“Sialan kau ini! Dengan kebocoran mulutmu, tentu kini dia telah mengetahui dimana adanya pusaka itu dan akan merampasnya kembali. Sungguh tolol kau ini. Dulu engkau diam saja tidak menceritakan kepadaku tentang perampas pusaka yang memperkosamu, dan sekarang engkau malah bocor mulut sejadi-jadinya!”
“Ah, apakah subo tahu siapa orang itu?”
“Bodoh kau. Kalau dari dulu engkau bercerita, tentu aku dapat menduganya dan kita dapat lebih dulu berusaha merampasnya. Orang itu siapa lagi kalau bukan Thian-tok?”
“Thian-tok...? Wah, kalau benar dia, siapa akan mampu merampas dari tangannya?”
Setelah kini mendengar bahwa yang menghinanya adalah satu di antara datuk-datuk iblis itu, makin habislah semangatnya untuk dapat membalas dendam. Kini ia tidak merasa heran. Kalau orang itu benar Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, ia masih boleh mengucap syukur karena ia tidak mati konyol, atau tersiksa lebih hebat lagi dan dapat lolos dari maut mengerikan dalam waktu semalam saja! Sungguh aneh sekali wanita ini. Begitu mendengar bahwa pemerkosanya adalah Thian-tok, lenyaplah rasa penasaran di hatinya, bahkan ada rasa bangga yang luar biasa bahwa ia telah dipilih oleh Thian-tok, datuk iblis itu!
Patut diketahui bahwa Theng Ci adalah seorang wanita yang tergolong kaum sesat. Perkumpulan Ang-hong-pai juga perkumpulan sesat. Oleh karena itu, walaupun Ang-hong-pai tidak dapat dikatakan menjadi anak buah atau pengikut Empat Racun Dunia, akan tetapi kedudukan Thian-tok yang tinggi membuat dia dipandang dengan rasa takut, kagum dan hormat oleh para anggauta kaum sesat, seperti pandangan seorang tahyul terhadap iblis atau dewa.
Maka, mendengar bahwa dirinya dipilih oleh Thian-tok, timbul rasa bangga dalam hati wanita ini.
Puncak Tai-yun-san merupakan puncak yang indah dan masih liar karena jarang dikunjungi manusia. Memang tidak ada gunanya bagi orang biasa, kecuali hanya untuk melancong, datang ke puncak itu. Selain amat terjal dan sukar dicapai, penuh dengan hutan liar dimana terdapat banyak binatang buas, juga hawanya terlalu dingin. Akan tetapi semenjak beberapa tahun ini, di puncak itu terdapat tiga orang, yaitu Thian-tok, dan dua orang muridnya yang baru, yaitu Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu. Dua orang muda itu digembleng dengan sungguh-sungguh oleh Thian-tok, sehingga selama enam tahun mereka telah menerima ilmu-ilmu kesaktian dari datuk iblis itu.
Kini mereka berdua sudah mengenal benar watak guru mereka yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang mengerikan. Di dalam perantauannya, Thian- tok mengajak dua orang muridnya itu bertualang dan dengan terang-terangan dia melakukan pencurian, bahkan penculikan dan pemerkosaan terhadap gadis-gadis cantik. Dua orang muridnya tertegun, cemas dan ngeri, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri. Mereka bergidik melihat betapa guru mereka itu sambil tertawa bergelak-gelak memperkosa wanita, dan sambil tersenyum- senyum membunuh wanita itupada keesokan harinya! Bahkan pernah kakek gendut itu merobek dada seorang korbannya, mengeluarkan jantung yang masih berdenyut dan mengganyangnya mentah-mentah. Dua orang pemuda itu hampir muntah menyaksikan hal ini, akan tetapi guru mereka mengatakan bahwa jantung yang hidup itu merupakan obat kuat yang tiada taranya!
Kadang-kadang, kalau sedang berdua saja, Seng Bu menyatakan kecewa dan penyesalannya kepada suhengnya, yaitu Siu Coan, tentang watak gurunya. Dia mengatakan bahwa kalau melihat watak suhunya, dia ingin minggat saja, tidak sudi menjadi murid seorang yang demikian jahatnya. Akan tetapi, Siu Coan membantahnya dan mengingatkan bahwa guru mereka adalah seorang yang luar biasa saktinya. Mencari di ujung dunia sekalipun belum tentu akan bisa mendapatkan seorang guru selihai Thian-tok.
“Pula, apa hubungannya semua perbuatannya dengan kita?” demikian Ong Siu Coan berkata, membujuk sutenya.
“Dia adalah seorang sakti, dan semua orang sakti di dunia ini memang aneh. Bahkan ada yang mendekati gila. Siapa bisa mengikuti jalan pikirannya? Mungkin saja ada sebab-sebab rahasia yang mendorong semua perbuatannya yang kelihatannya jahat dan mengerikan itu.”
“Hemm, apa yang mendorong kecuali nafsu buruk?” Seng Bu berkata. “Memperkosa gadis, lalu membunuh gadis yang tak berdosa itu!
Bayangkan saja! Dia mencuri barang-barang berharga dari dalam gedung orang. Sungguh aku tidak mengerti, mengapa suhu yang sudah setua itu masih mau mengganggu wanita, dan untuk apa pula barang-barang berharga itu.”
Akan tetapi setelah mereka tiba di dalam guha di puncak Pegunungan Tai- yun-san, barulah terjawab pertanyaan kedua dari Seng Bu. Di dalam guha besar itu terdapat terowongan dan kamar-kamar dalam tanah, dan di dalam sebuah di antara kamar-kamar itulah disimpannya banyak sekali barang-barang berharga yang langka! Pusaka-pusaka, emas permata, batu giok dan bertumpuklah barang-barang itu seperti dalam guha harta karun saja! Dan kadang-kadang Thian-tok bermain-main di dalam kamar itu seperti anak kecil, menimang-nimang semua benda-benda itu sambil tertawa-tawa seorang diri!
Kalau Seng Bu merasa tidak cocok dengan watak gurunya dan hanya memaksa diri bertahan untuk mengganggu ilmu kesaktian dari kakek itu, sebaliknya diam-diam Ong Siu Coan merasa kagum bukan main terhadap gurunya! Bahkan ada perasaan puas di lubuk hatinya melihat betapa gurunya melakukan semua kekejaman yang sadis itu. Hanya anak ini menyadari bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak benar, maka diapun memaksa hatinya sendiri untuk memerangi perasaan puas itu sehingga di luarnya, dia nampak halus budi dan pandai menyimpan gejolak hatinya.
Seng Bu sendiripun tidak dapat menyelami batin suhengnya yang baginya dianggap seorang yang cerdik, pandai dan juga tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Sikap suhengnya yang pendiam, serius, dan gagah sekali, terutama kalau bicara tentang perjuangan menentang penjajah Mancu, benar- benar amat mengagumkan hati Seng Bu. Dia sendiri berwatak jujur, terbuka dan agak bodoh walaupun dia memiliki jiwa yang gagah perkasa dan berani.
Demikianlah, dalam asuhan orang aneh seperti Thian-tok, dua orang pemuda remaja itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah perkasa. Dalam usia sembilanbelas tahun, Siu Coan merupakan seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tanpan dan gagah sekali, sepasang matanya mencorong, kadang-kadang nampak aneh, sikapnya pendiam dan serius, pandang matanya penuh selidik dan membayangkan kecerdikan.
Gan Seng Bu yang usianya hanya beberapa bulan saja lebih muda dari suhengnya, bertubuh sedang namun bentuknya kokoh dan kuat sekali, dengan otot-otot yang menonjol. Wajahnya tidak begitu tampan, akan tetapi wajahnya jantan dan membayangkan kegagahan. Sinar matanya terbuka dan dari situ berpancar cahaya mata yang jujur dan terang.
Sudah hampir enam tahun mereka menjadi murid Thian-tok dan boleh dibilang hampir semua ilmu-ilmu pilihan dari kakek itu telah diajarkan kepada mereka, terutama sekali ilmu-ilmu andalan Thian-tok. Diantaranya adalah llmu Sin-houw Ho-kang, yaitu ilmu yang berdasarkan penggunaan tenaga khikang pada suara sehingga kalau ilmu ini dipergunakan, maka auman yang dikeluarkan itu demikian hebatnya sehingga mampu merobohkan lawan tanpa menyentuhnya melainkan menyerang jantung dan isi perut melalui pendengaran dan getaran suara!
Ada lagi ilmu yang diberi nama Kim-ciong- ko. Dengan mengandalkan ilmu ini, kalau dikuasai dengan sempurna dan kalau pelakunya sudah memiliki tenaga singkang yang sempurna, maka tubuh akan menjadi kebal terhadap senjata tajam dan kedua lengan dapat dipergunakan sebagai senjata, kuat menahan senjata tajam sekalipun!
Adapun ilmu siat tangan kosong yang diandalkan oleh Thian-tok adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang berdasarkan gerakan Ngo-heng atau Lima Unsur yang saling berkaitan, saling menolong saling menghidupkan dan membunuh.
Kalau dibuat perbandingan antara Siu Coan dan Seng Bu. Maka Siu Coan yang cerdik lebih mahir dalam ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekuatan, dia masih tidak mampu menandingi sutenya yang kokoh kuat seperti pagoda besi itu.
Pagi hari itu, dua orang pemuda yang sudah dewasa ini sedang berlatih silat di depan guha kecil dimana terdapat sumber mata airnya. Guha kecil ini letaknya agak jauh dari guha tempat tinggal mereka dan guru mereka, dan mereka setiap pagi kalau hendak mengambil air, mandi atau bercuci muka, tentu berlatih silat di depan guha kecil itu. Melihat dua orang pemuda itu berlatih silat dengan bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang dan sepatu, amat mengagumkan. Sungguh jauh bedanya dengan perkelahian yang mereka lakukan pada enam tahun yang lalu di depan Thian-tok ketika kakek ini mengadu mereka di kuil tua.
Dulu mereka berkelahi secara liar, pukul-memukul, tendang-menendang dan jambak-menyambak, sehingga hujan pukulan mengenai badan masing- masing dan terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan mengenai badan. Akan tetapi sekarang, tidak terdengar sesuatu dalam gerakan mereka. Demikian ringannya kaki tangan mereka bergeser, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hanya kalau pukulan mereka meluncur saja terdengar angin bersiut, dan kadang-kadang terdengar bentakan mereka untuk menambah daya serang dalam pukulan atau tendangan mereka. Akan tetapi sekali ini, tidak ada satu kalipun pukulan atau tendangan yang mengenai tubuh lawan. Betapapun cepat dan kerasnya mereka menyerang, pihak lawan tentu mampu mengelak atau menangkisnya dengan baik sekali. Mereka sedang melatih ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang menjadi andalan guru mereka. Selagi mereka asyik berlatih, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus dan nampaklah bayangan hitam berkelebat dan terasa oleh dua orang muda itu angin pukulan menyambar dengan dahsyatnya ke arah mereka! Tentu saja mereka terkejut bukan main, karena mereka tahu bahwa mereka diserang secara hebat sekali oleh orang yang berilmu tinggi dan yang memiliki tenaga singkang yang amat kuat.
Orang itu bertubuh tinggi kurus bermuka hitam dengan sepasang mata mencorong kehijauan seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam pula dan dengan dua pukulan yang ganas sekali dia telah menyerang Siu Coan dan Seng Bu, dengan tamparan ke arah leher Siu Coan dan tonjokan ke arah dada Seng Bu.
“Haiiiittt...!”
Siu Coan berteriak sambil melakukan penangkisan dengan tangan kirinya. “Heiiiittt...!”
Seng Bu yang kaget itupun cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya dan menyampok tonjokan itu dengan lengan kanannya.
“Dukk! Dukk!”
Dua orang pemuda itu semakin kaget karena ketika lengan mereka yang menangkis itu terbentur dengan lengan lawan, mereka merasa seolah-olah menangkis besi panas, dan juga tenaga lengan lawan itu sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan mereka tergetar hebat!
Siu Coan dan Seng Bu kaget bukan main. Lawan mereka itu memiliki gerakan cepat bukan main. Begitu serangan pertama dapat mereka hindarkan, serangan-serangan selanjutnya menyusul sedemikian cepatnya sehingga tahu- tahu mereka telah diserang secara bergantian dan bertubi-tubi sampai tiga kali! Namun, mereka kini telah menguasai banyak ilmu silat tinggi dan tubuh mereka sudah mampu bergerak secara otomatis menghadapi ancaman serangan itu, selain itu mereka yang tahu bahwa penyerang mereka ini amat lihai, sudah mengerahkan seluruh tenaga singkang mereka sehingga mereka mampu menangkis dengan baik.
Kembali orang itu mendengus, dan agaknya orang itupun merasa heran melihat betapa serangannya yang bertubi itu tidak berhasil merobohkan seorang dari mereka, bahkan kini dua orang pemuda itu mulai membalas. Tiba- tiba dia mengeluarkan suara mekengking lirih, akan tetapi di dalam suara yang lirih tinggi itu mengandung tenaga serangan yang amat hebat. Dua orang pemuda itu terkejut. Mereka mengenal Sin-houw Ho-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Cepat mereka melangkah mundur dan mengerahkan tenaga khikang untuk melawan suara itu dan melindungi diri. Kembali orang itu kelihatan terkejut dan heran, lalu suara serangannya berhenti dan sekali berkelebat, orang itu telah lenyap di balik semak-semak tebal.
Siu Coan dan Seng Bu tidak mengejar, hanya saling pandang dengan heran. “Orang itu sungguh lihai sekali...!” katanya menarik napas panjang. “Serangannya mendadak dan kalau kita kurang hati-hati, tentu menjadi
korban.”
Seng Bu menggeleng-geleng kepala, keheranan.
“Mengapa dia menyerang kita membabi-buta tanpa alasan? Siapa dia?” “Aku dapat menduga siapa dia.” Tiba-tiba Siu Coan berkata.