Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 23

Memuat...

“Wah-wah, agaknya engkau memang memiliki ilmu yang lihai maka kecil- kecil berani menantang aku. Nah, coba kulihat, apakah engkau berani memukul perutku ini?”

Kakek itu mencoba untuk membusungkan perutnya yang kempis. Hanya tantangan itu saja yang memaksanya untuk memukul.

“Baik, aku akan memukulmu seperti yang kau tantang itu. Bersiaplah!” katanya sambil memasang kuda-kuda.

“Ha-ha, kauwakili susiok-couwmu memukulku, dan kerahkan semua tenagamu!” Kakek kurus itu menantang.

Ci Kong tidak tahu betapa Nam San Losu, gurunya, sudah bergerak hendak mencegahnya, akan tetapi tiba-tiba gurunya terkejut karena tubuhnya seperti disedot angin dari belakang yang membuatnya tidak mampu bergerak. Ketika suhunya menengok, ternyata Siauw-bin-hud sudah mengulurkan tangannya dan kini kakek itu tersenyum lebar dan memberi isyarat agar dia tidak melakukan sesuatu terhadap anak itu.

Legalah hati Nam San Losu karena dia maklum bahwa susioknya itu tentu tidak akan membiarkan muridnya celaka, hanya dia merasa heran mengapa susioknya itu seperti mendukung sikap dan perbuatan Ci Kong yang dianggapnya kurang ajar terhadap tingkatan yang tua. Ngeri dia membayangkan apa akan menjadi akibatnya kalau muridnya itu memukul tubuh San-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia itu! Dia sudah mendengar nama ini dan agaknya tingkat kepandaian susioknya, Siauw-bin-hud sajalah yang dapat mengimbangi kepandaian Empat Racun Dunia. Bahkan para suhengnya sendiri yang kini menjadi para pemimpin Siauw-lim-pai, juga tidak akan mampu menandingi San-tok!

“Hyaaaattt…!!”

Ci Kong yang sudah melihat kakek itu bersiap diri, lalu menerjang ke depan, tangan kanannya dikepal dan memukul ke arah perut. Menurut apa yang sudah dipelajarinya, memukul bagian lunak dari tubuh lawan sebaiknya memutar kepalan tangan karena hasilnya akan lebih baik, sehingga tangan membuat gerakan seolah-olah membor perut lawan. Akan tetapi karena dia tidak berniat mencelakai lawan, hanya sekedar “menghajar” saja untuk memperlihatkan bahwa dia benar-benar berani menentang siapa saja yang hendak mengganggu susiok-couwnya, dia memukul biasa saja ke arah perut kecil itu.

“Bukkk...!”

Pukulan itu tepat mengenai perut bawah kakek kurus itu, akan tetapi sedikitpun kakek itu tidak menangkis atau mengelak, juga tidak bergoyang sedikitpun oleh pukulan si anak kecil. Ci Kong yang merasa betapa kepalan tangannya memasuki daging lunak sekali, menjadi terkejut dan cepat menarik kembali tangannya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kepalan tangannya memasuki perut itu tidak dapat ditarik kembali, bahkan kepalannya tidak dapat dibuka! Dia mengangkat muka memandang, dan melihat betapa wajah San-tok masih menyeringai biasa, dan sepasang mata kakek itu memancarkan sinar aneh. Kembali dia berusaha membetot tangannya, namun tiba-tiba tubuhnya malah terasa lemas kehilangan semua tenaga dan kepalan tangannya terasa hangat, lalu semakin lama menjadi semakin panas!

“Heh-heh-heh, Siauw-bin-hud, engkau benar. Anak ini jauh lebih baik dari pada aku atau Hai-tok, dan aku kagum sekali!”

Melihat keadaan muridnya yang nampak lemas dan tidak mampu menarik kembali tangannya dari perut San-tok, tentu saja Nam San Losu menjadi terkejut sekali. Dia maklum bahwa nyawa muridnya terancam maut, maka dengan nekat diapun bangkit dan melangkah maju untuk menolongnya. Akan tetapi kembali tubuhnya tersedot ke belakang dan Siauw-bin-hud memberi isyarat dengan pandang matanya agar dia tidak sembarangan bergerak. Nam San Losu mentaatinya karena kakek inipun maklum bahwa keadaan muridnya itu seperti telah ditolong. Sedikit saja dia bergerak dengan mudah San-tok akan dapat membunuh anak itu.

“Ha-ha-ha, San-tok. Jelas dia jauh lebih baik, tidak seperti engkau yang tanpa malu-malu memperdayakan seorang anak kecil. Apa kehendakmu?”

Siauw-bin-hud berkata, dengan sikap masih tenang. Diapun maklum betapa licik dan jahatnya Empat Racun Dunia, akan tetapi dia menghadapi kelicikan San-tok yang kini mengancam nyawa cucu muridnya itu dengan tenang dan sikap yang masih ramah tanpa dibuat-buat. Bagi seorang yang tingkat kebatinannya seperti Siauw-bin-hud, sudah tidak mengenal lagi rasa dendam atau khawatir, juga tidak dipengaruhi lagi oleh emosi. Dan kewajaran ini seperti kembali kepada sifat kanak-kanak yang bersih dan polos, namun matang dan tidak menjadi permainan emosi sehingga tenang dan jernih bagaikan air telaga dalam yang tenang.

“Ha-ha, apalagi, Siauw-bin-hud, kalau bukan Giok-liong-kiam yang ingin kulihat?Aku ingin sekali melihat macamnya benda yang diperebutkan itu.”

“Dan untuk itu kau akan membebaskan anak itu?” “Tentu dia kubebaskan.”

“Ha-ha-ha, Racun Gunung, kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk tetap menyangka bahwa aku menyembunyikan pusaka itu, bukan? Pusaka itu tidak ada padaku.”

“Aku percaya padamu dan kiranya ada orang lain yang mempergunakan namamu untuk merampas pusaka itu. Akan tetapi, seperti dikatakan orang Thian-te-pai itu, penggunaan namamu oleh orang lain itu adalah urusanmu. Aku minta agar engkau mencari pemalsu itu, merampas kembali Giok-liong- kiam, kemudian memberikan kepadaku!”

“San-tok!” tiba-tiba Hai-tok membentak marah.

“Enak saja engkau memaki orang lain tadi, kini engkau sendiri hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan pusaka kepadamu! Tak tahu malu!”

“Heh-heh, siapa tak tahu malu?” kata kakek kurus.

“Aku hanya ingin melihat, kemudian akan kuputuskan siapa yang berhak menyimpan pusaka itu kelak. Nah, Siauw-bin-hud, bagaimana?”

Siauw-bin-hud tersenyum lebar.

“Heh-heh, tanpa kauminta sekalipun, aku merasa sudah menjadi kewajibanku untuk mencari pusaka itu. Pusaka itu sudah lenyap selama enam tahun dan kalian tidak mampu mendapatkannya kembali. Karena itu, sudah adillah kiranya kalau kalian memberi waktu enam tahun juga kepada pinceng untuk mencarinya. Enam tahun lagi, pada hari dan bulan yang sama, pinceng harap cu-wi suka datang kesini dan kita lihat saja, apakah pinceng berhasil mendapatkannya kembali.”

“Setuju...!”

San-tok atau Bu-beng San-kai berseru, mendahului orang lain yang masih ragu-ragu dan memandang dengan alis berkerut.

“Nah, terimalah kembali cucu muridmu, Siauw-bin-hud!”

Semua orang memandang ke arah Ci Kong yang masih bergantung pada perut kakek itu dengan tangan kanannya menancap di perut itu sampai di pergelangan tangan. Anak itu sudah lemas dan kini kulit muka dan tangannya nampak kehijauan! Begitu kakek kurus itu menggerakkan perutnya, anak yang sudah pingsan itu terlempar ke belakang, ke arah Siauw-bin-hud yang cepat menangkapnya lalu merebahkan anak itu di atas tanah.

Melihat betapa kulit muridnya menjadi kehijauan dan anak itu pingsan, Nam San Losu menjadi terkejut dan gelisah sekali. Akan tetapi diapun seorang kakek yang berpengetahuan luas. Dan dia tidak berani sembarangan bergerak, menyerahkan segalanya kepada susioknya. Sungguh heran dia melihat betapa susioknya setelah meletakkan telapak tangannya ke dada Ci Kong, lalu tertawa girang, dan memandang ke arah San-tok lalu berkata.

“Ha-ha-ha, San-tok… agaknya selama ini engkau telah memperoleh banyak kemajuan lahir batin. Terima kasih!”

Tiba-tiba, terdengar bentakan halus. “Kakek berwatak keji!”

Dan tahu-tahu, anak perempuan yang sejak tadi berada di belakang Bu- beng San-kai atau Santok dan hanya menjadi penonton saja seperti yang lain, tiba-tiba meloncat ke depan dan sudah menghadap Siauw-bin-hud sambil mengeluarkan suara celaan setengah memaki itu.

Siauw-bin-hud mengangkat muka memandang. Dia masih bersila ketika memeriksa tubuh Ci Kong, dan melihat anak perempuan yang berdiri di depannya, dia tersenyum ramah lalu menoleh ke arah San-tok yang hanya memandang sambil tersenyum-senyum.

“Nona kecil, mengapa engkau datang-datang memaki aku?” tanya Siauw- bin-hud.

Anak perempuan itu adalah Lian Hong. Sejak tadi anak ini mengikuti jalannya peristiwa dan melihat betapa anak laki-laki yang pemberani itu menjadi korban karena membela kakek gendut, hatinya merasa penasaran sekali. Apalagi melihat sikap kakek gendut yang menerima cucu muridnya yang pingsan itu sambil tertawa-tawa, bahkan mengucapkan terima kasih kepada gurunya, hatinya memberontak. Ia mengenal gurunya sebagai seorang kakek yang wataknya aneh luar biasa, maka iapun tidak dapat mengerti apa arti perbuatan gurunya itu. Karena itu, melihat betapa gurunya tadi menerima pukulan anak laki-laki dan membuat anak laki-laki pingsan dengan kulit kehijauan, ia tahu bahwa anak itu keracunan akan tetapi ia tidak berani menegur gurunya yang juga menjadi kakeknya itu. Kemarahannya karena merasa kasihan dan penasaran melihat anak laki-laki itu menjadi korban, kini ditimpakan kepada Siauw-bin-hud yang dianggapnya menjadi gara-gara.

“Engkau ini orang tua yang keji dan tak tahu diri! Semua urusan pusaka ini adalah gara-garamu, akan tetapi engkau tidak mau maju sendiri, malah membiarkan seorang anak kecil maju mewakilimu sehingga terluka. Patutkah itu?”

“Hemmm… anak perempuan licik!” tiba-tiba Hai-tok mengejek.

“Gurumu yang mencelakai anak itu, engkau malah memaki Siauw-bin- hud!”

Hati kakek yang menjadi Racun Lautan ini sudah mendongkol sekali melihat permainan antara Siauw-bin-hud dan San-tok, sehingga dia sendiri terdesak. Dua orang itu sudah membuat janji-janji dan menganggap orang- orang lain yang hadir di situ seolah-olah tidak ada dan tidak memiliki hak suara untuk menentukan tentang urusan Giok-liong-kiam.

Lian Hong menoleh ke arah kakek pesolek itu.

“Kakekku dipukul dan hanya membela diri!” teriaknya membela kakeknya. “Ha-ha-ha, San-tok, cucumu ini hebat sekali, sama hebatnya dengan cucu

muridku. Nah, baiklah, kau pukullah aku, nona cilik!” “Bersiaplah kau, kakek tua!”

Lian Hong memasang kuda-kuda dan kini iapun menerjang ke depan, mengirim tanparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam ke arah kepala kakek yang masih duduk bersila itu. Tanparannya ini hebat sekali, karena biarpun ia baru berusia sebelas tahun, selama enam tahun ini Lian Hong menerima gemblengan yang keras dari kakeknya atau gurunya.

“Wah, bagus...!”

Siauw-bin-hud memuji dan sama sekali tidak mengelak. “Plakkk!”

Telapak tangan itu tepat mengenai kepala yang gundul dan hal ini tentu saja dianggap amat kurang ajar oleh para hwesio Siauw-lim-pai yang memandang dengan mata mendelik. Ingin mereka memukul anak perempuan yang berani menampar kepala susiok mereka itu. Akan tetapi, Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar dan kini terulanglah peristiwa seperti yang terjadi pada diri Ci Kong tadi. Lian Hong merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan batok kepala yang amat lunak dan dingin seperti es! Ketika ia hendak menarik kembali tangannya, ternyata telapak tangan itu melekat pada batok kepala yang halus itu. Berkali-kali ia mengerahkan tenaga untuk membetotnya kembali, akan tetapi makin dibetot makin melekat dan semakin dingin sehingga ia menggigil dan kehabisan tenaga untuk meronta. Dan sebentar saja, iapun pingsan dengan tangan masih menempel pada kepala kakek itu!

Terdengar Hai-tok terkekeh.

Post a Comment