Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 28

Memuat...

“Kau mau menyeretku? Setan buruk, kaukira aku takut kepadamu?” Pemuda jangkung itu menantang sambil mengantongi bakpaonya. “Kau pencuri yang perlu dihajar!”

Seng Bu berseru dan diapun lalu menyerang dengan pukulan tangannya. Pemuda remaja jangkung itu menangkis dan balas memukul. Terjadilah perkelahian dan terdengar suara ‘bak-bik-buk’ ketika keduanya saling pukul. Dari gerakan mereka dapat diketahui bahwa keduanya tidak mempergunakan ilmu silat melainkan berkelahi dengan kasar dan liar. Akan tetapi keduanya memiliki tenaga besar dan tubuh yang kuat, sehingga beberapa pukulan yang mereka terima tidak membuat mereka roboh atau mengaku kalah.

Perkelahian ini segera menarik perhatian orang dan mereka dirubung banyak orang yang menjadi gembira nonton perkelahian yang seru ini. Tak seorangpun melerai, bahkan ada suara-suara berpihak, memilih jago masing- masing. Perkerlahian antara dua orang remaja yang tidak paham ilmu silat tentu saja lebih ramai dan menegangkan dari pada perkelahian antara ahli-ahli silat. Seorang ahli silat pantang terkena pukulan dan memiliki kepandaian untuk menghindarkan diri. Akan tetapi dua orang pemuda remaja itu membagi- bagi pukulan yang diterima oleh badan mereka sehingga nampaknya lebih ramai.

“Ha-ha-ha-ha, kalian dua jagoan kecil. Bukan di sini tempat berkelahi. Mari ikut aku ketempat yang lebih enak!”

Berkata demikian, kakek itu melangkah maju melerai dan menyentuh pundak dekat tengkuk kedua orang anak remaja yang sedang berkelahi itu. Tiba-tiba saja keduanya menghentikan perkelahian, memandang kepada kakek gendut itu dan tanpa bersuara lagi, seperti dua ekor anak kerbau, mereka mengikuti kakek itu yang meninggalkan tempat itu. Penonton juga bubaran, melanjutkan pekerjaan masing-masing, dan sebentar saja perkelahian antara dua orang anak gelandangan itupun dilupakan orang.

Tak seorangpun tahu mengapa dua orang anak yang sedang berkelahi itu tiba-tiba saja menurut dan taat kepada kakek yang melerai dan mengajak pergi mereka. Padahal, keduanya belum mengenal siapa kakek itu. Hanya dua orang anak itu yang tahu. Ketika kakek itu melerai dan menyentuh pundak mereka, tiba-tiba saja kedua lengan mereka menjadi lemas dan seperti lumpuh! Tentu saja mereka berdua menjadi kaget bukan main, dan ketika kakek itu mengajak mereka, keduanya tidak berani membantah. Kedua lengan mereka tidak dapat mereka gerakkan, tergantung lepas dan lumpuh, hal ini saja sudah membuat mereka menjadi takut dan khawatir. Hanya kakek itu yang akan dapat memulihkan kedua lengan mereka, maka merekapun menurut saja ketika diajak pergi. Seng Bu sendiri dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang sakti. Biarpun ayahnya tidak pandai silat, hanya memiliki tubuh kekar sebagai seorang pemburu, namun ayahnya banyak bercerita tentang pendekar- pendekar dan orang-orang sakti.

Pemuda jangkung itupun memiliki nasib yang tidak jauh bedanya dengan Seng Bu. Pemuda itu bernama Ong Siu Coan, berusia tigabelas tahun dan dari keluarga petani. Ayahnya pernah menjadi seorang petani yang cukup keadaannya sehingga Ong Siu Coan sempat pula bersekolah. Akan tetapi ketika terjadi pemberontakan, ayahnya ikut pula memberontak karena ayahnya membenci pemerintah penjajah Mancu. Pemberontakan itu dapat dipadamkan dan seluruh keluarga Ong Siu Coan binasa, harta bendanya ludas dirampok pasukan pemerintah. Untung baginya bahwa dia sendiri masih dapat menyelamatkan dirinya, dan arus pengungsi membawanya sampai ke kota Kancou.

Ong Siu Coan melakukan perjalanan dari utara sampai berbulan-bulan sebelum tiba di Kancou. Seperti juga Seng Bu, sukar sekali baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Baginya lebih sukar lagi karena ada sedikit keangkuhan dalam dirinya, merasa bahwa dia pernah menjadi anak sekolah sehingga dia enggan bekerja kasar. Akan tetapi, berbeda dengan Seng Bu, agaknya dia tidak mengharamkan mencuri makanan kalau perutnya sudah tidak tahan lagi. Betapapun juga, di dalam dadanya bernyala api perjuangan menentang pemerintah penjajah. Pemuda remaja ini memiliki kegagahan, patriot, juga cerdik sekali, selain itu juga ada keanehan-keanehan pada wataknya.

Siapakah kakek gendut itu? Orang-orang kang-ouw biasa saja tidak akan mengenalnya, akan tetapi kaum tua di dunia kang-ouw, tentu akan terkejut melihat munculnya orang yang sudah belasan tahun lamanya tidak pernah lagi nampak di dunia ramai itu. Orang ini terkenal sekali puluhan tahun yang lalu karena dia adalah seorang di antara Empat Racun Dunia! Inilah yang dijuluki orang Thian-tok (Racun Langit) yang memiliki kesaktian setingkat dengan San- tok atau Hai-tok! Seperti juga San-tok, dia selama belasan tahun bertapa di gunung-gunung dan baru sekarang nampak muncul di dunia ramai, dan dalam keadaan sederhana, tidak seperti Hai-tok yang menjadi seorang kaya raya. Ketika kakek ini dalam perantauannya tiba di luar pasar dan melihat dua orang pemuda remaja saling gebuk dengan ramainya, diam-diam dia memperhatikan dari jauh. Dan giranglah hatinya. Dia melihat bakat yang amat baik pada diri dua orang muda itu, maka dia sengaja membawa dua orang muda itu ke tempat sunyi setelah membuat mereka tidak berdaya dengan semacam ilmu totok jalan darah yang amat halus.

Thian-tok membawa mereka berdua ke sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi, sebuah kuil kosong yang kotor dan rusak. Tempat inilah yang menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari ini, dan dia berjalan terus memasuki kuil tua sampai tiba di sebuah ruangan dalam yang cukup luas.

“Ha-ha, nanti dulu!” kata Thian-tok melihat sinar mata mereka. “Sebelum dimulai, aku ingin mengetahui dulu siapa kalian.” “Namaku Ong Siu Coan,” kata pemuda jangkung.

“Namaku Gan Seng Bu,” kata pula pemuda tegap.

“Bagus, bagus! Nama-nama yang bagus dan gagah. Nah, Siu Coan dan Seng Bu, sekarang buka baju kalian. Baju kalian sudah robek-robek dan akan menjadi hancur kalau tidak dibuka. Apalagi kalau kalian tidak mempunyai pengganti.”

Baru teringatlah dua orang muda remaja itu akan pakaian mereka dan masing-masing menunduk dan memandang baju mereka yang robek-robek dengan muka sedih. Lalu merekapun menanggalkan baju mereka, menaruh di sudut ruangan itu. Kini mereka hanya memakai celana dan sepatu saja, tanpa baju. Mengingat akan baju mereka yang robek-robek, kemarahan kembali memenuhi dada mereka ketika mereka berdiri saling berhadapan.

“Ha-ha-ha, bagus, sekarang kalian mulailah saling hantam. Ingin aku melihat siapa yang menang,” kata kakek itu dambil naik ke atas tembok rendah. Bersila dan menurunkan tempat arak dari pinggang, juga mengambil mangkoknya.

Tubuh kedua orang pemuda remaja itu memang amat kuat dan keduanya tahan uji benar-benar. Muka mereka sudah matang biru oleh pukulan, hidung mereka sudah mengeluarkan darah terkena pukulan, akan tetapi keduanya tidak mau undur selangkahpun. Melihat ini, kakek itu menjadi semakin girang dan tertawa-tawa senang.

“Bagus! Siu Coan, pukul saja dia! Seng Bu, jangan mau kalah kau!”

Teriaknya berulang-ulang, memberi hati kepada keduanya sehingga dua orang anak itu menjadi semakin sengit untuk saling mengalahkan.

Akan tetapi agaknya Siu Coan lebih cerdik dari pada Seng Bu, walaupun dalam hal tenaga dan keuletan mereka seimbang. Karena dia lebih jangkung, Siu Coan mulai dengan gencar menyerang kepala Seng Bu dari atas. Hal ini membuat Seng Bu kewalahan, apalagi setiap kali ada pukulan mengenai ubun- ubun kepalanya, dia merasa pening.

“Ho-ho... Seng Bu, jegal kakinya dan hantam lehernya!”

Tiba-tiba kakek itu memberi nasihat ketika melihat Seng Bu mulai terdesak. Seng Bu mentaati pesan ini dengan otomatis, kakinya menyapu ke arah kaki Siu Coan dan tangannya menghantam leher.

“Plak... Dukkk...!”

Tubuh Siu Coan terpelanting karena dia selalu memperhatikan atas dan ketika kakinya ditendang dan lehernya dihantam, diapun tidak mampu bertahan dan terguling.

Thian-tok yang berwatak aneh itu menjadi semakin gembira. Dia selalu memberi nasihat kepada yang terdesak sehingga dari keadaan terdesak, berbalik menjadi menang, akan tetapi hanya sebentar karena si gendut itu berbalik pula memberi nasihat kepada yang kalah sehingga keadaan kembali berobah. Sampai hampir dua jam mereka berhantam, bergulat dan akhirnya keduanya menggeletak kelelahan, terengah-engah hampir putus napasnya dan tidak mampu melanjutkan, hanya mendeprok di atas lantai dan saling pandang melalui mata yang bengkak-bengkak membiru!

“Ha-ha-ha, istirahatlah sebentar. Nih, kuberi arak biar segar!”

Kakek itu lalu menyemburkan arak dari mulutnya, dan dua orang pemuda remaja itupun kehujanan arak yang amat halus dan mereka merasa terkejut bukan main, karena arak itu seperti ratusan buah jarum yang menusuk-nusuk kulit mereka! Akan tetapi rasanya memang segar mengenai kulit dan biarpun begitu terkena arak bekas-bekas pukulan lawan itu terasa perih, akan tetapi lambat laun rasa linu dan nyeri berkurang banyak.

“Nah, sekarang mulailah lagi, atau seorang di antara kalian harus mengaku kalah!” Tentu saja dua orang remaja ini tidak mau mengaku kalah dan biarpun semua tulang dalam tubuh terasa patah-patah saking lelahnya, mereka bangkit berdiri lagi dan mulailah mereka berkelahi lagi. Ong Siu Coan mulai menyerang, akan tetapi karena dia mempergunakan semua sisa tenaganya dan pukulan itu luput, tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh. Akan tetapi Gan Seng Bu tidak mempergunakan kesempatan ini, hanya berdiri memandang lawannya yang terhuyung.

“Heh-heh, Siu Coan, salahmu sendiri. Bukan begitu caranya menyerang lawan. Nih, begini, tirulah gerakan ini!”

Kakek gendut itu sudah bangkit berdiri di atas tembokan rendah dan dengan lambat namun jelas memberi contoh sejurus pukulan kepada Siu Coan. Pemuda ini cerdik sekali, memperhatikan kedudukan kaki dan gerakan tangan ketika kakek itu memberi contoh. Setelah merasa paham betul, dia lalu menghampiri Seng Bu dan segera menyerang dengan gerakan seperti yang diajarkan oleh kakek gendut. Seng Bu juga melihat gerakan seperti yang diajarkan oleh kakek itu, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, maka dengan ngawur saja diapun mencoba untuk menangkis.

“Dess...!”

Akibatnya, tubuhnya tiba-tiba terpelanting dan jatuh terbanting cukup keras, membuat kepalanya menjadi pening.

“Ha-ha-ha… diserang orang bukan melawannya dengan jatuh bangun dan membiarkan diri dipukul!” Tiba-tiba kakek itu berseru lagi.

“Seng Bu, beginilah kalau engkau menghadapi serangan Burung Bangau Menyambar Katak tadi, perhatikan baik-baik.”

