Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 18

Memuat...

Ceng-jii".

Ceng".ji"." Sekarang tidak lagi bertahan ia malah balas menyerang Khong Ling-ling dengan nekad dan beringas, rasa sakit badannya sudah terlupakan sama sekali, tenaganyapun berlimpah ruah, dengan serangan membadai ia desak mundur Khong Ling-ling.

Sudah tentu Khong Ling-ling amat marah, mendadak ia menghardik keras, permainan pukulannya juga berubah, kedua telapak tangannya seperti kupu menari-nari, gerak tipu silatnya sangat aneh dan lucu, puluhan jurus kemudian dada perempuan gila itu kena digaploknya sekali.

Pukulan ini cukup berat seketika perempuan gila itu terkapar roboh mulutnya menyemburkan darah segar dan tidak mampu merangkak bangun lagi.

Agaknya Khong Ling-ling bekerja tidak kepalang tanggung, ia memburu sambil angkat tangannya menepuk ke batok kepala orang, di kejauhan didengarnya sebuah bentakan keras, "Tahan!

Mana boleh kau melukainya sedemikian rupa!?" Khong Ling-ling segera urungkan niatnya, lalu melesat datang sesosok bayangan secepat terbang, seorang nenek tua beruban mendatang tiba, tangannya mencekal sebuah tongkat hitam yang mengkilap, dengan keras ia ketukkan tongkatnya ke tanah serta bentaknya, "Ling-ling" Sungguh besar nyalimu!

Berani kau melukai orang di dalam lembah ini?" Khong Ling-ling kelihatan takut, tapi masih membandel, katanya menuding Thio Ceng Ceng, "Suhu!

Peng Kiok-jin berani melanggar pantanganmu membawa perempuan ini ke dalam lembah, Tecu ingat pesanmu, di saat hendak kubunuh mereka"." Tongkat di tangan nenek beruban diketukkan lagi, semprotnya gusar, "Bukankah sudah kukatakan berulang kali, bukan sebenarnya aku ingin kau benar-benar melaksanakan perintahku, Soat-sin-kok kediamanku ini selamanya belum pernah berlepotan darah, tapi ternyata kau berani mengumbar adat di sini." Khong Ling-ling jadi melengak, cepat berkata, "Tecu tidak tahu maksud Suhu yang sebenamya, maka aku bekerja secara patuh, Untung Peng Kiok-jin tidak mati, cuma kututuk jalan darahnya, sebenarnya Tecu tidak ingin membuatnya susah".!" "Tidak membuatnya susah, lalu kau gunakan Hun kin-Johkut menghadapinya.

Di kala aku menurunkan ilmu itu kepada kau, apa yang telah kupesan kepada kau?" Khong Ling-ling semakin gugup dan gelagapan, sahutnya, "Soalnya ia kurang ajar dan bermulut koror, menyinggung kau"." "Kau bohong!" Thio Ceng Ceng berteriak, "Dia berlaku sangat hormat kepada Lo thay-thay, soalnya kau merasa dengki terhadap dia baru kau turun tangan sedemikian keji!" Kali ini Khong Ling-ling cuma mengerling tajam ke arah Thio Ceng Ceng tidak mengumbar adat di hadapan si nenek tua, si nenek tuapun tidak memberi reaksi, lekas ia berjongkok memeriksa luka-luka perempuan gila itu, berselang agak lama baru dia membentak lagi dengan bengis, "Perkara lainnya sih boleh dibikin habis, tapi kenapa kau berani gunakan Jong-jiehoat untuk melukainya?" "Waktu tecu hendak bunuh gadis itu, entah darimana si gila ini mendadak menyerang aku"." Belum habis Khong Ling-ling bicara, nenek tua itu cepat angkat tongkatnya menghajar pantatnya, dengan keras, kontan Khong Ling-ling tersungkur jatuh ke depan.

"Keparat!" teriak si nenek dengan amarah yang meluapluap, "Berani kau memanggil "si gila" kepadanya".?" Saking kesakitan Khong Ling-ling berguling di tanah, tapi ia tidak berani merangkak bangun, dengan sesenggukan ia menjawab, "Tecu tak tahu harus memanggil apa, terpaksa mengikuti Suhu"." "Aku boleh memanggil demikian, tapi kau tidak.

Kau tahu siapa dia?" "Tecu tidak tahu, Suhu belum pernah menjelaskan"." "Dia adalah putriku, putri tunggalku satu-satunya"." Berubah hebat air muka Khong Ling-ling, sedemikian kaget dan herannya, seketika tangisnya pun berhenti, katanya tersekat, "Tecu betul-betul tidak tahu." "Sudah!

Hayo pulang, menggelindinglah ke kamar obat, tanpa ijinku kularang kau ke luar!" Dengan terserot-serot Khong Ling-ling merangkak bangun terus mengeluyur pergi tanpa berani bertingkah lagi.

Thio Ceng Ceng keheranan, ia tahu bahwa nenek tua ini pasti Soat-lo Thay-thay adanya, hanya ia tidak menduga perempuan gila itu adalah putrinya, baru saja ia hendak bicara, nenek tua itu sudah membebaskan tutukan Pengtoanio, dengan keripuhan Peng-toanio berkata gagap, "Lo Thay-thay, aku"." "Sudahlah!

Aku tahu semuanya, aku tak salahkan kau!

" ujar si nenek sambil mengulapkan tangan.

Peng-toanio kelihatan lega, cepat ia angkar tangan ke arah Thio Ceng Ceng, maksudnya supaya dia maju memberi hormat kepada Soat-lo Thay-thay, tak nyana si nenek sudah memutar tubuh dan berjongkok pula di samping tubuh perempuan gila itu, tangannya mengurut-ngurut dan menutuk berkali-kali, mulutnya berkata halus, "Sin-ji, bagaimana Perasaanmu" Kenapa kau ngeloyor keluar dari kamarmu?" Setelah diurut pelan-pelan, perempuan itu siuman, masih menggumam, "Ceng ji".

Ceng-ji"." Si nenek jadi haru dan kegirangan pula, "Sin-ji!

Kau sudah bisa bicara lagi!

Oh!

sungguh menggirangkan"." Pandangan perempuan gila itu mendelong, air mata mulai berlinang di kelopak matanya, katanya dengan suara gemetar, "Sin-ji Kau sudah bisa menangis!

Tuhan sungguh maha pengasih, ternyata penyakitmu bisa sembuh!

Nak, sungguh kasihan kau"." Mulut perempuan gila itu gemetar, agaknya ingin bicara apa, tapi si nenek cepat berseru, "Sin-ji!

Panggil ibu, nak!

Sudah dua puluh tahun kau tidak pernah memanggil aku "." Air matanya semakin deras meleleh keluar, mulut perempuan gila itupun semakin jelas mengeluarkan suara yang lemah, "Bu".

aku".

Ceng-ji"." Mendengar perempuan gila itu selalu memanggil namanya, Thio Ceng Ceng heran dan tidak mengerti, tapi cepat-cepat si nenek menutuk jalan darahnya hingga pingsan, pelan-pelan ia bangkit berdiri, katanya kepada Thio Ceng Ceng, "Bopong ibumu dan ikut aku!" "Dia".

adalah ibuku".?" Mandadak si nenek mengunjuk rasa marah teriaknya gusar, "Kalian ayah beranak menganiayanya sedemikian rupa, terutama bapakmu yang durhaka dan durjana itu, bila dia berani datang kemari, pasti kugecek hancur leburkan tubuhnya." Thio Ceng Ceng menjublek di tempatnya, ia jadi berdiri kaku dengan mendelong sungguh perasaannya goncang oleh berita ini.

Menurut cerita ayahnya, bahwa sejak lama ibunya sudah meningga1, kenapa sekarang muncul lagi seorang yang katanya adalah ibu kandungnya" Melihat dia terlongo, si nenek berteriak lagi dengan marahmarah, " Hayo lekas, apa kau jijik karena mukanya jelek atau tidak setimpal menjadi ibumu".?" Melihat muka si nenek membasmi kaku, Thio Ceng Ceng tidak berani banyak bicara, lekas ia memayang tubuh perempuan gila itu serta mengintil di belakang si nenek, Pengtoanio juga mengekor di belakangnya.

Di kala bayangan mereka sudah menghilang di kejauhan sana, Koan San-gwat masih berdiri mematung seperti orang linglung, segala kejadian yang berada di sekitar dirinya seperti tidak didengar dan dilihat.

Tidak terpikir olehnya bahwa peristiwa yang baru saja berlangsung ini justru bakal menentukan jalan hidup dan terikat erat dengan jalan hidupnya selanjutnya.

ooo000ooo Sambil membopong perempuan gila itu, berbagai pertanyaan dan kecurigaan berkecamuk dalam benak Thio Ceng Ceng, begitulah tanpa bersuara ia mengikuti langkah Soat-lo Thay-thay mendahului masuk ke rumah yang berada di tengah, tangannya menuding sebuah dipan, katanya, "Rebahkan ibumu, duduklah di samping menunggui, akan kupersiapkan segala keperluan, sekarang juga mulai kuobati.

Inilah kesempatan terakhir untuk menyembuhkan kesehatan ibumu, maka kau harus tabah dan tenang." Habis berkata tanpa menunggu reaksi atau jawaban terus tinggal pergi ke balik kamar lain.

"Nona Thio!" Peng-toanio maju mendekat, serta bertanya dengan penuh keheranan, "Apakah benar orang ini ibumu" Kalau demikian jadi Soat-lo Thay-thay adalah nenekmu!" Thio Ceng Ceng menggeleng kepala tanda tidak mengerti, katanya, "Aku sendiri tidak tahu akan kebenarannya, sejak aku berpikir belum pernah kulihat ibuku, menurut ayah katanya ibu sudah mati sejak aku masih kecil, maka soal ini"." "Tapi perkataan Soat-lo Thay-thay tidak akan meleset, diantara kalian tentu ada latar belakangnya yang berselukbeluk amat rumit.

Sudah lama orang ini berada di atas gunung.

karena tidak bisa bicara dan ingatannya rada terganggu, maka Soat-lo Thay-thay lantas mengurungnya dalam sebuah kamar, baru tadi aku tahu bahwa dia adalah putri tunggal Lo-Thay-thay." Mata Thio Ceng Ceng jadi merah dan berkedip-kedip menahan air mata, katanya, "Aku jadi mengharap dia benarbenar adalah ibuku, sejak kecil aku sudah kehilangan belaian kasih sayang seorang ibu, melihat anak lain aleman di haribaan ibundanya aku jadi mengiri sekali"." Dalam pada itu Soat-lo Thay-thay sudah kembali sambil membawa banyak barang-barang dan peralatan, mendengar ucapan yang terakhir ini, biji matanya sekilas mengerling kepadanya, tanyanya dengan suara dingin, "Apakah kau tidak jijik melihat mukanya yang buruk dan sudah menjadi gila lagi?" Thio Ceng Ceng menahan air mata, ujarnya, "Cinta kasih antara ibu beranak tidak mengenal akan buruk atau gila, bila dia memang benar adalah ibu kandungku, dalam pandanganku beliau akan jauh lebih cantik dari yang lain-lain, segalanya kupandang wajar"." Uraiannya ini agaknya mengetuk sanubarinya Soat-lo Thaythay, sikap selanjutnya tidak sedingin dan sekasar tadi, sambil menghela napas ia berkata, "Agaknya kau masih punya Liangsim (hati nurani), dibanding ayahmu yang jahat dan brutal itu jauh lebih baik.

Dulu ibumupun secantik kau sekarang, justru karena kau pula sehingga dia menjadi berubah seperti sekarang." Thio Ceng Ceng heran, tanyanya, "Lolo".

Lolo!

Apakah yang telah terjadi pada masa silam?" Soat-lo Thay-thay mendengus, sahutnya, "Kelak bicara lebih lanjut!

Sekarang yang terpenting mengobatinya, inilah kesempatan terakhir yang sulit didapat dan bakal menentukan mati hidupnya!" Lalu dibukanya sebuah buntalan dan dikeluarkannya segebung jarum-jarum perak halus panjang tiga inci, sikap Soat-lo Thay-thay sangat prihatin.

Setelah semua keperluan dipersiapkan, ia mulai mempergunakan jarum-jarum perak itu menusuk urat nadi, jalan darah dan sendi di atas badan perempuan gila itu dengan cara yang sangat mahir dan cekatan.

Jarum-jarum perak itu menusuk amblas sampai dua inci, setiap kali tusukan jarumnya membuat perempuan gila itu gemetar menahan sakit, jumlah seluruhnya ada hampir seratus batang lebih, semua sudah ditusukan ke badan perempuan gila, setelah selesai baru berkata kepada Thio Ceng Ceng, "Genggamlah kedua tangannya, apapun yang terjadi jangan kau lepaskan, aku akan mulai mengerahkan hawa murn menutup Hiat-tonya!" Thio Ceng Ceng turut segala petunjuk, dengan kencang ia pegang kedua pergelangan tangan perempuan gila, sementara Soat-lo Thay-thay dengan sikap tegang dan prihatin mulai samadi mengerahkan tenaga, tak lama kemudian kedua telapak tangannya berubah merah membara seperti besi yang terbakar.

Post a Comment