Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 21

Memuat...

Kalau Gi-sin bisa pindah ke tempat yang lebih hangat dan dalam suasana yang riang gembira, mungkin bisa membawa manfaat bagi dirinya"." Lim Keng-hong tertawa dingin, "Kalau begitu ilmu pengobatanmu jauh lebih tinggi dan lihay dari ayahnya".?" "Soal pengobatan Siautit tidak berani mengagulkan diri.

Ilmu pengobatan paman Soat memang teramat dalam dan luas sekali, betapapun Siautit tak mampu menandingi beliau.

Cuma mengenai penyakit turunan yang jahat itu, agaknya paman Soat belum pernah mengadakan eksperimen lainnya yang berguna, maka berdasarkan kemungkinan yang tertera di atas ajaran teorinya"." Tiba-tiba Lim Keng-hong menggebrak meja dan berseru gusar, "Jangan kau bicarakan teori dengan aku, di dalam hal ini aku jauh lebih jelas dan paham dari kau, selama beberapa keturunan keluarga Soat sengaja menetap di tempat tinggi di atas alam pegunungan memangnya kau anggap tiada sebabnya, anggap saja teorimu itu memang masuk di akal, bagaimana pun juga Gi-sin tidak boleh ikut kau keluar dari tempat ini, apakah kau tahu bahwa keluarga Soat masih punya perundang-undangan lainnya?" Cepat Soat Gi-sin menyela, "Bu, aku pernah jelaskan kepadanya, menurut pandangannya sedikitpun aku tidak akan melanggar larangan kakek moyang kita." "O, cara bagaimana kau beri penjelasan, coba kau katakan!" Thio Hun-cu segera menjawab, "Menurut undang-undang leluhur, keluarga Soat tidak melarang keturunannya meninggalkan lembah ini, tapi Gi-sin justru tidak terkekang oleh larangan ini"." "Anggapanmu dia bukan keturunan keluarga Soat?" seru Lim Keng-hong marah.

Thio Hun-cu tertawa ewa, sahutnya, "Tentu sekarang, benar, tapi setelah dia menikah dan ikut aku, dia bukan she Soat lagi"." Semakin beringas wajah Lim Keng-hong, tanyanya kepada Soat Gi-sin, "Apakah kaupun berpikir demikian?" Dengan menekan suara Soat Gi-sin menyahut pelan-pelan, "Peraturan leluhur tidak melarang anak putrinya dengan orang luar, bukankah dulu sudah ada contohnya?" "Lain dulu lain sekarang, kini keluarga Soat hanya punya kau seorang keturunan, setelah kau menikah dengan orang luar, apakah untuk selanjutnya keluarga she Soat harus putus turunan" Di waktu kau menyetujui lamarannya, apakah kau pernah pikirkan hal ini?" Soat Gi-sin menunduk dan tidak bersuara lagi.

Tak tahan Thio Hun-cu berkata, "Kalau begitu, selamanya Gi-sin tidak bisa menikah dengan orang!

Selamanya akan hidup menyendiri dan menyepi di dalam lembah yang dingin dan sebatangkara"." "Benar!

Selamanya tidak boleh menikah dengan orang luar," bentak Lim Keng-hong.

"Tapi dia tidak akan sebatangkara untuk selamanya, kalau tidak masa aku mau merestui pernikahan kalian, apakah kalian tahu makna dari pernikahan itu?" Thio Hun-cu berpikir sebentar lalu menjawab, "Siau-tit paham, maksud Pekbo adalah ingin Siau-tit menjadi menantu keluarga Soat dan menetap di sini!" Lim Keng-hong manggut-manggut, ujarnya, "Benar!

Itulah cara satu-satunya untuk menyambung keturunan keluarga Soat.

Kalau kau benar-benar mencintai Gi-sin, maka sudah sepatutnya berani berkorban bagi dia"." Thio Hun-cu termenung sebentar lalu menyahut dengan tegas, "Untuk hal ini mungkin Siau-tit tidak bisa menurut.

Siau-tit hidup sebatangkara tanpa sanak kadang, kalau aku harus memenuhi peraturan dan menyambung keturunan keluarga Soat, apakah aku tidak boleh menyambung keturunan keluarga Thio kita" Bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada leluhurku?" "Hun-cu!" saking gugup Gi-sin menangis sesenggukan.

"Apa kau tidak sudi berkorban demi kepentinganku?" Thio Hun-cu tertawa getir, katanya, "Gi-sin, kenapa kaupun bisa berpikir demikian?" Soat-lo Thay-thay terlongong sebentar, mendadak ia menangis sesambatan sambil menutupi mukanya.

Thio Hun-cu membanting kaki dan menghela napas panjang.

Lim Keng-hong tidak tega melihat putrinya menangis sedemikian sedihnya, akhirnya ia berkata kepada Thio Hun-cu, "Kenapa kau begitu kukuh!

Aku bukan orang yang egois untuk memaksa kau meninggalkan marga leluhurmu, tapi Gi-sin punya kesukaran yang lebih berat dari kau, dia terkekang oleh larangan leluhur.

Asal kalian dapat melahirkan dua anak, satu orang satu keluarga bukankah kedua belah pihak sama-sama memperoleh keuntungan?" Tapi dengan keras kepala Thio Hun-cu menggeleng, katanya, "Tidak mungkin!

Kalau Gi-sin tetap tinggal di tempat ini, penyakitnya selamanya tidak akan bisa sembuh, keturunan keluarga Soat kalian akan selalu tunggal, seolah-olah sudah menjadi tradisi, dia tidak akan mungkin memperoleh anak lebih banyak, kecuali dia meninggalkan tempat ini." "Kalau dia meninggalkan lembah ini berarti melanggar pantangan leluhur, maka selamanya tidak terhitung keturunan keluarga Soat kita, meski kalian dapat beranak selusin juga tidak diperbolehkan masuk menjadi keluarga Soat"." Karena adanya alasan-alasan kuat dari kedua belah pihak yang sama dikukuhi, sebuah perkawinan yang semestinya membawa kebahagiaan nampaknya bakal gagal total.

Dengan penasaran dan hampa, Thio Hun-cu meninggalkan Kun Lunsan, tapi dua hari kemudian Soat-sin-kok menjadi geger karena Soat Gi-sin ternyata minggat.

-oo0dw0oo- Jilid 5 GADIS PINGITAN yang sejak kecil biasa hidup di alam pegunungan bersalju, tak kuasa menahan gejolak asmara lalu mengejar kekasih yang didambakannya setiap hari, lupa akan ajaran leluhur, tanpa menghiraukan kesedihan ibunya, jauh ribuan li ia menyusul ke Thian-san utara, mereka melangsungkan pernikahan dan selanjutnya hidup sebagai suami istri dan sering berkelana di padang rumput.

Semula Lim Keng-hong sangat murka, secara diam-diam iapun menyusul ke padang rumput, menurut rencana semula ia hendak bunuh kedua muda mudi yang dianggapnya terlalu kurang ajar ini.

Tapi begitu ia melihat wajah Soat Gi-sin yang bercahaya dan penuh diliputi rasa bahagia yang berlimpahlimpah, niatnya jadi luluh.

Maklum adanya ikatan cinta kasih seorang ibunda terhadap putrinya, terpaksa ia memaafkan mereka, secara diam-diam pula ia kembali ke Kun-lun-san.

Sang waktu berjalan cepat bagai aliran air takkan kembali lagi, tanpa terasa dua tahun sudah berselang, hawa padang rumput yang panas memang banyak memberikan perubahan terhadap penyakit Gi-sin, selama itu ia tetap hidup dengan sehat walafiat, malah sudah mengandung.

Lahirnya kelihatan Lim Keng-hong itu telah melupakan mereka, namun secara diam-diam sering datang menjenguk mereka, terutama di saat Gi-sin hendak melahirkan oroknya hampir tiba, setiap hari beberapa kali dengan sembunyisembunyi ia tengok keadaan putrinya.

Karena ilmu silatnya lihay, pergi datang tidak meninggalkan bekas, sepasang suami istri yang dilingkupi rasa bahagia itu sedikit pun tidak tahu menahu.

Gi-sin melahirkan seorang putri, kehidupan sehari-hari bertambah bahagia semanis gula, penuh diliputi kasih mesra.

Semua kehidupan manusia dalam dunia ini memang tiada yang abadi, tiada sesuatu yang tidak pernah berubah, di kala putrinya itu Ceng Ceng menanjak satu tahun, bibit penyakit dalam tubuh Soat Gi-sin mulai kambuh, memang itulah penyakit khusus dari turunan keluarga Soat, suhu badannya berubah sedemikian tinggi, setiap hari mulutnya mengigau, seolah-olah jiwa raganya sedang digembleng dalam keadaan kepanasan yang luar biasa.

Thio Hun-cu menggunakan kepandaian ilmu pengobatannya berusaha menyembuhkan istri tercinta, segala obat mujarab sudah dia gunakan, betapapun sulit usahanya ia tetap tidak putus asa, akhirnya jerih payahnya ternyata berhasil dengan menggembirakan.

Jiwa Soat Gi-sin dapat direnggut kembali dari elmaut.

tapi suhu badannya terlalu tinggi hingga ingatannya menjadi kabur, dan celakanya selebar mukanya yang semula cantik molek itu timbul bisul-bisul yang membusuk dan berubah sangat menakutkan.

Suatu ketika ingatannya agak jernih, teringat kepada putrinya, Ceng Ceng yang sudah berusia setahun, bocah cilik itu ternyata punya perasaan tajam, melihat wajah ibunya yang semenakutkan itu ia menjerit keras terus jatuh pingsan, jeritan keras ini memukul batin Gi-sin, kesadarannya menjadi semakin kabur, Gi-sin akhirnya sinting ia mendadak maju hendak mencekik putrinya yang pingsan, untung Thio Hun-cu keburu mencegah perbuatan gilanya tapi Gi-sin sudah gila betul-betul suami sendiri pun tidak kenal lagi.

Mereka berkelahi kekuatannya luar biasa sampai Thio Hun-cu terdesak tidak kuat lagi melawan, suatu ketika pinggangnya dipeluk kencangkencang hingga susah bernapas, dalam seribu kerepotannya cepat ia tutuk jalan darah penting di bawah tenggorokan Soat Gi-sin, syukur peristiwa yang menegangkan urat syaraf ini dapat dihentikan.

Thio Hun cu tahu bahwa penyakit gila tidak dapat disembuhkan, demi keselamatan putrinya, terpaksa dia harus dibunuh, supaya bebas dari penderitaan hidup yang tidak wajar ini.

Di saat ia hendak turun tangan itulah, Lim Keng-hong yang sembunyi itu menerobos ke luar merintangi tindakannya.

Timbul perdebatan dan adu mulut yang seru, akhirnya ia semaput oleh pukulan Lim Keng-hong, selanjutnya Gi-sin dibawa pulang ke puncak Kun-lun-san.

Tutukan Thio Hun-cu sangat berat, meskipun Soat Gi-gin tidak mati tapi sekarat, kecuali berteriak-teriak sekejappun tidak mampu bicara lagi.

Karena perobahan hebat ini, perangai Lim Keng-hong menjali nyentrik, timbul perasaan dendam yang tidak terlampias selama hidupnya terhadap Thio Hun-cu.

Kehidupan di atas pegunungan memang sunyi sepi, akhirnya dia menerima seorang murid perempuan kecil, dia bukan lain adalah Khong Ling-ling.

Di bawah perawatannya yang tekun dan hati-hati, penyakit gila Gi-sin kadang-kadang kumat kadang-kadang baik, dengan segala daya upaya Lim Keng-hong tetap tidak berhasil menyembuhkan penyakit gila itu, tidak mampu pula membuatnya bicara.

Waktu berjalan cepat, tahu-tahu dua puluh tahun sudah berlalu.

Lim Keng-hong berubah jadi nenek tua, ilmu pengobatan dan kepandaian silatnya jauh lebih maju, tabiatnya juga semakin jelek, kecuali Hwi-thian-ya-ce, siapapun dilarang memasuki Soat-sin-kok.

Di saat Thio Ceng Ceng membawa Koan San-gwat datang, pemuda yang terkena racun aneh itu menarik perhatian, ia mau mengobatinya tapi setelah melihat wajah Thio Ceng Ceng yang mirip ayahnya itu, membuat dia ingat akan dendam lama, maka dia melarang Ceng Ceng ikut masuk ke dalam lembah kediamannya.

Siapa tahu Thio Ceog Ceng diselundupkan ke dalam Soatsinkok oleh Peng-toanio, maka jadilah bentrokan dengan Khong Ling-ling, dalam saat-saat berbahaya itu, mungkin karena ada hubungan batin serta cinta ibu ter hadap anak, keributan itu menarik perhatian Gi-sin yang disekap dalam sebuah kamar tersendiri.

Saking kejut dan kegirangan karena Gi-sin yang terluka dan dapat bicara, Soat-lo Thay-thay lupa diri, dia hajar Khong Ling-ling yang sebelumnya ini tidak pernah terjadi.

Maka terjadilah peristiwa yang telah dituturkan di atas.

ooooo00000000oooooo Thio Ceng Ceng mendengar cerita ini dengan terlongong dan kesima, tanpa merasa air mata meleleh di kedua pipinya, katanya sambil sesenggukan, "Lolo!

Kalau begini apakah tindakanmu tidak terlalu kejam terhadap ayah".?" Bertaut alis Soat-lo Thay-thay, agaknya hampir marah lagi, tapi ia urung mengumbar adat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment