Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 109

Memuat...

Sin Cie lihat lah-wan itu, lalu ia berkata pula: "Coba Tang Piausu ini mempunyai kepandaian berarti, tidak apa ia jual jiwanya kepada pemerintah, akan tetapi nyata dia berhati rendah dan busuk, dia telah mencoba untuk adu- dombakan kita, supaya kita kaum kangouw bentrok satu

751 dengan lain! Beng Loyacu, adakah siu-toh itu dan lainnya antaran Tang Piausu ini?"

Beng Pek Hui manggut.

"Sengaja piausu she Tang ini umpetkan lah-wan itu di dalam siu-toh," Sin Cie beber orang punya rahasia. "Dia ketahui dengan baik, siu-toh tidak bakal dimakan, maka obat itu dia sembunyikan di dalamnya. Dia sudah pikir, kalau nanti pesta telah ditutup, dengan diam-diam dia bisa ambil pulang obat itu. Dalam hal ini, dia tidak perdulikan Kwie Suko nanti bentrok dengan Beng Loyacu! Dengan dia berhasil dengan tipunya yang keji ini, tidakkah ia bakal berjasa terhadap pemerintah?"

Sin Cie lantas turun dari meja, untuk hampirkan siu-toh. Ceng Ceng segera maju, untuk bantui kawannya itu.

Maka sedetik saja, lah-wan itu telah dikasi keluar.

Baru sekarang Kwie Sin Sie dan Beng Pek Hui sadar bahwa mereka telah kena orang pedayakan.

Sin Cie belah sebiji lah-wan, lantas bau obat yang harum menyerang hidungnya. Di dalam lilin bundar itu ada sebutir obat pulung sebesar lengkeng, warnanya merah dadu.

"Coba tolong ambilkan air dingin," Sin Cie minta pada Ceng Ceng.

Nona ini menurut, malah obat pulung itu segera ia aduk rata dengan air itu, sesudah mana, itu obat lantas dicekoki kedalam mulutnya si bocah, yang keadaannya sudah jadi lemah sekali, napasnya jalan dengan pelahan, dia tidak menangis. Dengan pelahan-lahan anak itu telan air obat.

Kwie Jie-nio mengawasi saja, air matanya berlinang- linang, saking terharu dan bersyukur. Berbareng ia pun malu sendirinya. Didalam hatinya, dia kata: "Coba tidak ada sutee cilik ini, yang membuka rahasia, onar hari ini mestinya hebat tak terkira. Sudah anakku tidak bakal ketolongan, aku pun telah berdosa terhadap kaum kangouw, sehingga juga kehormatan suamiku jadi ternoda..."

Setelah anak itu habis makan obat, dengan kedua tangannya, Sin Cie mengangsurkannya kepada Kwie Jie- nio, siapa menyambuti sambil kata dengan pelahan: "Wan Sutee, tak habisnya syukur kami suami-isteri. "

Sin Sie, yang tak pandai bicara, cuma kata: "Sutee, kau baik, kau baik. "

Ceng Ceng jumput semua obat, untuk serahkan itu pada si nyonya aseran.

Kwie Jie-nio sedang sangat girang dan bersyukur, dia sambuti obat itu tanpa bilang suatu apa.

Kwie Sin Sie sendiri segera totok sadar semua kurbannya.

Beng Pek Hui diam saja, di dalam hatinya, dia kata: "Anakmu telah ketolongan, adalah anakku telah dapatkan kebinasaannya.... Aku tak dapat membalas sakit hati...

Biarlah, lain kali saja aku mohon bantuan orang pandai akan mencari balas. "

Sin Cie lihat orang gotong Beng Ceng, hendak dibawa ke dalam. Dia lihat orang terluka parah, hampir mati.

"Tunggu dulu!" ia segera memanggil.

"Kandaku tinggal matinya, apakah kau mau?" bentak Beng Siu. Pikirannya sedang gelap, dia menyangka jelek terhadap tetamunya yang muda itu.

"Sabar," Sin Cie bilang. Ia tidak gusar. "Sukoku hargai Beng Loyacu, untuk bersahabat dia masih belum dapat ketikanya, bagaimana dia bisa bikin celaka Beng Toako? Memang benar dia telah serang Beng Toako sedikit hebat akan tetapi itu tak akan membahayakan jiwa, kalian baik jangan berkuatir."

"Siapakah yang kamu hendak dustakan?" pikir mereka. Mereka juga sudah tidak mempunyai harapan untuk Beng Ceng.

Sin Cie bisa duga orang kurang percaya dia, maka dia berkata pula: "Tidak ada niat dari sukoku akan bikin celaka Beng Toako, maka asal Beng Toako dikasi obat dan dapat beristirahat, dia bakal tak kurang suatu apa."

Tidak tunggu apa nanti orang bilang, Sin Cie rogoh sakunya akan kasi keluar sebuah lopa-lopa, ialah tempat dimana kodok esnya disimpan. Dia jumput satu di antaranya, terus ia pencet hancur, untuk diaduk rata dengan arak, kemudian ia sendiri yang cekoki Beng Ceng.

Ruangan yang luas itu, dimana tadi keadaan ada sangat kacau, terbenam dalam kesunyian. Semua mata mengawasi tindak-tanduknya Sin Cie, semua pandang Beng Ceng, untuk ketahui bagaimana kesudahannya.

Belum berselang lama, mukanya Beng Ceng telah mulai berubah, dari pucat-pias menjadi bersemu dadu, sesudah mana, menyusul suara rintihan, teraduh-aduh yang pelahan.

Menampak itu, bukan kepalang girangnya Beng Pek Hui, hingga dia lantas menjura kepada bengcu dari tujuh propinsi itu.

"Wan Siangkong, Wan Bengcu, kau benar-benar ada penolong puteraku!" katanya selagi ia menjura dalam.

Sin Cie repot membalas hormat. "Tidak apa," kata dia, yang merendahkan diri. Kemudian ia suruh Beng Siu gotong kakaknya ke dalam, untuk dirawat dengan baik.

Segera juga, Beng Pek Hui kerahkan orang-orangnya, untuk atur pula kursi-meja, guna sajikan barang hidangan baru, untuk mulai pula pesta yang yang terhalang itu, hingga di lain saat, suasana riang-gembira telah pulih.

"Beng Loyacu, kami sangat sembrono, harap kau memaafkannya," Kwie Jie-nio kata pada tuan rumah kepada siapa ia menjura. Iapun tarik tangan suaminya dan ketiga muridnya, untuk mereka juga beri hormat pada jago tua itu.

Beng Pek Hui bisa tertawa sekarang, ia tertawa besar. "Anakku menghadapi kematian, siapa tak gelisah?"

katanya. "Tidak, aku tidak persalahkan kamu suami-isteri."

Jie-nio mengucapkan terima kasih, kemudian ia dan rombongannya turut duduk berpesta.

Beng Pek Hui masih berhati kurang tenang, satu kali ia ambil ketika akan masuk ke dalam akan tengok puteranya. Sesampainya di dalam, hatinya jadi bertambah lega. Beng Ceng sedang tidur nyenyak, napasnya berjalan dengan rapi, wajahnya nampak tenang dan wajar. Itulah tanda-tanda dari kesembuhan.

Sekeluarnya kembali, tuan rumah segera layani dengan ramah-tamah pada semua tetamunya. Ia telah minta dua cawan yang besar, ia isi penuh dua-duanya, kemudian ia bawa itu ke depan Sin Cie.

"Wan Bengcu," katanya, "ketika dalam rapat di Tay San orang pilih kau, bilang terus-terang, aku kurang puas, akan tetapi sekarang, melihat sepak-terjangmu ini, aku bukan melainkan sangat berterima kasih, aku pun kagum dan

755 takluk padamu. Mari, bengcu, tolong kau keringi cawan ini, tanda hormat dari aku!"

Dia angkat cawan yang satunya, ia lantas cegluk itu hingga habis.

Sin Cie tak pandai minum arak, akan tetapi melihat kesungguhan hati orang, ia pun minum kering cawannya, atas mana, semua hadirin bertepuk tangan dan berseru: "Bagus!"

"Wan Bengcu," kata pula Beng Pek Hui kemudian, "sejak hari ini dan selanjutnya, apabila ada urusan sesuatu, aku bersedia untuk mengabdi kepada kau! Kau membutuhkan uang? Buat delapan atau sepuluh laksa tail perak, rasanya aku sanggup menyediakannya! Kau perlu orang? Kecuali kami ayah dan anak, yang tak nanti menampik untuk serbu api, sanggup aku mengumpulkan tiga atau empat ratus orang untuk membantu padamu! Aku rasa masih aku mempunyai muka terang akan mengumpulkan jumlah itu. "

Sin Cie bersenyum. Ia merasa sangat puas dengan kesudahannya urusan, terutama karena itu, ganjelan suko dan susonya itu terhadapnya, jadi dapat dibikin hilang.

Tapi malam itu, di waktunya orang bubaran setelah puas berpesta, Tang Piausu lenyap dari antara mereka, entah kemana sembunyinya dia.

Di lain harinya, selagi tetamu-tetamu bergantian pamitan pulang, Beng Pek Hui tahan rombongannya Sin Cie. Beberapa kali si anak muda niat pergi, ia saban-saban mesti urungkan itu sampai di hari ketujuh, Baru tuan rumah tak dapat menahan terlebih lama lagi. Pek Hui segera siapkan meja perjamuan, untuk memberi selamat jalan. Itu waktu, Sin Sie serta isteri dan murid-muridnya pun masih belum berangkat, mereka dijamu bersama. "Beng Lauko," berkata Thia Ceng Tiok, "si orang she Tang dari Eng Seng Piau Kiok bukannya satu mahluk baik, dia kehilangan upeti berharga itu, tak nanti dia mau sudah saja, andaikata dia tak berhasil mencari Kwie Jie-ko, mesti dia bakal cari lauko, dari itu, baik kau waspada."

"Terima kasih, saudara Thia," mengucap Pek Hui. "Umpama kata benar-benar mahluk itu berani main gila terhadapku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapnya!"

"Beng Lauko, adalah kami yang menyebabkan onar ini," kata Kwie Jie-nio, "maka itu, apabila kau benar menghadapi kesulitan, kami minta segeralah kau memberi kabar kepada kami!"

"Baik, Jie-nio!" jawab tuan rumah. "Sebenarnya aku sendiri tak takut!"

"Kita harus jaga kalau-kalau dia bersekongkol sama pembesar negeri," See Thian Kong turut memberi ingat.

Beng Pek Hui tertawa besar.

"Apabila itu sampai terjadi," katanya, "Thia Lautee, aku nanti mencontoh teladanmu, aku akan duduki bukit untuk menjadi raja!"

Semua orang tertawa mendengar pengutaraan itu. Sampai di situ, orang pada naik kuda, untuk berpisahan.

Jie-nio empo anaknya, dan bersama suaminya dan tiga orang muridnya, ia menuju pulang ke selatan, sedang rombongan Sin Cie berikut Thie Lo Han dan Ou Kui Lam, melanjuti perjalanan mereka mengangkut harta besar menuju ke utara.

Pada suatu hari sampailah Sin Cie beramai di Kho-pay- tiam, karena hari sudah magrib dan barang bawaan mereka banyak dan berat, mereka singgah di hotel "Yan Tiau Kie" di sebelah barat dusun itu. Habis bersantap, mereka lantas masuk tidur, untuk beristirahat. Tapi belum lagi mereka pulas, mereka telah terganggu suara berisik di luar hotel, antaranya riuh suara orang bicara. Cuma A Pa si empeh gagu, yang tak dengar suatu apa.

Suara bicara berisik terdengar semakin nyata apabila ternyata diaorang itu telah memasuki hotel, suara mereka pun tak dimengerti, karena bahasa mereka ada luar biasa. Sin Cie keluar dari kamarnya, maka itu ia bisa lihat beberapa puluh serdadu asing, yang duduk atau berdiri, masing-masing menyekal senapan. Merekalah yang menerbitkan suara berisik itu. Ia heran sebab belum pernah ia tampak orang-orang dengan mata kelabu dan hidung mancung-mancung itu, hingga ia mengawasi.

Segera terdengar suara seorang bicara dengan keras dengan kuasa hotel, dia minta segera disediakan beberapa kamar.

"Maaf, tayjin, kamar di sini cuma ada beberapa buah dan semua sudah penuh," kata kuasa hotel, yang memohon dengan sangat.

Orang yang dipanggil tayjin itu rupanya gusar, sebab segera dia tampar si kuasa hotel, hingga banyak mata diarahkan kepada mereka.

Post a Comment