Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 22

Memuat...

“Aha! Menantang lagi! Kiranya engkau tidak sendirian dalam hal berkeras kepala untuk memukuli badanku yang sudah tua, Hai-tok. Baiklah, kautunggu dulu, ciangkun… aku akan bertanya kepada rombongan lain.”

Kakek itu tanpa menanti jawaban lalu menghadapi rombongan Thian-te-pai yang berdiri berbaris dengan sikap gagah.

“Cu-wi tentu utusan perkumpulan Thian- te-pai,” katanya ramah sambil memandang ke arah dada orang-orang itu.

“Lalu apa kehendak cu-wi datang mencari aku orang tua?”

Coa Bhok yang gagah dan angkuh melangkah maju menghadapi Siauw-bin- hud. “Saya Coa Bhok sebagai wakil ketua Thian-te-pai, mewakili perkumpulan kami untuk memohon kebijaksanaan locianpwe Siauw-bin-hud. Pusaka Giok- liong-kiam sejak dahulu menjadi pusaka perkumpulan kami, bahkan menjadi lambang kebesaran perkumpulan Thian-te-pai kami. Enam tahun lebih yang lalu, pusaka kami itu lenyap dicuri orang, dan setelah itu timbullah perebutan diantara orang-orang kang-ouw untuk mencari dan merampasnya. Sute kami Lui Siok Ek ini pada enam tahun yang lalu hampir berhasil merebut kembali pusaka kami itu, akan tetapi menurut keterangannya tadi, pusaka itu oleh locianpwe dirampas. Karena selama enam tahun ini locianpwe berada dalam pertapaan, kami segan untuk berurusan dengan Siauw-lim-si, dan mendengar locianpwe telah keluar, kami memberanikan diri untuk datang menghadap dan minta kembali pusaka yang disimpankan oleh locianpwe itu.”

“Aha, dengan arti lain, cu-wi hendak memaksaku untuk mendapatkan pusaka itu dan mengembalikan kepada Thia-te-pai?”

“Begitulah!”

“Wah-wah-wah, runyam sekali ini!”

Siauw-bin-hud mengelus kepala Ci Kong yang masih berdiri di dekatnya. Dia heran melihat anak itu mukanya merah dan matanya mengeluarkan sinar marah.

“Eh, kau kenapa, anak baik?”

“Susiok-couw, orang-orang ini sungguh tidak memiliki rasa keadilan sama sekali, mau menangnya sendiri saja, dan mendesak susiok-couw secara sewenang-wenang!”

Ci Kong berseru dengan suara nyaring. Kakek gendut itu tertawa bergelak dan mengelus kepala Ci Kong dengan halus.

“Wah-wah, kalau engkau begini keras, lalu apa bedanya dengan mereka yang keras juga? Tenanglah, anak baik dan kita lihat saja perkembangannya.” “Heh-heh-heh-heh… banyak lalat dan hawanya panas, sungguh tidak

nyaman...” tiba-tiba terdengar suara orang mengomel.

Semua orang menoleh dan ternyata yang mengomel itu adalah Bu-beng San-kai yang duduk agak jauh dari orang-orang lain, duduk sembarangan saja di atas rumput sambil mengipasi tubuhnya seolah-olah dia benar-benar merasa gerah, padahal hawa di puncak bukit itu tentu saja sejuk! Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang cantik mungil, bermata lebar dan bersikap pendiam duduk di belakangnya, hanya sepasang matanya yang lebar itu saja bergerak memandangi semua orang akan tetapi mulutnya yang kecil merah itu tak pernah dibukanya.

“Jembel badut!” tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu mengejek.

“Agaknya yang kaumaki lalat itu termasuk dirimu sendiri, kalau tidak demikian, mau apa engkau muncul di sini!”

Siauw-bin-hud memandang kakek kurus yang bajunya tambal-tambalan itu dan diapun tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kiranya ada pula Bu-beng San-kai di sini! Wah-wah, Sankai, apakah benar dugaan Hai-tok bahwa engkaupun datang ke sini untuk memperebutkan Giok-liong-kiam?”

Semua orang, kecuali Hai-tok, terkejut bukan main dan kini mereka memandang ke arah pengemis tua itu dengan mata terbelalak. Bu-beng San- kai? Sebuah nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan, dan tak seorangpun di antara mereka, kecuali Hai-tok dan Siauw-bin-hud, menyangka bahwa kakek jembel yang nampaknya tidak ada apa-apanya itu ternyata adalah Bu-beng San-kai! Kalau disebut San-tok (Racun Gunung), tentu semua orang akan lebih kaget lagi tadi. Akan tetapi nama Bubeng San-kai (Pengemis Berkipas Tak Bernama) atau San-tok (Racun Gunung) juga sama saja.

Di dunia persilatan, pernah muncul empat orang tokoh yang amat hebat, yang dinamakan Racun-racun Dunia. Mereka adalah San-tok (Racun Gunung) yaitu yang berjuluk pula Bu-beng San-kai, lalu Hai-tok (Racun Lautan) yang kini menjadi orang kaya di Pulau Layar. Masih ada dua orang lagi, yaitu Thian-tok (Racun Langit) dan Tee-tok (Racun Bumi) yang tidak pernah didengar orang pula, entah berada dimana. Kalau orang-orang seperti Hai-tok dan San-tok kini muncul, dapat dibayangkan betapa penting dan berharganya Giok-liong-kiam! Kalau Tang Kok Bu, seperti julukannya, Hai-tok, dahulunya adalah datuk para bajak laut, sebaliknya San-tok adalah datuk para perampok di pegunungan dan hutan-hutan. Akan tetapi, berbeda dengan Hai-tok yang kini nampaknya menjadi orang kaya raya, San-tok masih kelihatan miskin, bahkan

pakaiannya seperti seorang pengemis.

Bu-beng San-kai atau San-tok terkekeh mendengar ucapan Hai-tok dan Siauw-bin-hud, dan diapun menjawab.

“Siauw-bin-hud, engkau tahu bahwa aku bukan seorang yang mata duitan atau haus akan harta. Aku datang hanya untuk menonton keramaian, dan apa salahnya setelah sama tuanya, kita saling membuktikan siapa yang menjadi loyo lebih dahulu di antara kita semua tuabangka-tuabangka ini? Ha-ha-ha!”

Dan diapun mengebutkan kipasnya semakin cepat. Kipas itu butut saja, akan tetapi begitu dikebut dengan cepat, semua orang yang berada di situ hampir menggigil karena hawa menjadi semakin dingin seperti ada angin besar yang lewat!

Siauw-bin-hud mengenal empat racun dunia sejak masih muda, bahkan mereka itu boleh dibilang merupakan saingan-sainganya dalam dunia persilatan. Sejak dahulu, ilmu kepandaian antara para Racun Dunia itu sebanding, dan masing-masing di antara mereka juga hampir dapat menandingi tingkat kepandaian Siauw-bin-hud sendiri yang ketika itu masih menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang disegani. Hanya selisih sedikit saja kepandaian tokoh Siauw-lim ini dengan kepandaian para Racun Dunia itu. Kini, melihat munculnya dua orang ini, diam-diam Siauw-bin-hud maklum bahwa mereka berdua itu bukan semata-mata mencari pedang pusaka karena haus akan harta, melainkan dalam usia tua itu agaknya hendak melanjutkan persaingan waktu dahulu untuk menjadi orang nomor satu. Atau mungkin juga mereka itu masih memiliki keinginan untuk menjadi Bu-lim Beng-cu (Pemimpin Rimba Persilatan) yang disegani dan dihormati seluruh dunia persilatan!

Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba saja Ci Kong sudah melompat ke depan dan dengan membusungkan dada dia menghadapi para tamu itu, memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong.

“Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tamu-tamu tak diundang datang mengganggu Susiok-couw, seorang tua yang tidak berdosa. Apakah kalian tidak malu? Kalau memang kalian berhati kejam, biarlah aku yang maju mewakili susiok-couw, kalian boleh bunuh atau siksa aku untuk memuaskan hati kalian yang kotor dan jahat!”

Tentu saja sikap dan ucapan Ci Kong itu sama sekali tidak terduga-duga dan semua orang menjadi tertegun. Bahkan Nam Sam Losu sendiri terkejut, tidak mengira bahwa muridnya akan seberani dan selancang itu. Mukanya sudah menjadi pucat karena marah dan malu. Dia sebagai gurunya harus bertanggung jawab atas kelancangan muridnya itu, apalagi mengingat nama Siauw-lim-pai yang dapat tercemar karena sikap anak itu. Juga para tamu menjadi kaget dan heran, apalagi mendengar bahwa anak itu menyebut susiok- couw (paman kakek guru) kepada Siauw-bin-hud! Seorang anak kecil, duabelas tahun, dengan tingkat yang serendah itu dari Siau-lim-pai, berani menantang mereka yang terdiri dari orang-orang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, bahkan dua di antara mereka adalah San-tok dan Hai-tok.

“Huh!” Hai-tok mendengus.

“Dibandingkan anakku yang di rumah, dia itu bukan apa-apa, Siauw-bin- hud!”

“Heh-heh, benarkah dia begitu hebat, Siauw-bin-hud? Aku tidak percaya!” berkata demikian, San-tok atau Bu-beng San-kai lalu menggerakkan kakinya dan dalam keadaan duduk, tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan dan dia sudah berdiri di depan Ci Kong sambil tersenyum-senyum. Ci Kong sama sekali tidak menjadi gentar dan memandang kakek berpakaian jembel itu dengan sepasang mata mencorong.

“Bocah bernyali besar, kalau engkau tidak membolehkan aku mengganggu susiok-couwmu, lalu kau mau apa? Apa kau berani melawan aku?”

Sikap dan ucapan ini membuat Ci Kong marah bukan main.

“Apalagi engkau, biar raja iblis sekalipun akan kulawan kalau dia jahat dan hendak mengganggu kami!” bentaknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment