Si kumis tebal menoleh dan barulah dia terkejut bukan main. Tadi dia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang Hek-wan sehingga dia tidak memperhatikan dua orang adiknya, dan kini dia melihat betapa dua orang adiknya telah menggeletak tak bernyawa lagi, sedangkan wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum-senyum mengejek. Dapat dibayangkan betapa sedih dan marah hatinya. Empat orang adik-adiknya telah tewas semua di tangan wanita cantik ini.
“Aurrggghhh...!”
Gerengan seperti seekor harimau keluar dari dalam dadanya, dan biarpun suara harimau keluar dari dalam dadanya dan biarpun sudah terkena pukulan dan tendangan Hek-wan, si kumis tebal ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk ke arah wanita baju merah. Melihat ini, Hek-wan lalu membalikkan tubuhnya dan... lari tunggang langgang sekuat tenaga! “Hemm…!!”
Wanita baju merah itu melompat ke kiri dan tangannya menyambar ke samping.
“Plakk!”
Tubuh si kumis tebal terpelanting dan roboh berkelojotan karena pelipisnya berlubang terkena tusukan dua jari tangan wanita itu. Tanpa menengok lagi kepada korbannya yang ia yakin tentu akan tewas, wanita itu sudah berloncatan dengan amat cepatnya mengejar Tai-lek Hek-wan!
Si Lutung Hitam menjadi panik dan wajahnya sudah pucat sekali ketika untuk kedua kalinya wanita baju merah itu sudah menghadang di depannya sambil tersenyum manis, senyum yang baginya tidak manis lagi melainkan menyeramkan! Dia bukan orang nekat seperti Lam-hai-houw. Sebaliknya, si gendut ini cerdik bukan main. Kecerdikannya sudah nampak ketika dia membiarkan Sin-touw dan Phek Kiat saling bunuh sehingga dia mampu memperoleh Giok-liong-kiam dan madat yang amat banyak tanpa mengeluarkan sedikitpun tenaga. Juga dia sudah mampu menggerakkan hati Lam-hai Ngohouw sehingga lima orang itu mau bersekutu dengan dia. Sekarang, melihat betapa Lam-hai Ngo-houw sudah tewas semua, diapun tidak begitu bodoh untuk menjadi nekat. Betapapun besar harganya Giok-liong-kiam, tentu saja masih tidak melebihi nyawanya sendiri. Apa artinya Giok-liong-kiam kalau dia sudah tidak bernyawa seperti kelima orang Lam-hai Ngo-houw itu?
Tanpa malu-malu lagi, Tai-lek Hek-wan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita baju merah itu, berkali-kali menyentuh tanah dengan dahinya dan kedua tangannya segera menurunkan buntalan Giok-liong-kiam.
“Ampun... harap lihiap (pendekar wanita) sudi mengampunkan nyawa saya...... saya mengaku kalah dan dengan rela menyerahkan Giok-liong-kiam kepada lihiap...”
Wanita cantik itu tersenyum mengejek, geli melihat betapa perut yang gendut itu menghalangi Hek-wan untuk dapat memberi hormat dengan baik. Perutnya mengganjal ketika orang itu berlutut menyembah-nyembah. Sikap Tai-lek Hek-wan yang ia tahu selain cukup lihai juga amat cerdik itu, yang kini menyembah-nyembahnya dengan begitu merendahkan diri, dianggap cukup berharga untuk menebus nyawa orang itu.
“Hemm… baiklah, monyet. Aku mau mengampuni nyawamu. Coba buka peti itu dan perlihatkan aku Giok-liong-kiam.”
Wanita itu memang cerdik. Tadi ia sudah melihat Giok-liong-kiam dan tidak meragukan lagi keasliannya. Akan tetapi untuk beberapa saat lamanya pusaka itu telah dapat dirampas kembali oleh Hek-wan, maka ia tidak ingin tertipu dan hendak melihat lebih dahulu apakah benar itu barang yang aseli. Ia sudah cukup mengenal kelicikan orang seperti Tai-lek Hek-wan ini dan bisa saja penjahat itu memberinya peti yang isinya barang beracun yang akan menyerangnya kalau dibukanya.
Akan tetapi, Hek-wan tidak sempat melakukan hal itu dan memang bukan tidak mungkin hal itu dilakukannya, bahkan lebih hebat dari itu kalau saja dia berkesempatan. Kini tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerahkan pusaka itu sebagai penukar nyawanya. Dibukanya buntalan dan dibukanya peti hitam itu. Dengan peti terbuka sehingga nampak isinya, dia menyerahkan benda itu dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu menjadi girang, melihat bahwa isi peti memang Giok-liong-kiam yang tulen. Akan tetapi pada saat ia hendak menerimanya, tiba-tiba ada angin menyambar dan sinar putih menyambar ke arah peti di tangan Tai-lek Hek-wan. Sinar itu ternyata sebatang tali yang menyambar cepat, seperti ular hidup hendak merampas peti, dibarengi bunyi meledak nyaring.
Melihat ini, wanita baju merah itu terkejut dan marah. Tangannya dikibaskan ke bawah menangkis sambaran tali dan kakinya menendang tubuh Tai-lek Hek-wan sehingga si gendut ini terguling-guling bersama peti yang masih dipegangnya. Memang wanita itu ingin menyingkirkan Hek-wan agar peti itu tidak sampai terampas orang, kemudian ia membalik dan berhadapan dengan orang yang telah menggunakan tali hendak merampas peti itu.
Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih, bermuka pucat dan tanpan, pakaiannya pesolek dan dia tersenyum masam ketika talinya membalik terkena tangkisan si wanita baju merah. Sambil menggulung talinya, kini dia berdiri saling pandang dengan si wanita baju merah dan dia tertawa.
“Ha-ha-ha… seorang tokoh Ang-hong-pai yang lihai juga!”
Wanita cantik baju merah itu cemberut dan memandang dengan sinar mata marah. Siapa takkan marah melihat daging sudah di mulut kini terancam lepas? Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka yang putih itu.
“Hemm, agaknya Pek-bin Tiat-ciang yang muncul. Apakah sekarang tangan besimu sudah berkarat maka engkau mempergunakan tali untuk mencoba menjadi pencuri?”
Wanita itu mengejek. Si muka putih itupun tertawa lagi.
“Ha-ha-ha… siapa yang menjadi pencuri? Monyet gendut inikah, atau engkau, ataukah aku?”
Tai-lek Hek-wan masih berdiri sambil mendekap buntalan berisi peti panjang Giok-liong-kiam itu, mukanya pucat dan dia merasa betapa kedua kakinya menggigil. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memiliki nama besar yang amat terkenal di seluruh Negara. Kiranya wanita itu adalah seorang tokoh perkumpulan Ang- hong-pai (Perkumpulan Tawon Merah) yang ditakuti dunia kangouw seperti orang menakuti gerombolan setan.
Sedangkan nama Pek-bin Tiat-ciang (Tangan Besi Bermuka Putih) juga tidak kalah terkenalnya, sebagai seorang petualang yang ringan tangan dan mudah saja membunuh orang. Entah sudah berapa banyaknya orang, baik dari golongan sesat maupun kaum pendekar, yang tewas di tangan jagoan ini. Kedua orang ini termasuk tokoh-tokoh sesat yang lihai sekali. Matilah aku, karena dia maklum bahwa kepandaiannya jauh sekali berada di bawah kedua orang ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdik itu diputar mencari akal. Bagaimanapun juga, wanita baju merah itu tadi memperlihatkan sikap lunak dan mau mengampuninya, sedangkan laki-laki muka putih tampan menyeramkan ini belum tentu mau membiarkan dia hidup.
Sementara itu, wanita tokoh Ang-hong-pai itu sudah menerjang dengan ganasnya, menggunakan pukulan-pukulan yang dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka, totokan-totokan yang mengarah jalan darah yang mematikan. “Heiiittt...!” bentaknya nyaring ketika kedua tangannya menyambar
dengan kecepatan kilat. “Wah, ganas...!”
Laki-laki muka putih itupun menggeser kaki dan menangkis dengan cepat pula.
“Plak! Plakk!” Laki-laki itu terkejut karena biarpun dia sendiri berjuluk Tiat-ciang (Tangan besi), akan tetapi ketika lengannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa seolah-olah bertemu dengan daging lunak tak bertulang. Tahulah dia bahwa wanita lihai itu dalam menghadapi kekerasan tangannya telah mempergunakan ilmu Bian-kun atau tangan yang berobah menjadi kapas, mempergunakan sin-kang (tenaga sakti) untuk melawan yang keras dengan yang lunak.
Menghadapi tangan yang lunak itu, Pek-bin Tiat-ciang merasa seolah-olah tangannya seperti besi memukul kapas di udara, sama sekali tidak berbekas. Maka diapun bersilat dengan hati-hati sekali, maklum bahwa wanita itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sambil membentak marah, diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya, tidak lagi berani main-main atau senyum- senyum, melainkan menyerang dengan amat kuat. Angin pukulan bertiup dahsyat ketika Tiat-ciang melakukan serangannya. Akan tetapi wanita itu dengan gerakan indah dapat mengelaksambil mengibaskan tangan menangkis dari samping.
“Rasakan kau!” bentak Tiat-ciang sambil mengeraskan tangannya yang tertangkis, karena sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya yang membuat tangan itu seolah-olah berobah menjadi baja.
“Dukkk...!”
Wanita itu menyeringai menahan jeritnya karena tangannya terasa nyeri bukan main. Rasa nyeri seperti menusuk jantungnya, seolah-olah tulang-tulang tangannya menjadi remuk. Karena rasa nyeri ini, tubuhnya agak terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tiat-ciang untuk menubruk dengan kedua tangan terpentang. Akan tetapi betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dari samping ada angin pukulan menyambar, dan ternyata Tai-lek Hek-wan yang menyerangnya! Hek-wan yang cerdik tidak lama mengambil keputusan dan dia sudah maju membantu tokoh Ang-hong-pai. Dia merasa lebih aman kalau tokoh wanita itu yang menang, maka diapun membantu ketika melihat wanita itu terdesak.
“Plakkk!”
Tangkisan Tiat-ciang membuat tubuh Hek-wan terlempar dan diapun bergulingan sampai jauh. Baru dia berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Kiranya yang menahannya itu adalah mayat si kumis tebal, orang pertama Lam-hai Ngo-houw dan tanpa disengaja dia melihat buntalan madat. Teringatlah dia betapa banyaknya madat itu dan betapa benda itu juga merupakan harta yang amat besar. Mengapa tadi dia lupa sama sekali tentang buntalan madat ini? Cepat dia mengambil buntalan itu dan mengalungkannya ke leher.