Sin Cie, lantas dia keprak kudanya untuk menghampirkan sambil berseru-seru: "Suhu! Suhu!"
Thia Ceng Tiok , orang yang dipanggil suhu (guru), lantas tertawa.
"Bagus, kau telah datang!" dia pun berseru dengan sambutannya.
Nona itu adalah sang murid, Nona A Kiu, hanya sekarang dia dandan dengan reboh, pada kedua kupingnya nempel mutiara sebesar jempol tangan, pada ujung bajunya tertabur batu permata merah.
Melihat Sin Cie, nona itu tertawa.
"Oh, kau ada bersama suhu!" dia menegor. Sin Cie bersenyum, dia manggut.
A Kiu kemudian pandang See Thian Kong, kembali dia tertawa dan kata: "Tanpa bertempur, kita tak akan bersahabat!"
Ceng Tiok panggil muridnya itu, untuk diajar kenal terutama dengan Thie Lo Han dan Ou Kui Lam.
"Kau hendak pergi kemana?" kemudian sang guru tanya. "Aku pergi berburu," jawab si nona.
"Kami lagi menuju ke Pakkhia, baik kau turut kami," Ceng Tiok kata. "Baik, suhu," jawab A Kiu, yang terus dampingi gurunya itu.
Sin Cie dan Ceng Ceng heran juga menampak Nona A Kiu, sebab meskipun begitu muda nona ini punyakan sikap yang beda daripada nona-nona sepantarannya.
Di waktu tengah hari, selagi singgah untuk beristirahat, orang duduk dahar menghadapi dua buah meja, dan A Kiu serta gurunya duduk bersama Sin Cie beramai.
Pada mulanya, Sin Cie duga nona itu ada cucu perempuan dari Thia Ceng Tiok, tidak tahunya dia itu adalah muridnya. Ia percaya si nona adalah gadisnya satu hartawan yang telah dimanja-manjai, jikalau tidak, dandanannya, gerak-geriknya, tidak sedemikian rupa, malah untuk berburu, si nona bawa demikian banyak pengiring. Ia tidak mengerti, bagaimana caranya maka si nona berguru kepada ketua Ceng Tiok Pay itu dan bisa bergaul di dalam golongan.
Habis bersantap, perjalanan dilanjuti, sorenya, mereka singgah di sebuah hotel di Im-ma-cip.
Selama itu, Sin Cie dan Ceng Ceng senantiasa perhatikan dengan diam-diam kepada A Kiu dan sekalian pengiringnya itu itu. Mereka mau percaya, sekalian pengiring itu bukan cuma kacung atau bujang belaka, mungkin mereka ada pegawai-pegawai negeri, karenanya, mereka jadi semakin heran.
0o-d.w-o0
Sore itu, selagi duduk berkumpul dan pasang omong, Ceng Ceng tanya A Kiu: "Adik Kiu, ketika itu hari kami hajar tentara negeri, hingga kami merasa sangat puas, kemudian ternyata kau menghilang. Sebenarnya kemana kau pergi?"
"Ah!. " bersuara si nona, yang mukanya menjadi merah
dengan tiba-tiba. Kemudian, dengan menyimpang, dia bilang: "Encie Ceng, coba kau dandan, kau pasti baru ternyata eilok benar!"
Ceng Ceng heran, kapan ia lihat nona muda ini suka tengok kiri dan kanan. Tadinya ia hendak menanyakan lebih jauh tapi ia batal kapan ia tampak Ceng Tiok, yang duduk di depannya, kedipi mata. Maka akhirnya, sambil tertawa, ia jawab nona itu: "Kita sedang bikin perjalanan, kepala dan muka kita biasa penuh debu, habis kita berdandan, kepada siapa hendak dikasi lihatnya?"
A Kiu bersenyum.
Tidak lama setelah itu, orang bubaran, untuk masuk tidur.
Selagi Sin Cie hendak naik ke pembaringannya, Thia Ceng Tiok datang padanya.
"Wan Siangkong, aku hendak bicara denganmu untuk satu urusan," kata ketua Ceng Tiok Pay, yang datangnya secara tiba-tiba.
Sin Cie menyambut dengan gembira. "Baik!" sahutnya. "Silakan duduk."
"Lebih baik kita pergi keluar, ke tempat terbuka dan sepi," Ceng Tiok bilang hampir berbisik.
Sin Cie merasa pasti, urusan ada penting, maka ia pakai pula bajunya, lalu keduanya keluar, akan terus berlari-lari ke bukit malah mendaki puncak, akan duduk atas sebuah batu besar. Ketua Ceng Tiok Pay melihat ke sekitarnya, yang sunyi.
"Wan Siangkong," kata dia kemudian, "aku hendak omong tentang A Kiu, muridku itu. Dia ada satu anak dengan asal-usul istimewa. Ketika dia mulai angkat aku sebagai guru, aku pernah berjanji untuk tidak buka rahasia tentang dirinya."
"Aku pun lihat dia bukannya orang sembarangan," Sin Cie bilang. "Karena kau telah beri janjimu, tak usah kau menerangkannya kepadaku."
"Sekalian pengiringnya ada orang-orang negeri, maka itu, tentang maksud bekerja kita ini, mereka tak boleh mendapat tahu," kata pula Ceng Tiok.
Mau atau tidak, Sin Cie toh tercengang.
"Jadi benar mereka ada hamba-hamba negeri?" tegaskannya.
Ceng Tiok manggut-manggut.
"Aku mau percaya, muridku ini tidak bakal jual kita," kata ia kemudian, "akan tetapi dia masih berusia sangat muda, tak dapat diduga yang pikirannya bisa tidak berubah."
"Kalau begitu, di depan A Kiu baik kita waspada," Sin Cie bilang.
Ceng Tiok manggut.
Sampai di situ, urusan telah selesai, maka keduanya segera berangkat pulang. Sesampainya di muka hotel, Sin Cie lihat seorang lewat di jalan besar, datangnya dari arah timur, dia itu menenteng sebuah lentera, dalam sekelebatan saja, dia itu terus masuk ke dalam hotel. Dengan matanya yang tajam, Sin Cie rasa kenali orang itu, melainkan tak segera ia ingat dimana mereka pernah bertemu. Maka selagi rebah di atas pembaringannya, pemuda kita terus mengingat-ingat hingga ia mengingat mundur sampai rapat di gunung Tay San, pelbagai kejadian di Lamkhia dan Cio- liang. Juga di dalam barisan Giam Ong, tak ingat dia pernah bertemu sama orang itu. Tetapi ia tak bisa lupa romannya orang itu.
"Di mana aku pernah lihat atau bertemu dengannya?" taya ia berulang-ulang di dalam hatinya.
Tiba-tiba ia dengar ketokan perlahan pada pintu kamarnya. Segera ia pakai bajunya dan turun dari pembaringan, akan nyalakan api.
"Apakah kau tidak niat dahar sesuatu?" begitu pertanyaan dari luar, disusul dengan suara tertawa dari Ceng Ceng, si juita nakal.
Dengan lekas pemuda kita membukakan pintu.
Ceng Ceng membawa sebuah nenampan di atas mana ada dua mangkok, dalam setiap mangkoknya ada tiga butir telur ayam. Rupanya Baru saja dia habis dari dapur dimana dia matangi telur itu.
"Terima kasih," kata Sin Cie. "Kenapa kau masih belum tidur?"
"Aku pikirkan si A Kiu, dia aneh, dia membuat aku tak dapat tidur," sahut si nona. "Aku kira kau pun sedang memikirkan dia itu hingga kau pun belum tidur. "
Ia bicara dengan pelahan sekali.
"Aku pikirkan dia? Untuk apa?" Sin Cie tanya. "Memikirkan dia karena dia sangat cantik! Coba bilang,
bukankah dia cantik sekali?"