Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 11

Memuat...

tapi ia tahu bahwa buah Tho ini pasti bukan buah Tho seperti buah-buahan umumnya, maka sesaat lamanya ia jadi ragu dan tak berani segera memakannya.

"Apakah Kokcu merasa sumbanganku ini terlalu tidak berharga?" Khong Bun-thong jadi serba runyam, sahutnya dengan kikuk, "Mana, mana!

Sebetulnya aku orang she Khong sangat senng daen terpesona akan buah Tho sebesar ini, entah bagaimana aku harus membalas pemberian ini.

Aku yakin buah macam ini tentu sulit didapat.

Biarlah kusimpan saja pelan-pelan kunikmati lain kesempatan saja." "Terserah pada kehendak Kokcu, cuma sudah lama aku mendengar ketenaran nama Kokcu, katanya mampu meramu Ui-ho-ciu-ce-sa pula, maka sengaja kupetikkan buah Tho itu sebagai permainan.

Mohon petunjuk kepada Kokcu, kalau Kokcu tidak sudi memberi muka, anggap saja sia-sialah segala jerih payahku." Kedengarannya ia mengobrol seenaknya saja, tapi bagi pendengaran Khong Bun-thong sangat menusuk perasaannya dan menjatuhkan gengsi, sebetulnya ia memang kuatir bila buah Tho itu ada rahasia apa-apa, tapi setelah ditantang dengan sindiran tajam Thio Hun-cu, ia jadi lwbih tak enak kalau tak makan buah itu, tapi dengan pura-pura sungkan ia berkata, "Kalau begitu terpaksa aku terima pemberian ini." "Orang she Khong," jengek Koan San-gwat.

"Jangan terlalu cepat kau melulusi permintaannya, buah Tho itu tumbuh di puncak Thian-san, dinamakan Thinn-toh (buah langit).

Sesuai dengan namanya, bila kau berani makan, jiwamu segera bakal melayang ke sorga, apakah kau benarbenar berani memakannya?" Berubah air muka Khong Bun-thong, teriaknya gusar, "Meski obat yang bisa menghancurkan isi perut, orang she Khong juga tidak gentar!" segera ia angkat buah itu ke mulutnya.

Dengan gugup Khong Bun-ki merintangi, "Toako!

buat apa kau menuruti perasaan hati!" Tak terasa tangan Khong Bun-thong jadi merandek.

Cepat Thio Hun-cu tertawa ujarnya, "Kokcu kan seorang ahli dalam menggunakan racun, tentu kau paham bahwa buah itu sedikitpun tidak beracun, kalau Khong-jie Sianseng tidak percaya, coba silahkan kau cicipi lebih dulu." Khong Bun-thong terloroh-loroh, serunya, "Umpama mengandung racun aku orang she Khong juga tidak takut!" Lalu dengan dua jarinya ia pijat sampai buah di tangannya pecah dan mengalirkan sari buahnya yang bening, cepat ia menyedot dengan mulutnya, setelah ia kunyah habis daging buahnya, ia lemparkan kulitnya, lalu bergelak tertawa, serunya, "Wah, enak sekali, ternyata memang wangi dan segar buah ini"." Jilid 3 SELAMA itu Khong Bun-ki terus mengawasinya dengan perasaan tegang dan was-was, melihat engkohnya menyedot sari buahnya tidak kurang suatu apa, ia jadi berlega hati.

Sementara Khong Bun-thong sudah berkata pula, "Menerima tidak balas memberi rasanya kurang hormat, Jiete!

Silahkan ambil dulu cangkir Loh-hun-lok buatanku itu untuk menyambut kedatangan Thio-heng dan nona Thio ini." Khong Bun-ki mengiyakan, bergegas dia lari ke belakang.

Tak lama kemudian berlari keluar sambil menenteng sebuah botol dengan dua buah cangkir terus diletakkan di atas papan warna merah, Khong Bun-thong menuangkan sampai penuh ke dalam cangkir itu, lalu katanya sambil memegangi kedua cangkir arak, "Sebenarnya Loh-hun-lok tidak ternama karena racunnya, tapi Loh-hun-lok ini hasil ramuanku, sahabat Thio ini merupakan seorang kosen dalam kalangan kedokteran, tentu kau paham berbagai ramuan yang ada dalam arak ini." "Ha ha ha, istilah menerima harus balas memberi memang tepat, kenapa Khong Kokcu begini sungkan, ramuan apayang terdapat dalam arak ini tidak perlu kuselidiki lagi, hakikatnya setetes dapat menghancurkan usus, satu cangkir bisa menghilangkan sukma, seumpama harus menyeralikan jiwa pun aku suka menerima penghargaan Kokcu." Habis berkata ia sambuti secangkir diantaranya terus ditenggak sampai habis.

Khong Bun-thong lalu angsurkan cangkir yang lain kepada si gadis, katanya, "Apakah nona Thio suka memberi muka padaku?" Si gadis melengak dan ragu-ragu, sesaat ia bimbang dan tak berani menyambuti cangkir arak itu, Thio Hun-cu ikut keripuhan, selanya, "Apakah tidak cukup aku saja yang mengiringi kehendak Kokcu?" "Di bawah pimpinan seorang jendral ternama tentu tiada tentara yang lemah, nona Thio ini kan anak gadismu, secangkir arak beracun ini pasti tidak ambil dalam hati bukan?" Thio Hun-cu menggeleng kepada si gadis katanya rawan, "Ah-ceng!

Kau minum saja.

Mungkin memang ayahmu terlalu banyak urusan, sudah sekian tahun aku menyembunyikan diri, ternyata hanya karena ingin menang sendiri, akhirnya mendapat kesukaran begini." Si gadis menerima cangkir arak itu, tangannya gemetar keras.

Tak tertahan Koan San-gwat berkata, "Thio-lopek!

Bagaimana perasaanmu setelah kau minum arak itu?" "Loh-hun-lok ternyata memang lihai.

Setiap hari aku berkecimpung dalam ratusan jenis racun, lidahku inipun sudah saling mencicipi ribuan rasa, tetapi ramuan obat dalam arak beracun ini masih belum dapat kuselami kadar racun sudah mulai bekerja, aku sedang mengadakan percobaan dengan hawa murniku paling tidak harus makan waktu satu jam leibh, aku kuatir pada saat mana meski aku berhasil menyelami sifat racun ini, temponya sudah tidak keburu lagi"." Khong Bun-thong bergelak tawa kesenangan, ujarnya, "Tidak malu sandara Thio sebagai ahli pengobatan, buatanku ini memang kucampur beberapa jenis racuo yang paling jahat dan sulit didapat dalam dunia ini.

Pengalaman dan pengetahuan Thio-heng agaknya cukup luas, mungkin dalam setengah jam cukup mengetahui secara pasti, tapi aku berani tanggung setelah lewat setengah jam, tenaga untuk bicara lagipun Thio-heng tidak akan mampu lagi"." Mendadak tergerak hati Koan San-gwat serunya, "Waktu setengah jam jauh berkelebihan bagi kami menyelesaikan urusan dinas." "Apa maksud ucapanmu?" tanya Khong Bun-thong.

Koan San-gwat tidak hiraukan pertanyaan orang, sekali raih ia rebut cangkir di tangan si gadis terus ditenggak kering, langsung ia banting bancur cangkir itu ke lantai, lalu katanya sambil membusungkan dada kepada Khong Bun-thong, "Arak bagian nona sudah kuwakili, apakah urusan sudah beres?" "Isi arak dalam botol memang cuma dua cangkir, cangkir kedua ini memang sebenarnya kusediakan untuk kau, tapi pura-pura kupersembahkan kepada nona Thio, kalau tidak masa kau sudi minum arak ini sedemikian gampang.

Bocah keparat!

Gunakanlah waktu setengah jam ini untuk menyambung nyawamu"." Dengan tenang tanpa berubah sedikitpun air mukanya Koan San-gwat bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu bila aku akan mewakili nona Thio minum arakmu itu?" "Di saat aku tahu bahwa kau masih hidup dalam dunia ini, diam-diam aku lantas memikirkan daya upaya untuk menghadapi kau, pikir punya pikir cuma Loh-hun lok ini yang cocok.

Kebetulan saudara Thio itu ingin mencoba aku, secara demonstrasi ia paksa aku memakan Kiu coan-tho itu, racun yang terkandung di dalam buah itu dapat membikin kaki tangan orang membeku, tapi toh belum tentu dapat menundukkan aku, maka seagaja aku pura-pura sungkan dan akhirnya menghabiskan buah itu.

Tapi kugunakan pula alasan ini untuk mendesak mereka minum Loh-hun-lok buatanku ini, sejak tadi sudah aku perhitungkan bahwa kau pasti akan unjuk gigi mewakili Ilona ini, karena mereka datang demi kepentinganmu, kalau kau tidak berbuat demikian apakah ada harganya kau mengagulkan diri sebagai akhli waris Bing-tholingcu"." "Bagus.

Perhitungan sangat tepat!

Tapi kau melupakan satu hal, tadi sudah aku katakan, kau pernah memukul aku satu kali, kuberitahukan bahwa secara terang-terangan akan kubalas pukulanmu itu meskipun kini waktunya tinggal setengah jam lagi, namun sebelum ajal aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan urusan ini." "Bedebah!" maki Khong Bun-thong terloroh.

"Sungguh muluk jalan pikiranmu, seumpama Tokko Bing belum mati, diapun tidak akan mampu dalam jangka setengah jam mengalahkan aku, apalegi kau paling lama cuma kuat bertahan setengah jam, sebentar saja kadar racun dalam tubuhmu akan kumat, terpaksa kau harus rebah di tanah menanti aja1 saja.

Tatkala itu mungkin kau bakal mengerang dan bertobat minta kematianmu supaya dipercepat agar tidak menderita lebih lanjut." Sikap Koan San-gwat sangat tenang, perlahan-lahan ia angkat tangan serta katanya, "Urusan tidak akan terjadi begitu gampang seperti jalan pikiranmu, kau bersabarlah!

Aku hendak turun tangan!" Dengan sikap acuh tak acuh Khong Bun-thong berdiri di tempatnya seperti tidak terjadi sesuatu apa-apa, di kala telapak tangan Koan San-gwat sudah terdorong di depan dan hampir mengenai kulitnya baru dia angkat telapak tangannya memotong pergelangan tangan lawan.

Tapi sedikitpun Koan San-gwat tak gentar dan menjadi gugup karenanya, dorongan telapak tangannya diteruskan, dan kontan telapak tangan Khong Bun-thong dengan telak mengenai tangannya.

tetapi ia merasa seperti membentur tongkat besi, sehingga telapak tangan sendiri terpental ke samping, maka dadanya kena pukulan telapak tangan musuh dengan telak sekali.

Pukulan yang mengandung tenaga penuh ini seketika mengeluarkan suara keras seperti tambur pecah, seiring dengan itu terlihat badan Khong Bun-thong seperti sepotong batu dilemparkan terbang melesat ke belakang sampai beberapa tombak dan jatuh di atas singgasana upacara, karuan meja sembahyang di sana ditumbuk hancur dan ambruk.

Dengan terkesiap banyak orang memburu ke sana untuk membangunkan Khong Bun-thong, tampak dadanya melekuk dalam bertapak tangan berwarna merah semu biru, dalamnya sampai satu setengah centi, jantung dan paru-parunya hancur lebur.

Pelan-pelan Koan San-gwat menurunkan telapak tangannya yang berlepotan darah, katanya kepada Khong Bun-thong yang bernapas empas-empis, "Kau tidak menyangka begini akhirnya bukan?" Darah tersembur deras dari mulut Khong Bun-thong.

kedua biji matanya mendelik keluar seperti jengko1, tapi tenaga untuk bicara sudah tidak mampu lagi, napasnya memburu tersengal-sengal.

Post a Comment