Daun pintu terbuka dan masuklah ketua Ang-hong-pai yang membawa sebuah guci kecil, sedangkan Theng Ci mengawal di belakang gurunya sambil memegang sebatang pedang, agaknya kesaktian kakek itu membuat orang- orang Ang-hong-pai ini berhati-hati sekali.
“Ha-ha-ha-ha-ha!”
Wajah ketua Ang-hong-pai seketika menjadi pucat sekali. Baru pertama kali itulah iblis betina ini mengalami guncangan batin yang hebat, bukan hanya karena peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangkanya, seperti melihat orang mati hidup kembali secara mendadak, akan tetapi juga suara ketawa kakek itu membuat tubuhnya menggigil dan guci itupun terlepas dari tangannya.
“Prakkk!!”
Guci itu pecah dan tercium bau yang harum-harum amis memuakkan. Selagi guru dan murid ini terbelalak dengan muka pucat, tubuh Ci Kong melesat ke daun pintu dan tiba-tiba diapun sudah menutupkan daun pintu itu dan menguncinya dari dalam! Setelah itu, dia berdiri dengan keadaan siap siaga, menanti tindakan susiok-couwnya. Tanpa perintah kakek itu, dia tentu saja tidak berani sembarangan bergerak. Sementara itu, kakek Siauw-bin-hud sudah bangkit berdiri dan wajahnya tetap cerah dan ramah penuh senyum lebar.
“Pang-cu, engkau sungguh sungkan sekali. Sudah menjamu kami sampai kekenyangan dan tertidur, kini masih hendak kautambah lagi. Apakah itu? Madu pelumpuh badan?”
“Siauw-bin-hud...!”
Kini ketua Ang-hong-pai itu nampak bulunya yang aseli dan sikapnya tidak manis dan menghormat lagi seperti tadi.
“Bagaimana... bagaimana kalian...”
Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking herannya melihat ada orang mampu sadar dari pengaruh obat biusnya sedemikian cepatnya.
“Iktikad baik, pai-cu, iktikad baik, batin bersih dan hidup bersih. Pinceng datang dengan maksud baik, hanya ingin menanyakan sesuatu kepada muridmu Theng Ci, setelah itu kami akan pergi dengan aman...”
Tiba-tiba ketua Ang-hong-pai itu tersenyum.
“Aih, kalau begitu aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw-bin-hud, harap suka memaafkan aku...”
Berkata demikian, wanita ini menjura dengan hormat, akan tetapi tibatiba saja dari kedua tangannya yang memberi hormat itu menyambar sinar-sinar merah ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian depan tubuh Siauw-bin- hud! Penyerangan itu dilakukan dalam jarak yang amat dekat, hanya dua meter jaraknya, begitu tiba-tiba dan tidak terduga-duga, apalagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan kilat.
Agaknya kakek gendut itu sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak atau menangkis, maka tujuh batang jarum merah beracun itu tahu- tahu sudah menancap, dua di pundak kanan kiri, satu di tenggorokan, satu di ulu hati, satu di pusar, dan dua lagi di kedua selangkangan! Karena tertutup pakaian, maka di bagian lain jarum-jarum itu tidak nampak, hanya yang amat jelas sebatang jarum yang menancap di tenggorokan itu, telah menancap sampai tinggal seperempatnya saja!
Tentu saja ketua Ang-hong-pai menjadi girang bukan main, kegirangan yang dinyatakan dengan senyum lebar. Akan tetapi, senyum itu segera berobah menjadi melongo dan terbelalak, perasaan girang itu berobah menjadi kekagetan yang membuat wajahnya kembali menjadi pucat sekali. Kakek yang sudah tertusuk tujuh jarum merah beracun yang amat berbahaya itu, masih berdiri biasa saja sambil terkekeh gembira, seolah-olah tujuh jarum itu tidak pernah menyentuhnya! Kemudian dia menarik napas panjang.
“Aihhh, jarum-jarum bernasib malang. Engkau tidak dipergunakan untuk menjahit sehingga berjasa, sebaliknya malah dipergunakan untuk membunuh orang. Sialan! Pai-cu, kukembalikan jarum-jarummu. Terimalah!”
Dan tiba-tiba saja, jarum-jarum yang tadinya menancap di tujuh tempat bagian tubuh depan Siauw-bin-hud, meluncur dengan cepat sekali ke depan. Ketua Ang-hong-pai itu bukan seorang lemah, akan tetapi karena ia masih dalam keadaan terpesona dan terkejut, apalagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan dua kali lipat dari pada kecepatan serangannya tadi, tahu- tahu tujuh batang jarum itu telah menusuk gelung rambut di atas kepalanya! Ia merasa betapa gelung rambut kepalanya tergetar dan ketika ia meraba, matanya terbelalak mendapat kenyataan bahwa tujuh batang jarumnya telah menghias sanggul rambutnya dengan rapi!
Pada saat itu, Theng Ci yang melihat subonya tidak berhasil, menggunakan pedangnya menyerang Ci Kong. Tusukannya cepat dan kuat sekali ketika dari samping ia menusuk ke arah lambung pemuda yang sedang nonton gurunya menghadapi ketua Ang-hong-pai. Akan tetapi, pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dia dapat mendengar suara angin serangan, juga matanya yang amat tajam dapat menangkap berkelebatnya pedang. Dengan tenang sekali, dia memutar tubuh sehingga pedang itu meluncur lewat dekat pinggangnya, hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.
Dan sebelum Theng Ci sempat menarik kembali pedangnya, tiba-tiba saja jari tangan Ci Kong melayang dan tubuh wanita baju merah itupun terguling dalam keadaan lumpuh tertotok! Totokan yang amat hebat dari Ci Kong itu adalah totokan yang diberi nama It-ci-san, totokan sebuah jari telunjuk yang amat cepat dan tepat.
