"Maafkan aku untuk mataku yang kurang terang," katanya. "Tuan toh Thia Lo-pangcu?"
Thia Ceng Tiok tertawa.
"Benar-benar liehay matanya Seng-chiu Sin-tou!" katanya. "Jiewie tidak kenal satu sama lain apabila jiewie tidak bentrok, maka sekarang, mari kita minum bersama- sama!"
Semua orang lantas duduk.
Gie Seng dan Kui Lam lantas saling memberi selamat dengan arak, satu sama lain mereka akui kesemberonoan mereka.
Gie Seng kemudian tertawa ketika ia kata: "Sungguh aneh, entah dari mana dia curinya pispot itu!"
Mendengar ini, semua orang tertawa.
Kui Lam berlaku sopan-santun, tidak saja ia tahu ia berhadapan sama dua jago dari Hoopak dan Shoatang, di situ pun Sin Cie yang agaknya dipandang tinggi kedua jago itu, hingga ia menduga, pemuda ini bukan orang sembarangan. Ia pun telah saksikan keliehayannya selagi si anak muda pisahkan mereka.
"Untuk maksud apa jiewie sampai di sini?" Ceng Tiok tanya kemudian. "Kau sendiri, Ou Lautee, apakah kau lihat dan penujui salah satu hartawan di sini hingga kau berniat perlihatkan ilmu kepandaianmu?"
"Di dalam wilayah Thia locianpwee mana berani aku main gila?" sahut Kui Lam sambil tertawa. "Aku hendak pergi memberi selamat kepada Lo-ya-cu Beng Pek Hui."
"Hei, mengapa kau tak menyebutkannya maksudmu itu siang-siang?" menegur Gie Seng sambil tepuk meja. "Aku juga berniat pergi memberi selamat! Coba aku ketahui maksudmu, mana kita bentrok..."
"Tapi inilah bagus!" tertawa Ceng Tiok. "Kita sama-sama hendak memberi selamat pada Beng Lo-yacu, mari besok kita berangkat bersama-sama. Rupanya jiewie kenal baik Beng Loyacu itu?" "Beng Toako itu adalah sahabatku sejak dua-puluh tahun yang lampau!" jawab Thie Lo Han. "Selama yang belakangan ini aku lebih banyak berdiam di Kwietang Hokkian, jarang aku pergi ke utara. Sudah kira-kira delapan atau sembilan tahun kami tak pernah bertemu satu dengan lain."
"Kalau demikian Lo Han Toako, tolong kau perkenalkan aku dengannya," kata Ou Kui Lam.
Tautoo itu menjadi heran.
"Apa?" katanya. "Apakah kau tak kenal Beng Toako?
Habis kenapa kau hendak pergi kasih selamat padanya?"
"Aku adalah seorang yang sejak lama kagumi Beng Toako, sayang belum ada jodonya aku bertemu dengannya," Kui Lam akui. "Belum lama ini aku telah dapatkan serupa barang berharha, aku pikir, untuk berkenalan sama orang kangouw kenamaan ini, aku boleh berikan bendaku itu."
"Begitu!" kata si tautoo. "Mengenai Beng Toako, jangan kata orang yang membekal barang antaran, sekalipun yang tidak, dia bakal sambut dengan manis-budi. Beng Toako sangat ramah-tamah. Kalau tidak, mengapa orang bandingi dia dengan Beng Siang Kun?"
Mendengar orang menyebut dapat benda berharga, hatinya Thia Ceng Tiok tertarik.
"Ou Lautee, benda apa itu yang kau dapatkan?" tanyanya. Apa boleh kau bantu membukan pandanganku dengan kau perlihatkan benda itu?"
"Seng-chiu Sin-tou telah curi banyak barangm yang tidak berharga mana dia pandang mata?" kata See Thian Kong sambil tertawa. "Pasti itu adalah barang yang harganya sama besarnya dengan sebuah kota. " Nampaknya Ou Kui Lam girang sekali.
"Barang itu sekarang berada padaku," ia beritahukan. Ia lantas merogo ke dalam sakunya, akan keluarkan sebuah lopa-lopa terbuat dari emas yang indah dan tertabur batu pualam dan mutiara.
"Di sini ada banyak mata, mari kita pergi ke dalam kamar," kata dia kemudian.
Semua orang ingin lihat isinya lopa-lopa indah itu, semua lantas bertindak ke dalam kamar.
Begitu lekas ia telah rapatkan pintu, Ou Kui Lam buka lopa-lopanya di dalam mana terdapat dua ekor kodok pek- ciam-sie yang sudah menjadi bangkai, tubuhnya putih bagaikan salju seluruhnya, biji matanya merah bagaikan darah hidup. Memang, nampaknya dua ekor kodok itu menarik hati untuk dipandang, akan tetapi semua orang tidak lihat faedahnya.
Ceng Tiok dan Thian Kong sendiri, yang berpengalaman luas, masih tak mengerti juga.
Ou Kui Lam awasi Gie Seng, ia tertawa.
"Tadi berdua kita adu tenaga," katanya, "umpama kata kita terbinasa karenanya, itu dia yang dinamakan takdir, tidak ada pertolongan lagi, akan tetapi andaikata kita cuma terluka parah, aku mempunyai daya-upaya untuk tolong mengobatinya hingga kita terbebas dari ancaman malapetaka." Dia lantas tunjuk sepasang kodok putih itu: "Inilah kodok Cu-ceng peng-ciam yang hidupnya di Soat San, Gunung Salju di See-hek, perbatasan barat. Tidak perduli luka bagaimana hebat, di luar, atau terkena racun, asal orang tidak mati seketika, dia dapat ditolong setelah dia makan kodok ini, kodok es. Kemujarabannya obat ini tidak ada tandingannya." "Dari mana kau dapatkannya ini?" Ceng Tiok tanya.
"Dari satu imam tua," sahut Kui Lam. "Pada bulan yang lalu aku berada di Hoolam, selagi singgah di hotel aku bertemu sama imam itu yang sedang sakit berat sampai hampir mati. Aku kasihan terhadapnya, aku berikan ia uang sepuluh tail, untuk ia panggil tabib dan berobat, aku sendiri layani dia selama sakitnya itu. Dasar umurnya sudah sampai, obat dan rawatanku tidak menolong, akhirnya tak dapat ia hidup lebih lama pula. Imam itu ingat budi, di saat hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia kasikan kodoknya ini kepadaku, untuk membalas kebaikanku."
"Mengapa lopa-lopanya demikia indah?" Thie Lo Han tanya.
"Pada mulanya, si imam tempatkan ini dalam sebuah lopa-lopa kaleng," menerangkan Kui Lam. "Sekarang aku hendak haturkan kodok es ini kepada Beng Loyacu, maka aku tukar tempatnya, supaya setimpal dilihatnya."
See Thian Kong tertawa.
"Maka lantas kau, dengan tangan kosong, kunjungi suatu hartawan, untuk dapatkan lopa-lopa emas dan indah ini?" katanya.
"See Ceecu pandai menerka," tertawa Kui Lam. "Lopa- lopa emas ini kepunyaan nona besar dari satu hartawan she Lau di kota Kay-hong..."
Semua orang tertawa.
Kui Lam tak malu ditertawai, ia pun tertawa juga. "Tadi," katanya, melanjuti, "jikalau tidak tuan ini
menolongi, kita berdua mesti rubuh dengan luka-luka parah, andaikata aku terluput dari kematian, pasti aku akan makan satu kodok es ini dan berikan dia yang lainnya. Kita berdua tidak bermusuhan, mustahil aku mesti bikin dia celaka?"
"Dengan begitu aku jadi bakal terima budimu!" tertawa Thie Lo Han.
Maka lagi-lagi semua orang tertawa.
"Dan sekarang, kedua kodok ini tetap bukanlah kepunyaanku," kata pula Kui Lam. Lalu dengan kedua tangannya, dia angsurkan kodok itu kepada Sin Cie. "Tak berani aku menyebut membalas budi tetapi ini melainkan ada tanda hati dari aku."
Sin Cie heran hingga ia melengak.
"Mana dapat!" katanya kemudian. "Kodok ini kau toh kau hendak berikan kepada Beng Lo-yacu..."
"Jikalau siangkong tidak berkorban untuk tolongi kami, pasti aku sudah mati," kata Kui Lam, "maka itu, nyata sepasang kodok es ini bukan jodonya Beng Lo-yacu. Untuk hadiah, bukannya aku tekebur, sembarang waktu aku bisa dapatkan gantinya, maka tak usah siangkong buat pikiran."
Masih Sin Cie menampik, karena mana, Kui Lam agaknya kurang puas.
"Siangkong tidak mau perkenalkan she dan nama, sekarang siangkong juga tidak sudi terima barangku, apa mungkin siangkong sangka kodok es ini aku dapatinya dari mencuri?" katanya. "Apa mungkin siangkong anggap ini barang kotor?"
"Maaf, saudara Ou," kata Sin Cie dengan cepat. "Tak sempat tadi aku perkenalkan diriku. Aku ada Wan Sin Cie." "Aha!" berseru Thie Lo Han dan Kui Lam juga. "Jadinya siangkong ada Wan Toaya yang menjadi bengcu dari tujuh propinsi! Pantas toaya liehay sekali."
Keduanya lantas unjuk sikap sangat menghormati.
"Ou Toako memaksa hendak memberikannya, jelek untuk aku menampik, baik aku terima," kata Sin Cie kemudian. "Banyak-banyak terima kasih!"
Ia sambuti kodok es itu, untuk disimpan dalam sakunya. Bukan main girangnya Kui Lam, wajahnya berseri-seri.
Sin Cie pergi ke kamarnya akan kembali bersama sepohon batu bunga-karang merah-dadu yang terang bercahaya, indah dan tak ada cacatnya, tak ada sebutir jua pasir tercampur di dalamnya, kapan ia letaki itu di atas meja, ruangan jadi tambah terang luar biasa. Jadi itu adalah mustika bunga-karang.
Kui Lam tercengang, walaupun ia pernah lihat banyak barang permata.
"Belum pernah aku lihat mustika ini," katanya. "Mungkin dalam istana kaisar Baru kedapatan ini macam mustika. Apakah ini pusaka turunan, Wan Toaya? Dengan ini mataku telah terbuka."
Sin Cie tertawa.
"Ini melainkan suatu benda permainan," bilangnya. "Meskipun barang ini indah, kefaedahannya masih kalah dengan kodok es itu, yang bisa menolongi jiwa orang. Secara kebetulan saja aku peroleh ini. Aku harap saudara Ou suka menerimanya, untuk ganti barang antaranmu."
"Tapi ini terlalu berharga," Kui Lam kata. "Tidak apa, saudara Ou. Kau terimalah." Karena terdesak, Kui Lam terima juga. Ia mengucap terima kasih.
Ceng Tiok semua kagum untuk sifat Sin Cie ini.
Sampai di situ, mereka beristirahat, untuk besoknya pagi, mereka melanjuti perjalanan, maka sorenya, sampailah mereka di Po-teng. Mereka singgah dulu di hotel, lalu besokannya pagi-pagi, mereka sudah bikin kunjungan kepada Beng Pek Hui, jago Utara itu.