Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 21

Memuat...

“Ha-ha-ha, apakah itu bukan suara Hai-tok yang terdengar begitu keras?”

Suaranya lirih saja, akan tetapi agaknya terdengar dari luar karena suara di luar tiba-tiba terhenti dan sunyi. Kemudian terdengar kembali suara Hai-tok, sekali ini suaranya mengandung kehalusan, seperti orang menghormat.

“Siauw-bin-hud, aku orang she Tang memang ingin bertemu denganmu.

Silahkan keluar!”

Mendengar ini, kembali Siauw-bin-hud tertawa dan diapun bangkit sambil menggandeng tangan Ci Kong.

“Mari, anak baik... eh, siapa namamu tadi?”

“Nama saya Tan Ci Kong, susiok-couw !” kata Ci Kong dengan sikap hormat.

Memang selama enam tahun tinggal di kuil bersama Nam San Losu, dia bukan hanya menerima gem blengan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu sastera sehingga dia mengenal tata susila seperti seorang terpelajar. Kini kakek gendut dan anak laki-laki itu berjalan keluar.

Empat orang hwesio itu segera minggir memberi jalan ketika mereka melihat susiok mereka muncul keluar, menuntun Ci Kong. Dan semua mata para tamu itupun kini ditujukan kepada hwesio gendut itu yang tersenyum-senyum ramah, menyapu semua tamu dengan pandang matanya. Setelah berhadapan dengan mereka, hwesio gendut itu tertawa, suara ketawanya lepas dan tidak terkendali, keluar dari perutnya dan terdengar ramah menyenangkan, seperti suara ketawa orang yang kegirangan.

“Heh-heh-heh, setelah duapuluh tahun lebih menyendiri, tetap saja tidak dapat bebas dari urusan dengan orang-orang lain. Ha-ha, jelaslah kini bahwa tidak mungkin hidup sendirian saja, hidup berarti antar hubungan, baik dengan manusia lain, dengan mahluk lain, dengan benda maupun pikiran sendiri... tak salah... tak salah...”

Dua pasang mata menatap kakek gendut itu penuh perhatian, penuh selidik. Mereka adalah Tang Kui, perwira istana yang bertubuh tinggi besar itu, dan Lui Siok Ek, tokoh Thian-tepai. Dua orang inilah yang pada enam tahun yang lalu pernah ikut memperebutkan Giok-liong-kiam dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa pedang pusaka itu lenyap bersama munculnya kakek gendut yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud. Dan mereka berdua berani bersumpah bahwa orang yang mereka temui enam tahun yang lalu adalah kakek gendut yang kini berhadapan dengan mereka walaupun tokoh Thian-te-pai Lui Siok Ek melihat sesuatu yang diam-diam membuat dia meragu. Ada perbedaan dalam sinar mata kakek ini dengan sinar mata kakek enam tahun yang lalu. Dia melihat sinar mata mencorong hebat dari kakek yang dahulu, sedangkan kakek ini demikian lembut dan penuh pengertian. Betapapun juga, kecuali sinar mata ini, hampir segalanya kakek ini tiada bedanya dengan kakek yang muncul dalam perebutan Giok-liong-kiam enam tahun lalu. Gundulnya, gendut bulatnya, jubah kuning sampai sepatunya, dan kembali Lui Siok tertegun. Sepatunya memang sama, sepatu kain, akan tetapi telapak sepatu kakek yang dahulu itu berlapis besi. Ini dia ingat benar, sedangkan telapak sepatu kakek ini tetap dari kain lunak. Akan tetapi, sinar mata yang berbeda itu mungkin saja menunjukkan kemajuan batin kakek itu selama enam tahun ini, dan tentang telapak sepatu, ah, bisa saja kakek itu kini tidak membubuhkan lapisan besi karena tidak sedang melakukan perjalanan

jauh. Dia bisa keliru akan tetapi tetap saja ada keraguan dalarn hatinya.

Akan tetapi perwira Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu, dan begitu melihat Siauw-bin-hud muncul, langsung saja dia menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu dan berkata dengan suara lantang.

“Dia inilah yang dahulu merampas Giok-liong-kiam!”

Siauw-bin-hud memandang kepada Tang Kui sambil tersenyum. Pandang matanya sama sekali tidak marah, melainkan penuh kesabaran seperti seorang kakek yang baik melihat kenakalan cucunya.

“Si-cu (orang gagah), apakah engkau melihat sendiri pinceng merampas pusaka itu?” tanyanya halus.

Tang kui cemberut dan mukanya menjadi merah karena marah. Dia adalah seorang yang jujur dan kasar, dan tidak suka berpura-pura.

“Locianpwe adalah seorang pendeta yang dihormati, mengapa masih berpura-pura seperti anak kecil? Enam tahun yang lalu begitu bertemu, Locianpwe sudah mengenal aku sebagai Tang Kui, perwira pengawal istana!”

Kakek itu tersenyum lebar, juga matanya lebar.

“Ahhh, betapa anehnya. Bahkan dalam mimpipun pinceng belum pernah jumpa dengan ciangkun, sama tidak pernahnya pinceng mendengar apalagi melihat pusaka yang bernama Giok-liong-kiam.”.

“Aku belum gila untuk menuduh locianpwe yang bukan-bukan. Akan tetapi dia itu dahulupun pernah menjadi saksi!”

Tang Kui menunjuk ke arah Lui Siok Ek dan kini semua mata memandang ke arah tokoh Thian-te-pai itu. Lui Siok Ek sedang berdiri bingung. Memang dia melihat perbedaan, dan juga suara ketawa kakek gendut ini sama sekali tidak mengandung tenaga khikang yang menggetarkan jantung seperti kakek enam tahun yang lalu, walaupun dalam suara kakek ini terasa pula adanya tenaga yang amat kuat. Kini, dituding secara tiba-tiba oleh Tang Kui, dia menjadi gugup dan melihat betapa semua orang memandang kepadanya, diapun mengangguk.

“Memang benar, locianpwe Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai yang telah mengambil Giok-liong-kiam ketika terjadi perebutan di antara kami.”

“Aha, sudah dua orang yang menjadi saksi mata! Wah, ini berat jadinya untukku!” kata kakek gendut.

“Kalau saja pinceng tidak yakin benar bahwa pinceng selama duapuluh tahun bertapa dalam ruangan, tentu pinceng mulai tidak yakin kepada diri sendiri! Akan tetapi, pinceng sudah menyelidiki diri sendiri dan tidak pernah pinceng meninggalkan ruangan, jadi… tidak mungkin mengambil pusaka. Eh, apakah jiwi-sicu melihat sendiri pinceng mengambil pedang itu?”

Lui Siok Ek mengerutkan alisnya. Seperti juga Tang Kui, ketika enam tahun yang lalu dia berhadapan dengan Siauw-bin-hud, kakek ini sudah mengenalnya, akan tetapi kini agaknya tidak mengenalnya.

“Kami tidak melihat sendiri. Kami berlima sedang memperebutkan pusaka itu. Giok-liong-kiam terlempar ke udara dan meleset ke arah dimana kami menemukan locianpwe duduk bersamadhi. Siapa lagi kalau bukan locianpwe yang mengambilnya?”

“Duk-duk-duk…!!”

Semua orang terkejut ketika kakek tinggi besar muka merah menotok- notokkan tongkanya ke tanah. Dari ketukan tongkat ini saja sudah dapat dibayangkan betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di dalam lengan tangan yang besar itu. Dan memang nama Hai-tok (racun lautan) Tang Kok Bu sudah terkenal di seluruh dunia persilatan, maka semua orang memandang kepadanya dengan agak gentar.

“Aku tahu bahwa Siauw-bin-hud bukanlah seorang pengecut, melainkan seorang datuk persilatan yang besar namanya. Tidak perlu banyak cakap lagi tentang urusan tetek bengek. Yang jelas, Siauw-bin-hud telah memiliki Giok- liong-kiam melalui ilmu kepandaiannya yang hebat sehingga dia mampu mengambil pusaka itu tanpa diketahui orang lain. Dalam dunia persilatan memang ada peraturan bahwa siapa menang, dia berhak meraih pahalanya. Enam tahun yang lalu dia menang, dan kini setelah dia keluar, aku orang she Tang mohon diberi kesempatan untuk menguji kepandaian orang yang telah menguasai Giok-liong-kiam. Kalau aku kalah, sudahlah, aku tidak akan banyak ribut lagi tentang pusaka itu.”

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud berkata lirih akan tetapi masih tersenyum lebar dan sabar. “Hai-tok makin tua semakin keras saja. Apakah orang seperti engkau ini

tidak mau menerima penjelasan orang seperti aku, bahwa pinceng sungguh tidak pernah melihat Giok-liong-kiam, apalagi memilikinya?”

“Aku tidak pernah menuduh, hanya mendengarkan berita di luaran dan kini ada dua orang saksi mata. Mungkin mereka benar, mungkin pula engkau yang benar, siapa tahu akan kebenaran yang sesungguhnya? Yang penting, mari kita menguji kepandaian. Kalau aku kalah, sudahlah… aku akan minta maaf dan akan pergi dari sini, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menyerahkan Giok-liong-kiam kepadaku.”

“Wah, wah, wah… tulang-tulangku sudah tua ini bernasib sial hendak menerima gebukan orang. Hai-tok, bagaimana kalau aku kalah akan tetapi aku tidak memiliki pusaka itu untuk dapat diserahkan kepadamu?”

Dunia kang-ouw mempunyai bukti-bukti bahwa engkau yang merampas pedang itu, maka engkau harus dapat pula membuktikan bahwa bukan engkau perampasnya!”

“Ha-ha-ha… dengan lain kata, engkau menghendaki aku mencari perampasnya yang agaknya mempergunakan namaku?”

“Begitulah… dan bersiaplah, Siauw-bin-hud!”

“Nanti dulu. Tamuku bukan hanya engkau seorang, melainkan masih ada beberapa orang lagi. Kautunda dulu niatmu, Hai-tok… aku ingin bertanya kepada yang lain-lain.”

Lalu kakek gendut itu dengan sikap tenang, sabar dan peramah memalingkan mukanya kepada rombongan perwira istana yang dipimpin oleh Pouw Gun atau Pouw Ciang-kun itu.

“Cu-wi sekalian ini apa juga datang ke Siauw-lim untuk urusan pusaka yang hilang itu?”

Pouw Gun menjura dengan sikap tegas dan hormat. Sebagai seorang perwira tinggi, sikapnya tegas dan berwibawa, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi diapun menghormati angkatan yang lebih tua seperti Siauw- bin-hud.

“Locianpwe, saya Pouw Gun bersama beberapa orang teman datang sebagai utusan sri baginda kaisar. Karena seorang di antara saudara muda kami, yaitu Tang Kui, pernah mendapatkan Giok-liong-kiam yang kemudian dirampas oleh locianpwe, maka kami atas nama sri baginda kaisar mohon dengan hormat agar locianpwe menyerahkannya kepada kami.”

“Heh-heh, semua orang minta pusaka itu dariku. Aneh! Ciangkun, kalau cu- wi menjunjung perintah sri baginda kaisar, tentu membawa surat perintah.”

Wajah panglima yang bertubuh kecil itu menjadi merah.

“Maaf, locianpwe… selama enamtahun ini, Siauw-lim-pai tidak mengakui tentang Giok-liong-kiam, oleh karena itu, urusan ini menjadi urusan pribadi. Kami ditugaskan untuk mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Andaikata kami harus berurusan dengan Siauw-lim-si, tentu kami akan membawa surat perintah. Akan tetapi karena Siauw-lim-si tidak mengakui, dan karena ada saudara kami yang melihat sendiri bahwa pusaka itu... oleh locianpwe... “

“Ha-ha-ha, Pouw-ciangkun… jelaskan saja apa yang hendak kaulakukan sekarang,” kakek gendut itu memotong dengan suara kasihan melihat kegugupan perwira itu.

“Seperti saya katakan tadi, kami mohon dengan hormat agar locianpwe suka menyerahkan pusaka itu kepada kami, demi nama sri baginda kaisar.”

“Kalau pinceng tidak bisa memberikannya, bagaimana ciangkun?” “Terpaksa saya melupakan kebodohan sendiri mohon petunjuk dari

locianpwe.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment