“Ha-ha-ha… ternyata Siauw-bin-hud setelah bertapa duapuluh tahun, tidak berobah menjadi dewa. Sama saja dengan San-tok!”
Mendengar ejekan ini, Siauw- bin-hud tertawa lalu dia menggerakkan kepalanya sambil berkata. “San- tok, kauterimalah cucumu yang baik ini!”
Dan tubuh anak perempuan yang pingsan itupun terlempar ke arah Bu- beng San-kai yang cepat menyambutnya. Ternyata Lian Hong pingsan dengan muka kebiruan seperti orang yang menderita kedinginan hebat! San-tok meletakkan telapak tangannya ke punggung cucunya, lalu tertawa girang.
“Ha-ha-ha… agaknya engkau bukan orang yang suka berhutang, Siauw- bin-hud. Terima kasih!”
Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran. Jelas bahwa San-tok tadi melukai Ci Kong, akan tetapi Siauw-bin-hud malah berterima kasih, dan sekarang Siauw-bin-hud melukai Lian Hong akan tetapi San-tok juga berterima kasih! Hanya Hai-tok yang ilmunya paling tinggi di antara mereka yang lain, diam-diam merasa mendongkol sekali. Dia dapat menduga bahwa dua orang kakek itu bukan melukai untuk mencelakakan, melainkan masing-masing telah menyalurkan tenaga ke dalam tubuh dua orang anak itu sehingga dua orang anak itu bukannya dirugikan, malah menerima tenaga yang hebat. Dua orang kakek itu telah saling menukar kebaikan!
“Cukuplah semua permainan sandiwara dan badut ini!”
Hai-tok berkata dan diapun melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud. “Siauw-bin-hud, mari kita main-main sebentar saja untuk menentukan
siapa yang berhak menjadi pemilik Giok-liong-kiam, baik sekarang maupun kelak.”
Kakek ini sudah mengangkat tongkatnya ke atas. Tongkat itu panjangnya lima kaki, berlapis emas dan terhias batu permata sehingga nampak indah dan berkilauan ketika diangkatnya di depan dada.
“Wah-wah, Racun Lautan ini hendak menjual lagak di sini? Kita sama-sama menjadi tamu di Siauw-lim-si, sungguh tidak enak kalau aku membiarkan saja engkau mengacau. Pergilah dan jangan membikin malu aku sebagai sama- sama tamu Siauw-lim-si!”
Tiba-tiba Bu-beng San-kai atau San-tok sudah melompat ke depan, menghadapi Hai-tok dengan kipas bututnya di tangan.
Dua orang kakek itu, dua di antara Empat Racun Dunia, kini saling berhadapan dengan mata melotot seperti dua ekor ayam jago berlagak dan hendak saling bertempur mati-matian. Entah sudah berapa puluh kali dua orang ini dahulu saling mengukur kepandaian, dan belum pernah di antara mereka ada yang menang atau kalah. Di antara empat orang Racun Dunia, memang tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah. Mereka masing-masing memiliki keistimewaan sendiri, dan karena maklum bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang dapat menjagoi, maka merekapun dapat bekerja sama kalau menghadapi lawan. Tentu saja untuk membela kepentingan sendiri, para tokoh sesat ini seringkali saling gempur sendiri.
Dan sekarangpun, setelah belasan tahun tidak saling jumpa dan berhubungan, kini sekali bertemu mereka sudah siap untuk saling gebuk lagi! Tentu saja semua orang memandang dengan hati tegang sekali. Sudah belasan tahun mereka mendengar nama besar Empat Racun Dunia, dan baru sekarang berkesempatan melihat orangnya, dua diantara mereka, bahkan kini dua orang itu siap untuk saling serang. Tentu saja mereka merasa tegang dan juga gembira karena berkesempatan menyaksikan kehebatan dua orang yang dianggap sakti dan jahat seperti iblis itu.
“Bagus!” Hai-tok Tang Kok Bu membentak marah.
“Biarkan kita membuat perhitungan di sini dan lihat, siapa yang lebih pantas menjadi pemilik Giok-liong-kiam!” “Nanti dulu!”
Tiba-tiba Pouw Gun atau Pauw-ciangkun, perwira tinggi dari istana itu melangkah maju.
“Ji-wi locianpwe tidak berhak menentukan sebagai calon pemilik Giok- liong-kiam. Hendaknya jiwi ketahui bahwa sri baginda kaisar telah mengutus kami untuk mencari dan membawa pusaka itu ke istana!”
“Tidak! Kamilah yang paling berhak karena pusaka itu adalah pusaka perkumpulan kami yang hilang dicuri orang!” kata Coa Bhok, wakil ketua Thian- te-pai yang merasa penasaran melihat orang-orang membicarakan Giok-liong- kiam tanpa memperdulikan mereka yang merasa paling berhak atas pusaka itu. Dua orang kakek yang tadi sudah saling berhadapan untuk berkelahi itu, kini tiba-tiba saling pandang dan tersenyum. Dari pandang mata yang saling tatap itu, keduanya mengalami kegembiraan seperti di jaman dahulu dan seolah-olah pandang mata mereka menjadi isyarat bagi mereka untuk bersatu, walaupun hanya untuk sementara, guna menghadapi lawan yang datang dari luar menentang mereka! Secara otomatis, keduanya lalu membalikkan tubuh, membagi tugas! Karena dia seorang yang hidup sebagai seorang hartawan kaya raya, agaknya Hai-tok masih merasa sungkan untuk berurusan dengan orang pemerintah, maka dia memilih berhadapan dengan orang-orang Thian- te-pai! Sambil tersenyum mengejek dan melintangkan tongkat emasnya di depan dada, dia menghadapi Coa Bhok wakil ketua Thian-te-pai dan empat
orang adik seperguruannya.
“Hemm… kalian ini anak-anak kecil, sudah tidak becus menjaga Giok-liong- kiam, juga tidak becus menemukannya kembali selama enam tahun ini, sekarang hendak berlagak mencampuri urusan dan perjanjian orang-orang tua? Pergilah dan jangan kalian mengganggu kami!”
Karena Hai-tok sudah memilih lawan, terpaksa San-tok menghadapi Pouw Gun dan dua orang temannya. Tentu saja kakek yang hidup sebagai seorang perantau miskin dan jembel ini tidak takut berurusan dengan para pengawal istana.
“Heh-heh-heh, biasanya utusan lebih sombong dari pada yang mengutusnya. Kalian hanya utusan, kalau tidak berhasil menemukan Giok- liong-kiam, laporkan saja ke atasan bahwa kalian tidak berhasil. Kenapa hendak mencampuri urusan kami orang-orang tua?”
Tentu saja orang-orang dari dua rombongan itu menjadi marah mendengar ucapan dua orang kakek yang memandang rendah itu. Terutama sekali Pouw- ciangkun dan dua orang temannya. Mereka adalah perwira-perwira pengawal dari istana, dan di istana dikenal sebagai jagoan, terutama sekali Pouw Gun, dan sekarang mereka sama sekali tidak dipandang mata oleh seorang kakek jembel. Biarpun Pouw Gun pernah mendengar akan nama Bu-beng Sankai, akan tetapi dia tidak takut, didukung oleh kedudukannya dan oleh dua orang temannya yang sudah siap untuk membantunya.
“Bagus, kau orang-orang tua hendak memberontak terhadap petugas istana?”