Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 17

Memuat...

Dan si muka putih ini dengan marah lalu menerjang pendekar Kam Hong Tek. Melihat serangan yang ganas dan berbahaya itu, Kam Hong Tek cepat meloncat ke samping dan mengibaskan tangan kanannya menangkis, sedangkan pusaka itu dipegangnya dengan erat-erat di tangan kiri.

“Dukk...!”

Keduanya terdorong mundur dan hal ini saja membuat mereka maklum bahwa tenaga mereka berimbang. Akan tetapi Lui Siok Ek, murid Thiante-pai itu, tanpa banyak cakap lagi sudah menerjang pula ke depan dan gerakannya demikian aneh dan cepat, sehingga tahu-tahu tangan kirinya sudah dapat menangkap ujung Giok-liong-kiam pada saat Kam Hong Tek miringkan tubuhnya karena kembali Pek-bin Tiat-ciang menyerangnya.

Kam Hong Tek terkejut dan mencoba untuk menarik pedang batu kemala itu, namun murid Lui Siok Ek itu mempertahankannya. Terjadilah betot- membetot, tarik-menarik, dan pada saat itu, Theng Ci wanita baju merah itu mengirim tendangan kilat yang ditujukan ke arah pergelangan tangan Kam Hong Tek. Pada saat yang sama pula, seperti sudah direncanakan saja, Pek-bin Tiat-ciang juga mengirim tendangan, ditujukan ke arah pergelangan tangan murid Thian-te-pai. Dua tendangan kilat itu amat kuat dan berbahaya dan mereka yang sedang bersitegang memperebutkan pedang pusaka itu maklum akan hal ini, dan terpaksa mereka lalu melepaskan pegangan dan melontarkan pedang pusaka itu ke atas, kemudian tangan mereka membalik dan menangkis tendangan.

Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu dilontarkan oleh gabungan dua tenaga, terlempar jauh dan tinggi ke udara. Lima orang yang sedang memperebutkan pedang pusaka itu memandang ke atas dan mereka sudah siap untuk meloncat dan berlumba memperoleh pusaka itu lebih dahulu, walaupun masing-masing maklum bahwa empat orang yang lain pasti akan menghalanginya atau akan merampasnya kembali.

Setiap jalur urat syaraf di tubuh lima orang itu sudah menegang dan masing-masing sudah siap untuk meloncat ke atas ketika benda yang berkilauan hijau itu melayang turun dari atas. Akan tetapi, ketika benda itu sudah meluncur turun sampai kira-kira lima tombak dan semua orang sudah siap meloncat, tiba-tiba saja benda itu menyeleweng ke arah barat dan lenyap diantara daun-daun pohon, menimbulkan suara berkerosakan ketika benda itu menerjang daun-daunpohon yang lebat. Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan heran, akan tetapi juga penuh kekhawatiran karena benda itu tiba- tiba saja lenyap. Seperti dikomando saja, lima orang itu lalu berloncatan dan lari ke arah pohon besar di sebelah barat itu.

Dan merekapun berdiri tertegun ketika melihat seorang kakek berjubah pendeta, bertubuh gendut sekali sehingga kelihatannya bulat. Kepalanya yang nampak kecil karena tubuh yang gendut itu juga bulat, dan kakek itu nampak lucu karena kepalanya gundul licin tanpa penutup kepala. Dia duduk bersila di atas batu hitam, sama sekali tidak bergerak, dan kedua matanya terpejam, kedua tangan dirangkap di depan dada. Jubah kuningnya sudah kumal dan warnanya hampir keputihan, kedua kakinya yang bersilang itu memakai sepatu kain yang bawahnya dilapis besi. Sukar menaksir usia kakek ini karena kepalanya gundul dan mukanya kelimis, bisa saja dia baru limapuluh tahun, akan tetapi juga mungkin usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih. Alisnya yang tebal dan masih hitam itu menambah bingung bagi penaksir usianya.

Lima orang itu memandang penuh perhatian, terutama sekali dengan sinar mata mereka mencari-cari apakah di situ terdapat pedang Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kakek gundul yang gendut itu sedang bersemadhi, hanya pernapasannya saja yang membuat perut gendutnya bergerak perlahan turun naik. Jelas bahwa kakek itu tidak memegang Giok-liong-kiam, juga di dekatnya tidak nampak benda pusaka itu. Lima orang itu celingukan akan tetapi tidak nampak ada orang lain di sekitar tempat itu, dan pusaka itupun lenyap tanpa bekas. Siapa lagi kalau bukan kakek ini yang menyebabkan pusaka yang sedang melayang turun itu tiba-tiba menyeleweng dan lenyap. Bukankah ke arah sini tadi terbangnya pedang kemala itu?

Lima orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup maklum bahwa orang seperti kakek tua ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan sangat boleh jadi sekali kakek ini adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai, walaupun tak seorang di antara mereka merasa pernah mengenalnya. Tidak ada pula ciri-ciri yang mengingatkan mereka akan seorang datuk persilatan, baik dari para pendekar maupun kaum sesat. Karena itu, mereka tidak berani sembarangan mengganggu kakek itu.

Akan tetapi, karena mereka ingin sekali memiliki Giok-liong-kiam dan karena mereka melihat sendiri betapa pedang pusaka itu tadi melayang ke arah sini, tetap saja terdapat kecurigaan besar dalam hati mereka bahwa tentu kakek ini yang main-main tadi, mempergunakan semacam ilmu yang amat luar biasa. Yang membuat mereka ragu-ragu adalah karena mereka tidak melihat Giok-liong-kiam di situ. Entah kalau disembunyikan di balik jubah kuning yang longgar itu, demikian mereka menduga-duga, dan lima pasang mata menunjukkan pandangannya dengan penuh selidik ke arah jubah kuning yang menutupi tubuh si kakek gendut.

Lui Siok Ek yang merasa paling berhak atas pusaka itu, pusaka Thian-te- pai yang hilang dicuri orang setengah tahun yang lalu, memberanikan hatinya dan diapun melangkah maju. Akan tetapi begitu dia melangkah maju, empat orang lainnyapun ikut pula melangkah maju, sejengkalpun tidak membiarkan tokoh Thian-tepai itu lebih dekat dengan kakek itu dari mereka! Lui Siok Ek tidak perduli dan diapun menjura dengan sikap hormat kepada kakek gundul yang masih duduk bersila sambil memejamkan mata itu.

“Harap locianpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan. Saya Lui Siok Ek... “ tiba-tiba saja tokoh Thian-te-pai itu menghentikan kata-katanya karena mendadak kakek itu membuka kedua matanya dan sepasang mata itu mengeluarkan cahaya begitu mencorong membuat dia tertegun.

“Ha-ha-ha…”

Tiba-tiba hwesio yang gendut itu tertawa bergelak-gelak dan seluruh tubuhnya berguncang. Suara ketawanya sambung-menyambung, dan semua orang yang berada di situ terkejut bukan main dan cepat-cepat mereka mengerahkan tenaga dalam untuk mempertahankan diri karena suara ketawa itu mengandung tenaga khikang yang membuat isi perut mereka terguncang pula !

Hwesio itu menghentikan suara ketawanya, sejenak memandang kepada mereka bergantian seolah-olah diapun merasa agak heran melihat betapa lima orang itu kuat menghadapi suara ketawanya. Lalu dia memandang pula kepada Lui Siok Ek dan berkata, suaranya parau.

“Engkau tentu seorang murid Thian-te-pai, ada keperluan apakah kalian mengganggu tidurku.”

Lui Siok Ek cepat menjura.

“Harap locianpwe sudi memaafkan saya. Saya kehilangan pusaka perkumpulan kami yang disebut Giok-liong-kiam, dan tadi pusaka itu melayang ke arah sini. Kalau locianpwe mengetahui, mohon dapat memberi petunjuk agar saya dapat membawanya kembali ke perkumpulan kami.”

“Ha-ha-ha-ha...”

Kembali kakek gendut itu tertawa, dan sekali ini suara ketawanya lebih hebat dari pada tadi. Agaknya dia telah menambah khikang dalam suara ketawanya. Dan lima orang itu merasa betapa kaki mereka gemetar dan isi perut mereka terguncang hebat ! Mau tidak mau mereka terpaksa segera menjatuhkan diri bersila dan mengerahkan sinkang untuk melindungi diri mereka, karena kalau dilanjutkan tanpa pertahanan sinkang, tentu mereka akan dapat menderita luka dalam oleh serangan suara itu!

Suara ketawa itu susul-menyusul bagaikan gelombang, semakin lama semakin hebat! Lima orang itu kini memejamkan kedua mata, memusatkan seluruh kekuatan sinkang mereka untuk menahan gelombang suara yang seolah-olah menembus telinga mereka dan menusuk-nusuk jantung mereka. Tubuh mereka tergetar hebat dan keringat sebesar kedele mulai membasahi muka dan leher mereka. Mereka terkejut dan gelisah sekali. Mereka seperti terperosok ke dalam jurang yang berbahaya. Untuk keluar tidak mungkin karena sudah terlanjur. Menghentikan sebentar saja pemusatan sinkang mereka, tentu mereka akan terluka. Melanjutkanpun sampai kapan? Mereka sudah hampir tidak kuat dan terpaksa mereka menahan napas untuk membantu kekuatan mereka. “Omitohud...! Manusia saling bermusuhan hanya untuk memperebutkan benda mati! Mana mungkin kehidupan ini menjadi aman tenteram dan penuh kedamaian kalau manusia saling hantam hanya untuk memperebutkan benda mati? Ha-ha-ha…”

Kini lima orang itu sudah siap untuk berjaga diri, akan tetapi suara ketawanya sekali ini tidak mengandung tenaga khikang yang menyerang. Akan tetapi, melihat wajah gundul yang tertawa-tawa dan menyeringai lebar itu, melihat jubah kuning dan kepala gundul yang menunjukkan bahwa kakek itu seorang hwesio, lima orang itu lalu teringat akan seorang tokoh Siauw-lim- pai yang namanya amat terkenal akan tetapi menurut kabar tidak pernah keluar dari dalam kamarnya dimana dia bersamadhi dan bertapa sampai belasan tahun lamanya! Hwesio tokoh Siauw-lim-pai itupun hanya dikenal julukannya saja, yaitu Siauw-bin-hud (Buddha Bermuka Tertawa)!

“Harap locianpwe sudi memaafkan kelancangan saya. Apakah saya yang bodoh berhadapan dengan locianpwe Siauw-bin-hud?”

Mendengar ini, empat orang lain memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi juga merasa gentar karena mereka semua sudah mendengar bahwa pertapa yang disebut Siauw-bin-hud adalah seorang locianpwe yang tinggi ilmu kepandaiannya dan merupakan angkatan tua yang dihormati.

Kam Hong Tek terkejut, akan tetapi kekagetannya disusul oleh rasa kaget mereka semua ketika kakek itu melanjutkan.

“Dan nona tentulah yang bernama Theng Ci murid kepala Ang-hong-pai, bukan? Dan engkau yang tampan ini siapalagi kalau bukan Pek-bin Tiat-ciang? Dan engkau yang tinggi besar dan gagah ini, pinceng kira tentu seorang perwira pengawal istana yang menyamar. Bukankah engkau yang bernama Tang Kui?”

Tentu saja semua orang terkejut. Kakek ini selain memiliki khikang yang luar biasa kuatnya, ternyata memiliki pula pemandangan yang amat luas, sehingga begitu berjumpa sudah dapat mengenal mereka semua! Padahal, kakek ini dikabarkan selalu menyembunyikan diri dalam sebuah ruang pertapaan di kuil Siauw-lim-si! Apakah kakek ini memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia?

Tang Kui yang menjadi besar hatinya karena kakek itu mengenalnya sebagai seorang komandan pengawal istana, hendak mempergunakan kedudukannya dan kewibawaan kaisar untuk mencari keuntungan. Dia menjura dengan sikap gagah seorang perwira tinggi tulen kepada kakek itu.

“Locianpwe sungguh bijaksana dapat mengenal saya dalam penyamaran. Saya yakin locianpwe mempunyai kebijaksanaan pula untuk mengingat bahwa saya adalah seorang utusan sribaginda kaisar untuk mencari dan membawa pusaka Giok-liong-kiam ke istana.”

Kembali kakek itu tertawa.

“Ha-ha-ha, Tang-ciangkun. Apa hubungannya tugasmu dengan pinceng (aku)?”

“Maaf, locianpwe. Karena tadi saya melihat Giok-liong-kiam melayang ke arah tempat ini, saya mohon petunjuk locianpwe, apakah locianpwe tahu dimana adanya pusaka itu.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment