Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 30

Memuat...

“Terima kasih, suhu,” kata dua orang anak itu, masih agak ragu-ragu walaupun girang.

Demikianlah, mulai hari itu, Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu menjadi murid- murid Thian-tok dan dua orang pemuda remaja ini mengikuti kakek itu merantau. Makin lama mereka menjadi murid kakek itu, mereka menjadi semakin kaget, heran dan takut di samping perasaan girang karena kakek itu memang benar sakti sekali dan mengajarkan ilmu-ilmu yang amat tinggi kepada mereka.

Yang membuat mereka merasa serem adalah setelah makin lama mereka makin mengenal watak kakek itu. Watak yang aneh, mendekati gila, dan kadang-kadang dapat bersikap kejam bukan main, membunuh orang sambil tertawa-tawa saja, tidak pantang pula mencuri dan melakukan perbuatan- perbuatan jahat lainnya. Akan tetapi semua perbuatan itu dilakukan sambil tertawa dan dengan mempergunakan ilmu yang mengagumkan hati dua orang pemuda remaja itu.

Ong Siu Coan yang juga memiliki watak ugal-ugalan dan aneh, di samping kecerdikan luar biasa, agaknya suka dan cocok sekali dengan watak gurunya yang aneh itu, bahkan dia dapat ikut tertawa-tawa kalau gurunya menyiksa atau membunuh orang. Adapun Gan Seng Bu yang melihat semua ini, diam- diam merasa tidak suka. Akan tetapi karena kakek itu sayang kepadanya dan menurunkan pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, diapun menahan diri dan berlatih dengan giatnya. Diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan suhengnya, Siu Coan yang agak lebih tua menjadi suheng dan dia menjadi sute, karena suhengnya ini kadang-kadang juga aneh seperti orang gila. Banyak tempat mereka jelajahi dan kadang-kadang kakek itu mengajak mereka ‘pulang yaitu ke sebuah guha besar di puncak Tai-yun-san, dimana Thian-tok suka bertapa dan bersembunyi di dunia ramai. Dan dalam guha besar yang banyak rahasianya inilah, Thian-tok menyimpan barang-barangnya yang ternyata amat banyak dan cukup membuat orang menjadi kaya raya, yaitu benda-benda hasil pengumpulannya ketika dia masih menjadi datuk sesat, dan tumpukan benda itu masih terus ditambah dari hasil pencuriannya di gedung-gedung besar milik para hartawan atau bangsawan. PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Semenjak terjadi peristiwa antara Ciu Lok Tai dengan mendiang guru silat Siauw Teng yang kemudian disusul pula dengan peristiwa dengan Tan Siucai, hati hartawan ini merasa tidak enak dan selalu terancam. Dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya banyak terdapat orang-orang seperti mereka itu, dan bahwa tulisan-tulisan Tan Siucai menghasut orang-orang yang mungkin kini memandang kepadanya dengan penuh kebencian. Orang-orang yang tidak setuju adanya candu yang beredar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, dia lalu memanggil jagoan-jagoan dari seluruh Kanton untuk menjadi pengawal-pengawalnya. Akan tetapi dia selalu kurang puas dengan mereka ini. Dari hubungan dagangnya dengan orang barat, dia berhasil memperoleh sebuah senjata api yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Bahkan waktu tidur sekalipun, senjata api itu disimpan di bawah bantalnya.

Saking khawatirnya akan keselamatan diri sendiri dan keluarganya yang timbul dari perasaan banyak dimusuhi orang, Ciu Wan-gwe atau Ciu Lok Tai selalu merasa tidak puas dengan jagoan-jagoan yang mengawalnya, dan setiap ada jagoan baru yang datang untuk bekerja padanya, dia mengujinya dengan pistolnya! Setiap orang calon harus mampu menghadapi serangan pistolnya dalam jarak tiga tombak sebanyak tiga kali tembakan! Dan sampai beberapa tahun lamanya, hasilnya tidak memuaskan. Entah sudah berapa banyaknya jagoan yang roboh tertembus peluru, ada yang tewas dan banyak yang luka- luka. Tentu saja mereka tidak diterima, hanya diberi uang sekedar biaya berobat atau mengurus penguburannya saja. Dan makin jarang yang berani datang melamar pekerjaan kepala pengawal itu.

Terpaksa Ciu Wan-gwe harus mengandalkan keselamatannya pada pengawalan hampir seratus orang pengawal yang selalu mengepung gedungnya, hal yang amat tidak enak dirasakannya. Dia menghendaki satu dua orang saja pengawal yang benar-benar tangguh, yang mampu menghadapi musuh yang datang menyerang dengan senjata api!

Dan sesungguhnya bukan karena ingin mempunyai pengawal yang tangguh saja dia mencari orang yang mampu menandingi pistolnya, akan tetapi selain itu juga, dia ingin mencarikan seorang guru untuk putrinya yang terkasih. Ciu Wangwe mempunyai banyak istri, akan tetapi hanya dari seorang selirnya yang paling disayangnya sajalah dia memperoleh keturunan, seorang anak perempuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia dan sekeluarganya amat sayang kepada Ciu Kui Eng, puterinya itu. Puterinya itu sejak kecil suka sekali dengan ilmu silat dan sejak kecil telah disuruhnya para pengawal yang memiliki ilmu silat yang lihai untuk memberi gemblengan kepada puterinya.

Namun semua usahanya itu sia-sia. Agaknya tidak ada ahli silat yang berani lagi mencoba ujian dengan pistol itu. Tentu saja, di dunia persilatan banyak yang akan mampu menandingi lawan yang berpistol, akan tetapi para pendekar yang berjiwa patriot mana sudi menghambakan diri kepada seorang hartawan yang membantu penyebaran racun madat kepada rakyat jelata? Itulah sebabnya mengapa sampai lewat enam tahun setelah terjadi peristiwa dengan Tan Siucai, Ciu Wan-gwe belum juga mendapatkan seorang jagoan yang mampu menandingi pistolnya. Dan selama enam tahun itu, terpaksa pula Kui Eng hanya belajar ilmu silat dari guru-guru biasa yang menjadi pengawal- pengawal ayahnya.

Pada suatu pagi, Kui Eng berlatih ilmu silat di pekarangan depan gedungnya, dipimpin oleh tiga orang guru silat sekaligus. Guru-guru silat ini merupakan kepala-kepala pengawal di gedung Ciu Wangwe. Anak ini memang manja, karena dimanja oleh keluarga orang tuanya. Kalau berlatih kadang- kadang ia minta dilakukan di pekarangan depan. Hal ini adalah karena kemanjaannya, untuk pamer karena kalau ia berlatih di pekarangan itu, orang- orang di luar gedung dapat melihatnya melalui pintu besi terbuka. Ia senang sekali mendengar seruan kagum dari orang-orang yang lewat, dan pandang mata mereka yang penuh kagum. Ia tidak perduli apakah mereka itu sungguh- sungguh mengagumi kelincahannya bersilat, atau kecantikannya, atau juga hanya sekedar mengeluarkan seruan kagum untuk menyenangkan hatinya sebagai puteri orang terkaya di Tung-kang! Ia tidak perduli. Pokoknya, ia ingin dipuji dan disanjung orang.

Memang menyenangkan sekali nonton gadis cilik itu bersilat. Pada waktu itu, Kui Eng telah berusia dua belas tahun, seorang gadis remaja yang sudah mulai nampak kecantikannya walaupun masih kekanak-kanakan. Wajahnya manis sekali, sinar matanya tajam dan pakaiannya indah. Gerakan-gerakannya juga indah dan manis gemulai, seperti orang menari saja, dan tiga orang guru silat yang melatihnya memandang sambil kadang-kadang mengangguk- anggukkan kepala dengan hati bangga. Ketika orang-orang di luar pintu gerbang berkerumun ikut nonton, hati tiga orang guru silat ini semakin besar. Kamilah gurunya, demikian hati mereka bersorak.

“Heiiiittt...!!”

Kui Eng mengakhiri gerakan silatnya dengan sebuah pukulan mematikan kepada lawan yang hanya dibayangkannya saja, kemudian ia berdiri tegak ke arah pintu gerbang sambil tersenyum manis, menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir rambutnya yang hitam panjang itu ke belakang. Terdengarlah tepuk tangan dan sorakan memuji dari luar pintu gerbang, dan seperti seorang pemain panggung yang menerima pujian para penontonnya, Kui Eng mengangguk-angguk ke arah mereka sambil memperlebar senyumnya. Akan tetapi, dari penonton itu muncul seorang kakek yang pakaiannya jubah pendeta atau tosu. Kakek ini sukar ditaksir usianya, tentu sudah lanjut sekali usianya. Tubuhnya pendek kecil, kepalanya botak hampir gundul. Alis, kumis dan jenggotnya panjang dan sudah putih semua. Tangan kirinya memegang tasbeh hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat

hitam butut.

“Heh-heh, nona cilik. Engkau tadi menari ataukah bersilat? Uhhh, bukan begitulah orang bersilat!”

Wajah gadis cilik yang tadinya berseri-seri itu berubah, sepasang alisnya yang hitam berkerut dan sepasang matanya yang tajam itu memandang marah.

“Kau… kakek lancang mulut ! Siapakah kau?”

Bentaknya sambil membanting kaki kanannya karena jengkel dicela oleh kakek itu yang dianggapnya sebagai penghinaan dan mengusir semua rasa bangga dari hatinya.

“Heh-heh, kalau engkau haus pujian seperti itu, sampai kapanpun engkau tidak akan bisa menguasai ilmu silat yang sesungguhnya, kecuali ilmu tari- tarian yang nampak indah saja. Lebih baik belajar menari saja, nona.”

Melihat munculnya kakek itu yang mencela ilmu silat murid mereka, tentu saja tiga orang guru silat yang juga menjadi kepala pengawal itu menjadi marah sekali. Mereka maju menghadapi kakek itu dan memandang dengan penuh perhatian, ingin tahu siapa gerangan kakek yang lancang dan berani mencela murid mereka itu. Akan tetapi, mereka merasa belum pernah mengenal kakek ini, juga tidak pernah mendengar adanya seorang tokoh persilatan seperti kakek ini. Seorang kakek pendek kecil, ditiup saja rasanya sudah akan terjungkal!

Pada saat itu, terdengar pertanyaan yang nyaring. “Ada apakah? Kenapa ribut-ribut?”

Melihat munculnya ayahnya dari dalam, Kui Eng yang manis lalu lari dan merangkul pinggang ayahnya.

“Ayah, kakek itu kurang ajar sekali, berani mencela ilmu silatku, mengatakan agar aku belajar menari saja karena ilmu silatku seperti orang menari.”

Sementara itu, tiga orang guru silat ketika melihat majikan mereka keluar, menjadi semakin galak, seperti anjing-anjing peliharaan yang mengibaskan ekor melihat majikannya dan ingin menjilat dan mencari muka.

“Kakek tua bangka tak tahu diri, berani engkau lancang mulut mencela permainan murid kami?”

Seorang di antara tiga kepala pengawal itu membentak.

“Kalau tidak melihat engkau sudah tua mau mati, tentu aku sudah menghajarmu!” teriak pula orang kedua.

“Engkau ini kakek busuk yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu silat, besar mulut sekali berani menilai!” bentak orang ketiga.

“Ayah, dia kurang ajar, berani menghinaku,” puterinya yang berdiri di sisinya berkata penasaran.

Ayahnya mengangguk, lalu berkata kepada kakek itu.

“Kakek tua, sungguh kami tidak mengerti mengapa engkau begitu usil untuk mencela permainan silat anakku. Anakku ini selama bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh mereka bertiga, bagaimana sekarang engkau berani mencela permainan anakku? Dengan demikian berarti engkau mencela ilmu silat mereka bertiga. Apakah menurut pendapatmu, engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari pada mereka bertiga itu?”

“Taiya (tuan besar), kakek tua bangka ini terlalu menghina kami, bolehkah kami menghajarnya?” seorang di antara mereka minta perkenan.

Ciu Wan-gwe kembali memandang kakek itu.

“Kakek tua, beranikah engkau melawan tiga orang kepala pengawal kami ini? Kalau kau tidak berani, cepat berlutut dan minta ampun kepada puteriku, juga kepada tiga orang kepala pengawalku!”

Tiga orang kepala pengawal yang tadinya marah sekali itu kinipun saling pandang. Mereka juga menduga bahwa kakek ini tentu orang gila, maka tidak enaklah hati mereka kalau harus menghajar, apalagi mengeroyok seorang kakek gila yang sekali dorong saja akan robohdan mungkin tewas. Mereka tidak mau mencari perkara dan biarlah mereka akan menyeret saja kakek itu dan melemparnya keluar pintu seperti yang diperintahkan majikan mereka.

“Kakek gila, minggatlah dari sini!”

Teriak mereka, dan tiga orang kuat itu lalu mencengkeram tubuh si kakek. Seorang memegang lengan kiri, seorang lengan kanan, dan orang ketiga mencengkeram tengkuk kakek itu. Mereka bermaksud untuk menyeretnya dan melemparkannya keluar.

Akan tetapi kini terjadi keanehan yang membuat semua orang terbelalak. Tiga orang kepala pengawal itu tentu saja adalah orang-orang yang bertenaga besar, berusia kurang dari limapuluh tahun dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Akan tetapi kini mereka bertiga itu nampak terkejut karena ternyata mereka tidak kuat dan tidak mampu menarik tubuh si kakek tua! Biarpun mereka telah mengerahkan tenaga membetot-betot, namun sedikitpun tubuh kakek itu tidak bergeming! Kakek itu berdiri tegak dan hanya tersenyum menyeringai, akan tetapi tiga orang kepala pengawal itu seperti tiga ekor monyet yang berusaha mencabut sebatang pohon yang akarnya mencengkeram tanah amat kuatnya! Tiga orang itu tentu saja bukan hanya terkejut dan heran, akan tetapi juga penasaran sekali.

“Uhhh! Hehhh! Uhhh!”

Mereka mengerahkan tenaga sekuatnya, tidak percaya bahwa mereka tidak akan mampu menyeret tubuh tua yang ringkih itu.

“Prooott...!”

Post a Comment