Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 07

Memuat...

Selanjutnya apa yang terjadi tak diketahui olehnya.

Di kala ia siuman, baru dia tahu bahwa dirinya telah terbaring di tengah padang rumput yang menghijau, di sampingnya terdapat sebuah kolam air, itulah oase, sumber air di padang rumput yang tumbuh subur di tengah padang pasir.

Begitu siuman Koan San-gwat lalu ingin membuktikan apakah dirinya masih hidup atau sudah mati.

Orang yang hidup di gurun pasir semuamengharap dapat menemui ajal di oase, maka begitu ia melihat dirinya ada di padang rumput, ia jadi menganggap bahwa dirinya sudah ajal.

Dengan susah payah ia berusaha menggerakkan badan, tapi seluruh badannya terass sakit dan menderita luar biasa, cuma semangatnya saja yang rada pulih kembali.

Serta merta ia menghela napas, keluhnya, "Kata orang, bila orang yang sudah mati hilanglah segala penderitaannya, tapi kenapa badanku masih begini sakit".?" Tiba-tiba di belakangnya seseorang berkata tertawa, "Orang yang takut melihat setan seumpama mati juga tidak akan mendapatkan tempat yang sentosa." Dengan kejut Koan San-gwat menoleh, dilihatnya seorang gadis remaja berusia tujuh belasan, mengenakan pakaian gembala, wajahnya bundar putih, biji matanya yang besar hitam dan bening, kuncir rambutnya panjang dan besar, itulah raut wajah yang dilihatnya sekilas sebelum ia jatuh dari atas tunggangannya di padang pasir itu, tanpa disadari ia jadi terlongong sekian lamnnya, katanya tersendat, "Nona".

sebetulnya aku sekarang masih hidup atau sudah mati?" Gadis itu membelalakkan matanya yang bundar, semprotnya sambil cemberut, "Kau sudah mati!

Sekarang kau sedang berhadapan dengan setan dan aku inilah setannya!" Koan San-gwat tertegun dibuatnya, dari sikap dan nada perkataan gadis di hadapannya ini ia tahu orang sedang berkelakar dan menggoda dirinya, maka dengan sendirinya ia sadar bahwa dirinya belum mati, lalu dengan menghela napas ia berkata, "Hm, nona jangan marah, karena aku terluka parah dan aku anggap diriku tidak tertolong lagi, maka begitulah jalan pikiranku "." "Kalau kau telah tahu terluka berat," sempot gadis itu pula dengan uring-uringan.

"Kenapa mendengar kami menyusul kau lari, kami kan bukan rampok, kalau tahu begitu lebih baik kami tidak menolong kau saja." Terpaksa Koan San-gwat menyengir kecut.

Sebetulnya gadis itu marah ingin mengomelinya, tapi mendadak dari samping didengarnya sebuah suara menyela, "Ah-ceng!

Tuan ini terkena racun dalam tubuhnya belum punah seluruhnya.

Jangan kau bikin ribut, cuma membuang energi dan tenaganya saja." Koan San-gwat cuma melihat sebuah bayangam yang samar-samar, mendadak dirasakannya Ling-tay-hiat kena tertutuk dan selanjutnya apapun tidak terlihat lagi, cuma kupingnya lapat-lapat masih mendengar gadis itu bertanya, "Yah, sebetulnya ia terkena racun jahat apa" masa Siau-toksan mu yang mujarab itu tidak mampu menyembuhkannya?" Lalu didengarnya pula jawaban seorang laki-laki pertengahan umur, "Jangan kau banyak tanya lagi, racun macam itu merupakan tantangan bagi dunia pengobatanku, terpaksa kita harus menggotongnya pulang ke gunung, dengan segala daya upayaku, ingin kulihat apakah aku mampu mengendalikan racun semacam itu." selanjutnya di antara sadar tak sadar Koan San-gwat seperti merasa badannya terangkat, ingatannya semakin kabur, dan akhirnya tak ingat apa-apa lagi.

0000)0(ooco KHONG BUN-THONG majikan dari Loh-hun-kok di Liok-causan waktu itu mengundang orang-orang gagah kenamaan di seluruh dunia persilatan, di antaranya pada Ciangbunjin dari sembilan Pay dan Para Pangcu dari berbagai Pang yang tersohor untuk menghadiri perayaan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh.

Pertemuan besar di gurun pasir pada malam itu kini sudah berselang tiga tahun".

Berkat kelicikan Khong Bun-ki yang berhasil meracuni Koan San-gwat murid tunggal Bing-tho-ling-cu akhirnya seluruh golongan dan aliran yang hadir dapat mengambil balik tanda kebesaran mereka masing-masing, untuk ini mau tidak mau nama Liok-cau-san makin menonjol dan menempatkan darinya pada kedudukan tertinggi sebagai datuk persilatan.

Liok-cau-san semula tidak pernah diperhatikan khalayak ramai, dalam jangka tiga tahun itu menjadi ramai, orangorang gagah dari berbagai aliran berkunjung.

Terutama Kimsa-pocu Kok Liang dan beberapa golongan yang berdiri tunggal serta para guru silat punya huhungan yang sangat akrab dengan mereka.

Soalnya tenaga serta wibawa mereka di kalangan Kangouw sudah pudar, tak mungkin membuka lembaran sejarah yang gilang gemilang.

Dengan rasa kepercayaan yang menjadi landasan hidup berdampingan begi kaum persilatan, apalagi murid mereka sering membuat onar dan bikin ribut di luaran, mereka tidak angkat senjata dan mandah dihina dan terima nasib melulu, karena kondisi yang buruk ini mau tidak mau mereka menjilat ke pihak Liok-cau-san, paling juga ingin gagah-gagahan dan unjuk garang saja.

Sementara Ciangbunjin dan berbagai Pay dan Pang besar, mengingat budi Khong Bun-ki dahulu karena sungkan lalu mengalah terhadap Liok-cau-san, setiap kali timbul pertikaian, asal salah seorang dari keluarga Khong unjuk diri untuk menyelesaikan urusan itu, kedua belah pihak pasti memberi muka dan anggap perkara itu tidak pernah terjadi.

Selama tiga tahun mendatang ini, pihak Liok-cau-san sangat aktif di kalangan Kangouw.

Kaki tangan mereka semakin tersebar luas di mana-mana.

Secara terbuka merekapun anggap sebagai pimpinan tertinggi saja.

Nama, gengsi dan perbawa mereka jadi semakin menonjol dan besar.

Hari ulang tahun keenam puluh majikan Loh-hun-kok Khong Bun-thong merupakan salah satu peristiwa besar dalam kalangan Kangouw tahun ini, setengah tahun sebelumnya mereka sudah menyebar luas undangan.

Sudah tentu para Ciangbunjin atau Pangcu dari berbagai golongan dan aliran itu sama tahu bahwa dalam perayaan hari ulang tahun itu, pihak Liok-cau-san pasti mempertunjukkan sesuatu permainan yang bakal mengggemparkan.

Tapi karena soal muka serta gengsi, seumpama mereka sendiri tidak sudi datang, terpaksa harus mengurus anak muridnya sebagai wakil menyampaikan selamat hari ulang tahun.

Perayaan ulang tahun terjadi pada tanggal tujuh belas bulan sembilan, pada tanggal enam belas, para tamu yang diundang sudah datang, Liok-hun -kok di Liok-cau-san yang biasanya sepi kini jadi ramai, dimana-mana didirikan barakbarak darurat yang penuh sesak dihuni para tamu-tamu yang berdatangan, mereka makan minum sepuasnya tak mengenal waktu, agaknya banyak di antara mereka yang siap untuk berpesta pora semalam suntuk.

Mereka makan minum jor-joran.

Banyak tamu jadi sinting dan mabok.

Begitulah keadaan Kim-sa-pocu Kok Liang, mukanya merah padam, biji matanya mendadak menyala, dengan sempoyongan ia berdiri dan mengeluarkan suara bagai bunyi genta, teriaknya, "Para Losu dan sahabat sekalian, tiga tahun yang silam Khong-ji sianseng dengan secangkir arak beracun berhasil menundukkan Bing-tho-ling-cu sehingga kita berhasil memperoleh kembali tanda kebesaran masingmasing, budi yang luhur ini, seluruh sahabat Kangouw tidak ada seorangpun yang tidak merasa berterima kasih "." Ucapannya ini terlalu menusuk perasaan.

Kontan hadirin merasa kurang senang, agaknya Kok Liang menyadari omongannya tidak berkenan di hati mereka, cepat ia melanjutkan, "Pertemuan hari itu, meski Tokko Bing sudah mampus, tetapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata membekal kepandaian yang tiada taranya, jikalau kalian mengandal tenaga dan kepandaian sendiri, siapa pula yang bakal bisa mengalahkan dia!" Ucapannya ini memang kenyataan, orang-orang yang kurang senang ini mau tidak mau harus menelan rasa penasaran mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment