Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 27

Memuat...

Nam San Losu terkejut, akan tetapi juga girang. Hal itu berarti bahwa muridnya itu akan memperoleh kemajuan yang luar biasa. Di bawah bimbingan susioknya sendiri yang demikian sakti!

“Akan tetapi, dia masih kanak-kanak, apakah tidak hanya akan menjadi beban dan gangguan bagi susiok?” katanya.

“Justru karena dia masih kanak-kanak, maka akan cocok untuk pergi menemani pinceng. Ci Kong, maukah engkau menemani pinceng untuk mencari pusaka yang diperebutkan itu?”

Tentu saja Ci Kong merasa girang bukan main. Dia sudah maklum bahwa susiok-couwnya ini memiliki kesaktian luar biasa, maka kalau dia boleh menemani kakek itu berarti dia akan dapat memperoleh banyak petunjuk dalam ilmu silat tinggi. Dia cepat berlutut di depan kakek itu.

“Teecu akan merasa girang dapat melayani susiok-couw.”

“Ha-ha-ha, anak cerdik. Kalau begitu bersiaplah, sekarang juga kita berangkat.”

Semua orang terkejut mendengar rencana pemberangkatannya yang tiba- tiba ini, akan tetapi karena mereka semua sudah tahu akan watak yang luar biasa anehnya dari Siauw-bin-hud, mereka tidak berani membantah. Dan tak lama kemudian Siauw-bin-hud nampak berjalan keluar dari kuil Siauw-lim-si, menggandeng tangan Ci Kong yang menggendong buntalan besar berisi pakaiannya sendiri dan pakaian hwesio itu, diantar oleh para hwesio sampai di lereng bukit.

Kota Kan-cou di Propinsi Kiang-si merupakan kota yang cukup besar dan ramai, karena kota itu juga menjadi kota pelabuhan perahu-perahu yang melayari Sungai Kan-kiang. Karena Sungai Kan-kiang itu mengalir ke utara, maka banyaklah tukang perahu sibuk melayarkan para pedagang yang mengirim barang-barang ke daerah pedalaman, ke kota-kota besar di bagian utara. Memang pada waktu itu, sarana pengangkutan barang maupun orang yang paling cepat, praktis dan murah adalah melalui sungai.

Juga kota Kan-cou menjadi semakin ramai dan penuh manusia karena kebanjiran pengungsi dari barat ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan di Hunan, baik pengungsi orang-orang kaya yang menyelamatkan harta benda mereka, maupun pengungsi-pengungsi miskin yang menyelamatkan nyawa mereka. Bertambahnya toko-toko yang dibuka oleh para pengungsi kaya, makin meramaikan kota itu, akan tetapi, bertambah pula pengemis dan gelandangan yang tidak mempunyai rumah dan tidak mempunyai pekerjaan pula. Orang- orang berebutan mencari pekerjaan, dan karena banyaknya pengangguran, tak dapat dihindarkan lagi banyak pula terjadi kejahatan-kejahatan.

Tak dapat disangkal pula bahwa segala macam perbuatan jahat seperti pencurian, penjambretan, pencopetan, bahkan perampokan, timbul dari keadaan yang dicengkeram kemiskinan. Orang-orang yang sudah tersudut karena tidak memiliki pekerjaan, atau orang-orang pemalas yang tidak suka bekerja dan ingin mencari uang mudah, atau orang-orang yang tidak merasa puas dengan keadaannya, condong untruk mudah terbujuk dan menjadi pelaku-pelaku kejahatan. Hal ini bukan berarti bahwa orang kaya raya tidak mau melakukan kejahatan. Setidaknya, tidak mau melakukan pencurian. Akan tetapi orang kaya raya sekalipun, kalau batinnya memang tamak dan tidak puas dengan keadaannya dan selalu ingin lebih dari pada yang dimilikinya, condong pula untuk melakukan kejahatan yang lain bentuknya akan tetapi sama saja sifatnya, yaitu demi kesenangan sendiri tanpa memperdulikan bahwa perbuatannya itu merugikan orang lain. Mereka itu melepas uang panas dengan bunga tinggi, menindas para petani dan buruh, mempermainkan perdagangan demi keuntungan mereka, bermanipulasi dan korupsi, dan sebagainya.

Uang atau harta benda memang merupakan sarana hidup, satu di antara persyaratan untuk hidup bahagia, dan mencari uang bahkan merupakan suatu kaharusan yang mutlak kalau kita ingin mempunyai sandang pangan dan papan yang cukup. Akan tetapi pengejarannya terhadap uang itulah yang amat berbahaya. Pengejaran yang dilakukan karena kebutuhan masih tidak begitu berbahaya, akan tetapi pengejaran yang didorong oleh kelobaan, oleh nafsu ingin meraih keadaan yang dianggap lebih baik dari pada keadaan yang ada sekarang, amat berbahaya dan condong untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan jahat, merugikan orang lain. Seperti orang yang mengejar-ngejar sesuatu di depan sana, matanya hanya tertuju kepada yang dikejarnya sehingga kalau ada orang lain berada di depannya, dianggap penghalang dan dilompati, bahkan mungkin ditendangnya untuk dapat mencapai apa yang dikejarnya.

Pengejaran inilah yang perlu kita amati pada diri sendiri, pengejaran uang menimbulkan pencurian, penipuan, korupsi dan sebagainya. Pengejaran kedudukan menimbulkan jagal-jegalan, perkelahian bahkan perang. Pengejaran kesenangan sex menimbulkan pelacuran, perjinahan. Kesenangan apapun juga bentuknya di dunia ini, kalau sudah menguasai kita, dapat saja menjadi pendorong agar kita mengejar-ngejar, menjadi suatu tujuan dan biasanya, tujuan menghalalkan segala cara bagi orang-orang yang sudah buta akan kesadaran. Kita hidup berhak untuk menikmati kesenangan, akan tetapi justeru pengejaran akan keadaan yang lebih dari pada sekarang itulah yang melenyapkan kesenangan yang ada pada saat ini. Mata kita selalu tertuju ke depan, kepada kesenangan-kesenangan yang belum ada, kepada bayangan- bayangan sehingga kita tidak melihat lagi keindahan apa yang ada pada kita.

Pada hari itu sudah ramai di pusat kota Kan-cou. Apalagi di pasar-pasar, para pedagang sudah memamerkan dagangannya dan para pembelanja sudah hilir mudik mencari-cari barang-barang yang dibutuhkan. Ramai suara para pedagang menawarkan dagangannya, memuji barang-barang dagangannya dan berusaha menarik orang-orang yang berlalu lalang agar berbelanja di tempatnya. Ada pula pengemis-pengemis tua muda yang berjalan-jalan, menggunakan segala cara untuk menarik perhatian dan kasihan orang, minta- minta dengan tangan diulurkan, dengan suara yang memelas. Lucunya, ada pula yang pura-pura timpang, pura-pura buta. Ada pula anak-anak, dari usia lima tahun sampai yang remaja berusia belasan tahun, berkeliaran, minta- minta atau mencari barang-barang yang dapat dimakan, di tempat-tempat sampah, kadang-kadang berebutan dengan anjing-anjing yang banyak pula berkeliaran di situ. Bau sayur busuk, ikan dan tanah lumpur menyesakkan hidung, akan tetapi agaknya bau campur aduk seperti ini terasa sedap oleh mereka yang sudah terbiasa.

Seorang anak laki-laki remaja berusia tiga belas tahun dengan baju tambal- tambalan, berdiri di depan seorang penjual bakpao. Anak itu bertubuh sedang dan melihat betapa urat-urat tubuhnya menonjol, dapat diduga bahwa anak ini sejak kecil biasa dengan pekerjaan kasar dan keras. Mukanya agak pucat dan muka itu tampan gagah, juga menunjukkan kekerasan. Sepasang matanya tajam dan berani, akan tetapi pada saat itu matanya memandang ke arah tumpukan bakpao mengepul panas dengan gairah besar. Beberapa kali dia menelan ludah sendiri dan perutnya yang sejak kemarin tidak diisi itu terasa semakin perih. Sudah sebulan dia terseret arus pengungsi memasuki kota Kan- cou, dan biarpun setiap hari dia mencari dan melamar pekerjaan, namun tidak ada yang dapat menerimanya. Pekerjaan terlalu sedikit dan yang membutuhkan terlalu banyak. Anak seusia dia itu dianggap masih kepalang tanggung, disebut anak-anak bukan, dewasapun belum.

