Dia terengah-engah memaki dan keringatnya keluar satu-satu, matanya terbelalak melotot seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat orang yang dibencinya itu. Sheila sendiri juga kaget setengah mati mendengar ancaman itu.
“Apa... usul bantuan apa itu...?” tanyanya gagap karena panik mendengar dirinya akan diperkosa.
Koan Jit tersenyum dan mendekatkan mukanya dengan wajah yang cantik itu. Muak rasanya perut Sheila mencium bau mulut yang busuk dari Koan Jit, agaknya keluar dari giginya yang rusak.
“Nona, suamimu kuminta untuk membantu pemerintah Ceng dan juga menentang para pemberontak dan membantu bangsamu, juga membebaskanmu. Dia akan memperoleh kedudukan tinggi, dihormati, apalagi dia sudah menikah denganmu. Bukankah usul itu baik sekali? Bujuklah agar dia mau, dan aku akan membebaskan suamimu dan membebaskanmu.”
Hebat benar penekanan batin dari Koan Jit itu. Agaknya tidak ada pilihan lain bagi Sheila dan suaminya kecuali menurut. Sheila memandang suaminya, akan tetapi melihat wajah suaminya yang gagah perkasa dan membayangkan semangat perjuangan yang meluap-luap, hati Sheila menjadi kuncup dan ia tidak berani membujuk suaminya untuk menerima usul itu. Ia sendiri tidak setuju kalau suaminya harus menjadi kaki tangan bangsanya yang jelas-jelas mempunyai niat kotor terhadap Bangsa Cina itu, akan tetapi melihat betapa mereka berdua terancam bahaya yang lebih hebat dari pada maut, ia diperkosa di depan suaminya kemudian suaminya disiksa dan dibunuh, rasanya mau ia berkorban dan menerima usul Koan Jit.
“Koan Jit, manusia berwatak iblis! Kalau memang kau gagah perkasa, jangan mengganggu wanita. Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mati tak bernyawa lagi. Dengan begitu barulah engkau seorang gagah, bukan seorang pengecut hina yang namanya akan dikutuk selama hidup.” Seng Bu kembali memaki dengan marah.
“Benar, kami takkan menyerah. Bunuhlah kami, kami adalah orang-orang gagah yang tidak takut mati, tidak seperti engkau ini, berjiwa tikus yang curang!” Sheila juga memaki, terbawa semangatnya oleh sikap suaminya yang gagah perkasa.
Koan Jit bukan orang bodoh. Tadi dia melihat keraguan di wajah Sheila, tanda bahwa wanita itu sudah mau tunduk dan menurut demi menyelamatkan nyawa suaminya dan menyelamatkan diri sendiri. Mungkin gertakannya kurang meyakinkan, pikirnya. Harus mereka ini diberi bukti bahwa ancamannya bukan main main, dan pula melihat mulut yang bibirnya merah basah dan lidahnya yang nampak ketika bicara tadi demikian merah, juga rongga mulut yang segar dengan gigi yang putih seperti mutiara, sudah timbul berahinya.
“Seng Bu, bagaimana kalau isterimu yang cantik ini kucium? Aku ingin sekali menciumnya!”
Berkata demikian, Koan Jit menundukkan mukanya. Sheila terbelalak dan berusaha mengelak dengan membuang mukanya ke kanan kiri, akan tetapi akhirnya mulut Koan Jit dapat menangkap mulutnya dalam sebuah ciuman yang penuh nafsu berahi.
Seng Bu mengerahkan tenaga untuk melepaskan belenggu, sampai pergelangan tangan dan kakinya berdarah karena kulitnya terluka, namun hasilnya sia-sia. Sampai lama Koan Jit mencium dan ketika dia melepaskan ciumannya sambil tersenyum, Sheila terengah-engah dengan muka pucat.
“Bangsat kau, keparat jahanam terkutuk kau...!” ia memaki-maki dan meronta-ronta.
“Bagaimana, Seng Bu, engkau masih tidak mau menyerah dan ingin aku memperkosanya di depan matamu?” Koan Jit mengancam lagi.
Sebelum Seng Bu sempat menjawab, tiba-tiba pintu depan terbuka dan serdadu kulit putih yang tadi mengantar Sheila melangkah masuk. Dari luar dia mendengar suara ribut-ribut dan mendengar pula teriakan Sheila. Ketika dia masuk dan melihat betapa Sheila ditelikung kedua tangannya ke belakang dan dipeluk oleh Koan jit, serdadu itu menjadi marah bukan main. Dia tahu bahwa Koan Jit adalah orang yang sudah dipercaya oleh Kapten Elliot, bahkan memperoleh pangkat perwira. Akan tetapi melihati seorang wanita kulit putih dihina oleh Koan Jit, kemarahannya memuncak. Dengan geram, dia melangkah menghampiri Koan Jit dan membentak.
“Lepaskan nona Hellway!”
Dan diapun menggunakan tangannya untuk menarik lengan Koan Jit yang merangkul pinggang Sheila. Akan tetapi, sambil terkekeh, Koan Jit menggerakkan kakinya menendang dan serdadu itupun terpelanting roboh! Dalam keadaan marah dan penasaran karena Seng Bu belum juga mau tunduk, Koan Jit menjadi pemarah dan dia tidak perduli lagi bahwa yang menentangnya itu adalah seorang kulit putih. Serdadu itupun semakin marah dan diapun meloncat bangun, lalu menerjang dan menerkam Koan Jit.
Koan Jit masih merangkul Sheila sambil mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu dengan tangan kanan. Akan tetapi untuk menghadapi serdadu itu, dia cukup menggunakan tangan kirinya dan kedua kakinya. Kini tangan kirinya menyambar ke depan ketika serdadu itu menubruk dan sekali mencengkeram, dia telah merobek baju seragam si serdadu itu.
“Bretttt!”
Baju itu robek dari leher sampai ke perut. Serdadu itu masih terus memukul, akan tetapi kembali dia terpelanting karena tangan Koan Jit sudah menamparnya. Berkali-kali serdadu yang masih penasaran itu menyerang dengan nekat, akan tetapi hasilnya hanyalah tubuhnya jatuh bangun dan pakaiannya robek-robek, babak belur dan benjot-benjol. Ketika dia masih menyerang lagi, sebuah tendangan membuat dia knocked-out! Dia roboh pingsan tak mampu bangkit kembali.
Kalau Koan Jit menghendaki, tadipun dengan sekali pukul dia sudah akan mampu merobohkan serdadu itu untuk tidak dapat bangkit lagi. Akan tetapi dia tidak bodoh dan tidak mau membunuh seorang serdadu kulit putih, karena hal itu berarti dia mengundang bencana atas dirinya sendiri.
Akan tetapi keributan itu memancing perhatian para serdadu lain dan cepat Kapten Charles Elliot diberitahu. Kapten itu terkejut dan marah, cepat berlari memasuki kamar itu dan mencabut pistolnya ketika dia melihat seorang serdadu kulit putih roboh pingsan dan Koan Jit masih mencengkeram Sheila.
“Koan ciangkun… bebaskan nona Hellway!” Kapten Charles Elliot membentak dengan marah sambil menodongkan pistolnya ke arah dada Koan Jit.
Tentu saja dengan kepandaiannya yang tinggi, Koan Jit tidak gentar menghadapi ancaman pistol itu. Akan tetapi dia tidak bodoh, tidak mau melawan atasannya. Maka sambil menyeringai dengan senyum mengejek, dia mendorong tubuh Sheila sehingga wanita itu terhuyung ke belakang. Sheila lalu berlari menghampiri suaminya dan merangkul suaminya yang masih dibelenggu sambil menangis.
“Kapten,” kata Koan Jit membela diri.
“Kenapa kapten menghalangi aku yang sedang memeriksa tawanan?” “Perwira Koan! Engkau memeriksa tawanan tentu saja boleh, akan tetapi
mengapa engkau memukuli seorang perajurit dan engkau menghina nona Hellway?” bentak komandan itu dengan alis berkerut dan pistolnya masih berada di tangannya, walaupun kini tidak lagi ditodongkan ke arah Koan Jit.
“Kapten, aku sedang memeriksa Seng Bu ketika nona ini datang, dan aku sengaja menangkapnya untuk memaksa Seng Bu agar dia suka membantu dan memperkuat kedudukan kita. Akan tetapi mereka ini malah mengeluarkan kata- kata menghina. Dan sebelum aku selesai dengan pemeriksaanku, datang pula prajurit ini yang menyerangku. Terpaksa aku merobohkannya tanpa melukai berat atau membunuhnya. Harap kapten ketahui bahwa aku melakukan semua ini demi keuntungan kita.
“Bobong!” Tiba-tiba Sheila menjerit dalam Bahasa lnggeris kepada kapten itu. “Dia hendak membunuh suamiku dan hendak memperkosa aku!” Mendengar teriakan Sheila ini, kapten itu terkejut. Kalau begini, urusannya menjadi repot dan gawat. Koan Jit merupakan tenaga yang amat baik, dan Gan Seng Bu memang perlu diperiksa. Dia sudah mendengar bahwa suami Sheila itu adalah seorang pemberontak dan pejuang. Akan tetapi sama sekali dia tidak suka mendengar bahwa untuk memaksa tawanannya, Koan Jit sampai mengancam hendak memperkosa Sheila, seorang wanita kulit putih!
Kapten Charles Elliot lalu menghampiri Seng Bu dan bertanya.
“Orang muda, bukankah perwira Koan mengajukan usul yang amat baik padamu? Engkau membantu kami di sini dan hidup bahagia bersama isterimu di sini. Kenapa menolak?”
“Maaf, kapten. Aku datang hanya mengantar isteriku saja, dan aku mempunyai pendirian sendiri tentang perjuangan. Akan tetapi Koan Jit menangkapku secara curang sekali.”
Kapten Elliot lalu teringat akan satu cara untuk menyelesaikan urusan itu. “Kalau dia tidak menangkap secara curang, akan tetapi kalian bertanding
satu lawan satu, bagaimana?” tanya kapten itu.
“Baik sekali! Aku akan menghadapinya, kapten. Bagi seorang gagah, mati di dalam suatu perkelahian adalah suatu kehormatan! Aku akan melawannya dan biarlah antara kami menentukan siapa yang akan mati dan siapa yang akan hidup.” “Seng Bu!”
Sheila merangkul suaminya dan menangis. Wanita ini sudah banyak mendengar dari suaminya tentang kelihaian Koan Jit dan tentang kecurangannya, maka tentu saja ia sangat khawatir sekali mendengar bahwa suaminya akan diadu dengan manusia iblis itu.
“Sheila, jangan khawatir. Engkau tahu bahwa suamimu ini hidup di dekat bahaya selalu, setiap saat bisa saja tewas dalam pertempuran. Akan tetapi mati dalam perkelahian bagiku merupakan suatu hal yang menggembirakan. Biarlah aku akan berusaha membalas penghinaan atas dirimu tadi, isteriku. Dan andaikata aku kalah dan tewas, engkau sudah tahu apa yang harus kaulakukan, bukan? Kita sudah seririg bicara tentang kemungkinan itu.”
Sheila menahan kesedihan hatinya. Memang, ia tahu hahwa ia telah menikah dengan seorang pejuang yang setiap saat bisa saja menjadi korban perjuangan dan gugur. Dan mereka sudah seringkali bicara di waktu tidur mengenai kemungkinan ini. Kalau suaminya gugur, ia akan merawat kandungannya sampai terlahir, dan mereka sudah sepakat bahwa anak yang akan terlahir itu tidak akan dibawa ke inggeris. Bahkan andaikata ia terpaksa pulang ke inggeris, anak itu akan ditinggalkan di tanah airnya, di negeri Cina dan akan diserahkan kepada kawan-kawan seperjuangan untuk mengasuhnya. Suatu keputusan yang amat berat baginya, namun ia sudah berjanji akan mentaati permintaan suaminya itu.
Sementara itu, Kapten Charles Elliot lalu berpaling kepada Koan Jit. “Bagaimana, perwira Koan? Maukah engkau bertanding melawan dia? Dari
pada ribut-ribut memperebutkan kebenaran, lebih baik diselesaikan melalui kepalan, bukan? Kurasa demikian pendirian para orang gagah di sini.”