Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 120

Memuat...

Akan tetapi Seng Bu sudah siap siaga dengan kuda-kudanya tadi. Dengan gerakan kaki melangkah, ke belakang lalu memutar tubuh, dia mampu menghindarkan diri dan serangan kilat itu. Selagi tubuh lawan turun ke atas tanah, dia sudah membalas dengan serangan Hut-ciang-liap-bhok (Tangan Api Mengejar Kayu). Kedua tangannya itu dengan beruntun menghantam dengan telapak tangan terbuka, bertubi-tubi, dan kedua telapak tangannya itu keluar hawa panas yang dahsyat!

“Hemmm…!”

Koan Jit meloncat ke samping untuk menghindar sambil menangkis dari samping. Seruannya itu terdengar seperti orang mencemoohkan, akan tetapi sebenarnya seruan itu adalah seruan kaget. Tak disangkanya ilmu baru dari sutenya itu sedemikian lihainya.

“Dukk-dukk!”

Dua lengan bertemu dua kali dan akibatnya, tubuh Seng Bu terdororig ke belakang akan tetapi kedudukan kaki Koan Jit juga tergoyah yang membuat tubuhnya bergoyang-goyang. Hal ini saja menunjukkan bahwa tenaga Seng Bu hanya kalah sedikit dibandingkan toa-suhengnya itu.

Koan Jit menjadi marah dan dengan seruan-seruan nyaring dia menyerang terus, menggunakan berbagai ilmu yang tidak dipelajarinya dari Thian-tok agar membingungkan sutenya. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa sutenya itu bukanlah Seng Bu beberapa waktu yang lalu! Selama ini, Seng Bu banyak bergaul dengan pendekar-pendekar patriot, dan dia saling bertukar pandangan tentang ilmu silat dengan teman-temannya. Tentu saja hal ini menambah matang kepandaiannya, dan diapun banyak mengenal ilmu-ilmu silat dari para pendekar. Maka, serangan bertubi-tubi dari Koan Jit itu bukan hanya dapat dielakkan atau ditangkis, bahkan dapat pula dia membalas serangan serangan itu dengan tak kalah hebatnya.

Perkelahian itu berlangsung sampai limapuluh jurus lebih dan amat menegangkan, mengaburkan pandang mata mereka yang kurang ahli saking cepatnya gerakan mereka. Sheila sendiri memandang dengan muka pucat dan mata hampir tak pernah berkedip walaupun ia juga merasa pening dan kabur saking cepatnya dua orang itu bergerak. Ia malah tidak dapat lagi membedakan mana suaminya dan mana lawan, kecuali kalau nampak bayangan hitam yang tentu saja bayangan Koan Jit yang mengenakan jubah hitam. Ia sama sekali tidak tahu apakah suaminya itu mendesak atau terdesak. Juga orang-orang lain memandang penuh ketegangan hati dan diam-diam banyak yang merasa kagum, baik terhadap Koan Jit maupun terhadap Seng Bu.

Yang merasa penasaran adalah Kapten Charles Elliot. Kalau saja orang sepandai Seng Bu itu, yang agaknya memiliki kepandaian yang seimbang dengan Koan Jit, dapat pula menjadi pembantunya, tentu kedudukannya akan lebih kuat lagi.

“Haiiiitttt!”

Tiba-tiba Seng Bu menyerang dengan amat dahsyatnya, mengeluarkan jurus yang amat ampuh dari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, yaitu jurus Hui-cui- pok-cim (Api Air Sambar Logam). Kedua kaki dan tangannya menyambar- nyambar dengan amat ganasnya sehingga Koan Jit terkejut bukan main. Biarpun dia sudah berusaha untuk menghindar dengan jalan mengelak dan menangkis, tetap saja sebuah tendangan menyerempet pahanya, membuat tubuhnya terjengkang.

Koan Jit menggunakan ginkangnya untuk melempar tubuh ke belakang jan- pok-sai (jungkir balik) sampai tiga kali, baru dia dapat berdiri tegak, akan tetapi pahanya terasa nyeri bukan main. Dia menjadi malu, marah dan penasaran. Mukanya yang hitam itu berubah kebiruan dan matanya yang seperti mata kucing itu mencorong.

“Jahanam busuk… sekarang kubunuh kau!” bentaknya sambil menubruk ke depan dengan pukulan-pukulan yang amat ampuh, mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.

Seng Bu mengenal pukulan ampuh, maka diapun menggunakan jurus Hong- cul-toan-bun (Angin Air Menjaga Pintu), sebuah jurus pertahanan yang amat ampuh. Dan benar saja, semua serangan itu dapat dielakkan dan ditangkis dari samping, sehingga kembali serangan lawan gagal.

Koan Jit masih merasa nyeri pada pahanya, maka kembali dia menyerang dengan kedua kakinya yang mengirim tendangan berantai dan kanan kiri. Seng Bu maklum bahwa tendangannya tadi berhasil melukai paha kiri lawan, maka kini melihat betapa lawan dengan nekat menggunakan kedua kaki menendangnya, juga menggunakan kaki kiri, maka cepat dia menggerakkan tangan kanan untuk menghantam ke arah paha kiri lawan yang sudah luka itu. Hampir saja usahanya berhasil, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring dan Seng Bu roboh tersungkur!

Sebutir peluru menembus dadanya! Kiranya, dalam keadaan terdesak tadi, Koan Jit yang luka karena kurang hati-hati dan tadi memandang rendah lawan, menggunakan kecurangannya. Diam- diam, di luar tahu Kapten Elliot, dia telah menyembunyikan sebuah pistol kecil di balik jubahnya, dan ketika dia mengirim serangan tendangan bertubi-tubi tadi, dia hanya memancing perhatian Seng Bu saja, dan tiba-tiba dia sudah mencabut pistol dan menembak dari jarak dekat sekali sehingga Seng Bu yang tidak menyangka sama sekali itu menjadi korban tembakan dan roboh!

“Seng Bu!!!”

Sheila lari menghampiri suaminya. Melihat suaminya terlentang dengan dada berlumuran darah, ia menubruk sambil menangis, menguncang-guncang tubuh suaminya sambil memanggil-manggil namanya.

“Seng Bu, ahhh… Seng Bu, suamiku…”

Seng Bu membuka matanya. Dadanya terasa nyeri bukan main, dan tahulah dia bahwa tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkannya. “Sheila isteriku!”

Dia berbisik dan mengangkat tangannya yang menggigil, mengusap wajah istetinya penuh kasih sayang.

“Seng Bu, ahh… jangan mati, Seng Bu. Jangan tinggalkan isterimu…”

Sheila meratap. Seng Bu tersenyum ketika Sheila menciuminya dan tidak memperdulikan darah yang menempel di bibirnya. Tembakan itu membuat mulutnya berdarah, dan ketika Sheila menciumnya, darah menodai mulut Sheila tanpa dirasakan oleh isterinya itu.

“Sheila, tenanglah… beginikah sikap isteri pejuang, isteri pendekar?”

Sheila teringat dan seketika ia menahan tanyanya. Hanya air matanya bercucuran, akan tetapi ia tidak menangis lagi, tidak mengeluh lagi. Teringat ia betapa banyak isteri yang ditinggal mati suaminya, dan isteri-isteri itu sama sekali tidak menangis, menerima nasib itu dengan tabah, bahkan bangga bahwa suami mereka gugur sebagai patriot sejati.

“Nah, begitu… jangan... jangan antar kematianku dengan air mata, Sheila. Antarlah dengan senyummu… aku ingin melihat senyummu, ingin membawa bayangan senyummu ke sana…”

“Seng Bu!”

Sheila menubruk dan menciumi untuk menyembunyikan air matanya. “Sheila, senyumlah… senyumlah…” Bisikan itu makin melemah.

Sheila mengangkat mukanya dan iapun tersenyum. Senyum yang dapat menghancurkan hati siapa saja yang menyaksikannya. Senyum dengan air mata bercucuran, akan tetapi ia tersenyum, ia memaksa mulutnya untuk tersenyum, senyum manis dengan bibir masih ternoda darah.

“Terima kasih… kau manis sekali… titip… titip anak kita…” dan kepala Seng Bu terkulai di atas pangkuan isterinya.

“Seng Bu…!”

Dan tubuh Sheila juga terguling di atas tubuh suaminya karena ia telah roboh pingsan!

Peristiwa itu menggegerkan dan juga membuat hati Kapten Charles Elliot menjadi bingung. Dia menegur Koan Jit yang mempergunakan pistolnya, akan tetapi tidak memarahinya. Bagaimanapun juga, dia girang bahwa Seng Bu tewas. Pertama, karena memang dia lebih sayang dan percaya kepada Koan Jit. Kedua, dengan kematian Seng Bu, maka Sheila tentu akan kembali kepada bangsanya.

Akan tetapi ternyata kapten ini kecelik! Sheila memperlihatkan sikap keras. Kematian suaminya membuat ia semakin tidak suka kepada bangsanya sendiri. “Aku minta agar jenazah suamiku boleh kubawa ke pedalaman untuk kumakamkan. Juga makam ayah ibuku akan kumakamkan sendiri. Siapa di antara saudara di sana itu yang suka membantuku mengangkut jenazah

suamiku?” tanyanya kepada para kuli pelabuhan.

Dan banyak kuli pelabuhan yang suka menbantu. Dan pada hari itu juga, Sheila meninggalkan Kanton, menunggang kuda membawa jenazah suaminya, diantar oleh beberapa orang kuli pelabuhan. Tentu saja kedatangannya disambut dengan bela sungkawa dan duka oleh para kawan seperjuangan. Jenazah Seng Bu lalu diurus sebaiknya dan dimakamkan dengan penuh penghormatan sebagai seorang pahlawan.

Sheila lalu mengurus pemindahan makam ayah ibunya, dimakamkan dekat dengan makam suaminya, iapun hidup di antara pejuang, menanti kelahiran bayinya.

Hidup ini memang merupakan permainan antara susah dan senang. Agaknya memang sudah semestinya demikian, ada susah tentu ada senang, seperti alunan ombak samudera, tidak hanya ke kiri atau ke kanan saja. Ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada senang ada susah. Tidak ada apa- apa lagi yang perlu dihentikan.

Akan tetapi, kalau kita merenungkan, kita yang diberkahi dengan akal budi ini, yang dapat mengamati semua itu, apakah memang dilahirkan untuk menjadi permainan antara susah dan senang ini? Apakah kita ini dilahirkan untuk menderita susah, menikmati senang hanya sedikit saja, banyak susahnya. kemudian tua, susah lagi karena lemah, dan mati, begitu saja?

Post a Comment