Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 119

Memuat...

Kapten itu memang sudah mengambil keputusan tetap. Koan Jit merupakan seorang tenaga yang amat penting. Sebaliknya, Seng Bu, biarpun seorarig pejuang, adalah suami yang syah dan Sheila Hellway yang bahkan sudah mengandung. Jadi, seorang di antara mereka harus lenyap kalau keduanya tidak dapat bekerja sama.

Koan Jit terkekeh dengan nada suara yang merendahkan sekali. Manusia ini memang amat sombong dan terlalu percaya diri sendiri, apalagi dia memang memiliki keyakinan bahwa bagaimanapun juga, tingkat ilmu kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan Ong Siu Coan atau Gan Seng Bu. Dengan aksinya, dia lalu memberi hormat secara militer dengan mengangkat tangan kanannya ke tepi topi batoknya, hal yang tentu saja lucu karena topinya bukan

topi tentara.

“Siap, kapten. Dengan segala senang hati, aku akan menghajar tikus ini sampai mampus!”

“Baik, kita adakan pertandingan ini dengan seadil-adilnya dan disaksikan oleh pasukan. Diadakan di darat. Pengawal, lepaskan belenggu dan tubuh Gan Seng Bu itu,” perintah Kapten Charles Elliot.

Sheila lari menghampini kapten itu dan membujuk agar suaminya dibebaskan saja dan tidak perlu disuruh berkelahi. Akan tetapi kapten itu menggeleng kepala dan berkata dengan alis berkerut.

“Nona Hellway, engkau tahu sendiri bahwa suamimu dijatuhi tuduhan yang amat berat. Selain menjadi pemberontak pemerintah, juga dia dan kawan- kawannya dituduh menentang bangsa kita. Kalau tidak melihat engkau yang menjadi isterinya, tentu aku tidak perduli lagi dan menyerahkan dia kepada perwira Koan. Akan tetapi mengingat bahwa engkau adalah isterinya, maka aku memberi kesempatan dan kehormatan kepadanya untuk membela diri. Bukankah lebih baik begitu?”

Dengan air mata berlinang, Sheila berkata, “Suamiku adalah seorang patriot, mati baginya bukan, apa-apa kalau hal itu terjadi di waktu dia membela bangsa dan tanah air. Akan tetapi, kalau dia mati... aku… aku…”

Kapten itu dengan simpatik memegang tangan wanita itu.

“Tenanglah. Mati hidup di tangan Tuhan, bukan? Dan kalau memang suamimu sudah menghendaki demikian, ada pilihan apa lagi?”

Sheila merasa tiada gunanya mohon kepada kapten itu, maka iapun lalu menghampiri suaminya yang kini sudah dibebaskan dan belenggu. Mereka saling rangkul dan saling berciuman, seolah-olah hal itu terjadi untuk terakhir kali dan mereka seperti tidak mau saling melepaskan. Melihat adegan ini, Koan Jit menjadi ini dan mendongkol.

“Hel, Gan Seng Bu, engkau ini jantan ataukah banci? Mau bertanding ataukah mau bermain cinta saja? Kalau memang berani, hayo keluar!”

Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar, Koan Jit menuruni tangga kapal dan memasuki sebuah perahu kecil yang membawanya ke daratan.

Mendengar seruan itu, Seng Bu menggandeng tangan isterinya dan juga menuruni tangga kapal, menuju ke sekoci dimana telah menanti selosin orang perajurit bule dengan senapan di tangan. Dia dikawal ke daratan, lalu disusul oleh Kapten Charles Elliot.

Ternyata berita tentang perkelahian itu sudah tersiar sejak tadi. Di daratan sudah berkumpul para serdadu bule juga para pasukan Harimau Terbang yang sudah membuat lingkaran luas, dan tempat itu dikepung oleh pasukan yang juga menjadi penonton. Bahkan kuli-kuli pelabuhan juga berhenti bekerja untuk menonton perkelahian itu. Di antara mereka ada yaag sudah mengenal Gan Seng Bu sebagai seorang pejuang yang gagah perkasa, maka mereka megharapkan agar pendekar ini akan mampu merobohkan Koan Jit yang mereka benci.

“Nona Hellway, apakah tidak lebih baik kalau engkau tinggal saja di kamar dan tidak menyaksikan pertandingan ini?”

Kapten Charles Elliot yang merasa kasihan kepada wanita itu berkata lirih. Akan tetapi Sheila mempererat pegangan tangannya pada lengan suaminya.

“Tidak! Kalah atau menang, aku harus menjadi saksi. Aku ingin melihat suamiku berjuang sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa!” katanya dengan nada suara bangga.

“Tenangkan hatimu, Sheila… dan ingat semua perjanjian kita,” kata Seng Bu dan diapun mencium bibir isterinya untuk yang terakhir kali.

“Tuhan menyertaimu, suamiku.”

Bisik Sheila dengan air mata berlinang. Akan tetapi dengan tabah wanita ini lalu duduk di atas kursi yang disediakan untuknya, di pinggir dan berusaha menekan jantungnya yang berdebar karena tegang. Apalagi ia sebagai isteri orang yang hendak berjuang mati-matian, bahkan di dalam dada semua orang yang nonton pertandingan itupun diliputi ketegangan. Mereka semua sudah tahu betapa lihai dan kejamnya Koan Jit, dan tahu bahwa di dalam perkelahian ini, tentu salah seorang di antara keduanya akan tewas!

