Katanya sambil menghela napas, "Untuk urusan lain aku boleh memaafkan dia, cuma tidak pantas ia berlaku kejam terhadap Gi-sin, semalam menjadi suami istri seratus tahun akan selalu terkenang, ikatan batin suami istri laksana lautan dalamnya, mana boleh berlaku culas terhadap isteri sendiri." Thio Ceng Ceng terbungkam seribu bahasa, selang agak lama baru dia berkata pula, "Kejadian sudah berselang demikian lama, kau orang sudah tua, tiba saatnya memaafkan kesalahannya, mungkin karena terpaksa sehingga ayah bertindak begitu, kalau ular beracun mengigit pergelangan tangan, seluruh lengan harus cepat dipotong, kau sebagai orang yang memperdalam ilmu pengobatan, seharusnya lebih paham akan rasa penderitaan dan harus bertindak tegas meski terpaksa." "Sudah tentu aku paham, kalau aku tidak mengerti hal ini, hari itu sudah kupukul mampus dia, masa dia bisa hidup sampai sekarang.
Ai, sudahlah tiba saatnya kutanya kepada bocah itu ada sangkut paut apa dengan kau!
Apa yang telah kalian alami?" Thio Ceng Ceng menunduk jengah.
Melihat kelakuan Thio Ceng Ceng yang malu-malu ini terbayang oleh Soat-lo Thaythay pada waktu Thio Hun-cu menggandeng tangan Gi-sin menghadapnya dulu, waktu itu pun bersikap demikian.
Kenangan lama kembali terbayang dalam kelopak matanya, hanya generasi mendatang yang akan mengulang kejadian pahit yang sudah berselang itu.
ooooo0000ooooo Kembang mekar untuk rontok pula, setahun sudah berselang.
Satu-satunya jalan pegunungan untuk keluar dari Soat-sinkok sudah tertutup salju, Soat-lo Thay-thay Lim Keng-hong menyatakan akan menemani putrinya yang sudah sembuh yaitu Soat Gi-sin menetap selamanya di dalam Soat-sin kok, selama hidup ini mereka tidak akan berkecimpung di dunia ramai.
Ilmu silat dan ilmu pengobatan yang dia miliki dengan tekun dan teliti ia ajarkan kepada Thio Ceng Ceng, tapi dengan satu syarat, yaitu harus membawa pulang batok kepala Khong Ling-ling.
Kepandaian Khong Ling-ling adalah buah didiknya, perbuatan Khong Ling-ling yang berani membokong guru sendiri secara durhaka ini, sudah gamblang, bahwa gadis itu berhawa culas dan kejam.
Kalau manusia jahat seperti dia tetap hidup di dunia ini tentu akan membawa bencana bagi kehidupan manusia.
Tiada alasan bagi Hwi-thian-ya-ce Peng Kiok-jin untuk tetap tinggal di atas gunung, terpaksa ia ikut turun gunung berkecimpung pula di kalangan Kangouw.
Sungguh haru dan rawan pula hatinya, dalam sanubarinya masih menyimpan rahasia, rahasia hubungan dirinya dengan Bing-tho-ling-cu Tokko Bing, sudah berulang kali ia menyirap asal usul kematian Tokko Bing kepada Koan San-gwat, tapi jawaban Koan San-gwat sukar dipercaya.
Agaknya mengemban perasaan berat juga.
Dua kali ia muncul kedua-duanya menggetarkan dunia persilatan, padahal ia hanya muncul seperti bintang di langit yang kelap kelip.
Di kala menatap mata Thio Ceng-Ceng yang cemerlang dan lembut itulah baru rona wajahnya mengunjuk tawa yang lebar, itulah tawa persahabatan, tawa yang mengandung rasa terima kasih, haru dan mesra.
Sudah dua kali ia hampir menemui ajal tapi dua kali ditolong oleh Thio Ceng-Ceng, adalah jamak kalau dia sangat berterima kasih dan merasa berhutang budi pula.
Hidupnya memang sebatangkara, tiada kakak tiada adik, hanya Thio Ceng Ceng saja sahabat terdekat, maka timbullah dua perasaan bertentangan di dalam sanubarinya.
Pemuda ini bersikap dingin, tiada perasaan mesra terhadap hubungan muda-mudi, kalau hanya hubungan kental antar persaudaraan, dapatkah memuaskan nurani Thio Ceng Ceng" Persoalan ini sulit dijawab.
Sikap Thio Ceng Ceng terhadap Koan San-gwat tetap mesra, lincah, jenaka, penuh gairah dan cinta kasih pula, senang sama diresapi, duka sama dirasakan.
Cuma dalam batin ia mencurahkan perasaan hatinya, belum pernah secara lahiriah memohon sesuatu kepadanya!
Mungkin dia bersikap menunggu, menunggu rona wajah yang kaku dan dingin itu suatu ketika akan cerah dan penuh semangat.
Begitulah, dari barat mereka menuju ke timur langsung memasuki Tionggoan, selama perjalanan itu sedikitpun tidak menarik perhatian kaum persilatan.
Maklum Hwi-thian-ya-ce sudah lama menyembunyikan diri, kaum persilatan sudah lama melupakan dia.
Thio Ceng Ceng hanya seorang gadis yang kelihatan hijau, hanya Koan Sangwat pernah menggemparkan Bulim setahun yang lalu, apakah kaum persilatan sudah lama melupakan dia juga" Kiranya tidak mungkin atau mungkin kaum persilatan mengira dia sudah mati.
Dalam rumah makan pada sebuah perkampungan, agar mendengar percakapan kaum perdagangan atau para Busu dari perusahaan Piawkiok, sungguh tidak nyana bahwa setahun ini kehidupan di kalangan Kangouw ternyata tenteram sentosa.
Sejak Khong Bun thong mati, Khong Bun-ki pun mati menghilangkan, mengundurkan diri percaturan dunia persilatan, agaknya Khong Ling Ling pun belum pernah pulang ke kampung halamannya, kalau tidak masa sedikitpun tidak terdengar kabar beritanya.
Hari ini mereka tiba di luar kota Ciu-coan.
Sebagai kota penting yang menjadi pusat perdagangan antar kota utara dan selatan, kota ini lebih ramai, tempat singgah bagi para pedagang dan kelana Kangouw.
Koan San-gwat bertiga duduk di barak ujung utara, mereka makan gulai dan sate kambing, gegares hidangan mereka pasang kuping dan diam-diam memperhatikan gerak-gerik para tamu yang hilir mudik di sekitarnya, jelas tentang situasi kalangan Kangouw selama setahun belakangan ini.
Tapi mereka agak kecewa, karena orang-orang yang singgah di sini dari kaum persilatan tingkat rendah melul.
Kata-katanya kasar, suka jual lagak lagi.
Syukur sejak kecil Thio Ceng Ceng sudah biasa bercampur baur dengan para gembala di padang pasir, sehingga ia tidak merasa rikuh akan kelakuan kasar dan perkataan kotor itu.
Demikian juga usia Peng-toanio sudah cukup lanjut, tidak jadi soal mendengar ucapan yang menusuk perasaan orang lain.
Koan San-gwat risi dan kikuk merasa dongkol pula, tapi orang bebas bersenda gurau atau mengumpat caci orang lain tanpa menyinggung dirinya.
Di saat ia merasa sebal dan tidak sabar lagi, dari arah timur didengarnya derap langkah kuda ramai, puluhan laki-laki yang datang itu berlumuran darah, ternyata kuping kiri mereka terpotong hilang diiris orang.
Kedatangan puluhan laki-laki yang ini membuat orangorang barak itu kesima, hening sesaat lamanya.
Mereka mengawasi para laki-laki yang kehilangan sebelah kupingnya itu.
Seorang laki-laki yang kelihatannya pemimpin mereka berteriak, "Tiam-keh!