Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 26

Memuat...

Yang dapat mengikuti perkelahian antara dua orang itu dengan jelas hanyalah Siauw-bin-hud seorang. Kakek ini juga merasa kagum dan maklum bahwa dua orang itu memang memiliki ilmu silat yang kiranya sukar dicari bandingannya pada jaman itu. Betapa sukarnya kedua orang itu mengumpulkan semua ilmu kepandaian itu, betapa lamanya mereka melatih dan mencari ilmu-ilmu itu. Timbullah rasa sayang dalam hati hwesio gendut ini. Dua orang itu sudah tua, tidak perlu bertanding untuk saling membunuhpun akan berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan hidup masing-masing? Dia tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, biarpun akan makan waktu yang lama, tentu seorang di antara mereka akan tewas, atau setidaknya keduanya akan menderita luka yang amat parah. Usia mereka sudah terlalu tua untuk dapat bertahan dalam perkelahian seperti itu. Dia dapat melihat dengan jelas betapa Hai-tok menang kuat dan tongkatnya itu lihai bukan main, akan tetapi di lain pihak, San-tok menang cepat dan agaknya menang daya tahannya, menang kuat napasnya.

“Omitohud, belum cukupkah main-main ini? Ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil berebut kembang gula saja!”

Sambil berkata demikian, tiba-tiba nampak tubuh yang gendut itu bergerak maju seperti sebuah bola besar dan tahu-tahu kakek tua renta gendut itu sudah masuk di antara dua gulungan sinar. Terdengar dua orang Racun Dunia itu berseru kaget dan dua gulungan sinar itupun lenyap. San-tok dan Hai-tok masing-masing meloncat ke belakang dan mereka memandang kepada Siauw- bin-hud dengan mata terbelalak penuh kagum. Ketika mereka sedang berkelahi dengan penuh semangat tadi, tentu saja mereka melihat masuknya hwesio tua ini. Mereka menganggap kebetulan karena mereka memperoleh kesempatan untuk menguji hwesio ini yang sejak dahulu memang belum pernah dapat mereka kalahkan. Dengan menambah kecepatan gerakan dan besarnya tenaga, mereka mengharapkan untuk dapat membuat Siauw-bin-hud tidak mampu memisahkan mereka, bahkan membahayakan keadaan hwesio tua itu sendiri. Akan tetapi, begitu tubuh gendut itu masuk dan kedua tangannya mendorong, ada hawa pukulan yang demikian kuatnya sehingga keduanya tidak sanggup bertahan lagi, masing-masing terdorong ke belakang dan tentu akan terhuyung kalau saja mereka tidak cepat melompat ke belakang untuk melenyapkan tenaga dorong yang amat hebat itu! San-tok lebih dulu dapat menguasai dirinya.

“Ha-ha-ha… memang hanya Siauw-bin-hud yang kiranya mampu menguasai Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu, dan Siauw-bin- hud pula yang kini akan dapat membongkar rahasia ini dan menemukan kembali Giok-liong-kiam.” Dia lalu melangkah mundur sambil mengipasi tubuhnya yang berkeringat, dan melawan Hai-tok tadi menyadarkannya bahwa dia sudah tua dan bahwa Hai-tok merupakan lawan yang masih seperti dulu, tangguh dan sukar dikalahkan.

Diam-diam Hai-tok masih merasa penasaran terhadap San-tok. Akan tetapi, melihat munculnya Siauw-bin-hud, diapun merasa tidak enak untuk mendesak. Perbuatan Siauw-bin-hudyang melerai tadi saja sudah membayangkan bahwa hwesio tua ini merupakan lawan yang lebih berat dibandingkan San-tok, padahal Racun Gunung itupun masih cukup berat baginya, dan dia tidak terlalu yakin akan dapat mengalahkan kakek kurus itu. Maka diapun menyimpan tongkatnya, menarik napas panjang.

“Sudahlah, akupun harus tahu diri. Enam tahun lagi, kalau aku masih hidup, aku ingin melihat engkau memenuhi janjimu, Siauw-bin-hud. Atau kalau tidak, tentu ada yang mewakili aku.”

Setelah berkata demikian, dia mendengus dan memberi isyarat kepada tujuh orang pemuda yang mengiringkannya. Tujuh orang pemuda itu adalah anak buahnya, atau lebih tepat lagi pelayan-pelayan dan juga kekasih- kekasihnya, karena kakek majikan Pulau Layar ini memang suka sekali dengan pemuda-pemuda remaja yang tampan halus. Semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia kurang lebih sebelas tahun, kakek ini mulai suka dengan pemuda-pemuda tampan. Kesukaan memelihara pemuda-pemuda tampan sebagai pengganti selir-selir wanita ini memang banyak dimiliki oleh hartawan-hartawan atau bahkan pejabat-pejabat tinggi di jaman itu.

Setelah rombongan dari Pulau Layar ini pergi, San-tok lalu berlutut dekat murid atau cucu angkatnya yang masih pingsan. Kini wajah Lian Hong tidak begitu kebiruan lagi, mulai putih, dan pernapasannya juga mulai longgar. Beberapa kali dia mengurut leher dan punggung gadis cilik itu, dan akhirnya Lian Hong siuman. Ketika kakek ini mengangkat muka, dia melihat betapa Siauw-bin-hud melakukan hal yang sama terhadap diri Ci Kong, dan pemuda cilik itu siuman lebih dahulu.

“Ha-ha-ha, anak baik, sungguh engkau menerima keuntungan besar sekali. Hayo cepat menghaturkan terima kasih kepada Bu-beng San-kai!” kata Siauw- bin-hud kepada Ci Kong.

Tentu saja anak ini mengerutkan alisnya dengan penasaran. Jelas bahwa kakek itu tadi mencelakakannya melalui penyaluran tenaga dalam, bagaimana sekarang susiok-couwnya bahkan menyuruh dia menghaturkan terima kasih?

“Hong Hong, cepat kauhaturkan terima kasih kepada Siauw-bin-hud yang telah memberi petunjuk padamu!”

Mendengar ini, Lian Hong cemberut, akan tetapi ia tahu bahwa kakeknya yang suka senyum-senyum itu berwatak aneh dan tidak mau dibantah, maka biarpun dengan hati panas, terpaksa iapun melangkah maju dan hampir saja ia bertabrakan dengan Ci Kong yang juga melangkah maju untuk memenuhi perintah susiok-couwnya. Lian Hong tidak mau minggir, dan Ci Kong yang mengalah dan mengelak ke pinggir. Gadis cilik itu agaknya menanti dan sengaja bersikap lambat.

“Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih kepada locianpwe dan maafkan kelancangan saya tadi.”

Ci Kong menambah kalimatnya karena anak yang cerdik ini maklum bahwa susiok-couwnya tidak mungkin menyuruhnya berterima kasih kalau tidak ada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Karena itulah, di samping menghaturkan terima kasih, sekalian dia minta maaf mengingat betapa tadi dia bersikap lancang dan berani memukul perut kakek itu.

Melihat betapa pemuda cilik itu telah memberi hormat sambil berterima kasih kepad akakek angkatnya, Lian Hong juga memaksa dirinya menjura kepada Siauw-bin-hud, akan tetapi suaranya masih terdengar ketus ketika berkata.

“Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih.”

Hanya dua orang kakek itu yang tahu akan perbuatan masing-masing. Siauw-bin-hud tadi dengan cepat mengetahui bahwa biarpun kulit tubuh cucu muridnya kehijauan, namun keracunan itu bukan membahayakan. Sebaliknya malah, kakek kurus yang dijuluki Racun Gunung itu telah mengoperkan tenaga singkang yang hebat kepada Ci Kong, melalui tangan pemuda itu yang tadi menempel di perutnya. Tahulah dia bahwa San-tok juga merasa kagum kepada Ci Kong dan telah berkenan menghadiahi anak itu. Hal ini saja membuktikan bahwa San-tok kini telah memiliki kasih sayang di dalam hatinya, dan juga perbuatan itu menunjukkan iktikad baik terhadap Siauw-lim-pai. Oleh karena itulah, begitu melihat kesempatan terbuka ketika Lian Hong memukulnya, diapun membalas dengan mengoperkan tenaga sakti ke dalam tubuh anak perempuan itu yang dia tahu juga memiliki bakat yang baik sekali.

“Bagus begitu, Hong Hong. Mari kita pergi dari sini. Siauw-bin-hud, enam tahun lagi aku datang menagih janji!” kata San-tok sambil menggandeng tangan Lian Hong, dan merekapun pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sunyi kembali depan kuil itu setelah semua tamu yang aneh itu pergi. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, para hwesio lalu kembali melakukan tugas harian mereka masing-masing, akan tetapi semua peristiwa yang terjadi pagi tadi sungguh akan melekat di dalam hati mereka dan sampai lama akan menjadi bahan percakapan mereka di waktu sebelum tidur.

Siauw-bin-hud lalu mengumpulkan keempat orang pimpinan Siauw-lim-si, juga Nam San Losu, Nam Thi Hwesio, dan Ci Kong diajak masuk ke dalam ruangan belakang dimana kakek gendut itu bicara dengan suara sungguh- sungguh walaupun sikapnya masih ramah dan senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang bulat.

“Kalian semua tentu tahu bahwa munculnya urusan Giok-liong-kiam ini mengikatkan pinceng pada sebuah tugas, hal yang sama sekali tak pernah pinceng duga-duga. Akan tetapi, segala sesuatu memang sudah digariskan dan kita hanya tinggal melaksanakannya saja. Ada orang mempergunakan nama pinceng untuk merampas pusaka itu. Jelaslah bahwa maksudnya, selain mengalihkan perhatian agar dia dapat menyimpan pusaka itu dengan aman, juga dia meminjam nama Siauw-lim-pai dengan maksud mencari keamanan dan juga mungkin saja untuk mengadu domba. Nah, tidak ada lain pilihan lagi, pinceng sendiri harus pergi mencari benda yang menimbulkan keributan itu.”

“Maaf, susiok. Apakah tidak lebih baik kalau susiok mengutus murid-murid saja untuk melakukan penyelidikan, mencari dan merampas kembali pusaka itu?”

Siauw-bin-hud tersenyum, akan tetapi menggelengkan kepalanya. “Pinceng dapat menduga bahwa orang yang merampas pedang itu tentu

seorang yang Iihai sekali. Buktinya, orang-orang pandai seperti San-tok dan Hai-tok saja tidak mampu mencarinya dan dapat ditipu sehingga mereka mencari ke sini. Tidak, harus pinceng sendiri yang mencarinya. Bukankah dia memakai nama pinceng untuk perbuatannya itu? Pinceng sendiri yang akan pergi, dan pinceng hanya minta ditemani oleh Ci Kong ini saja.”

Post a Comment