Kapten Charles Elliot hendak bertindak adil dalam perkelahian itu, maka melihat betapa Gan Seng Bu sama sekali tidak bersenjata, sebaliknya tadi Koan Jit mengenakan pedang pangkatnya di pinggangnya, diapun berkata.

“Komandan Koan, harap tanggalkan pedangmu itu, karena lawanmu juga tidak membawa pedang.” Koan Jit tersenyum.

“Kapten, aku memakai pedang ini bukan untuk melawannya, melainkan hanya sebagai tanda pangkat saja. Untuk memukul seekor anjing kecil perlu apa menggunakan pedang?”

Setelah berkata demikian, tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu pedang yang tadi bergantung di pinggang, bersama sarungnya telah terlempar ke udara, berputaran seperti terbang kemudian meluncur ke bawah dan menancap bersama bersama sarungnya sampai amblas dalam sekali di pinggiran tempat lingkaran yang menjadi arena perkelahian itu. Melihat demonstrasi kelihaian yang seperti permainan sulap saja ini, beberapa orang bertepuk tangan memuji, tentu saja terutama sekali para anggauta Harimau Terbang yang semua berpihak kepada Koan Jit, komandan mereka.

Koan Jit lalu melangkah maju memasuki lingkaran orang-orang yang duduk di sekeliling tempat itu, dan kembali munculnya ini disambut tempik sorak oleh para anggauta Harimau Terbang.

“Semoga damai dan bahagia selalu menyertaimu, isteriku.” Bisik Seng Bu. “Semoga Tuhan melindungimu, suamiku,” bisik Sheila ketika Gan Seng Bu

minta diri, dan orang muda inipun lalu memasuki lingkaran.

Ternyata banyak pula yang menyambutnya dengan sorakan. Bukan hanya dari para kuli pelabuhan yang semua berpihak kepadanya, akan tetapi juga ada beberapa perajurit bule yang berpihak kepadanya, mungkin karena pendekar ini adalah suami Sheila, atau mungkin karena mereka memang merasa tidak suka kepada Koan Jit. Kemunculan Seng Bu sama sekali tidak mengesankan, seorang pemuda bertubuh tegap yang amat sederhana, seperti seorang petani saja, berbeda dengan Koan Jit yang berpakaian indah.

Dua orang jagoan itu kini saling berhadapan. Lingkaran itu cukup luas, garis tengahnya tidak kurang dan limabelas meter, cukup untuk suatu perkelahian yang bagaimana dasyatpun. Karena maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli silat dan satu sumber, maka diapun tahu bahwa ilmu-ilmu silat yang dipelajaninya dari Thian-tok, tentu semua dikenal baik oleh Koan Jit, bahkan mungkin dia masih kalah matang dalam latihan, mengingat bahwa usia Koan jit dua kali usianya. Akan tetapi dia memiliki ilmu silat andalan yang dilatihnya dengan baik dan gurunya, yaitu Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kun- hoat. Ilmu silat yang berdasarkan Ngo-heng (Lima Unsur) ini memang lihai sekali dan memiliki banyak sekali perubahan-perubahan sesuai dengan kedudukan lima unsur. Bisa panas dasyat seperti api, bisa juga lunak dan dalam seperti air, bisa pula keras dan kuat seperti logam, atau bisa lentur seperti kayu, juga dapat cepat dan halus seperti angin. Karena maklum akan kelihaian lawan, maka Seng Bu segera memasang kuda-kuda dengan kedua kaki berdiri tegak, tangan kiri ke atas dan tangan kanan ke kawah, lutut agak ditekuk. Kuda-kuda ini mengandung dua unsur Angin dan Logam, dapat bergerak cepat sekali dan juga dapat melancarkan pukulan dahsyat dan bawah. Tentu saja dalam pemasangan kuda-kuda ini, dia sudah mengumpulkan tenaga sinkang di seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya. Melihat pemasangan kuda-kuda ini, Koan Jit yang sombong tersenyum mengejek. Dia dapat menduga bahwa tentu lawannya memainkan ilmu yang baru dan suhunya yang belum sempat dipelajarinya, akan tetapi karena sejak kecil dia murid Thian-tok, tentu saja dia mengenal sumbernya yang khas dari Thian-tok. Dia sendiri, selain ilmu-ilmu dan Thian-tok, juga sudah mempelajari banyak sekali ilmu silat yang aneh-aneh, yang membuatnya menjadi lihai bukan main, terutama sekali dia amat hebat dalam ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat tubuhnya seperti dapat terbang saja. Maka, diapun ingin merobohkan lawan mengandalkan ginkangnya.

“Hyaaaattt!”

Tiba-tiba Koan Jit mengeluarkan seruan melengking nyaring. Inilah semacam Sin-houw Ho-kang (Auman Harimau Sakti). Getaran suara ini membuat banyak orang menjadi pening dan cepat menutupi telinga dengan tangan. Akan tatapi karena gerengan itu ditujukan kepada Seng Bu, tentu saja yang paling merasakan daya serangannya adalah orang muda ini. Akan tetapi, diapun sudah mempelajari Sin-houw Ho-kang ini dari Thian-tok, maka dengan pengerahan sinkang, dia mampu menahan diri dan menolak getaran yang mengguncang jantung memekakkan telinga itu.

Tubuh Koan Jit sudah berkelebat lenyap dan tahu-tahu tubuh itu sudah meloncat tinggi ke atas seperti seekor burung garuda dan menyambar turun menyerang ke arah Seng Bu dengan kedua tangan membentuk cakar yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Seng Bu.

Post a Comment