Anak itu bernama Gan Seng Bu, sejak kecil dia ikut ayah bundanya yang bekerja sebagai pemburu dan selalu berpindah-pindah. Akan tetapi, ketika terjadi pemberontakan di barat, ayah bundanya menjadi korban dan tewas di tangan gerombolan pemberontak. Dia sendiri berhasil melarikan diri dan demikianlah, dia hidup seorang diri sebagai gelandangan, tak bersanak kadang tanpa pekerjaan, dan satu-satunya miliknya hanyalah pakaian dan sepatu yang menempel di tubuhnya, yang kini sudah menjadi penuh tambalan dan butut.

Seng Bu merasa betapa perutnya lapar bukan main. Kalau saja dia bisa memperoleh bakpao itu, sebuah saja! Akan tetapi dia tidak mempunyai uang dan tadi dia sudah memberanikan diri minta dari pedagang bakpao. Yang diterimanya hanya makian sehingga dia terpaksa menjauhkan diri dan memandang ke arah tumpukan bakpao itu seperti seekor harimau kelaparan memandang seekor kelinci gemuk yang diintainya. Tidak, dia tidak mau mencuri, atau melakukan kekerasan mengambil bakpao lalu melarikan diri. Dia sudah melihat betapa ada pencuri disiksa orang banyak sampai mati, pernah pula melihat pencuri disiksa oleh petugas keamanan sampai lumpuh kaki tangannya. Dia tidak akan senekad itu. Pula, sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya yang keras untuk menjadi orang gagah yang pantang mencuri, demikian satu di antara pelajaran yang diterima dari ayahnya.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh gerakan seorang pemuda remaja lain. Pemuda remaja itu bertubuh jangkung, dan usianya sebaya dengan dia, mukanya kurus pula akan tetapi matanya jelilatan. Seperti dia pula, pemuda itu pakaiannya penuh tambalan dan pemuda itu mendekati tempat penjualan bakpao dari belakang. Pada saat si pedagang bakpao sibuk melayani beberapa orang pembeli yang merubungnya, tiba-tiba saja pemuda jangkung itu menyambar dua buah bakpao dari tumpukan di belakang tanpa diketahui oleh si pedagang atau para pembelinya.

Akan tetapi Seng Bu melihatnya! Engkau harus selalu menentang kejahatan, demikian pelajaran yang diterima dari ayahnya. Biarpun si pedagang bakpao tadi menghardiknya, akan tetapi kini bakpaonya dicuri orang dan dia melihatnya. Dia harus mencegahnya, kalau tidak berarti dia menjadi pembantu pencuri, demikian pelajaran yang diingatnya. Tanpa ragu lagi diapun lalu lari mengejar pemuda remaja yang melarikan dua buah bakpao itu.

Setelah tiba di luar pasar, barulah Seng Bu berhasil menyusul pencuri itu dan dia segera mencengkeram pundak pemuda remaja tinggi kurus itu dari belakang.

“Eh, mau apa kau?” bentak pemuda itu dengan marah sambil membalikkan tubuhnya menghadapi Seng Bu, matanya yang tajam itu memancarkan kemarahan.

“Kau telah mencuri bakpao!” bentak Seng Bu marah, apalagi melihat bahwa bakpaoyang sebuah tinggal separo, agaknya telah dimakan oleh pencuri itu sambil lari tadi.

“Apakah engkau pemilik bakpao itu? Jelas bukan, engkau tentu seorang pemuda gelandangan. Habis kau mau apa?”

“Kembalikan bakpao itu kepada pemiliknya!”

Seng Bu memandang kepada bakpao yang tinggal separuh itu. Nampak daging di dalamnya dan kembali perutnya merintih. Akan tetapi dia teringat akan pelajaran ayahnya dan betapa hinanya menerima sogokan seorang pencuri!

“Aku tidak sudi makan barang curian. Hayo kembalikan atau aku akan menyeretmu ke sana!”

Sepasang mata yang tadi memandang dengan ejekan itu menjadi tajam karena kemarahan.

Post a Comment