Ketua Ang-hong-pai yang sedang meraba sanggulnya, menoleh ketika mendengar suara gedebrukan. Ketika ia melihat bahwa murid kepala itu roboh dan tak dapat berkutik, ia cemberut.
“Bocah tolol, kau mencari penyakit!”
Ia memaki jengkel dan dengan ujung sepatunya ketua Ang-hong-pai ini menendang ke arah tengkuk muridnya, dan Theng Ci mengeluh lalu dapat bangun kembali, memungut pedangnya dan mundur, berdiri mepet dinding dengan muka merah, kadang-kadang melirik ke arah Ci Kong yang masih berdiri tenang saja.
Ketua Ang-hong-pai menghela napas dan nampak uring-uringan, lalu memandang kepada Siauw-bin-hud. Suaranya tidak lagi manis, bahkan ketus dan kasar.
“Siauw-bin-hud, engkau adalah seorang pendeta yang katanya suci, mengapa engkau dan cucu muridmu ini datang ke sini untuk menghina orang? Patutkah perbuatanmu ini?”
“Omitohud...!”
Siauw-bin-hud mengeluh dengan muka masih tertawa cerah.
“Maafkanlah pinceng, seribu kali maaf, pai-cu, kalau engkau merasa terhina. Akan tetapi sesungguhnya kami datang bukan untuk mengganggu atau menghina orang, melainkan untuk bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci dan untuk menanyakan sesuatu. Hanya itulah, sayang bahwa kalian membesar-besarkan urusan sehingga berlarut-larut.”
Karena terdesak dan merasa tidak akan mampu menandingi kakek ini dan cucu muridnya yang lihai, ketua itu akhirnya mengalah. Ia sendiri bersama murid kepala Ang-hong-pai telah terjebak ke dalam ruangan itu sehingga mengerahkan anak buahnyapun sia-sia belaka, bahkan ia tentu akan menderita lebih banyak malu lagi.
“Ia ini muridku yang bernama Theng Ci.”
Mendengar ucapan subonya, Theng Ci melangkah maju menghadapi kakek gendut itu.
“Aku yang bernama Theng Ci, ada keperluan apakah locianpwe dengan aku?”
Siauw-bin-hud dan Ci Kong memandang tajam ke arah wanita yang mengaku bernama Theng Ci itu. Seorang wanita yang usianya empatpuluhan tahun, masih nampak cantik akan tetapi matanya membayangkan kekerasan, pakaiannya ringkas serba merah dan biarpun mukanya terawat baik-baik, garis-garis duka nampak di ujung mulut dan mata. Seorang wanita yang banyak menderita dan keras hati.
“Omitohud, kiranya engkau yang bernama Theng Ci? Apakah engkau yang hadir sebagai wakil Ang-hong-pai ketika terjadi perebutan Giok-liong-kiam di luar kota Kanton, dan engkau menjadi saksi pula ketika pusaka itu dirampas oleh orang yang mengaku bernama Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai?”
Theng Ci mengerutkan alisnya dan membuang mukanya yang menjadi merah sekali.
“Semua orang sudah tahu, kenapa locianpwe bertanya kepadaku?” “Begini, nona. Yang ingin pinceng tanyakan, apakah engkau yakin benar
bahwa orang itu adalah pinceng sendiri! Ataukah orang lain yang menyamar sebagai pinceng?”
Wanita itu meragu. “Aku... aku tidak tahu!”
“Nona, sebenarnya pinceng sudah memperoleh banyak keterangan akan tetapi pinceng masih belum yakin benar. Oleh karena itu, pinceng sengaja mencarimu untuk minta bantuanmu. Engkau seorang wanita, tentu lebih mudah mengingat keadaan seseorang. Apakah ada sesuatu pada diri orang itu yang merupakan ciri khasnya?”
Tiba-tiba Theng Ci mengangkat muka memandang wajah Siauw-bin-hud itu dan sinar kebencian memenuhi matanya.
“Tua bangka tak tahu malu! Masihkah engkau berpura-pura lagi seperti tidak mengenal aku? Sungguh biadab!”
Ci Kong terkejut bukan main dan marah. Susiok-couwnya adalah seorang alim, juga seorang terhormat, kini dimaki dengan kata-kata kotor oleh perempuan ini. Akan tetapi, kakek itu hanya tersenyum lebar seolah-olah makian itu hanya lewat saja tanpa meninggalkan bekas kepadanya, lahir maupun batin.
“Aha, sikapmu ini menarik sekali, nona. Tentu ada terjadi sesuatu antara engkau dan aku, maksudku, orang yang merampas pedang pusaka Giok- liong- kiam itu, sehingga engkau kini bersikap begini marah dan penuh kebencian. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat kembali peristiwa lama. Karena itu, nona, maukah engkau menceritakan mengapa engkau begini membenci pinceng ? Apakah yang telah terjadi antara kita enam tahun yang lalu itu?”
Dengan muka sebentar pucat sebentar merah, wanita itu melotot ketika memandang kepada Siauw-bin-hud dan suaranya tegas dan nyaring.
“Masih berpura-pura lagi! Engkau... tua bangka binatang jahat, engkau telah memperkosaku!”
Jawaban ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah Ci Kong berobah merah sekali. Gilakah wanita ini? Dan dia memandang kepada wajah susiok-couwnya dan wajah kakek itu hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak kelihatan kaget walaupun sebenarnya berita inipun tidak kalah hebatnya bagi kakek itu sendiri.