"Dimanakah Koantoako" Bagaimanakah keadaannya sekarang?" Luas gua ini cuma beberapa tombak, kecuali perabotan yang sederhana tak kelihatan bayangan seorang manusia pun, segera ia melorot turun dari balai-balai batu, pikirnya hendak mencari keluar gua.
Tapi begitu telapak kakinya menyentuh lantai, seketika rasa dingin menembus ke ulu hati, di samping itu hawa pegunungan yang menghembus masuk seketika membuat seluruh badannya bergidik kedinginan.
Waktu menunduk baru ia sadar bahwa seluruh tubuhnya ternyata telanjang bulat tanpa mengenakan secuil pakaian pun, meski dalam ruang goa ini tiada orang lain, tak urung ia jadi malu dan merah jengah selebar mukanya, cepat ia menarik selimut dari atas dipan terus membungkus tubuh sendiri seenaknya.
"Tempat apakah ini" Siapakah yang melucuti pakaianku?" inilah pertanyaan berlarut yang berkecamuk dalam benaknya.
Tetapi semua pikiran itu tidak lebih besar dari rasa perhatiannya kepada Koan San-gwat, maka cepat-cepat ia berlari ke arah luar.
Bagian luar ini juga merupakan sebuah ruangan baru, cuma jauh lebih luas, disini ada bertumpuk bermacam barang danbenda, di pojok sana terlihatlah pakaiannya yang sudah dedel dowel tak karuan, baru sekarang teringat akan kejadian yang lalu, lapat-lapat ia masih ingat seorang perempuan pertengahan umur keburu tiba menolong jiwanya, jadi kamar batu ini pasti tempat tinggal orang.
Cuma dimanakah Koantoako" Demikian ia bertanya-tanya.
Di saat ia berdiri menjublek itulah di luar terlihat sebuah bayangan berkelebat masuk, ternyata perempuan pertengahan umur itu sudah kembali sambil memanggul seekor kijang.
Begitu melihat Ceng-Ceng sudah bisa turun dan berjalan serta berdiri, raut wajahnya lantas mengunjukkan seri tawa yang penuh perasaan welas asih, katanya, "Nona cilik!
Kau sudah bisa bangun!
Sungguh hebat kau, selama sepuluh hari ini aku selalu berkuatir bagi keselamatanmu, tenagamu habis terkuras, darahpun mengalir terlalu banyak, sungguh aku tidak habis mengerti cara b\agaimana kau kuat bertahan.!" Sudah tentu Thio Ceng Ceng berjingkrak kaget, teriaknya, "Apa" jadi aku jatuh pingsan setelah sepuluh hari?" Perempuan itu mengunjuk senyum, sahutnya, "Masa aku menggoda kau!
Selama sepuluh hari ini tidurmu seperti orang yang sudah mati, menurut perhitunganku, paling tidak kau harus beristirahat dua tiga bulan baru bisa pulih seperti sedia kala.
Tak nyana kondisi badanmu jauh lebih kuat dan sebat dari orang lain"." Dengan gelisah Thio Ceng Ceng bertanya, "Lalu dimanakah Koan-toako?" "Maksudmu bocah laki-laki itu" Keadaannya memang rada aneh, seluruh tubuhnya tidak kelihatan kena luka tapi dia tidak dapat bergerak, aku sendiri tidak tahu terserang penyakit apa, terpaksa kuantar ke tempat Soat-lo Thay-thay!" Thio Ceng Ceng tercengang, tanyanya, "Siapakah Soat-lo Thay-thay.
Kenapa Koan-toako harus diantar ke tempatnya?" "Ilmu pengobatan Soat-lo Thay-thay sangat tinggi, bocah itu amat aneh lagi, kini cuma beliau yang mampu mengobati, luka-luka di tubuhmu juga kuobati dari rumah obat pemberiannya!
Lihatlah betapa manjur obatnya itu, sedikitpun tidak meninggalkan bekas-bekas di kulit badanmu "." Kejut dan heran pula rasa Thio Ceng-Ceng, dari penuturan orang ia dapat menyimpulkan bahwa Soat-lo Thay-thay yang dimaksud itu tentu adalah orang yang ditentang ayahnya itu, orang ini pula yang hendak dicarinya.
Cuma tidak habis terpikir olehnya kenapa ayah merasa sirik dan benci terhadap seorang perempuan tua, maka setelah merenung ia berkata kepada perempuan pertengahan umur itu.
"Dimana tempat tinggal Soat-lo Thay-thay, aku ingin menengok keadaanKoantoako "." Cepat perempuan itu menggoyangkan tangan, katanya, "Jangan kau kesana!
Soat-lo Thay-thay pernah kemari melihat keadaanmu, ia ada pesan wanti-wanti.
Bagaimana juga melarang kau pergi kesana.
Kalau tidak, masa aku menahan kau di sini merawat lukamu.
Tempatku ini memang kecil cuma tinggal seorang lagi, jadi kekurangan tenaga untuk merawat keadaanmu, tapi Soat-lo Thay-thay sendiri sudah berpesan sebelumnya, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa." Thio Ceng Ceng jadi melengak, timbul berbagai pertanyaan dalam benaknya, tanyanya, "Kenapa Soat-lo Thay-thay tidak mengijinkan aku ke sana?" "Akupun tidak tahu, macan salju itu adalah binatang peliharaan Soat-lo Thay-thay.
Sebenarnya dia tidak bisa melukai orang, entah kenapa bisa bertengkar dengan kau.
Aku lebih tidak mengerti kenapa Soat-lo Thay-thay bisa merasa sirik terhadap kau.
Saat aku tidak meminta-minta kepada beliau, luka-lukamu ini beliau pun tidak mau mengobati!
Nona apakah kau punya permusuhan dengan Soat-lo Thay-thay?" "Tidak!
selamanya aku belum pernah melihat dia!" "Memang.
Soat-lo Thay-thay sudah menetap dua puluh tahun disini, selamanya beliau belum pernah keluar, usiamu paling banyak baru dua puluh tahun, bagaimana pun tidak mungkin mengikat permusuhan dengan maka aku heran kenapa beliau tidak suka kepada kau." Namun dalam benak Thio Ceng Ceng sudah menyimpulkan sesuatu, wajahnya mirip dengan bentuk wajah ayahnya tentu.
Cuma ia tidak habis mengerti antara ayahnya dengan Soat-lo Thay-thay ini ada ganjalan sakit hati apa".?" Melihat orang termangu-mangu, perempuan pertengahan umur itu bertanya, "Nona cilik!
Untuk apa kau bawa bocah itu jauh-jauh ke Kun-Lun-san sini"." Oh, ya!
Tentu kau kenal Soat-lo Thay-thay, maka kau bawa bocah itu kemari minta pengobatannya?" "Selama hidupku belum pernah aku melihat Soat-lo Thaythay, soalnya Koan-toako terkena racun jahat, kudengar di puncak Kun-lun-san ada seorang kosen yang mengasingkan diri, pandai ilmu pengobatan, maka kubawa dia kemari mohon diobati.
Apakah Soat-lo Thay-thay orang kosen yang hendak kucari itu aku sendiri tidak tahu." "Ya, tidak salah lagi, orang yang menetap di puncak Kunlunsan sini cuma beberapa orang saja, apalagi yang pandai ilmu pengobatan cuma Soat-lo Thay-thay seorang, jauh-jauh kau datang justru membawa seorang pasien, tidak heran beliau tidak senang terhadap kau!" "Kenapa?" tanya Thio Ceng Ceng heran.
"Watak Soat-lo Thay-thay sangat aneh, dia pernah beritahu kepadaku, kecuali musuh dalam dunia ini dia sudah tidak punya sanak kadang lagi.
Sudah tentu kau bukan musuh yang dimaksud itu, tapi kenalan beliaupun tak banyak, orang yang memberi petunjuk supaya kau kemari itu tentu punya permusuhan dengan beliau maka ia jadi salah paham pula kepada kau!" Thio Ceng Ceng jadi rada tenang akan duduk perkaranya, cuma dia tidak menjelaskan persoalan antara ayahnya dengan Soat-lo Thay-thay sebab seluk-beluk peristiwa itu ia sendiri tidak jelas, setelah berpikir sejenak, sengaja ia alihkan pokok pembicaraan, tanyanya, "Toanio!
Kau she apa, bagaimana bisa hidup sebatangkara di atas pegunungan yang sunyi ini?" "Menyinggung namaku, dahulu memang pernah tenar dan ".
aih, kenapa aku ngelantur.
Aku she Peng, kau boleh panggil aku Peng Toanio saja!
Dua puluh lima tahun yang lalu, aku pernah terluka parah dan dikejar-kejar musuh sampai ke puncak Kun-lun-san ini, untung Soat-lo Thay-thay keburu datang dan menggebah lari musuhku itu, aku terus tinggal disini, berkat pertolongan beliau luka-lukaku sembuh seluruhnya.
Maka sejak saat itu, aku terus tinggal disini, meskipun hawanya dingin, tapi keadaan yang sepi ini cukup nyaman dan tentram, maka aku tidak berniat berkecimpung lagi di dunia Kangouw." Thio Ceng Crag termenung sebentar lalu berkata dengan tekad yang besar, "Meskipun Soat-to Thay-thay tidak suka akan kedatanganku, akupun akan meluruk ke tempatnya, apa pun yang terjadi nanti aku harus tahu keadaan Koan-toako.
Racun yang mengeram di dalam badannya sukar disembuhkan, apakah Soat-lo Thay-thay mampu menyembuhkannya?" "Untuk itu akupun kurang jelas, setelah kuantar bocah itu masuk ke dalam Sincoat-kok, Soat-lo Thay-thay cuma datang menjenguk kau sekali saja, selanjutnya bila aku kesana selalu dirintangi oleh Khong Ling-ling." "Siapa pula itu?" "Ling-ling adalah murid Soat-lo thay-thay," Peng-toanio menjelaskan sambil menjengek.
"Budak kecil itu jauh lebih galak dari Soat-lo Thay-thay, kalau bicara dengan aku selalu bersikap acuh tak acuh dan menyebalkan.
Bapaknya saja tidak berani bersikap demikian terhadapku.
Di kala Kui-thian-ya-se (kuntilanak terbang ke langit) malang melintang di Kang-ouw, Loh-hun kok sama sekali belum apa-apa pada masa itu." "Apa?" teriak Thio Ceng Ceng.
"Jadi putri Khong Bun-thong berada disini?" Peng- toanio melirik, jengeknya, "Apa kau juga kenal Khong Bun-thong si keparat itu?" Nada perkataannya penuh rasa gusar dan tidak senang, seolah-olah merasa disepelekan, dan nama Khong Bun-thong malah banyak mempengaruhi hatinya.
Thio Ceng Ceng makin gelisah, cepat ia berseru, "Toanio!
Bagaimana juga aku harus segera menemui Koan-toako, kalau tidak pasti celaka!" "Kenapa?" tanya Peng-toanio tercengang.
"Kenapa kau begini gugup?" "Sudah, jangan terlalu banyak tanya, pendek kata bila Kong Ling-ling tahu asal-usul Koan-toako pasti urusan lebih payah"." "Kenapa bisa begitu" Masa kau tahu Khong Ling-ling si budak busuk itu bakal melalap kekasihmu itu.
Meski budak liar itu telah mendapat didikan Soat-lo Thay-thay tapi aku tidak gentar terhadapnya, soalnya kupandang muka beliau.
Kalau tidak, sejak dulu aku sudah labrak dia habis-habisan.
Kau tak usah takut, jelaskan dulu perkaranya, mungkin aku dapat memberikan bantuan, kalau tidak seorang diri kau menerjang kesana, seumur hidupmu ini jangan harap dapat keluar dari Sin-Soat-kok!" Thio Ceng Ceng tahu orang tidak menggertak atau hendak menakut-nakuti dirinya, untung orang benci terhadap Khong Ling-ling maka tidak berhalangan dia menjelaskan kejadian yang sebenarnya, maka tuturnya, "Nama Koan-toako adalah Koan San-gwat.
dia adalah murid tunggal atau pewaris dari Bing-tho-ling-cu Tokko Bing"." "Apa" Bocah itu adalah pewaris Tokko Bing" Bagaimana keadaan Tokko Bing, selamanya ia tidak pernah menerima murid"." "Toanio jangan ribut, Tokko-cianpwe sudah meninggal, seluruh kepandaian silatnya sudah diturunkan kepada Koantoako"." Berubah pucat air muka Peng-toanio, ujarnya lirih, "Sudah meninggal" Orang seperti dia bisa mati begitu cepat" Cara bagaimana dia mati?" "Aku tidak tahu, kelak silahkan kau tanya Koan-toako sendiri.