Kakek itu memberi contoh, kedua tangannya membentuk cakar dan lengannya bergerak seperti gerakan dua kaki depan harimau, kedua kakinya membuat kuda-kuda yang kokoh kuat.

Seng Bu mencontohnya dan merasa dapat memahaminya. “Nah, kalian lanjutkan sekarang!” kata si kakek gendut.

Siu Coan yang merasa bangga dengan jurusnya yang berhasil baik tadi, menjadi penasaran. Tak mungkin Seng Bu dapat menahan serangannya seperti tadi, pikirnya. Diapun maju lagi dan menyerang dengan jurus tadi, yang oleh si kakek gendut dinamakan Burung Bangau Menyambar Katak. Seng Bu menyambutnya dengan jurus seperti yang diajarkan si kakek, tangan kanannya berhasil menangkis patukan burung yang dilakukan oleh tangan lawan, kemudian dengan cepat tangan kirinya yang membentuk cakar itu menyambar muka lawan. Siu Coan terkejut dan menarik muka ke belakang, akan tetapi cakaran tangan kanan menyusul dan diapun terjengkang ke belakang dan terbanting jatuh!

“Ha-ha-ha! Itulah jurus Harimau Mencakar Batang Pohon! Engkau harus berhati-hati, Siu Coan… dan jangan terlalu mengandalkan sebuah seranganmu, melainkan membagi perhatian untuk berjaga diri.”

Dengan gembira sekali kakek itu lalu memberi petunjuk kepada kedua orang muda remaja itu, mengajarkan jurus baru kepada yang kalah sehingga yang kalah berbalik menang, dan yang menang itu berbalik kalah. Persis seperti tadi, akan tetapi kalau tadi dia hanya memberi petunjuk-petunjuk gerakan tertentu, kini dia memberi petunjuk jurus-jurus silat sehingga dua orang muda itu berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus ilmu silat.

Dua orang pemuda remaja itupun makin lama makin gembira mempelajari jurus-jurus itu. Lenyaplah semua permusuhan di antara mereka, dan kini mereka menganggap lawan menjadi teman berlatih silat! Akan tetapi tenaga mereka terbatas dan akhirnya kembali mereka mendeprok di atas lantai. Mereka saling pandang dan jantung mereka berdebar keras karena dalam sinar mata mereka ketika saling pandang itu, keduanya merasa seolah-olah mereka saling memberi isyarat yang mereka mengerti, yaitu bahwa keduanya merasa girang dapat saling berkenalan, bahwa terdapat kecocokan yang hangat karena mereka saling serang dan sama-sama berlatih silat tadi, dan bahwa mereka berdua sama-sama ingin menjadi murid kakek gendut sakti itu! Ong Siu Coan berkedip memberi isyarat, lalu dia bangkit duduk, berlutut menghadap kakek gendut.

“Kakek yang baik, kami berdua mohon agar dapat menjadi muridmu.” Kakek itu membuka matanya dan sinar mencorong menyambar ke arah Siu

Coan.

“Heh-heh-heh!” Dia hanya tertawa.

Akan tetapi Seng Bu juga sudah bangkit duduk, lalu berlutut di samping kiri Siu Coan sambil berkata.

“Benar, locianpwe, kami berdua mohon dapat menjadi murid locianpwe.” “Ha-ha-ha-ha, bukankah kalian tadi berkelahi dan saling bermusuhan?”

Siu Coan dan Seng Bu menoleh dan saling pandang. Tidak ada sedikitpun rasa permusuhan dalam hati mereka terhadap satu sama lain, dan keduanya tersenyum.

“Sekarang kami tidak lagi bermusuhan,” kata Siu Coan.

“Kami malah merasa cocok dan suka, locianpwe,” kata Seng Bu.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu. Ong Siu Coan, coba jawab terus terang, mengapa engkau ingin menjadi muridku?”

Tanpa ragu-ragu, Siu Coan menjawab lantang.

“Saya ingin dapat menjadi seorang pandai yang dapat berjuang untuk bangsa, menjadi seorang pahlawan yang mengusir penjajah dari tanah air!”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment