Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 13

Memuat...

Tubrukan Hek-wan untuk merampas pedang kemala dengan tangan kiri dan menyerang dengan tangan kanan yang mencengkeram ke arah kepala wanita itu, hanya mengenai tempat kosong saja, karena wanita itu tahu-tahu sudah menyingkir dengan gerak langkah kaki ringan dan aneh, tanpa menghentikan pekerjaannya mengagumi pedang itu! Kembali Hek-wan menubruk, akan tetapi sekali lagi serangannya dielakkan dengan amat mudahnya. Tahulah Tai-lek Hekwan bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang amat pandai, maka untuk ketiga kalinya dia menyerang, sepenuhnya menyerang, bukan seperti tadi perhatiannya dipecah untuk merampas Giok-liong-kiam. Dan serangan seorang bertenaga besar seperti Tai- lek Hek-wan amatlah berbahaya dan agaknya hal inipun diketahui oleh wanita itu yang sudah mengalungkan bungkusan itu di lehernya. Wanita itu bukan hanya mengelak sekarang, melainkan menangkis dari samping.

“Heiiittt...!”

Dan tangkisan tangan yang kecil lunak itu membuat Hek-wan terpelanting kehilangan keseimbangan badannya! Terkejutlah Hek-wan. Dia berhasil melompat bangun.

“Ngo-houw, bantulah!” teriaknya tanpa malu-malu lagi karena kini dia hampir yakin bahwa dia berhadapan dengan lawan yang lebih tinggi tingkat ilmu silatnya.

Lam-hai Ngo-houwyang dipimpin oleh si kumis tebal itupun cepat bergerak mengurung. Mereka melihat betapa Giok-liong-kiam sudah berpindah tangan, maka mereka harus turun tangan membantu Hek-wan untuk merampas benda berharga itu kembali dari tangan wanita berpakaian merah.

Orang ketiga dari Lam-hai Ngo-houw yang berusia tiga puluh lima tahun adalah seorang laki-laki yang mata keranjang. Melihat kecantikan wanita berpakaian merah itu, sejak tadi dia sudah melongo penuh kagum. Kini, sambil mengepung bersama teman-temannya, diapun membujuk,.

“Manis… mengapa seorang cantik seperti engkau membahayakan diri memperebutkan sebuah pedang kemala? Ikutlah aku, dan aku akan membelikan tusuk konde kemala dan barang-barang indah lain, juga engkau akan terlindung dan aman...!”

Sungguh merupakan rayuan yang menggelikan karena pada saat itu, si wanita sedang dikepung dan diancam oleh enam orang laki-laki yang kuat- kuat. Wanita itu agaknya tidak marah mendengar rayuan itu. Melihat betapa lima orang Lam-hai Ngo-houw memasang kuda-kuda dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, sedangkan Tai-lek Hek-wan juga memasang kuda- kuda seperti ilmu Silat Monyet, iapun terkekeh dengan suara yang agak genit. “Hi-hi-hik, seekor lutung dan lima ekor harimau! Tapi kalian bisa berbuat

apa terhadap seekor burung bangau yang dapat terbang?”

Tiba-tiba saja tubuhnya sudah melompat tinggi ke atas dan mulailah ia melancarkan serangan-serangan dari atas dengan kecepatan yang mengejutkan. Sebelum enam orang itu tahu apa yang terjadi, mereka melihat warna merah menyambar-nyambar dari atas dengan totokan-totokan jari tangan yang cepat sekali. Mereka berusaha menangkis dan mengelak, akan tetapi dua di antara Lam-hai Ngo-houw yang kurang cepat mengelak, terkena totokan pada ubun-ubun kepala mereka. Ubun-ubun kepala itu pecah berlubang dan merekapun roboh berkelojotan dan tewas seketika.

Tentu saja tiga orang Lam-hai Ngo-houw terkejut setengah mati melihat robohnya dua orang adik mereka dalam segebrakan saja itu. Mereka berlima merupakan jagoan-jagoan di Kanton yang sudah terkenal dan ditakuti karena ilmu silat mereka yang tinggi. Tentu saja merekapun tahu bahwa banyak orang pandai di dunia ini dan mereka tidak berani mengaku yang paling pandai, akan tetapi dalam segebrakan saja harus kehilangan dua orang saudara yang roboh tewas, hal ini sungguh sukar untuk dapat mereka terima. Apalagi kalau diingat bahwa mereka berlima, bahkan berenam dengan Tai-lek Hek-wan yang mereka tahu juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Biarpun mereka dapat menduga bahwa lawan yang satu ini memang lihai bukan main, namun kemarahan dan sakit hati membuat mereka kehilangan rasa gentar, dan merekapun mengeluarkan suara gerengan-gerengan seperti harimau marah. Gerakan mereka kini semakin ganas dan kedua tangan mereka membentuk cakar harimau dengan kuat sehingga tangan dan jari-jarinya itu seperti telah menjadi kaku dan keras.

Si kumis tebal lebih hebat lagi. Ketika melihat Hek-wan menyerang ganas kepada wanita itu, dibantu oleh dua orang adiknya yang juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang, dia mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat ke atas dan menerkam punggung wanita itu, kedua tangannya yang membentuk cakar harimau itu mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala. Wanita itu terkejut bukan main. Ia sedang menghadapi terjangan Hek-wan dan dua orang Ngo-Houw yang lain, dan tiba-tiba ada angin keras sekali menyambar dari belakang atas!

“Heiiiittt!”

Ia membentak dan mengelak. Tubrukan itu luput akan tetapi terdengar bunyi kain robek dan ternyata buntalan Giok-liong-kiam itu robek dan peti panjang itu terlepas dan jatuh dari pinggang si wanita. Dan sebelum wanita itu dapat mengambilnya kembali, tiga orang Ngo-houw sudah menerjangnya lagi, dan melihat kesempatan ini, Hek-wan yang cerdik sudah bergulingan ke arah Giok-liong-kiam dan sudah berhasil menyambar peti itu! Cepat dia membungkusnya lagi dan menggantungkan di lehernya!

Melihat ini, wanita baju merah itu tentu saja marah bukan main, akan tetapi dalam kemarahannya, ia malah tersenyum-senyum, agaknya sama sekali tidak khawatir akan kehilangan pusaka itu karena ia yakin akan mampu mengalahkan empat orang ini.

“Hemm… kalian masih belum mau menyerah!” bantak wanita baju merah itu sambil tersenyum mengejek.

Akan tetapi karena serangan tiga orang itu benar-benar amat berbahaya, wanita itupun kembali berloncatan ke atas dengan amat lincahnya. Melihat ini, diam-diam Tailek Hek-wan terkejut dan khawatir sekali. Dia adalah seorang yang amat cerdik dan melihat tewasnya dua orang di antara Lam-hai Ngo- houw, diapun maklum bahwa wanita ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh dan amat berbahayalah kalau sampai dia melanjutkan perlawanan. Yang penting adalah menyelamatkan Giok-liong-kiam, pikirnya. Maka, begitu melihat tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah menyerang lagi dan sekali ini serangan mereka penuh dengan rasa dendam sehingga amat hebat, diapun mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri !

Melihat ini, wanita itu berteriak.

“Eh, pengecut, hendak lari kemana engkau?”

Tubuhnya bergerak hendak mengejar, akan tetapi karena tiga orang harimau itu menyerangnya dengan amat ganas, iapun tidak mudah melepaskan diri begitu saja.

“Tikus-tikus tolol, kau mau ditipu lutung itu yang melarikan pusaka, sedangkan kalian dijadikan korban?”

Wanita itu membentak. Bentakan ini agaknya menyadarkan tiga orang Lam-hai Ngo-houw itu. Biarpun mereka mendendam kepada wanita ini untuk kematian dua orang saudara mereka, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berwatak jahat dan amat senang akan harta, maka merekapun seperti disadarkan akan kelicikan Tai-lek Hekwan dan mereka mengendurkan kurungan mereka.

Kesempatan ini dipergunakan oleh si wanita baju merah untuk meloncat, lolos dari kepungan dan mengejar Lutung Hitam. Tiga orang Lam-hai Ngo- houw itupun cepat melakukan pengejaran, mengejar Hek-wan akan tetapi juga mengejar wanita itu.

Tai-lek Hek-wan sudah mengerahkan ilmunya berlari cepat, akan tetapi betapa kaget hatinya ketika tahu-tahu ada bayangan merah berkelebat dan wanita itu sudah menghadang di depannya dengan senyum mengejek. Marahlah Lutung Hitam ini, marah dan juga putus asa, maka dengan nekat diapun menubruk ke depan menyerang wanita yang menghadangnya.

Seperti juga tadi, kecepatan gerakan Lutung Hitam itu tidak ada artinya bagi si wanita baju merah yang ternyata memiliki gerakan lebih cepat lagi. Wanita itu sudah mengelak ke kiri dan tiba-tiba kakinya mencuat dalam sebuah tendangan mengarah perut Hek-wan. Lutung Hitam itu terkejut dan hanya dengan bergulingan menjatuhkan dirinya, dia dapat menyelamatkan perutnya dari ciuman sepatu yang akan membahayakan keselamatannya itu. Akan tetapi pada saat itu, tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah tiba pula di situ, dan dengan marah si kumis tebal menubruk ke arah tubuh Hek-wan yang bergulingan untuk merampas buntalan di punggungnya.

“Dukk!!”

Hek-wan menangkis dan keduanya terpental.

“Sobat, kenapa berbalik menyerangku ? Mari kita keroyok wanita iblis itu. “Pengecut, tak perlu merayu!” bentak si kumis tebal yang terus saja

menyerang lagi dengan marahnya.

Sementara itu, dua orang adiknya sudah mengeroyok si baju merah yang melayani mereka sambil tersenyum simpul karena girang hati wanita itu sudah berhasil membakar hati si kumis tebal. Baginya sesungguhnya sama saja. Andaikata dikeroyok sekalipun, ia yakin akan dapat merobohkan mereka semua. Apalagi sekarang si kumis tebal yang marah dan merupakan orang pertama paling lihai dari Lam-hai Ngo-houw telah menumpahkan kemarahannya kepada Tai-lek Hek-wan, sehingga ia hanya menghadapi dua orang lawan, tentu dianggapnya amat ringan.

Ternyata kekuatan antara si kumis tebal dan Tai- lek Hek-wan seimbang dan selisihnya hanya sedikit saja. Kalau perkelahian itu dilanjutkan, akhirnya si kumis tebal tentu akan kalah. Sudah tiga kali dia terkena pukulan dan tendangan dari Lutung Hitam, akan tetapi ternyata orang pertama dari Lam- hai Ngo-houw itu kuat sekali tubuhnya dan belum juga roboh.

Sementara itu, dengan mudahnya wanita baju merah itu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya dengan totokan-totokan yang membuat kedua lawan itu roboh dengan mata mendelik dan napas putus. Kini wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum lebar, geli dan juga gembira.

Melihat robohnya dua orang lagi, wajah Tai-lek Hek-wan berobah pucat.

Sambil menangkis sebuah pukulan dari si kumis tebal, dia menghardik.

“Tolol! Dua orang adikmu sudah roboh pula, tinggal kita berdua yang terancam maut dan engkau masih menyerangku seperti orang gila?”

Post a Comment