Siapa yang mau membuka mata melihat kenyataan hidup, sesungguhnya tidak ada yang disebut susah atau senang itu, karena susah atau senang itu hanyalah permainan pikiran kita sendiri belaka. Kalau siang dan malam ada, terang dan gelap memang ada. Akan tetapi semua itu tidak ada hubungannya dengan susah atau senang.
Kalau terang tiba, terlalu terang dan terlalu panas, ada akal budi kita yang mendatangkan kecerdasan, membuat kita berteduh dan akal budi telah bekerja sedemikan baiknya sehingga kita mampu membuat es, membuat kipas angin untuk mengatasi panas. Kalau malam tiba, akal budi kita bekerja lagi sehingga muncullah penerangan listrik dan sebagainya. Kalau dingin tiba, kita mempergunakan akal budi kita sehingga kini ada heater, ada tungku dan segala alat pemanas lain seperti pakaian tebal dan sebagainya. Kalau hujan lebat turun dan banjir terjadi, kembali akal budi kita membentuk kecerdasan, membuat kita mencari jalan untuk mengatasi semua itu, dan di sini sama sekali tidak ada senang atau susah!
Jadi apakah senang atau susah sesungguhnya?
Senang itu jelas. Badan kita terasa enak, pikiran dan hati kita terasa lega dan puas, dan timbullah keinginan untuk mengulangi semua pengalaman enak ini yang dinamakan kesenangan. Jadi, pikiran atau ingatan yang mencatat dan menampung pengalaman ini untuk diusahakan pengulangannya. Dan susah itu apa? Kebalikannya saja. Kalau badan kita terasa tidak enak, kalau perasaan dan hati kita merasa kecewa, iba diri dan sebagainya.
Jelaslah, senang dan susah itu hanya permainan batin yang selalu ingin mengulang kesenangan dan menyingkirkan kesusahan, mengejar-ngejar yang enak dan melarikan diri dan yang tidak enak!
Bagaimana kalau kita menghadapi segala hal yang terjadi itu tanpa mengikutkan pikiran yang menciptakan si ‘aku’ yang menimbang-nimbang, menghitung-hitung untung ruginya? Kalau pikiran kita tidak menilai, maka yang bekerja hanyalah kecerdasan akal budi! Tidak ada lagi keluhan, tidak ada lagi mabok kesenangan. Dan kesemuanyapun terjadi dengan wajar. Dan hanya batin yang dapat menghadapi segala sesuatu tanpa penilaian inilah, yang tidak lagi sarat oleh beban untung rugi, batin demikian akan dapat mengenal apa artinya hidup yang sesungguhnya, apa artinya bahagia, apa artinya cinta kasih. Hanya batin yang tidak dibebani oleh keluhan pikiran yang menilai, yang mengeluh, maka batin seperti itu yang akan sungguh-sungguh aktif, penuh perhatian, tidak putus harapan, tidak mencari-cari, tidak mengejar, akan tetapi tidak mandeg, melainkan hidup sepenuhnya dari detik ke detik, dari saat ke saat. Awan yang berarak di angkasa itu nampaknya saja mandeg dan mati, akan tetapi sesungguhnya setiap detik bergerak, berubah, mengikuti keadaan pada saatnya, tanpa menentang, akan tetapi juga tidak mengekor saja.
Berita tentang kematian Gan Seng Bu terdengar luas di dunia kang-ouw. Juga Ong Siu Coan mendengar tentang kematian sutenya. Dia sendiri tidak mencinta sutenya itu, maka tentu saja kematian sutenya itu tidak mendatangkan rasa kesal dalam hatinya, bahkan ada rasa puas karena tadinya dia mengiri terhadap sutenya yang dapat memperisteri Sheila.
Demikian kejinya kebencian kalau sudah bersemi dalam hati seorang manusia. Kebencian membuat orang akan merasa senang dan puas kalau melihat orang yang dibencinya itu celaka! Kebencian ini menghapuskan rasa perikemanusiaan dan dari hati sanubari manusia. Karena itu, bagi seorang bijaksana, dibenci oleh seluruh manusia bukanlah menjadi persoalannya, akan tetapi kalau dia membenci satu orang saja, maka itu merupakan suatu masalah besar yang harus ditanggulangi dan diatasinya.
Akan tetapi yang membuat hati Ong Siu Coan tidak senang adalah ketika mendengar bahwa yang membunuh Gan Seng Bu itu adalah Koan jit, toa- suhengnya! Inilah yang menyakitkan hati. Dan diapun mendengar pula tentang Koan Jit yang kini sudah memperoleh kedudukan terhormat di dalam pasukan marinir Inggeris, bahkan menjadi komandan dari pasukan yang bernama Harimau Terbang.
“Aku tidak boleh kalah oleh Koan Jit,” pikirnya.
“Dan aku harus dapat merampas Giok-liong-kiam dari tangannya. Aku takkan puas sebelum berhasil merampas Giok-liong-kiam itu, dan kalau mungkin membunuh jahanam itu.”
Demikian pikiran Ong Siu Coan. Orang ini memang cerdik sekali. Tidak hanya mengandalkan kepandaian silat seperti mendiang Gan Seng Bu, dia memang berani dan gagah, akan tetapi lebih banyak mempergunakan kecerdikannya, tidak asal berani saja.
Setelah memperhitungkannya dengan cermat, pada suatu hari Ong Siu Coan berjalan-jalan ke pelabuhan Swa-touw, dimana juga menjadi persinggahan kapal-kapal perang Bangsa Inggeris. Sudah berhari-hari dia menyelidiki tempat ini dan melihat betapa Admiral Elliot, orang yang paling berkuasa di seluruh armada Inggeris, suka datang mendarat dan memerintahkan orang-orangnya untuk membangun sebuah benteng di tepi laut. Agaknya tempat itu akan dijadikan benteng oleh marinir kulit putih. Dan diapun melihat betapa di waktu mengaso, para perajurit marinir itu suka berlatih olah raga, ada yang bertinju, ada yang berlatih memainkan bayonet.
Pada siang hari itu, Admiral Elliot sendiri nonton pertandingan adu tinju, dan adu ketangkasan bayonet yang dalam latihan itu diganti dengan kayu biasa. Dari jauh, Ong Siu Coan menonton sambil memperhitungkan apa akan yang dilakukan, hal yang sudah berhari-hari direncanakannya. Ternyata hari itu, yang terpilih sebagai jagoan, baik jago tinju maupun jagoan mempergunakan bayonet, ada enam orang perajurit yang tubuhnya tinggi besar dan atletis. Mereka itu berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun, dan memang mereka ini merupakan jagoan-jagoan dari kesatuan yang baru saja tiba beberapa pekan lamanya di daerah itu.
“Siapa lagi yang berani maju melawan seorang di antara jagoan ini?” kata seorang juru bicara.
Selama ini, Ong Siu Coan yang cerdik sudah banyak mempelajari Bahasa Inggeris sehingga dia mengerti apa yang dikatakan itu, bahkan diapun dapat bicara daam Bahasa Inggeris walaupun tidak begitu fasihnya namun cukup untuk dapat dipakai modal berkomunikasi.
“Boleh aku maju untuk mencoba-coba?”
Tiba-tiba dia melangkah maju ke dalam arena pertandingan itu dan sengaja dia muncul berhadapan dengan Admiral Elliot, sehingga tentu saja mudah nampak oleh pembesar itu. Semua mata menatap ke arahnya, dan sinar mata admiral itu membayangkan keheranan akan tetapi juga ingin tahu sekali. Seorang opsir marinir yang melihat bahwa pemuda itu bukan anggauta di situ, bukan pula pegawai atau kuli pelabuhan, sudah menjadi marah dan dengan muka merah dia mendekati Siu Coan, langsung saja menjotos dengan kepalan tangan kanannya ke arah muka pemuda itu sambil membentak.
“Orang gila, pergilah dari sini!”
Sebagai seorang luar Bangsa Cina yang berani memasuki gelanggang itu untuk menantang dan mengikuti pertandingan, tentu saja dianggap perbuatan orang yang sudah miring otaknya. Pukulan opsir itu keras bukan main, karena dia seorang ahli tinju yang cukup jagoan. Akan tetapi, betapapun cepat dan keras datangnya
pukulan itu, bagi Siu Coan tentu saja nampak lamban sekali dan dengan amat mudah dia mengelak dengan menarik tubuhnya ke belakang dan ke kiri. Melihat betapa pukulannya dapat dielakkan dengan demikian mudahnya oleh orang itu, si Opsir menjadi semakin penasaran.
“Eh, kau berani melawan, ya? Nah, makanlah ini!”
Dan kembali dia memukul, sekali ini pukulan swing, yaitu ayunan dari samping, bukan pukulan straight (langsung) dari depan seperti tadi, dan yang dituju memang mulut Siu Coan, bukan rahang seperti yang biasa dia lakukan dalam permainan tinju. Agaknya saking marahnya, opsir itu dengan pukulan swingnya yang keras ingin membikin rontok semua gigi dalam mulut Sui Coan.
“Wuuuuuttt!”
Angin pukulan itu lewat di depan muka Siu Coan yang kembali sudah berhasil mengelak tanpa menggeser kakinya, hanya dengan ayunan tubuhnya sampai jauh ke belakang.
“Eh, kau benar-benar menantang, ya?”
Opsir itu tentu saja kini menjadi marah bukan main. Dua kali dia menyerang, menyerang dengan sungguh-sungguh dan orang ini seenaknya saja mengelak bahkan menangkispun tidak, seolah-olah pukulan-pukulannya tadi hanya permainan anak-anak belaka. Dan semua ini disaksikan oleh banyak perajurit, dan ceakanya, disaksikan pula oleh Admiral Elliot. Padahal, di antara enam jagoan itu, yang kini memilih juara untuk kenaikan pangkat, belum tentu ada yang akan mampu menandinginya dalam adu tinju. Dengan kemarahan meluap-luap, dia mendesak, kakinya melangkah ke depan dan dia sudah mengirim pukulan upper-cut, yaitu pukulan dari bawah mengarah ke dagu lawan yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat lawan pingsan. Pukulan ini datangnya tiba-tiba dan juga cepat bukan main, agaknya akan sukar untuk dieakkan, kecuali kalau ditangkis.
Akan tetapi, betapapun cepat dan dekatnya serangan itu datang, kembali Siu Coan berhasil mengelak, sekali ini terpaksa melangkahkan kaki depan ke belakang dan upper-cut itu hanya melayang lewat di depan hidungnya saja. Siu Coan terus mundur lagi dua langkah dan berkata, dengan suara satu satu.
“Tuan, dalam peraturan kami para pendekar, mengalah berarti membiarkan lawan menyerang sampai tiga kali. Tuan sudah memukulku sampai tiga kali, harap berhenti, kalau tidak, terpaksa aku akan membela diri dan akan membalas serangan yang keempat.”
Admiral Elliot yang melihat ini, menjadi tertarik sekali. Sebagai seorang admiral, pangkat yang amat tinggi karena dialah yang memimpin seluruh armada yang beroperasi di negeri Cina, tentu saja dia memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak buahnya, walaupun terbatas sebagian besar pada teorinya saja. Dari gerakan-gerakan Sui Coan ketika mengelak tadi, dia dapat menduga bahwa pemuda itu ternyata ‘berisi’. Maka dia merasa tertarik sekali dan ingin menyaksikan apakah benar dalam serangan keempat, pemuda yang bagi seorang Cina cukup jangkung itu akan mampu membalas opsirnya, seorang yang dia tahu cukup tangguh. Opsir itu adalah Sersan Bullbone, seorang yang bertubuh kokoh bagaikan banteng.
Mendengar ucapan Siu Coan itu, sersan tadi malah menjadi semakin berang. Ucapan itu tidak dianggap sebagai orang yang mengalah, melainkan sebagai tantangan.
“Apa? Engkau mau membalas? Boleh, boleh sekali! Memang dalam perkelahian, orang boleh saja membalas.”
Bagaimanapun juga, dia adalah seorang petinju yang juga mengutamakan sportivitas, bahkan dia pikir kalau pemuda itu balas menyerang, dia akan berhasil mencari lowongan untuk memasukkan serangannya.
Setelah berkata demikian, karena tadi Siu Coan mundur, Sersan Bullbone lalu mendesak maju tiga langkah dan kini kedua tangannya yang dikepal sudah melakukan serangan bertubi-tubi, dari kanan kiri, cepat sekali seperti kitiran angin. Akan tetapi sebagai seorang petinju, sasaran pukulan-pukulannya hanyalah dari pinggang ke atas, dan hal ini nampak jelas oleh Sui Coan.
Tiba-tiba Siu Coan merendahkan tubuhnya berjongkok, kakinya menyapu kaki lawannya. Sersan Bullbone terpelanting karena kakinya diserampang oleh kaki Siu Coan yang terlatih keras seperti batangan besi itu.
“Curang! Curang!”
Terdengar teriakan di sana- sini. Siu Coan tidak mengerti arti kata Bahasa Inggeris itu dan diapun sudah mundur lagi dan memandang musuhnya yang kini merangkak bangun.
“Itu tidak boleh kaulakukan!” kata Admiral Elliot yang kini merasa tertarik sekali, mendahului anak buahnya yang agaknya hendak mengeroyok.
Melihat sang admiral sendiri turun tangan mencampuri, semua orang diam tidak berani bergerak.
“Maaf, tuan besar,” kata Siu Coan kepada admiral itu.