Orang bersorak untuk sikap laki-laki dari ketua Liong Yu Pang itu.
Teng-kah-sin Teng Yu dekati Sin Cie, untuk diawasi, hingga ia tampak tegas romannya Sin Cie yang cakap, sikap halus, tak ada tanda-tandanya dari seorang dengan dengan bugee yang liehay, karenanya, ia menjadi heran. Ia tidak puas karena namanya orang ini melewati nama gurunya.
"Kionghie, Wan Siangkong," kata dia, memberi hormat, tapi berbareng ia ulur tangannya, untuk jabat pemuda ini.
"Dengan sebenarnya, tak sanggup aku terima tugas berat ini," berkata Sin Cie.
Belum lagi anak muda ini tutup mulutnya, atau ia rasai cekalan yang keras sekali.
Tetapi, dengand iam-diam, Teng Yu sudah kerahkan tenaga "Pa Ong Kong Teng" atau "Cou Pa Ong angkat perapian kaki tiga," semacam ilmu tenaga besar warisan dari gurunya. Dengan jalan ini, ia niat angkat tubuhnya Sin Cie, untuk lalu dilepaskan, supaya pemuda ini rubuh setengah binasa, agar bengcu ini mendapat malu.
Sin Cie segera insyaf bahwa orang lagi mencoba dia, dia diam saja, tapi dengan diam-diam, dia kerahkan tenaga "Cian kin cui", atau "rubuhnya seribu kati", hingga dia bisa tancap kaki dengan tubuhnya dibikin berat, karena mana, sampai tiga kali Teng Yu kumpul tenaganya, untuk angkat ia masih tidak berhasil, tubuhnya seperti nancap di tanah. Dia pun lantas berkata: "Mana aku sanggup terima tugas begini berat? Gurumu terkenal di kolong langit, saudara Teng, gurumu itu jauh terlebih cocok daripada aku untuk dipilih!"
Masih Teng Yu kerahkan tenaganya, tetap ia tidak memperoleh hasil, malah pada lengan kanannya itu terdengar suara urat-uratnya, maka akhirnya terpaksa ia lepaskan cekalannya, karena ia tahu, ia telah gunai tenaga melebihi batas.
Masih Sin Cie berpura-pura seperti tak ada kejadian suatu apa, begitu orang lepaskan cekalannya, ia lantas tarik pulang tangannya.
Teng Yu sembrono tetapi ia jujur dan polos, Ia tahu orang telah berbuat baik terhadapnya, karena apabila si anak muda melakukan pembalasan, lengannya bisa patah atau tangannya remuk. Karena ini, ia jadi berterima kasih.
"Baik, kau pantas menjadi bengcu!" dia lantas serukan.
Lalu ia memberi hormat sambil menjura.
Sin Cie lekas-lekas membalas hormat, hatinya girang karena orang berhati polos. Ia jadi sangat suka pada orang sembrono ini. Ketika itu orang lantas siapkan lilin dan hio, untuk menjalankan kehormatan kepada langit dan bumi, yang menyaksikan pemilihan dan keangkatan bengcu itu.
"Kita telah adakan perserikatan, kita sudah mempunyai bengcu, karenanya tak boleh kita tidak punyakan undang- undang," berkata Thia Ceng Tiok. "Maka sekarang aku mohon bengcu maklumkan undang-undang itu, untuk kita rundingkan dan tetapkan."
Sebenarnya Sin Cie masih hendak menolak, tapi Tiong Siu bisiki dia, katanya: "Kongcu, jangan kau tampik lagi. Apabila kedudukan bengcu ini terjatuh kepada satu manusia licik, besar sekali bencananya di belakang hari. Umpama kau bisa pegang kendali, besar faedahnya untuk melampiaskan sakit hatinya Tayswee!"
Tertarik hatinya Sin Cie mendengar nasehat ini. Lantas ia berbangkit, akan menjura kepada orang banyak.
"Karena saudara-saudara demikian menyinta aku, baiklah, terpaksa aku turut titah kalian," katanya. "Karena pengetahuanku cetek, aku mohon supaya semua cianpwee dan kanda sudi bantui aku, aku senantiasa bersedia untuk terima pelbagai pengajaran."
Tampik surak riuh-rendah menyambut pengutaraan itu. "Untuk undang-undang, aku minta Cou Siokhu saja yang
mengarangnya," kemudian Sin Cie minta Tiong Siu.
Cou Tiong Siu tidak menolak, ia malah lantas kembali ke kuil, untuk tugasnya itu. Ia tahu semua orang sederhana, ia pun mengatur rencana secara ringkas. Maka belum terlalu lama, ia sudah siap dengan undang-undangnya, yang ia terus serahkan pada Sin Cie, untuk diumumkan kepada orang banyak itu, habis mana mereka mengadakan sumpah, minum arak tercampur darah, untuk janji bekerja sama- sama tidak ada yang boleh undurkan diri atau melanggar sumpah.
Secara demikian selesailah pertemuan besar di Tay San itu.
Belum berselang setengah tahun sejak Sin Cie muncul karena ilmu silatnya yang liehay, sebabnya ramah tamah dan kepintaran, ia telah membuat kemajuan ini, hingga ia sekarang menjadi bengcu dari Titlee, Shoatang, Kangou, Ciatkang, Hokkian, Kangsee dan Anhui, dari orang-orang gagah dari tujuh propinsi itu.
Tiga hari lamanya orang berkumpul di Tay San, berunding dan berpesta, lalu dengan bergantian mereka turun gunung, akan pulang ke masing-masing wilayahnya. Selama itu, kecuali sebagai pemimpin, Sin Cie juga telah ikat persahabatan kekal dengan orang-orang tang tadinya ia tak kenal. Di waktu orang berpisahan, ia bekali mereka uang, yang ia ambil dari harta karunnya itu, tak saying ia memberikan masing-masing sejumlah besar. Secara begini, ia pun menambah menarik simpati orang banyak itu.
Setelah semua sudah bubar, Sin Cie bersama Ceng Ceng, A Pa dan Seng Hay melanjuti mengangkut harta mereka menuju ke Pakkhia. Adalah Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong, yang tidak lantas pisahkan diri, karena mereka ini ingin mengantar sampai di kota raja, katanya untuk sekalian pesiar. Sin Cie terima baik kehendak dua sahabat ini, terutama karena ia tahu, dua sahabat itu mempunyai ilmu silat yang sempurna.
Sementara itu Ang Seng Hay terbukti berlaku jujur dan setia, dia rajin dan waspada dalam mengantar harta itu, hingga Sin Cie percaya dia tak nanti berontak atau berkhianat terhadapnya, maka ia lantas sembuhkan luka dalam tubuhnya. Pertolongan ini justru membikin orang she Ang itu menjadi bersyukur sekali, hatinya lega sebab ia tak usah dukai lagi lukanya ity.
Melakoni perjalanan di tanah dataran Shoatang, rombongan ini merasa aman sekali. Shoatang adalah daerah pengaruhnya See Thian Kong, orang-orangnya pemimpin ini telah atur segala apa untuk memudahkan mereka. Dan kapan mereka memasuki daerah Hoopak, di sana pun mereka mendapat pelayanan tak kurang sempurnanya dari orang-orangnya Thia Ceng Tiok.
Un Ceng Ceng puas sekali melihat amannya perjalanan itu, mendapati segala apa leluasa bagi mereka, maka akhirnya ia kagumi si anak muda, orang yang ia puja itu. Karena ini, kalau tadinya ia gemar "ngadat", dengan sendirinya ia bisa bawa diri, hingga ia pun menjadi jinak....
Pada suatu hari sampailah rombongan ini di Hoo-kan, disana ketua setempat dari Ceng Tiok Pay menyambut dengan mengadakan satu perjamuan, di antara hadirin ada orang-orang Rimba persilatan yang kenamaan dari kota itu, kecuali menemani, mereka ini memberi selamat kepada bengcu mereka. Selagi bersantap dan minum, orang pun pasang omong mengenai kaum kangouw.
"Thia Pangcu," berkata satu orang selagi perjamuan berjalan, "lagi sebelas hari adalah hari ulang tahun ke-enam- puluh dari Lo-ya-cu Beng Pek Hui, pasti kau tak dapat pergi untuk menghadiri pestanya itu, bukan?"
"Aku mesti turut bengcu ke kota raja, pasti aku tak dapat pergi," sahut Thia Ceng Tiok, "walaupun demikian, sumbangan tak dapat aku lupakan, aku telah perintah orang untuk menyampaikannya."
"Aku juga sudah kirimkan barang antaranku," See Thian Kong turut bicara. "Beng Lo-ya-cu ada satu sahabat baik, melihat kita tidak datang, tentu ia ketahui kita punyakan urusan penting, pasti ia tidak bakal jadi tidak senang. "
Sin Cie dengar pembicaraan itu, hatinya tergerak.
"Kay Beng Siang tersohor di lima propinsi Utara, selagi sekarang dia hendak rayakan hari ulang tahunnya, kenapa aku tidak mau ikat persahabatan dengannya?" dia berpikir. Maka ia turut bicara. Ia kata: "Aku pun telah dengar namanya Beng Lo-ya-cu, kebetulan sekarang dia hendak rayakan shejitnya yang ke enam-puluh, aku ingin pergi memberi selamat padanya. Bagaimana pikiran saudara- saudara?"
Mendengar ini, semua orang akur, sampai mereka tepuk- tepuk tangan.
"Bengcu niat berikan dia muka terang, pasti dia bakal jadi sangat girang!" berkata orang banyak itu.
Sin Cie lantas pastikan untuk kunjungi Beng Pek Hui. Sembari bicara, ia menanyakan terlebih jauh tentang jago tua dari Utara itu. Ia dapat kenyataan, Kay Beng Siang itu seorang budiman dan gemar bergaul.
"Dengan jalan mutar sedikit ke Poo-teng, aku anggap kita tidak sampai mensia-siakan banyak tempo untuk sampai di Pakkhia," kata Sin Cie kemudian. "Kita cuma akan terlambat beberapa hari saja."
Banyak hadirin menyatakan, memang mereka tak terlalu mensia-siakan tempo.
Karena ini urusan baru, ketika besoknya perjalanan dilanjuti, tujuan diubah ke Barat. Kapan mereka telah sampai di Kho-yang, dari mana untuk sampai ke Poo-teng tinggal perjalanan satu hari lagi, Seng Hay lantas ambil tempat di hotel Hoat Lay. Sesudah taruh rapi peti-peti besi dan buntalan mereka, mereka pergi duduk berkumpul di ruang besar, untuk bersantap.
Ketika itu di satu meja sebelah timur berduduk satu tautoo atau imam yang tubuhnya besar dan gemuk, kepalanya, atau rambutnya, dilibat dengan sebuah gelang kepala yang terbuat dari tembaga. Dia beroman keren. Di atas meja di depannya sudah menggeletak tujuh atau delapan poci arak yang kosong. Ketika satu jongos menambahi air kata-kata, ia mencegluknya dari satu mangkok besar. Dia pun dahar daging dengan main cabak dengan kedua tangannya. Dan dia dahar dengan cepat, hingga piringnya jadi kosong, mangkoknya jadi kering.
"Tambah lagi arak dan daging! Lekasan!" demikian ia perdengarkan suaranya yang nyaring, sampai berulang- ulang.
Jongos sedang melayani rombongan Sin Cie, ia jadi tak sempat.
"Kurang ajar!" menjerit tautoo itu, sambil keprak meja dengan keras, sampai poci arak dan mangkoknya berlompatan. Karena meja bergerak keras, cawan arak dari lain tetamu, yang duduk di ujung dari meja itu, telah terbalik, hingga araknya tumpah dan mengalir di atas meja.
"Aya!" berseru si tetamu sambil berjingkrak.
Dia ini adalah seorang dengan tubuh kecil dan kurus, kumisnya dua baris, apa yang dinamakan kumis tikus saking jarangnya akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam dan berpengaruh.
"Suhu," katanya, "kau ingin minum arak, orang lain juga!" Tautoo itu sedang gusar, teguran itu menambah kegusarannya. Ia gebrak meja.
"Aku panggil jongos, apa sangkutannya denganmu?" dia balik menegur.
"Belum pernah aku menemui orang suci sekasar kau!" kata orang kurus itu.
"Dan hari ini aku bikin kau menemuinya!" sahut si imam.
Ceng Ceng pun tidak puas.
"Nanti aku ajar adat padanya!" katanya pada Sin Cie. "Ah, kau nonton saja," jawab si anak muda. "Jangan
pandang ringan orang kecil dan kate itu, dia tak dapat dibuat permainan."
Ceng Ceng dengar kata, tapi keras keinginannya untuk saksikan pertempuran.