Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 03

Memuat...

Guruku menaruh belas kasihan kepadamu, cuma menggetar terbang senjatamu saja, kalau beliau balas menyerang, yakin tulang belulangmu sudah remuk redam." Pucat dan berkeringat selebar muka Kok Liang, katanya menghela napas panjang, "Ai, tamat sudah seluruhnya!

Untuk selanjutnya biarlah nama Kim-sa-po dihapus dari percaturan Bulim." Golok bergiginya tidak sempat dijemput lagi, sekali menggelundung jauh dan beberapa kali loncatan, bayangannya lenyap ditelan tabir malam.

Kedua orang ini cuma berhantam sejurus belaka, tapi di luar cara yang ditentukan semula ternyata sudah berhasil menentukan kalah dan menang, seluruh hadirin kembali dicekam rasa tegang, rasa girang seketika tersapu bersih, rasa kecewa sebaliknya semakin bertambah tebal!

Tapi rasa kecewa yang terakhir ini berlainan, karena terselip juga rasa kejut dan heran yang mulai menghantui perasaan mereka.

Terdengar Lu Bu-wi Ciang bunjin Ciong-lam-pay yang berdiri di samping Thong-sian Taysu menghela napas, katanya, "Dula waktu Losiu bertanding dengan Tokko Bing, ia menggunakan Kim-sin itu, bertanding enam puluh jurus lamanya, akhirnya ia menang karena permainan tipu jurusnya yang banyak ragamnya, sunggah di luar tahuku bahwa benda itu ternyata begitu berat!" Thong-sian Taysu menggeleng kepala, katanya, "Entah terbuat dari Logam apa Kim-sin itu.

Malam itu Tokko Bing meluruk ke Siau-lim, ia bertanding dengan Suteku Tay-lik sin Ngo-seng.

Sute kuatir senjatanya terlalu enteng maka ia memberi peringatan kepadanya, tidak nyana sambil tertawatawa ia ajak tukar mempergunakan Senjata dengan Suteku untuk membedakan milik siapa yang lebih berat, ternyata Kimsin ini satu kali lipat lebih berat dari senjata tongkat besi besar milik Suteku itu"." Berubah air muka Lu Bu-wi, katanya terkejut, "Tay-lik sinceng terkenal pembawaan tenaganya yang besar, kabarnya besar tongkat besi dinginnya itu ada lima ratusan kati, jadi Kim-sin sepanjang tiga kaki itu ada ribuan kati lebih beratnya.

".

Thong-sian Taysu manggut-manggut, katanya, "Kalau penilaian Lolap tak salah, Kim-sin ini paling sedikit ada dua ribu kati, bocah ini dapat menarikannya seenteng seperti main gala yang terbuat dari gabus tanpa menggunakan tenaga sedikitpun, kelihatannya ia sudah mendapat warisan tunggal Tokko Bing, pertemuan malam ini, akan banyak pihak yang menghadapi rasa kekecewaan pula." Lu Bu-wi menunduk diam, pikirannya kacau-balau, sikapnya terharu.

Didengarnya Koan San-gwat yang bertolak pinggang di tengah gelanggang sedang berseru, "Selanjutnya siapa lagi yang ingin memberi petunjuk?" Suasana hening sebentar, tampak seorang perempuan pertengahan umur yang mengenakan pakaian serba hijau melayang maju ke tengah gelanggang, tangannya menghunus pedang baju warna hijau, gerak langkahnya enteng dan lincah, begitu melihat orang melayang tiba, segera Koan Sangwat menyapa dengan tertawa, "Saudara ini tentu Ya-li-kiam Han Lihiap dari Thian-bok-san bukan?" Perempuran pertengahan umur itu cuma sedikit menganggukkan kepala, sahutnya, "Benar, dua puluh tahun yang lalu beruntung mendapat petunjuk sejurus dari gurumu, hingga selama ini aliran Thian Bok kami menyembunyikan diri dari Bulim.

Malam ini, aku Han Ji-ing ingin mohon petunjuk dari ahli waris Bing-tho yang tunggal." Koan San-gwat tertawa, katanya, "Guru almarhum sangat kagum dan memuji pada ilmu pedang Han lihiap, karena Hanlihiap sudi mengalah, maka Ci kim Hong-ce tanda kebesaran Han-lihiap itu kusimpan di dalam kantong bajuku.

semoga Han-lihiap nanti berhasil merebutnya kembali." Merah jengah muka Han Ji-ing, serunya dengan uring uringan, "Bocah keparat banyak cerewet, dua puluh tahun yang lalu pelajaran ilmu pedangku memang belum sempurna sehingga terkalahkan oleh Tokko Bing.

Dalam jangka dua puluh tahun ini, setiap saat setiap detik aku bersumpah untuk berlatih lebih giat mempertinggi pelajaran pedang untuk melampiaskan rasa dongkol dan penghinaan itu, tak kira Tokko Bing sudah mampus, maka perhitungan ini terpaksa kutagih kepadamu!" Koan San-gwat tetap bersikap tawar, katanya, "Agaknya Han-lihiap suka mengumbar napsu, meskipun guruku almarhum berhasil mengambil Ci-kim-hong-ce mu itu, tetapi tidak anggap sebagai benda rampasan dari hasil kemenangannya, tapi beliau anggap sebagai tanda kenangkenangan.

Sebelum beliau ajal, setiap hari ia suka mengeluarkan benda itu.

Sikap kasar Lihiap apakah tidak membuat kecewa perasaan guruku".?" Meskipun usia Han Ji-ing sudah menanjak pertengahan, tapi dia masih perawan suci belum pernah menikah, karuan ia malu serta gusar mendengar ocehan Koan San-gwat, teriaknya bengis, "Keparat bergajul yang tidak tahu malu, kalau hari ini aku tidak memecah luluh tubuhmu aku bersumpah tidak akan jadi manusia".!!!" Seiring dengan bentakannya pedang panjang di tangannya sudah membabat pergi datang bolak-balik, bayangan pedangnya menggugus tinggi laksana gunung, setiap jurus pasti mengarah tempat-tempat penting mematikan di seluruh tubuh Koan San-gwat.

Meski bentuk tubuh Koan San-gwat terkurung rapat di dalam sinar pedangnya, tetapi sikapnya masih tenang, seenaknya saja ia angkat Kim-sin di tangannya, entah menyambut atau menyampok dan menindih, dengan mudah ia dapat memunahkan setiap rangsakan pedang lawan yang hebat dan deras laksana hujan lebat.

Kini hadirin tahu bahwa Kim-sin berkaki situ di tangan Koan San-gwat itu ribuan kati beratnya, sekarang mereka menyaksikan benda berat itu dimainkan begitu enteng dan lincah sekali, sudah tentu hati mereka mendelu dan berkuatir pula.

Ada beberapa Pay, Pang, Bun dan Keh yang hadir merekareka dalam hati bahwa kekuatan mereka tidak lebih unggul dibanding Kok Liang, diam-diam sudah putus asa dan mengaku asor saja, bahwasanya selama dua puluh tahun ini berarti mereka menanti dengan sia-sia saja.

Apalagi menurut tafsiran mereka bahwa tenaga si bocah yang harus mereka hadapi ini agaknya tidak lebih rendah dari gurunya dulu, lebih ciut nyali mereka.

Dalam pada itu, pertempuran di tengah gelanggang sudah mencapai puncak yang tidak terkendalikan lagi, semakin bertempur Han Ji-ing semakin bernapsu dan gagah berani, pedang panjangnya beruntun merangsak dan menggempur dengan berbagai tipu pedang yang ganas dan licik, setiap jurusnya mengandung perubahan yang lihay dan sulit diselami, semua menjurus ke tempat mematikan di tubuh lawannya.

Tapi Koan San-gwat sedikitpun tak menjadi gugup karenanya, ia seperti tidak ambil perhatian terhadap seluruh gempuran pedang lawan, seenaknya saja ia mainkan senjata malaikat emasnya yang berat itu, jarang sekali ia gunakan ajaran gurunya untuk balas menyerang tapi cukup serangan satu jurusnya saja, pasti berhasil menyusup ke dalam lobang kelemahan pihak musuh, karuan Han Ji-ing dibuat mencakmencak dan harus mengurungkan setiap kali serangan nekadnya untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu.

Enam puluh jurus dilampaui.

Samar-samar sudah kelihatan Han Ji-ing mulai payah, sebaliknya Koan San-gwat masih segar bugar dan seperti tidak terjadi apa-apa, tak kelihatan sedikitpun merasa lelah, napasnya pun tidak memburu.

Para penonton di luar gelanggang banyak yang menjadi kabur pandangannya, ada pula yang melotot saking asyik dan ada pula yang menghela napas gegetun memikirkan nasibnya sendiri.

Ciong-lam-pay Ciangbunjin Lu Bu-wi berbisik kepada Thong-sian Taysu.

"Di antara sungai dan gunung, seluas dunia persilatan ini tidak sedikit jumlah orang-orang yang suka mengagulkan kepandaian dan bernama kosong belaka, tapi tidak sedikit pula yang berkepandaian sejati.

Thian-bok-pay terletak di daerah yang bersembunyi, jarang berkecimpung di kalangan Kangouw, tetapi latihan ilmu pedang Han-lihiap benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna, dibanding para pentolan yang lain seperti Kim-sa-pocu.

Kok Liang tadi, entah berapa tingkat lebih unggul." Dengan prihatin Thong-sian Taysu mengangguk, ujarnya, "Yali-kiam-hoat diciptakan pada jaman Chun-ciu, turun temurun secara tunggal diturunkan ke generasi muda dalam lingkungan kekeluargaan sendiri sampai sekarang sudah ratusan tahun, sudah tentu tidak boleh dipandang ringan atau dianggap ilmu pedang pasaran belaka.

Tapi yang Lolap khawatirkan justru pemuda itu, naga-naganya dia jauh lebih hebat dibanding Tokko Bing dulu." "Meski murid Bing-tho tidak jelek, tapi bergebrak sebanyak enam puluh jurus ini, menurut pandangan Losiu tiada tandatanda dimana letak kelihaiannya," demikian Lu Bu-wi memberi tanggapan." "Lu-heng cuma melihat lahiriah atau kulitnya saja, harus diketahui senjata yang digunakan Han-lihiap adalah pedang, paling berat cuma dua puluh kati, tapi senjata Tok-ga-kim-sin bocah itu beratnya mungkin ada ratusan kali lipat, untuk pertandingan berat antara kedua senjata ini saja adalah cukup mengejutkan." Merah muka Lu Bu-wi, rasa kagumnya terhadap Thong-sian Taysu bertambah tebal, orang tidak malu sebagai seorang pemuka dari sebuah aliran murni yang kenamaan, pandangannya memang jauh lebih tajam dan berpengalaman dari dirinya.

Setelah menonton sekian lamanya, akhirnya Thong-sian menghela napas panjang, katanya, "Selama ratusan tahun belakangan ini kaum Bu-lim mengidamkan hidup aman sentosa dan sejahtera, menutup pintu memperdalam kepandaian silat masing-masing, semua senang dihinggapi angan-angan kosong yang muluk-muluk, untung Tokko Bing muncul sehingga mereka sadar.

Kalau tidak, mungkin mereka bakal tenggelam oleh angan-angan bahwa kepandaian sendiri sebetulnya sampai di tingkat mana.

Lolap rasa pertemuan malam inilah saatnya yang paling baik." Baru saja Lu Bu-wi hendak membuka mulut, tiba-tiba dalam gelanggang terdengar suara bentrokan lirih, terlihat pedang panjang Han Ji-ing sudah terpental terbang dan jatuh ke tanah, seketika ia menjublek di tempatnya.

Ternyata pada gebrakan kesembilan puluh sembilan, permainan Koan San-gwat mendadak berubah, Tok-ga-kim-sin mendadak menyodok ke ulu hati Han Ji-Ing, yang di arah adalah lobang kelemahan lawan, sudah tentu Han Ji-ing jadi kelabakan dan tak sempat menangkis atau menghindar lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment