Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 102

Memuat...

"Di dalam satu pertemuan besar sebagai ini, tak dapat tidak ada beng-cu, ketuanya, maka itu, mari kita angkat satu pemimpin, satu saudara enghiong yang disegani semua orang," berkata pula See Thian Kong. "Terdapat beng-cu itu, kita semua mesti mendengar kata! Bagiku, tak perduli saudara mana yang diangkat, aku nanti selalu ikuti dia!" Sampai di situ, Sip Lek Taysu berbangkit.

"Memangnya, kawanan naga tidak ada kepalanya, tak nanti mereka bisa bangunkan usaha besar," kata pendeta ini. "Lo-lap setuju untuk kita pilih satu beng-cu, asal beng- cu itu mesti pintar dan gagah berbareng, welas-asih dan budiman, supaya ia bisa menakluki semua orang."

"Itu benar!" The Kie In menyambut. "Menurut aku, Tay- su setimpal untuk jadi pemimpin kita."

Sip Lek Taysu tertawa.

"Jangan main-main, toocu! Lolap adalah sebagai lilin diantara angina, lolap sedang tungkuli sisa umurku. Mana

lolap sanggup terima tugas penting itu?"

Orang ramai lantas kasak-kusuk, berbisik satu dengan lain, untuk damaikan siapa harus dipilih dan diangkat menjadi beng-cu mereka. Pemilihan ini perlu, untuk persatukan golongan mereka, yang terpencar di pelbagai tempat, agar mereka semua ada yang pimpin dan bersatu. Hal ini perlu, untuk cegah bentrokan di dalam kalangan sendiri, guna bikin jeri pembesar negeri.

Thia Ceng Tiok tunggu orang saling berdamai sekian lama, lalu ia tepuk tangannya beberapa kali, setelah semua orang sirap, dia tanya apa mereka itu sudah dapat pikir orang yang cocok, yang bakal dipilih.

Seorang, yang tubuhnya besar dan tingginya tujuh kaki, berbangkit. Suaranya pun nyaring ketika ia buka mulutnya. Ia kata: "Lo-ya-cu Beng Pek Hui adalah orang yang dihormati oleh kaum Rimba Persilatan, benar dia hari ini tidak turut hadir, akan tetapi kedudukan beng-cu ini harus diberikan kepadanya. Maka itu aku anggap baik kita jangan pilih lain orang lagi."

Usul ini segera dapat kesetujuannya beberapa orang. "Siapakah itu Beng Pek Hui?" tanya Sin Cie pada Seng Hay, yang duduk di sebelahnya.

Orang yang ditanya agaknya heran.

"Apakah Wan Siangkong tidak kenal orang she Beng itu?

Dia balik tanya.

"Ada sedikit sekali sahabatku dalam rimba persilatan," sahut si anak muda.

"Beng Lo-ya-cu itu ada orang juluki Kay Beng Siang, jadi dia dibandingi dengan Beng Siang Kun," terangkan Seng Hay. "Dia adalah seorang yang mulia hatinya, giat menderma, gemar bergaul. Dalam kalangan ilmu silat, dia telah ciptakan ilmu silat 'Sin Kun'. Banyak orang gagah yang menjadi muridnya. Untuk di utara, tidak ada yang tidak kenal nama Kay Beng Siang. Orang yang bicara barusan adalah Teng-kah-sin Teng Yu, si Malaikat Teng Kah, yang jadi murid kepalanya."

"Begitu," kata Sin Cie kemudian. "Kalau begitu, baik juga dia dipilih jadi beng-cu. "

Itu waktu, Cit cap jie too Toocu The Kie In berkata pula: "Namanya Lo-ya-cu Beng Pek Hui terkenal hingga di tempat jauh, sampai aku yang tinggal jauh dari daratan, telah pernah mendengarnya, aku turut kagumi dia. Dia bijaksana, kepandaiannya pun sempurna, memang pantas dia dipilih. Tapi aku memikir satu hal, boleh atau tidak apabila aku utarakan itu?"

"Tidak ada halangannya, The Toocu," bilang Teng Yu. "Beng Lo-ya-cu telah tinggal di Po-teng untuk banyak

tahun," menyatakan toocu ini, "harta-benda dan

kedudukannya, besar bukan main. Kita sebaliknya, apakah yang kita kerjalan? Kita berkumpul, untuk melakukan usaha pemberontakan! Apabila Beng Lo-ya-cu menjadi pemimpin

704 kita, kemudian dia kena terembet-rembet, apakah bisa senang hati kita?"

Kata-kata ini beralasan, maka itu semua orang berdiam. "Aku hendak pujikan satu orang lain," berkata Ciau

Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pay dari Kim-leng. "Dia

ini satu enghiong, dia tidak saja pandai ilmu silat, sifatnya pun welas-asih dan budiman. Melainkan dia masih berusia sangat muda dan banyak sahabat-sahabat Rimba Persilatan yang belum mengenalnya. Walaupun demikian, aku suka pujikan dia. Dan asal dia suka menerima keangkatan, dia pasti bakal pegang pimpinan dengan adil, dia pasti bakal angkat nama kita hingga pihak pembesar negeri niscaya tak nanti pandang ringan kepada kita."

Sebelum orang banyak tegaskan Kong Lee, siapa pilihannya itu, See Thian Kong sudah turut berkata pula. Dia punyakan suara kecil akan tetapi dia coba keluarkan dengan keras, hingga terdengarnya menyolok di kuping.

"Di dalam hatiku, aku juga memikir satu orang, satu enghiong yang usianya masih sangat muda," katanya. "Aku percaya dia tidak bakal beda jauh dengan enghiong yang dipujikan Ciau Pangcu."

"Aku tidak berani menyebutkan usiaku yang tinggi," berkata pula Ciau Kong Lee, seperti ia menyambung See Thian Kong, "akan tetapi usiaku sekarang ini sudah lebih dari lima-puluh tahun, dan tak berani aku membilang, pengetahuan dan pengalamanku telah luas, akan tetapi pernah aku menemui tak sedikit orang-orang gagah, walaupun itu semua, sahabat muda yang aku sebutkan itu telah membuat aku takluk setakluk-takluknya, seumurku, belum pernah aku menemui orang yang melebihkan dia."

Sampai di situ, Thia Ceng Tiok turut bicara. Tapi ia bicara dengan tawar. "Aku kenal tabeatnya Ceecu See Thian Kong," demikian katanya, "dan kipas Im-yang-sie-nya yang bisa dipakai menotok jalan darah, walaupun bukan tak ada keduanya, sudah sempurna sekali, maka seorang yang membuat dia kagum, pastilah bukan orang sembarang. Maka itu aku dari Ceng Tiok Pay, aku setuju dengannya."

Mendengar ini, mukanya Ciau Kong Lee menjadi merah.

"Habis bagaimana caranya beng-cu hendak dipilih?" tegaskan ketua Kim Liong Pang ini. "Orang-orang Kim Liong Pang memang tak punya guna, akan tetapi jumlah kami terlebih banyak daripada jumlah orang-orang Ceng Tiok Pay. "

Suasana lantas saja menjadi hangat.

Menampak demikian, Sip Lek Taysu lantas mendahului. "Sabar, Ciau Pangcu," berkata dia. "Siapa itu sahabat

yang pangcu hendak pujikan? Menurut aku, dalam sembilan bagian, dugaanku tidak bakal meleset. Aku pun minta supaya See Ceecu menyebutkannya orang yang dia hendak pujikan itu, supaya semua hadirin bisa berikan pertimbangannya yang sama tengah. Ada kemungkinan yang orang banyak tak menyetujui mereka itu. "

See Thian Kong lantas saja tunjuk Wan Sin Cie.

"Orang yang aku maksudkan adalah Wan Siangkong!" sahutnya. "Jangan saudara-saudara lihat saja usianya yang masih sangat muda, sebenarnya kepandaiannya terlebih tinggi daripada orang yang kebanyakan. Baik aku jelaskan, dengan Wan Siangkong ini aku Baru saja berkenalan, dengannya aku bukan pernah saudara seperguruan, bukan juga sahabat karib, bahwa aku pujikan dia, itulah disebabkan melulu karena aku kagumi kepandaiannya." Baru saja See Ceecu tutup mulutnya atau rombongan berandal dari Shoatang serta orang-orang Ceng Tiok Pay bertampik-surak semua hingga suara mereka jadi bergemuruh.

Hal ini di luar dugaan Sin Cie, maka lekas-lekas ia berbangkit, ia lantas ulap-ulapkan kedua tangannya.

"Jangan! Jangan!" katanya gugup.

Orang-orangnya Ciau Kong Lee tunggu sampai tampik- surak sudah reda, lalu mereka semua tertawa berkakakan, bergelak-gelak, kepala mereka ditegaki, kembali terdengar suara bergemuruh riuh.

See Thian Kong menjadi tidak senang.

"Ciau Pangcu, tolong kamu jelaskan, adakah kamu tertawai aku?" tanya dia.

Kong Lee rangkap kedua tangannya, akan beri hormat kepada ceecu ini.

"Mana berani aku tertawai kau, See Ceecu?" katanya. "Ketahuikah Ceecu, siapa orang yang aku hendak pujikan?"

Thian Kong menggeleng kepala. "Aku tidak tahu," jawabnya.

Kong Lee bersenyum

"Lain daripada Wan Siangkong ini, siapa lagi?" katanya.

Tanpa merasa, orang semua tertawa besar. Sebab sekian lama orang adu urat syaraf, tidak tahunya, jago yang mereka pujikan adalah satu orang!

Sin Cie menjadi sangat sibuk, kembali ia bangkit berdiri. "Aku masih terlalu muda, pengetahuanku pun sangat

cetek," katanya. "Sebenarnya dengan dapat turut hadir di sini saja aku sudah bukan main bersyukurnya. Di sini aku mengharap semua locianpwee nanti sudi pimpin aku, supaya aku bisa membantu sedikit, maka itu mana aku sanggup terima pujian kamu! Tak sanggup aku terima tugas berat ini, maka aku harap locianpwee beramai pilih lain orang saja."

Tapi Cou Tiong Siu turut bicara.

"Wan Kongcu adalah putera Wan Tayswee," katanya, "oleh karena kami kaum San Cong tidak memilih kasih, dengan kongcu yang terpilih, inilah paling tepat!"

"Siapa dimaksudkan dengan Wan Tayswee itu?" tanya The Kie In.

"Ialah Tayswee Wan Cong Hoan, panglima gagah yang di Liautong telah lawan angkatan perang Boan, yang belakangan tanpa sebab tanpa dosa telah dibikin celaka hingga dia menemui kebinasaannya," Tiong Siu terangkan.

Semua orang tahu Wan Cong Hoan gagah dan setia, bagaimana sebagai pahlawan dia bela negaranya, tapi dia terbinasa teraniaya, hingga orang rata-rata penasaran, maka sekarang, setelah dengar keterangannya Cou Tiong Siu, tidak saja The Kie In, pemimpin dari tujuh-puluh-dua pulau, juga yang lain-lain jadi tergerak hatinya, berbareng berduka mereka atas nasibnya Wan Tayswee itu, mereka girang menemui puteranya. Maka seperti satu suara, semua orang menyatakan setuju atas pilihan itu.

Sin Cie masih mencoba menampik, ia tidak berhasil. Malah Sui Congpeng, perwira taklukan itu, dan Nio Gin

Liong dan Liap Thian Hong serta lainnya yang ditolongi

dari kerangkeng perantaian, turut berikan suara menunjang, hingga tak dapat tidak, pemilihan lantas ditetapkan. Ketua dari Liong Yu Pang, Eng Cay, sebenarnya mempunyai sangkutan dengan Sin Cie, disebabkan kejadian di perahu waktu dia bentrok dengan Un Ceng Ceng, akan tetapi dia ingat pertolongannya pemuda ini, yang berikan dia papan yang membuat dia tak sampai tercebur ke sungai, maka dia pun berikan tunjangannya. Sambil berbangkit, dia berkata: "Wan Siangkong mempunyai bugee yang liehay, pasti banyak saudara hadirin disini mengetahuinya. Aku sendiri, pernah rubuh di tangannya. "

Mendengar ini, sejumlah orang menjadi tercengang. "Walaupun aku telah dirubuhkan, aku toh ditolongi,"

Eng Cay menyambungi, "karena itu sekarang aku setuju dia

dipilih menjadi bengcu, aku tunjang pemilihannya ini."

Post a Comment