Halo!

Pedang Ular Mas Chapter 101

Memuat...

"Jikalau kemudian ternyata kau main gila, aku nanti kembali untuk ambil jiwamu!" dia mengancam. Kemudian ia berpaling kepada isterinya: "Mari lekas kita susul!"

Habis mengucapkan demikian, Sin Sie segeral berlari pergi.

Nyonya Kwie empo anaknya, dia susul suaminya, selagi berlari, dia hajar beberapa sedadu yang melintang di depannya.

Sun Tiong Kun bertiga pun segera susul gurunya itu.

Sin Cie tahu orang sedang berpikiran kalut, ia antapkan saja suko itu beramai berlalu. Kemudian Baru ia tanya si congpeng tentang obat yang dicari suhengnya yang kedua itu.

"Itulah hok-leng dan hoo-siu-ou," sahut perwira itu. "Hok-leng itu besar sekali dan didapatinya belum lama ini di dalam sebuah gunung di propinsi An-hui diduga usianya telah dua-ribu tahun. Dan hoo-siu-ou itu, yang telah berpeta manusia, yang umurnya pun tua sekali, dapat digali di suatu tempat di Ciatkang timur. Maka itu adalah dua macam obat yang dipandang sebagai mustika. Ketika Congtok Ma Su Eng dari Hong-yang dengar hal kedua obat itu, dia perintah wakilnya pergi beli secara separuh paksa, kemudian ia perintahkan satu ahli obat bikin itu menjadi dua-puluh butir obat pulung, katanya campuran obat lainnya adalah jinsom, mutiara dan lainnya obat mahal, hingga ongkos pembuatannya sama sekali tiga-puluh ribu tail perak. Tentang obat ini sudah menggemparkan seluruh wilayah Kanglam, hingga banyak orang yang mengetahuinya.

"Untuk penyakit apa obat itu?" Sin Cie tanya pula.

"Aku sendiri tidak ketahui jelas, melainkan orang bilang mustajab sekali hingga bisa hidupkan kembali orang yang sudah mati. Juga dikatakan, siapa bertubuh lemah, asal makan sebutir saja dari obat itu, tubuhnya akan lantas jadi sehat dan kuat."

"Inilah dia!" pikir Sin Cie. "Anaknya jie-suko sakit sudah lama dan belum dapat obat yang manjur, pantaslah dia ingin dapatkan obat ini....." Lalu ia tanya pula: "Jadi obat itu hendak dijadikan upeti oleh Ma Congtok?"

"Benar. Mulanya akulah yang ditugaskan bawa itu, tetapi kemudian karena aku jalan lambat dan aku mesti antar banyak pesakitan, dia titahkan lain orang ialah Tang Piausu dari Eng Seng Piau Kiok dari Kimleng. Itulah upeti untuk Sri Baginda."

Mendengar itu, Sin Cie harap-harap sukonya berhasil mendapati obat itu untuk obati puteranya yang sakitan itu.

"Sudah berapa hari sejak berangkatnya piausu itu?"

"Kita berangkat bersamaan, tapi rombongan mereka Cuma belasan, mereka bisa jalan jauh terlebih cepat. Mungkin mereka telah dului kita delapan atau sembilan hari." Itu waktu Cou Tiong Siu bersama Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan serta orang-orang mereka telah datang berkumpul, girang mereka bukan kepalang, apapula akan saksikan ahli warisnya Wan Cong Hoan demikian cakap dan gagah.

Sin Cie lantas tanyakan mereka itu tentang tertawannya mereka.

Menurut Tiong Siu, ketika mereka dibokong di Lau Ya San, sudah banyak orang mereka yang bubaran, mereka sendiri bisa lolos, kecuali Eng Siong, yang mendapat kebinasaan. Kemudian mereka berkumpul pula, untuk lanjuti usaha mereka. Tapi rahasia bocor dan Ma Su Eng liehay sekali, selagi berapat, mereka disergap hingga mereka kena ditawan. Mereka hendak dikirim ke Pakkhia dimana mereka bakal jalankan hukuman mati. Maka beruntung sekali, di sini mereka bertemu dengan Sin Cie dan dapat ditolongi.

Setelah itu Sin Cie tuturkan hal perkenalannya dengan Giam Ong.

"Ini bagus, Wan Kongcu," berkata Tiong Siu. "Disini ada kawanan penyamun dan sejumlah tentara taklukan, maka baik kau tunda dulu perjalananmu ke Pakkhia, untuk pernahkan mereka ini.

Sin Cie nyatakan setuju, malah ia sarankan untuk cari tempat untuk satu pertemuan besar.

"Tay San bagaimana?" Tiong Siu usulkan.

"Tay San ada yang utama di antara lima gunung, kita pilih Tay San, tepat!" Sin Cie nyatakan akur.

Pemuda ini lantas perintah kumpulkan isinya peti yang ia titahkan "obral", sedang dari uang angkatan Negara, ia pisahkan sejumlah dua-puluh laksa tail perak, yang ia bagi

698 rata di antara rombongan Ceng Tiok Pay dan kawanan berandal dari Shoatang itu. Untuk Tie Hong Liu, ia pisahkan lagi lima-ribu tail. Dan untuk tentara negeri yang menakluk itu, ia kasikan dua-puluh laksa tail. Maka selat itu bergemuruh dengan tampik-surak pelbagai rombongan yang merasa sangat girang dengan tindakannya si anak muda.

Habis itu Sin Cie titahkan sejumlah orang dari kaum San Cong, Ceng Tiok Pay dan berandal Shoatang, untuk mereka pergi ke berbagai tempat, guna menyampaikan undangan supaya nanti orang berkumpul di atas gunung Tay San untuk berapat, tanggal-bulannya ialah pehgwee Tiong Ciu.

Untuk pernahkan Cou Tiong Siu beramai bersama tentara negeri taklukan itu, Sin Cie minta orang she Cou itu pergi cari suatu gunung, untuk dirikan pesanggrahan, buat mereka tempatkan diri sampai datang saatnya untuk bergerak menyambut Giam Ong.

Tentang lenyapnya uang Negara itu, yang berjumlah lebih dari dua juta tail perak, dan menakluknya tentara pengiringnya, telah menggemparkan wilayah Shoatang dan kota raja, dan kapan kemudian Congtok Ma Su Eng datang bersama satu pasukan perang besar, untuk mencari dan membasmi, di selat itu mereka tidak dapatkan satu penyamun juga, hingga mereka mesti pulang kembali dengan tangan kosong.

Sementara itu, sang hari lewat dengan cepat, selagi mendekati harian tanggal lima-belas bulan delapan, ke gunung Tay San telah datang orang-orang, dengan bersendirian dan berombongan, hingga mereka telah memenuhi pelbagai kelenteng di atas gunung yang suci itu, sebab jumlah mereka adalah beberapa ratus orang. Pada malaman tanggal lima-belas, cuaca terang, rembulan indah-permai, dan pada paginya tanggal yang dipilih itu, hawa pagi sangat nyaman. Semua orang berkumpul di lembah Sek Keng Kok dimana ada sebuah tegalan yang luas beberapa bau, yang terdiri dari batu yang bersih dan mengkilap, katanya itu dahulu adalah tempat peranti berkotbah dari suatu pendeta yang berilmu tinggi, sedang di atas gunungnya ada ukiran sebagian kitab Kim Kong Keng dengan huruf-hurufnya sebesar gantang dan bagus.

Pada waktu itu di antara hadirin, kecuali Wan Sin Cie bersama Un Ceng Ceng, si empeh gagu A Pa dan Ang Seng Hay, pun terdapat rombongan dari Cou Tiong Siu seperti Cu An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan. Dari pihaknya Kim Liong Pay di Kangsou datang Ciau Kong Lee bersama gadisnya, Ciau Wan Jie, Lo Lip Jie dan lainnya. Dari Ceng Tiok Pay datang Thia Ceng Tiok beramai. Dari kawanan berandal Shoatang hadir See Thian Kong bersama Tam Bun Lie dan rombongannya. Dari Liong Yu Pang di Ciatkang, Eng Cay telah ajak semua kawan-kawannya. Dari pihak Siau Lim Sie dari Hokkian, Sip Lek Taysu, perlukan datang sendiri. The Kie In dari Cit-cap-jie- Too, tujuh-puluh dua pulau-pula pun datang bersama kawan- kawannya. Dari antara pesakitan, yang Sin Cie tolong merdekakan, ada Ceecu Liap Thian Kong dari lembah Hui Hou Kok dari Hoay -lam dan Pangcu Nio Gin Liong dari Po Yang Pang dari Kangsee utara. Begitupun sejumlah orang kangouw lainnya. Dari pihak tentara negeri yang menakluk hadir Congpeng Sui Cee Bu serta perwira-perwira sebawahannya. Maka itu, jumlah mereka sangat besar, ramailah selat gunung Tay San itu.

Di waktu fajar, orang telah berkumpul untuk menghadap ke timur, untuk saksikan munculnya Tay Yang Seng-kun atau Batara Surya, di waktu mana, cuaca indah luar biasa, langit di arah timur itu merupakan aneka-warna yang permai, hingga orang menyambutnya dengan tampik-surak ramai.

Selagi orang ramai duduk, Im-yang-sie See Thian Kong, yang lukanya telah sembuh, berbangkit untuk beri hormat kepada semua hadirin, guna angkat bicara. Ia memberi tahu bahwa penyambutannya tidak sempurna, maka itu, ia mohon diberi maaf. Lalu sekali lagi, ia menjura kepada semua tetamu.

Dengan hampir berbareng, semua hadirin mengucapkan terima kasih.

"Aku adalah seorang kasar, aku tak tahu apa-apa, maka sekarang aku persilahkan cianpwee dari Ceng Tiok Pay yang bicara lebih jauh," kemudian kata pula orang she See ini.

Thia Ceng Tiok merendahkan diri, dia menampik, hingga keduanya saling tolak. Demikian mereka ramah- tamah, beda daripada waktu mereka adu jiwa secara mati- matian untuk perebuti hartanya Sin Cie. Hal ini membuat girang dan kagum semua hadirin lainnya, karena, dari musuh, mereka kini jadi sahabat kekal.

Akhir-akhirnya Thia Ceng Tiok, dengan sebatang bamboo di tangannya, berbangkit sambil tertawa.

"Kita kaum rimba persilatan, sebenarnya dahulu pun pernah satu kali berkumpul di atas gunung Tay San ini," berkata dia, memulai. "Cuma itu waktu, jumlah kita tak ada sebanyak kali ini. Dan itu waktu, aku tidak malu akan mengatakannya, apakah maksud rapat kita itu? Tak lain tak lebih, melulu untuk membagi daerah bekerja, guna memecah uang rampasan. " Mendengar itu, semua orang tertawa.

"Sekarang ini telah hadir banyak enghiong, maka tak dapat kita berlaku lagi tak tahu malu seperti dulu itu!" melanjuti ketua Ceng Tiok Pay itu. "Sekarang ini dunia sedang kacau, sekarang adalah saatnya untuk orang-orang yang bersemangat mendirikan usaha yang berarti, untuk angkat nama! Kaisar sedang gelap pikiran, kusut segala aturannya! Di dalam pemerintahan hanya terdapat segala pembesar rakus dan busuk! Dan di luar tapal batas, kacung- kacung Boan di Kwan-gwa sering-sering menyerbu perbatasan kita, hingga karenanya, rakyat bercelaka, mereka mengeluh sampai suaranya terdengar di langit. Kita sendiri, siapakah di antara kita yang tidak pernah terdesak sampai kita berada di pojokan seperti sekarang ini? Maka sekarang haruslah kita berempuk, untuk membangun suatu usaha besar!"

Kembali orang bersurak-riuh, semua menyatakan setuju. "Yang hadir hari ini semuanya sahabat-sahabat karib,"

menambahkan Thia Ceng Tiok, "maka dari kita bersumpah

dengan darah kita, untuk dimana ada kesusahan saling membantu, guna bekerja sama-sama. Dan andaikata, ada yang rakus, yang silau dengan harta dan kemuliaan hingga dia jual sahabatnya, atau dia takut mati saking kou-ka-tie, mari kita ramai-ramai habiskan dia!"

"Bagus! Akur!" demikian kembali sambutan orang banyak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment