Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 16

Memuat...

Tubuh Tai-lek Hek-wan terkulai dan dia roboh tewas dengan belakang kepala remuk karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, si tinggi besar itu telah lebih dahulu menghantam tengkuknya! Sekali ini Tai-lek Hek-wan yang biasanya cerdik itu salah perhitungan. Dia terlalu memandang rendah lawannya. Padahal begitu dia mengerahkan tenaga, si raksasa itu telah mengetahuinya sehingga dapat mendahuluinya, menghantam tengkuknya dari atas, sehingga bukan saja pukulan itu melumpuhkan semua gerakannya, juga membuat nyawanya melayang!

Dengan sikap jijik, kakek bertubuh raksasa itu lalu menendang mayat Hek- wan sampai terlempar jauh, kemudian diapun membuang buntalan madat itu ke dalam jurang tak jauh dari situ sambil mengomel.

“Candu ini harus dimusnahkan di seluruh dunia, membuat manusia menjadi boneka, menjadi mayat-mayat hidup, berbahaya sekali...”

Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan sejenak diam tak bergerak, samar- samar dia mendengar suara orang berkelahi dan tak lama kemudian, raksasa ini sudah berlari dengan langkah lebar menuju ke tempat orang yang sedang berkelahi itu. Raksasa ini memang bukan orang sembarangan, dan seperti dugaan Tai-lek Hek-wan, dia adalah seorang jagoan istana!

Kaisar mengirim beberapa orang jagoan untuk melakukan penyelidikan dan kalau mungkin merampas pusaka Giok-liong-kiam yang demikian menghebohkan dunia persilatan. Bagi kaisar, seluruh pusaka yang terdapat di negeri itu adalah hak dan milik istana! Karena itu, Giok-liong-kiam yang diperebutkan itupun adalah hak istana. Dan raksasa ini adalah seorang diantara para jagoan istana, namanya Tang Kui, dan jabatannya adalah komandan pasukan pengawal di luar istana. Karena namanya terkenal di kalangan para pengawal sebagai seorang komandan yang pandai, tegas dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar, maka dia terpilih sebagai seorang di antara para jagoan yang ditugaskan mencari dan merebut pusaka Giok-liong-kiam.

Sebentar saja Tang Kui telah tiba di tempat dimana tokoh Ang-hong-pai itu masih berkelahi dengan hebatnya melawan Pekbin Tiat-ciang. Dari jauh saja Tang Kui yang banyak mempelajari keadaan kang-ouw dan mengenal banyak tokoh kang-ouw, mengenal siapa mereka yang sedang berkelahi itu. Dia mengenal Theng Ci, murid kepala Ang-hong-pai yang lihai itu, dan dia mengenal pula Pek-bin Tiat-ciang, pria pesolek tanpan bermuka putih yang merupakan tokoh di antara kaum sesat itu. Maka diapun cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan mendekat.

Pada saat itu, perkelahian antara kedua orang ini sudah mencapai puncaknya. Pek-bin Tiat-ciang sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu pecut panjang yang biasanya menjadi pengikat pinggangnya. Pecut panjang putih itu kini membentuk lingkaran-lingkaran dan menyerang si wanita cantik dari pelbagai jurusan. Akan tetapi, Theng Ci adalah murid kepala Ang-hong-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan terutama sekali gerakannya yang amat ringan itu membuat ia selalu dapat berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dari totokan ujung pecut. Nampaknya pemandangan yang amat indah dari perkelahian ini. Pecut putih itu menjadi sinar bergulung- gulung, dan pakaian Theng Ci yang merah juga membuat gerakannya yang cepat membentuk bayangan merah. Dari jauh nampak warna merah dan putih yang berselang-selang amat indahnya.

Jangan dikira bahwa Theng Ci yang bertangan kosong itu terdesak. Sama sekali tidak, karena wanita cantik ini kadang-kadang membalas serangan lawannya dengan sambitan jarum-jarum halusnya. Bukan sembarang jarum, melainkan jarum halus yang mengandung racun! Ang-hong-pai adalah perkumpulan para wanita yang lihai dan juga suka mempergunakan racun- racun binatang yang ampuh, terutama sekali racun-racun lebah, sesuai dengan nama perkumpulanitu, ialah Ang-hong-pai (Perkumpulan Lebah Merah). Karena jarum-jarum ini amat berbahaya, maka Pek-bin Tiat-ciang bersikap waspada dan gerakan pecutnya itu sebagian besar dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman jarum halus.

Hanya sebentar saja Tang Kui si komandan yang menyamar itu menonton perkelahian dan diam-diam dia juga kagum karena maklum bahwa baginya, dua orang itu masing-masing merupakan seorang lawan yang tangguh. Akan tetapi pandang matanya segera tertarik oleh mengkilapnya sebuah benda yang menggeletak tak jauh dari sesosok mayat berkumis lebat. Benda itu adalah sebatang pedang kecil terbuat dari kayu giok berukirkan naga. Giok-liong- kiam!

Hatinya berdebar amat kerasnya karena biarpun selamanya dia belum pernah melihat sendiri bagaimana macamnya Giok-liong-kiam, namun dia sudah mendapatkan keterangan jelas mengenai benda pusaka itu sebelum dia menerima tugas mencarinya. Hampir Tang Kui tak percaya. Giok-liong-kiam berada di situ pula, dan kini mengertilah dia mengapa dua orang tokoh sesat itu berkelahi. Tentu mereka berdua itu sedang memperebutkan Giok-liong- kiam. Memang sudah beberapa hari lamanya dia menaruh curiga terhadap Then Ci, wanita tokoh Ang-hong-pai itu. Diam-diam dia membayangi Theng Ci dari jauh. Tidak disangkanya dia melihat Theng Ci berkelahi dengan Pek-bin Tiat-ciang dan di situ terdapat Giok-liong-kiam!

Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, tiba-tiba Tang Kui meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan diapun lari ke arah pedang pusaka itu dan disambarnya benda itu. Seketika Theng Ci dan Tiat- ciang berteriak kaget melihat munculnya orang yang menyambar Giok-liong- kiam sehingga mereka berdua secara otomatis menghentikan perkelahian.

Tang Kui sudah meloncat jauh dan melarikan diri. Tentu saja dua orang itu menjadi marah sekali dan mereka melakukan pengejaran secepatnya. Tang Kui lari ke selatan, ke bagian hutan yang lebih dalam. Agaknya sukar bagi dua orang yang sudah kelelahan karena sejak tadi berkelahi itu untuk dapat menyusul Tang Kui. Dan mereka sudah hampir kehilangan jejak raksasa itu, ketika tiba-tiba mereka melihat ada seorang yang tinggi kurus tiba-tiba muncul dan menyerang Tang Kui. Serangan dilakukan secara tiba-tiba, dan biarpun Tang Kui berhasil menangkis, akan tetapi posisi kakinya membuat dia terpelanting, dan hal ini saja menunjukkan betapa lihainya penyerang yang bertubuh jangkung itu. Si jangkung itu menyusulkan tendangan, bukan menendang bagian tubuh yang berbahaya, melainkan menendang tangan Tang Kui yang memegang Giok-liong-kiam.

“Dukkk!”

Tendangan itu mengenai tepat pergelangan tangan itu karena Tang Kui sedang terpelanting, dan pedang pusaka itupun terlempar jauh ke kiri!

“Wuuuuttt...!”

Tiba-tiba muncul pula seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dan dengan sigapnya laki-laki itu meloncat dan menyambar Giok-liong-kiam dengan tangan kirinya, lalu berdiri mengamati pusaka itu dengan penuh kagum.

“Hemm, inilah Giok-liong-kiam...” guman laki-laki berpakaian putih.

Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, berusia kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya sederhana serba putih, dan melihat orang yang telah merampas Giok-liong-kiam, Tang Kui segera mengenalnya. Orang itu adalah Kam Hong Tek, seorang pendekar yang namanya terkenal juga di daerah selatan.

“Kembalikan Giok-liong-kiam kami kepadaku!”

Tiba-tiba laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berseru dan dengan beberapa langkah dia mendekati Kam Hong Tek. Pendekar Kam ini mengangkat muka memandang. Laki- laki tinggi kurus itu berusia empat puluh tahun lebih, selain tubuhnya yang tinggi kurus itu merupakan hal yang tidak wajar, juga bajunya disulam di bagian dada dengan gambar bundar yang menggambarkan Im- Yang.

Melihat gambar ini, Kam Hong Tek dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang Thian-te-pai. Agaknya orang tinggi kurus itupun mengenal Kam Hong Tek dari pakaiannya dan sikapnya, maka dia menjura dengan hormat.

“Kalau saya tidak salah, saya berhadapan dengan pendekar Kam Hong Tek dari pegunungan selatan. Benarkah?” Pendekar Kam Hong mengangguk.

“Dan saudara tentulah seorang tokoh Thian-te-pai, bukan?”

“Benar, saya hanya seorang murid saja, menerima perintah ketua kami untuk mencari pusaka kami yang hilang dicuri orang. Nama saya Lui Siok Ek, harap saudara sudi memandang nama perkumpulan kami dan suka mengembalikan pusaka perkumpulan kami.”

“Semua pusaka di tanah air ini adalah hak milik Sri Baginda kaisar!”

Tiba-tiba Tang Kui berseru dan dengan langkah lebar dia mendekat pula. “Aku Tang Kui adalah komandan pasukan pengawal yang bertugas

mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Serahkan itu kepadaku!” “Kembalikan pusaka itu kepadaku!”

Dan muncullah Theng Ci yang diikuti pula oleh Pek-bin Tiat-ciang. Akan tetapi dua orang inipun terheran-heran melihat bahwa di situ terdapat tiga orang, dan pedang pusaka itu tidak lagi dipegang oleh si raksasa, melainkan oleh seorang berpakaian putih-putih yang mereka kenal sebagai pendekar Kam Hong Tek yang tidak asing lagi namanya!

Kam Hong Tek tertawa.

“Ha-ha-ha, sekarang menjadi ramai! Kulihat nona adalah seorang anggauta Ang-hong-pai, dan saudara ini tentulah Pek-bin Tiat-ciang yang terkenal. Ada murid Thian-tepai dan ada pula utusan istana. Kita semua tahu bahwa semua orang di dunia persilatan memperebutkan Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kitapun tahu akan adanya nasib dan tanpa kusengaja, Giok-liong-kiam melayang ke arah diriku dan berhasil kutangkap. Bukankah ini namanya nasib dan memang pusaka ini berjodoh dengan diriku? Harap cu-wi (anda sekalian) dapat memaklumi hal ini dan tidak menentang nasib!”

“Nasib tahi anjing!” Pek-bin Tiat-ciang membentak marah. “Pusaka itu adalah milikku. Kembalikan!”

Post a Comment