Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 38

Memuat...

“Ha-ha-ha, alangkah aneh dan lucunya. Pinceng selama duapuluh tahun tidak pernah meninggalkan ruangan bertapa di Siauw-lim-si, dan tahu-tahu kini muncul tuduhan-tuduhan aneh, bukan hanya merampas Giok-liong-kiam, akan tetapi juga memperkosa wanita. Hemm… nona Theng Ci, menurut penuturan mereka yang ikut memperebutkan pusaka itu, setelah pusaka dirampas orang yang seperti pinceng, mereka semua, termasuk engkau menuduh bahwa pinceng... eh, orang itu, melakukan perkosaan?”

“Huh, engkau atau bukan, pokoknya orangnya persis engkau ini, tidak ada bedanya sedikitpun juga! Aku memang pergi seperti yang lain karena tidak berani berbuat sesuatu terhadap Siauw-bin-hud, seorang tokoh besar Siauw- lim-pai, apalagi karena lenyapnya pusaka itu tidak ada buktinya diambil oleh Siauw-bin-hud. Akan tetapi ketika aku pergi, malamnya tiba di hutan. Aku membuat api unggun dan tiba-tiba muncul engkau yang mempergunakan kepandaian menaklukkan aku, dan… semalam itu engkau mempermainkan aku, memperkosa… menghina… uhh…”

“Theng Ci, kenapa engkau tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” tiba- tiba gurunya membentak.

Theng Ci menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menahan tangisnya.

“Subo, maafkan aku. Hal yang begitu menghancurkan hatiku, bagaimana mungkin aku menceritakan kepada subo atau kepada siapapun juga? Hanya karena terpaksa dengan munculnya tua bangka ini, terpaksa aku bercerita.”

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud mengeluh walaupun mukanya masih penuh senyum. “Tenanglah, nona… dan cobalah nona lihat baik-baik kepadaku. Benarkah

pinceng yang melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap dirimu? Tidak salah lagikah?”

Melalui mata yang basah, Theng Ci memandang wajah kakek itu, lalu sinar matanya menjelajahi tubuh kakek itu dari kepalanya yang gundul sampai ke sepatunya yang terbuat dari kain. Dan terbayanglah semua pengalamannya yang membuat hatinya sakit. Entah sudah berapa puluh pria yang digaulinya, yang menjadi kekasihnya. Ia mudah bosan dan tentu saja ia selalu memilih pria yang ganteng dan tanpan. Dengan pengaruhnya, dengan kepandaiannya mudah saja baginya untuk memilih pria yang disukainya. Bahkan dengan kekejamannya, ia seringkali menaklukkan pria dengan paksaan dan ancaman sehingga pria itu karena takut mati terpaksa memenuhi hasrat dan nafsunya. Akan tetapi, pengalamannya ketika ia berada di dalam hutan itu sungguh membuat ia merasa muak, terhina dan sakit hati sekali.

Ketika itu, hatinya sudah dipenuhi kekecewaan mengingat betapa pusaka Giok-liong-kiam lepas dari tangannya. Padahal, tadinya ia sudah amat mengharapkan pusaka itu dapat dirampasnya. Pusaka itu sudah berada di tangannya! Akan tetapi, sungguh tak disangkanya akan muncul demikian banyaknya orang pandai yang ikut memperebutkan pusaka itu. Apalagi setelah muncul Siauw-bin-hud, harapannyapun lenyaplah. Ia tahu diri dan seperti yang lain, tidak berani mengganggu kakek gendut itu, pertama karena iapun sudah mendengar akan kesaktian kakek ini yang mengatasi kelihaian Empat Racun Dunia. Kedua, siapa berani sembarangan mengganggu seorang tokoh besar Siauw-lim-pai? Dan ketiga, tak seorangpun melihat bahwa kakek ini yang merampas pusaka yang sedang diperebutkan itu.

Karena hatinya kesal, biarpun tubuhnya lelah sekali dan matanya mengantuk, ia tidak dapat tidur. Padahal, ia telah memilih tempat di bawah pohon dimana terdapat rumput hijau yang tebal dan ia sudah menghamparkan tikar di situ. Ia lalu duduk termenung di depan api unggun besar yang mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Tiba-tiba terkejutlah ia ketika mendengar suara terkekeh dan tahu-tahu Siauw-bin-hud telah berdiri di depannya. Kakek gendut itu nampak menyeramkan sekali berdiri di dekat api unggun itu, dan perutnya yang tertutup jubah kuning itu bergerak-gerak ketika dia tertawa.

Melihat munculnya kakek itu, timbul harapan di hati Theng Ci. Apa maksud kedatangannya? Apakah... apakah hendak menyerahkan pusaka itu kepadanya? Karena itu, Theng Ci lalu bersikap hormat, bangkit dan memberi hormat kepada kakek gendut itu sambil tersenyum ramah, hal yang jarang sekali dilakukannya.

“Locianpwe, petunjuk apakah yang akan locianpwe berikan kepada saya maka locianpwe datang menemui saya?” tanyanya dengan suara lembut.

“Ha-ha-ha-ha-ha, nona manis. Coba kauterka keperluan apa yang kubawa maka aku mencarimu, ha-ha-ha!”

“Bukankah locianpwe hendak menganugerahi saya dengan pusaka Giok- liong-kiam itu? Locianpwe, saya merasa berterima kasih sekali dan akan suka mencium kaki locianpwe kalau saya diberi pusaka itu!” katanya penuh harap.

“Ha-ha-ha, enak saja kau bicara! Pinceng lewat di sini dan kedinginan, lalu melihatmu. Maka pinceng mengambil keputusan untuk mengajakmu menemani pinceng untuk mengusir hawa dingin. Aahhhh, ada tikar di sini? Bagus, enak untuk tidur. Ke sinilah nona...”

Kakek gendut itu lalu merebahkan dirinya begitu saja di atas tikar. Tubuhnya yang bulat itu menggelinding seperti bola ke atas tikar, terlentang dan dengan kedua tangan dikembangkan, dia mengapai ke arah Theng Ci!

Tentu saja Theng Ci menjadi marah bukan main. Kakek yang tua bangka itu, dan tubuhnya yang gendut bulat, perutnya yang begitu besar, mengajak ia bermain cinta? Tentu saja ia tidak sudi! Banyak pria muda tampan siap melayani dan memuaskannya kalau ia mau.

“Locianpwe, harap jangan main-main!” tegurnya, suaranya mulai ketus. “Siapa main-main, manis?”

Dan tiba-tiba lengan itu dapat memanjang dan tahu-tahu sudah merangkul leher Theng Ci. Wanita ini terkejut dan meronta, akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditekan dan iapun terkulai lemas. Selanjutnya... ah, sukar baginya untuk dapat mengenang peristiwa memalukan itu. Ia diperkosa, dihina, dipermainkan semalam suntuk oleh kakek gendut itu tanpa mampu menolak atau meronta sedikitpun. Dan pada keesokan harinya, kakek gendut itu meninggalkannya sambil tertawa-tawa mengejek!

Dengan sepasang mata yang merah dan basah, Theng Ci kini memandang kepada Siauw-bin-hud. Memang ada keraguan di dalam hatinya. Memang ia telah merasa curiga pada malam hari sial itu juga. Mungkinkah Siauw-bin-hud, yang terkenal sebagai seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, sebagai seorang hwesio Siauw-lim-si yang alim, mau melakukan perbuatan begini biadab? Dan tingkah laku kakek gendut itu ketika mempermainkannya, lebih pantas dilakukan oleh seorang manusia liar, manusia hutan atau binatang, sama sekali tidak nampak lagi bekas-bekas seorang hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal alim dan sakti. Akan tetapi... bagaimana aku bisa tahu aseli ataukah palsunya? Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, ketawanya, semua memang serupa... pikirnya agak bingung.

“Nona Theng Ci, ingatlah baik-baik, apakah tidak ada suatu tanda yang dapat membedakan antara kami? Ingatlah...”

Kembali Ci Kong mengerutkan alisnya dan tentu dia sudah marah dan menegur wanita tak tahu malu itu kalau saja dia tidak melihat betapa susiok- couwnya dengan sungguh-sungguhlalu membuka jubahnya yang lebar, bahkan menanggalkan jubah itu, kemudian berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Theng Ci! Nampaklah perut yang bulat itu, kulitnya yang kuning halus mulus karena tak pernah terkena sinar matahari, kulit yang halus seperti kulit anak bayi.

Terdengar Theng Ci mengeluarkan seruan kecil, lalu ia mengelilingi tubuh kakek itu dan memeriksa dengan teliti.

“Ah, bukan kau... bukan kau...! Kulitnya tidak sehalus ini, dan dadanya berbulu, dan... dan... di lambung kirinya terdapat tanda hitam sebesar telapak tangan. Bukan kau, locianpwe, orang itu... ah, sudah kuragukan sejak dulu.”

Dan Theng Ci menangis sesenggukan, menutupi mukanya. “Diam kau!!”

Ketua Ang-hong-pai membentak muridnya yang segera menghentikan tangisnya. Lalu ia menghadapi Siauw-bin-hud.

“Apa sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu, Siauw-bin-hud? Kalau sudah, harap segera meninggalkan tempat ini. Sudah cukup banyak kau mendatangkan kekacauan di sini.”

Siauw-bin-hud diiringkan oleh Ci Kong keluar dari dalam kamar itu, lalu mereka berdua dengan sikap tenang meninggalkan perkampungan Ang-hong- pai tanpa ada seorangpun yang berani coba mengganggu.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang, ketua Ang-hong-pai yang mengikuti mereka lalu bertanya.

“Siauw-bin-hud, apakah engkau sudah tahu siapa orang yang memalsu dirimu itu?”

“Ha-ha-ha… mungkin sekali aku tahu, mungkin juga keliru. Selamat tinggal, pai-cu…” kata kakek itu yang segera melangkah lebar meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Ci Kong.

Setelah dua orang tamu yang lihai itu pergi, ketua Ang-hong-pai mengomeli Theng Ci.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment